The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 160 - Mengubah Pavonas menjadi negeri yang lebih baik



“Apa? Bagaimana bisa?” Tiba-tiba Rumen terkejut melihat Raquille terkapar di tempat lain.


Dengan sigap pria Pavonas itu melancarkan serangan proyeksi energinya ke arah Raquille yang sedang terkapar.


Akan tetapi, Raquille yang dilihatnya tersebut hanyalah sebatas ilusi, dimana wujud asli dari pemuda Elfman itu tak jauh berada di dekat pria Pavonas tersebut, sedang menetapnya dengan ekspresi heran.


Beberapa kali Rumen melihat Raquille hingga membuat dirinya terus-terusan melancarkan serangan yang percuma.


“Apa mungkin ini ulah Erissa? Setahuku hanya Fairyman yang bisa melakukan hal seperti itu,” gumam Raquille mengetahui bahwa pikiran Rumen telah berada dibawah kendali Erissa.


**


“Uakh…” Tiba-tiba sebuah pasak es menusuk bagian belakang Rumen, hingga membuatnya kembali wujud ke semula.


Ketika pemimpin negeri Pavonas itu akan menoleh ke belakang, dalam sekejap Raquille langsung meluncurkan kepalan tangannya hingga pria itu pun jatuh tersungkur.


“Kau… Bagaimana kau bisa masih hidup, padahal aku yakin sudah membunuhmu tadi,” ucap Rumen, tidak percaya Raquille kembali muncul, walaupun kali ini pemuda Elfman itu merupakan wujud aslinya.


“Rumen Sayruz…” Tiba-tiba Erissa datang sambil memanggil pemimpin negeri Pavonas itu.


“Hentikan… Kau sudah kalah kali ini,” ucap Erissa dengan ekspresi serius.


Tiba-tiba Rumen mengingat bahwa Erissa mampu melakukan teknik pengendali pikiran hingga membuatnya langsung mengetahui bahwa perempuan itulah yang telah memanipulasi pikirannya sebelumnya.


“Erissa apa kau yang melakukannya?” Tanya Rumen dengan ekspresi serius.


“Tentu saja… Aku sengaja melakukannya hanya untuk membuatmu bisa dikalahkan dengan mudah,” jawab Erissa.


Mendengar hal tersebut, Rumen pun menjadi geram dan seketika langsung mendekati Erissa untuk menyerangnya.


Akan tetapi, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap tidak bisa melihat apapun disekitarnya.


“Rumen… Percuma saja kau melawan, karena dalam keadaan yang lemah seperti itu kau tidak bisa melakukan apa-apa dibawah pengaruhku,” ucap Erissa, yang hanya kedengaran suaranya saja tanpa bisa dilihat keberadaannya.


“Erissa… Cepat lepaskan aku sekarang. Kau memang tidak tahu berterima kasih… Padahal jika aku tidak menyelamatkanmu sepuluh tahun yang lalu, kau mungkin sudah berakhir dengan tragis,” ucap Rumen dengan ekspresi kesal setelah mengetahui penghianatan dari perempuan itu.


“Aku sungguh berterima kasih karena kau sudah menolongku waktu itu… Bahkan aku tidak bisa melupakan bahwa selama ini kau selalu menganggapku sebagai putrimu sendiri, tanpa peduli bahwa aku adalah ras keturunan campuran…”


“Namun, disamping sifatmu yang peduli terhadapku, di sisi lain kau selalu menindas orang-orang lemah serta bertentangan denganmu… Kau selalu memperlihatkan sifat yang jahat, bahkan lebih jahat dari iblis sekalipun kepada mereka semua…”


“Sebagai anak yang baik, aku wajib untuk menghentikan apa yang kau lakukan tersebut.”


Setelah Erissa mengatakan panjang lebar, ilusi tempat gelap itu pun berakhir, membuat sudut pandang dari Rumen kembali ke kota Vosmoc.


“Hei…” Ketika seseorang memanggilnya dari belakang, pria itu lantas menoleh.


“Setidaknya aku kembalikan seranganmu yang tadi…” Rumen pun terkejut melihat Raquille berada di belakangnya sambil mengacungkan pedang ke arahnya.


“Argh..!” Dalam sekejap pedang yang diacungkan Raquille pada Rumen langsung melancarkan serangan proyeksi energi yang sebelumnya diluncurkan oleh pemimpin negeri Pavonas itu.


Rumen pun menerima serangannya sendiri, membuatnya terhempas ke jarak yang cukup jauh.


“Jadi sampai disini saja apa yang kuperjuangkan…” Sebelum tak sadarkan diri, pria itu sejenak mengangkat salah satu tangannya ke atas sambil bergumam.


“Jadi, apa kau tidak mau kembali ke Neodela?” Tanya Raquille.


“Untuk apa aku kembali kesana, bahkan orangtuaku saja tidak mau menerimaku lagi,” jawab Erissa.


“Harboreef Flamo… Orang itu memang kejam… Aku mengerti mengapa kau tidak mau kembali kesana,” ucap Raquille.


“Ngomong-ngomong bagaimana dengan pemimpin Pavonas itu? Apa yang akan kalian lakukan padanya selanjutnya?” Tanya Raquille lagi.


“Aku sudah menganggapnya sebagai ayahku sendiri. Selama ini dia tidak pernah sekalipun bersikap kasar padaku… Setidaknya aku hanya akan memenjarakannya saja,” jawab Erissa.


Raquille sejenak terdiam, merasa tidak nyaman dengan Erissa karena perempuan yang berada disampingnya itu adalah salah satu korbannya saat kejadian sepuluh tahun yang lalu.


“Mengenai Aloof, aku yakin dia sekarang masih hidup, hanya saja aku tidak tahu dimana dia berada… Ketika kami berdua masuk ke dalam lubang dimensi itu, aku dan Aloof terpisah pada percabangan yang terjadi di lubang dimensi itu.”


Mendengar hal tersebut Erissa lantas terkejut karena masih memiliki harapan untuk menemukan orang yang dibahas oleh Raquille, yang bahkan sebenarnya disukai olehnya.


“Kalau begitu, setelah keluar dari lubang dimensi itu, kau berada dimana selama ini?” Tanya Erissa, menjadi penasaran.


“Aku muncul di negeri Fuegonia sekitar sebulan yang lalu,” jawab Raquille.


“Apa maksudmu?” Erissa pun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pemuda Elfman itu.


Raquille kemudian menjelaskan pada perempuan itu bahwa dirinya telah melompati waktu ke sepuluh tahun kemudian setelah keluar dari lubang dimensi tersebut. Dimana pemuda Elfman yang sedang berdiri di hadapan perempuan itu merupakan pemuda Elfman yang sama, yang masih berumur sekitar dua puluh tahun sejak terakhir kali dilihat oleh Erissa.


“Tidak mungkin… Hal seperti itu bisa terjadi,” ucap Erissa, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pemuda Elfman itu.


“Aku juga tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi… Ada kemungkinan bahwa Aloof juga muncul di waktu yang sama denganku,” ucap Raquille.


**


“Baik-baik… Waktu untuk bereuni sudah berakhir.” Ketika Raquille dan Erissa sedang berbincang, tiba-tiba Aguirre datang ke tempat itu dengan keadaan yang ternyata masih baik-baik saja.


Pria Elfman itu kemudian datang menghampiri Raquille kemudian mengacungkan pedangnya ke arah Erissa.


“Pemimpin kalian sudah dikalahkan? Sekarang waktunya memilih apakah kau akan langsung menyerah atau terus melawan?” Tanya Aguirre.


“Kakak tunggu dulu, ini bukan seperti yang kau pikirkan… Erissa sebenarnya membantuku mengalahkan pemimpin Pavonas itu. Dia dan Venerate Pavonas sebenarnya sudah merencanakan sebuah pemberontakan untuk melengserkan pemimpin Pavonas itu… Jadi kumohon turunkan pedangmu,” ucap Raquille sambil menahan saudaranya yang ingin menyerang Erissa.


“Apa itu benar?” Tanya Aguirre.


Erissa pun sontak menganggukkan kepalanya, merespon bahwa hal tersebut memang benar adanya.


Mengetahui pernyataan dari perempuan itu benar, Aguirre pun merasa percaya dan sontak menurunkan pedangnya kemudian menyimpannya kembali.


“Aku berjanji, jika kubuh barat ingin mengampuni kami, maka aku akan mengubah Pavonas menjadi negeri yang lebih baik lagi,” ucap Erissa.


“Berarti kau harus menjadi pemimpin negeri ini?” Tanya Raquille, penasaran.


“Tentu saja… Kenapa tidak? Lagipula sebagian besar penduduk Pavonas telah mendukungku,” jawab Erissa dengan percaya diri.


Mendengar hal tersebut, Raquille dan Aguirre pun sontak terkejut tidak menyangka bahwa pemimpin dari negeri terluas di dunia itu akan digantikan oleh seorang perempuan.