
“God flame…” Spirgios mengeluarkan serangan elemen apinya kembali, namun serangan yang keluar tersebut hanyalah sebuah kobaran api yang sangat kecil, yang langsung lenyap setelahnya.
Pria itu berkonsentrasi memfokuskan energi yang lebih banyak ke ujung tangannya, akan tetapi elemen api yang keluar seketika lenyap.
*
“Apa yang terjadi sebenarnya?” Gumam Spirgios dalam hati, tampak bingung dirinya tidak bisa melancarkan serangan yang lebih besar layaknya telah kehabisan energi.
**
“Hei, teknik apa yang lakukan padaku barusan? Aku tidak pernah tahu bangsa Slivan memiliki teknik seperti itu?” Tanya Spirgios pada perempuan yang berada di depannya tersebut.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Spirgios, perempuan itu dengan maju mendekatinya sambil melancarkan kedua kepalan tangannya yang memancarkan cahaya berwarna putih.
Walaupun tidak bisa melancarkan serangan proyeksi, namun Spirgios masih bisa menghindari serangan yang dilancarkan oleh perempuan itu dengan bermodalkan refleksnya yang kuat.
*
“Sebelumnya dia menyerangku dengan teknik ini. Apakah akan berbahaya jika serangannya kembali mengenaiku?” ucap Spirgios dalam hati, bertanya-tanya sambil menghindari serangan perempuan itu.
**
Disaat Spirgios dengan lincah menghindari setiap serangannya, perempuan itu tiba-tiba saja menendang kakinya. Spirgios yang tidak mengira serangan tersebut seketika jatuh terkapar.
Kesempatan tersebut langsung dimanfaatkan oleh perempuan itu dengan meningkatkan kekuatannya hingga pancaran cahaya putih di kedua tangannya membesar.
“Hentikan Sirozovia…!” Disaat perempuan tersebut hampir menyerang Spirios, tiba-tiba pemimpin pasukan Nascunia datang ke tempat itu dengan berteriak.
Spirgios hanya bisa tertegun melihat serangan perempuan itu berhenti tepat di depan matanya.
“Kau mengganggu saja, aku hampir mengalahkan orang ini,” ucap perempuan bernama Sirozovia tersebut.
“Kau mungkin bisa mengalahkan orang itu, tapi kau juga harus bertanggung jawab jika nantinya negeri kita akan berperang dengan negeri orang itu,” balas pemimpin pasukan Nascunia.
Terlihat juga beberapa prajurit Geracie yang datang bersama pemimpin pasukan Nascunia ke tempat itu.
“Yang mulia…” Saat melihat Spirgios, merekapun sontak menghampirinya dan membantu pemimpin mereka tersebut berdiri.
“Baiklah, kurasa urusan kita semua sampai disini saja… Kuharap kalian bisa kembali ke negeri kalian,” ucap pemimpin pasukan Nascunia.
Setelah mendengar perkataan dari pemimpin pasukan tersebut, Spirgios bersama dengan para prajurit Geracie pergi berjalan meninggalkan tempat tersebut.
***
Di kapal menuju ke seberang sungai Spirgios lantas bertanya kepada salah satu prajurit Geracie yang sebelumnya terkejut melihat perempuan bernama Sirozovia.
“Vyalko, memangnya siapa perempuan yang bertarung denganku itu?”
“Aku sebelumnya menyebut namanya, Sirozovia Krozoff, dia adalah anak dari raja Nascunia,” jawab prajurit Geracie bernama Vyalko.
“Perempuan hanya tuan putri Nascunia, dan sepertinya dia hanya seorang Continent Venerate, tapi kenapa kau begitu terkejut melihatnya?” Tanya Spirgios lagi.
“Yang mulia, banyak orang yang sudah mengetahui kemampuan dari perempuan itu. Kemampuannya tersebut bahkan bisa membuat seorang World Venerate tidak berkutik.”
Pada pembicaraan mereka, pria bernama Vyalko tersebut menjelaskan kepada Spirgios bahwa bangsa Slivan secara turun-temurun mewarisi kekuatan kekangan surgawi yang diberikan oleh salah satu makhluk suci, dimana kekuatan tersebut dapat menahan energi para Venerate yang disentuhnya dalam waktu tertentu.
“Hmph… Walaupun sudah hidup ratusan tahun lamanya, tapi aku belum pernah sekalipun mendengar kemampuan seperti itu,” ucap Spirgios.
“Aku yakin memiliki kekuatan seperti itu, membuatnya bisa diincar oleh banyak orang…” Lanjutnya.
–11 Februari 1431–
Lima hari kemudian di ibukota negeri Nascunia, kota Dupstepa, terlihat perempuan bernama Sirozovia bersama dengan pemimpin pasukan Nascunia yang sebelumnya berada di kota perbatasan memasuki ruang singgasana yang berada di dalam sebuah kastil.
“Salam ayah, kenapa aku baru mengetahui bahwa negeri kita ternyata diserang oleh negeri Graina?” Ucap Sirozovia pada raja Nascunia yang duduk di kursi singgasana.
Tidak menjawab pertanyaan dari Sirozovia, sang raja tersebut sontak menatap pemimpin pasukan Nascunia yang berada di samping perempuan itu.
“Memang benar saat ini kita sedikit kesusahan akibat penyerangan pasukan negeri Graina,” ucap sang raja.
Setelah memberi tahu kepada Sirozovia, tiba-tiba seorang prajurit datang tergesa-gesa untuk memberikan sebuah informasi yang penting.
“Yang mulia, ini gawat… Aku baru saja mendapat informasi bahwa negeri Ledyana dan negeri Tsureya mengirim pasukan mereka membantu pasukan Graina. Aliansi mereka kini telah berhasil mengalahkan pasukan kita di wilayah perbatasan.”
“Apa…?” Ucap sang raja nampak terkejut.
Mendengar hal tersebut Sirozovia sontak berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
“Zovia, mau kemana kau?” Tanya sang raja.
“Aku juga ingin membantu mereka melawan Graina,” ucap Sirozovia.
“Tunggu… Apa kau bodoh? Tujuan mereka menyerang kita adalah untuk mengincarmu. Tujuanku mengirimmu ke kota Iruggui sebelumnya adalah untuk menyembunyikanmu.”
Sirozovia tidak menghiraukan perkataan dari ayahnya itu dan terus berjalan hingga meninggalkan ruangan tersebut.
“Auremil ikuti adikmu itu. Dia sekarang tidak bisa dihentikan,” ucap sang raja kepada pemimpin pasukan Nascunia, yang juga merupakan anaknya.
“Baiklah… Sesuai perintahmu. Walaupun aku agak kesal terlihat seperti seorang pengawal daripada seorang pangeran,” ucap pemimpin pasukan yang bernama Auremil tersebut sambil meninggalkan ruangan itu juga menyusul Sirozovia.
***
Diluar kastil pria yang bernama Auremil tersebut baru saja akan menghampiri Sirozovia, tetapi seketika Sirozovia langsung terbang ke langit dengan kecepatan tinggi meninggalkan kota Dupstepa.
“Zovia…!”
“Haah… Sial.” Dengan terpaksa karena menerima perintah dari ayahnya, pria itu lantas terbang mengikuti saudaranya.
***
Kurang dari sejam kemudian, Sirozovia sampai di sebuah kota dan membuat para prajurit Nascunia pun terkejut ketika perempuan itu mendarat tepat di depan mereka.
“Woah…!” Teriak para prajurit, dengan sigap langsung mengambil senjata mereka untuk bersiaga.
“Nona Sirozovia?” Ucap salah satu prajurit Nascunia.
Ketika melihat bahwa seseorang yang datang tersebut bukanlah musuh, para prajurit seketika menurunkan senjata mereka yang sempat ditodongkan kepada perempuan itu.
Tak berapa lama Auremil juga sampai di kota tersebut dan mendarat tepat di depan para prajurit.
“Zovia, kau selalu membuatku repot saja…” Keluh pria bernama Auremil.
“Bagaimana keadaan pasukan kita?” Tanya Sirozovia pada para prajurit tanpa menghiraukan keluhan dari Auremil.
“Pasukan kita baru saja dipukul mundur oleh pasukan musuh… Mereka kini sudah menguasai kota Varsidka,” jawab salah satu prajurit.
“Tetapi kenapa kalian datang kemari?”
“Kami kemari untuk membantu kalian,” ucap Sirozovia.
“Membantu katamu…?” Tiba-tiba seseorang prajurit Nascunia datang dan bertanya dengan nada yang tinggi akibat mendengar jawaban dari Sirozovia.
“Sirozovia, kami sengaja tidak memberitahumu agar nantinya kau tidak dalam bahaya… Mereka datang untuk mengincarmu.”
“Tuan Silvensi, jangan khawatirkan aku dengan adanya aku sekarang itu bisa membuat pasukan kita mendapatkan peluang kemenangan…”
“Untuk apa kita menyembunyikan kekuatan ini selama bertahun-tahun… Lebih baik kita menggunakannya untuk melawan mereka.”
Pria bernama Silvensi itu sontak tidak bisa berkata apa-apa lagi karena mendengar penjelasan dari Sirozovia. Dia terpaksa harus menerima tawaran perempuan itu karena hanya pilihan tersebut yang akan membuat mendapatkan peluang kemenangan.
“Haah… Baiklah, kuharap kita bisa mendapatkan harapan untuk memukul mundur mereka.”