
“Venere… Apa kau sudah merasa baikan sekarang?” Tanya Saturno.
“Eh… Iya, aku sudah tidak apa-apa sekarang,” kata Venere yang nampak kembali bangun dan sontak berdiri dari tempat tidurnya.
“Aneh sekali… Padahal tadi kau sempat tidak bisa bergerak dan merasa kedinginan. Sekarang kau sudah baik-baik saja,” kata Urano, nampak heran dengan hal tersebut.
“Jadi kau sudah baik-baik saja sekarang?” Tanya Saturno sekali lagi, kembali memastikan keadaan dari saudara perempuannya tersebut.
“Iya kakak, aku sudah tidak apa-apa,” jawab Venere.
“Kalau begitu ayo kita pergi dulu dari sini. Nanti kita bicarakan hal itu,” kata Saturno.
Setelah Saturno mengajak mereka pergi, ketiga orang itu pun kemudian meninggalkan ruangan medis itu.
**
Di luar ruangan mereka kemudian bertemu dengan Vaedor serta Vaena, yang baru saja sampai di depan ruangan medis tersebut.
“Nona Venere… Kau sudah sadar…? Apa kau tidak apa-apa?” Tanya Vaedor tentang keadaannya.
“Iya… Aku sudah tidak apa-apa?” Jawab perempuan tersebut.
Namun, terlihat dari raut wajah dari Venere yang masih merasa khawatir.
*
“Elfman itu adalah seorang World Venerate…? Tapi, bagaimana mungkin seorang World Venerate bisa mengikuti turnamen ini? Sialan… Aku bahkan tidak bisa mengatakan rahasianya kepada yang lain. Dia seperti menanam sebuah mantra sihir padaku,” Gumam perempuan itu dalam hati, mengingat perkataan Raquille pada pertarungan mereka sebelumnya.
**
Kemudian saat berada di luar arena, mereka pun nampak berpapasan dengan tim Fuegonia B, serta tim Fuegonia A, Rox dan Rourke yang sedang berjalan bersama.
Terlihat Raquille menatap Venere dan kemudian tersenyum padanya.
Sontak melihat senyuman dari Raquille, Venere pun langsung ketakutan dan memalingkan wajahnya dari pemuda tersebut.
“Kakak… Ayo kita pergi dari sini,” kata Venere yang mulai ketakutan.
“Baiklah… Ayo kita pergi…” Kata Saturno.
Kemudian tim Cielas meninggalkan mereka semua yang berada di tempat itu.
*
“Ada yang tidak beres dengan perempuan itu… Aku melihat dia mengatakan sesuatu pada perempuan itu. Apa yang dia katakan sebenarnya pada perempuan itu saat pertarungan mereka tadi?” Nampak Rourke seperti merasakan sesuatu yang aneh saat dia melihat Raquille tersenyum pada Venere, yang sontak membuat perempuan tersebut langsung memalingkan pandangannya pada Raquille.
**
“Rourke… Ada apa denganmu? Apa ada yang salah?.”Melihat Rourke yang berhenti, Neyndra pun sontak bertanya padanya.
“Eh… Tidak ada kakak.” Kata Rourke.
***
Di sebuah kota yang bernama Vosmoc, ibukota dari negeri Pavonas, nampak di dalam sebuah kastil terlihat Erissa, perempuan yang sebelumnya menemui Achilles. Perempuan tersebut nampak sedang duduk di sebuah kursi ayunan yang berada di suatu ruangan, di dalam kastil itu.
Tak berselang lama, terlihat seorang pemuda masuk ke ruangan itu untuk melaporkan sesuatu.
“Selamat malam nona Erissa… Maaf menggangu waktu istirahatmu…” Kata pemuda tersebut.
“Ada apa Yankee?” Tanya Erissa pada pemuda yang bernama Yankee tersebut.
“Aku mau melaporkan bahwa para prajurit Continent Venerate serta Land Venerate yang berada di pihak kita telah sampai di kota ini. Dan sekarang mereka semua juga akan segera berkumpul,” kata pemuda bernama Yankee itu.
“Hmph… Baiklah kalau begitu, mari kita pergi juga kesana,” Mendengar laporan tersebut, perempuan itu nampak berdiri dari kursi ayunan.
Mereka berdua pun lalu meninggalkan ruangan tersebut.
**
Di luar kastil terlihat pemuda tersebut mengulurkan tangannya untuk membantu Erissa menaiki sebuah kereta kuda.
Kemudian setelah Erissa naik ke kereta kuda tersebut, pemuda itu juga naik pada kursi pengemudi dan menjalankan kereta kuda itu.
**
Lalu di dalam kastil terlihat pria bernama Ienin, yang sebelumnya bersama dengan Erissa. Pria itu nampak melihat pergi meninggalkan kastil tersebut pada malam hari.
“Mau pergi kemana mereka?” Tampak dari raut wajahnya seperti mencurigai sesuatu pada Erissa serta pemuda bernama Yankee tersebut.
**
Setelah berjalan cukup lama, mereka pun sampai di sebuah benteng. Erissa serta pemuda itu kemudian turun dari kereta kuda tersebut dan masuk ke dalam benteng itu.
**
Terlihat seorang perempuan di dalam benteng itu nampak sudah menunggu kedatangan mereka.
“Areum… Lama tak bertemu, kau terlihat menjadi lebih cantik sekarang,” Erissa sontak menghampiri perempuan itu, menyapa serta memujinya.
“Nona Erissa, kau juga… Setelah tujuh tahun berlalu anda masih tetap cantik seperti dulu.” Perempuan bernama Areum itu juga nampak memuji balik Erissa yang sudah lama tak ditemuinya itu.
Kemudian terlihat seorang pria dengan rambut panjang sebahu datang memasuki benteng tersebut.
“Nona Erissa… Nona Areum… Lama tak bertemu,” kata pria tersebut, menyapa mereka.
“Hangrao… Lama tak bertemu juga. Bagaimana kabarmu sekarang?” Kata Erissa, menyapa balik pria itu lalu bertanya tentang keadaannya sekarang.
“Aku…? Aku masih sehat-sehat saja sampai sekarang… Uhuk…!” Pernyataan yang pria itu katakan pada mereka nampak berbanding terbalik dengan keadaan yang tampak sedikit kurang baik.
“Begitu yah… Kurasa juga kau memang masih sama sehat seperti dulu, hehe…” Namun Erissa tetap menghargai perkataan pria itu walaupun nampak sedikit ragu pada perkataannya sendiri.
“Dan kau Yanko… Waah... Tampaknya kau sudah bertambah tinggi yah..?” Pria itu juga terlihat memuji Yankee saat melihat pemuda itu sepertinya sedikit berbeda dari pertemuan mereka sebelumnya.
“Namaku Yankee, tuan… Tapi, terima kasih atas pujian anda tuan Hangrao.” Walaupun sempat berkomentar saat namanya salah disebutkan oleh pria itu, namun pemuda bernama Yankee itu nampak berterima kasih karena telah memujinya.
“Kalau begitu… Ayo kita sekarang ke ruangan pertemuan, yang lain juga sudah berada disana.” Melihat sapaan mereka sudah lebih dari cukup, perempuan bernama Areum itu kemudian mengajak mereka untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam benteng itu.
“Ternyata sudah ada orang yang berkumpul?” Tanya Erissa.
“Iya nona Erissa… Di dalam ruangan pertemuan sudah ada empat prajurit Land Venerate yang datang,” jawab perempuan itu.
**
Kemudian di dalam ruangan pertemuan. Terlihat sudah ada empat orang yang duduk disana.
“Aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan nona Erissa, pujaan hatiku,” kata salah satu pria tersebut.
“Hei Vaster… Apa kau juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan nona Erissa?” Lanjutnya, bertanya pada seorang pria yang bernama Vaster tersebut.
“Aku juga sudah tidak sabar menunggunya. Sudah lama kita tidak bertemu,” jawab pria bernama Vaster itu.
“Sineto… Apa kau tahu apa yang akan dibicarakan oleh nona Erissa, sampai membuat kita semua berkumpul malam-malam begini?” Tanya pria yang lain pada pria yang bernama Sineto.
“Tapi Viecion… Sepertinya aku merasa bahwa nona Erissa akan segera menjalankan rencana ini,” lanjutnya.
“Berarti… Sekarang tuan Rumen sudah sudah bisa dipengaruhi oleh nona Erissa?” Mendengar hal tersebut, pria sebelumnya bertanya, yang bernama Viecion itu sontak terkejut.
“Kemungkinan seperti itu… Namun, mungkin alasannya bukan hanya itu saja jika kita harus menjalankan rencana kudeta ini nantinya,” kata pria bernama Sineto.
Beberapa saat kemudian terlihat Erissa bersama dengan dengan dua pria dan satu perempuan sebelumnya memasuki ruangan pertemuan itu.
Melihat Erissa telah datang, keempat prajurit tersebut kemudian langsung berdiri dari kursi mereka untuk menyambutnya.
“Nona Erissa… Lama tak bertemu… Aku sudah sangat merindukanmu,” kata pria yang belum diketahui nama tersebut, langsung saja menghampiri Erissa hendak memeluknya.
“Hei Haniwa… Kau masih saja tidak sopan seperti dulu yah...?” Sontak hal tersebut membuat pria bernama Hangrao langsung menahan pria bernama Haniwa tersebut.
“Haniwa… Lama juga tak bertemu… Aku juga merindukanmu,” kata Erissa.
“Nonaku… Terima kasih karena kau sudah merindukanku… Ngomong-ngomong, kau masih secantik dulu,” kata Haniwa, memuji Erissa.
“Terima kasih…” Kata Erissa.
“Sineto… Vaster… Viecion… Bagaimana kabar kalian?” Lanjutnya, bertanya pada tiga orang lainnya dengan senyuman manis.
“Kabarku baik-baik saja. Lama tidak bertemu juga nona Erissa,” kata Vaster dengan membalas senyuman manis perempuan itu.
Dan terlihat Viecion serta Sineto hanya menyapa perempuan itu dengan melambaikan tangan mereka.
Setelah menyapa keempat orang tersebut, Erissa pun kemudian duduk di depan meja bundar yang berada di ruangan pertemuan tersebut.
Setelah perempuan itu duduk, yang lain juga langsung duduk, berserta dengan prajurit yang datang bersamanya tadi.
Erissa kemudian melihat tiga kursi yang masih kosong, yang sepertinya masih ada prajurit yang belum hadir.
“Yankee… Apakah para Continent Venerate sudah berada di kota ini?” Tanya Erissa.
“Sesuai informasi mereka sudah berada di kota ini. Mungkin kurasa sedikit lagi mereka akan sampai kemari,” kata Yankee.
“Baiklah kalau begitu kita tunggu mereka dahulu.”
**
Lalu terlihat sebuah kereta kuda sampai di depan benteng tersebut. Nampak seorang perempuan turun dari kereta kuda tersebut. Tak berapa lama kemudian disusul seorang pria yang sedang menunggang seekor kuda, yang juga telah sampai di depan benteng itu.
“Ashur… Aku tahu kau itu memang keren. Tapi, apa kau sampai harus menunggangi seekor kuda sendirian malam-malam begini?” Kata perempuan itu, memuji pria yang bernama Ashur tersebut.
“Kemala… Pujianmu itu terlalu berlebihan. Di negeri asalku bukan hanya kuda… Bahkan aku bisa menunggangi seekor gajah jika diperlukan,” Sambil turun dari kudanya, pria itu mengatakan bahwa kebiasaanya bukan hanya menunggang seekor kuda saja.
Tiba-tiba muncul seorang pria dari balik kegelapan sedang melayang dan turun perlahan-lahan di hadapan mereka berdua.
“Berbicara tentang suatu yang keren… Bukankah hal ini lebih keren daripada menunggangi seekor kuda di malam hari?” Katanya kepada kedua orang tersebut.
“Tianhui… Kau membuatku terkejut saja. Untung hanya kami yang melihatmu seperti ini. Bagaimana jika orang lain yang melihatmu? Mungkin mereka akan langsung lari ketakutan karena menyangka kau adalah makhluk halus,” kata perempuan bernama Kemala, agak terkejut dengan kemunculan pria bernama Tianhui tersebut.
“Karena di negeri asalku juga, banyak makhluk yang sering terbang sepertimu di malam hari dan selalu menakuti banyak orang,” lanjutnya.
“Memangnya apa sebutan untuk makhluk yang seperti itu?” Tanya pria bernama Tianhui pada bernama Kemala tersebut.
“Sebutannya beragam di tiap daerah, di negeri asalku,” jawab Kemala.
“Hei… Daripada bergurau disini, lebih baik ayo kita masuk saja… Mungkin nona Erissa dan yang lain sudah berada di dalam,” kata pria bernama Ashur.
“Kurasa kau benar, baiklah kalau begitu,” kata Tianhui.
Kemudian mereka bertiga pun memasuki benteng tersebut.
**
Beberapa saat kemudian, terlihat ketiga orang tersebut masuk ke dalam ruang pertemuan.
Selain Erissa, para prajurit lain terlihat langsung berdiri saat ketiga orang tersebut sampai di depan mereka.
“Ashur… Kemala… Tianhui… Lama tak berjumpa dengan kalian,” kata Erissa.
“Lama tak bertemu juga… Nona Erissa,” kata Kemala, yang kemudian duduk di kursinya.
Nampak Ashur serta Tianhui juga hanya membalas sapaan dari Erissa dengan hanya melambaikan tangan mereka dan kemudian duduk di kursi mereka masing-masing.
“Jadi… Kau mengumpulkan kami kemari apakah untuk membahas tentang rencana negeri Pavonas?” Tanya Kemala.
“Benar sekali… Karena dalam waktu dekat kita akan segera melakukan rencana kudeta kita pada negeri Pavonas,” kata Erissa.
“Apa…?”
“Secepat inikah…?”
Mendengar hal yang dikatakan oleh Erissa tersebut, semua orang yang berada di tempat itu sontak terkejut.
“Nona Erissa… Apakah tuan Rumen sekarang sudah berada di bawah pengaruh anda? Apakah anda sudah dapat mempengaruhi pikirannya sekarang?” Tanya Ashur.
“Bisa dibilang begitu… Selama beberapa tahun ini menjadi anak angkatnya, dan telah menjadi salah satu orang kepercayaannya, orang itu sekarang sudah tidak waspada lagi terhadap kekuatanku,” jawab Erissa.
“Tapi… Apa alasanmu untuk menjalankan rencana kita secepat ini hanya dengan mempengaruhi pikiran dari tuan Rumen?” Tanya Tianhui.
“Tentu saja alasanku bukan hanya itu…” Respon Erissa pada pertanyaan dari pria bernama Tianhui.
“Kalau begitu… Apa alasanmu yang lain?” Tanya Kemala.
“Salah satunya adalah membuat para tawanan agar bisa memihak pada kita. Belum lama ini, Rumen Sayruz mempercayakanku untuk mempengaruhi pikiran mereka.”
“Para tawanan…? Jika nantinya mereka terlepas dari pengaruh kekuatan pengendali pikiran, apa anda yakin mereka akan dapat memihak pada kita semua?” Tanya Vaster.
“Pertanyaan yang bagus... Sebenarnya aku tidak akan membuat mereka berada di bawah pengaruh kekuatanku. Melainkan aku akan memberikan tawaran yang menguntungkan bagi mereka agar mereka mau bergabung dangan kelompok kita.”
“Para tawanan yang berhasil di tangkap tersebut merupakan orang-orang buangan dari negeri mereka sendiri. Aku yakin mereka tidak mempunyai tempat untuk kembali jika mereka dilepaskan nantinya… Aku yakin juga dari pada harus memihak Rumen Sayruz, pilihan terbaik yang harus mereka pilih adalah mengikuti kita,” kata Erissa, menjelaskan hal tersebut pada mereka semua.
“Memang benar, jika harus memilih, mereka kemungkinan akan memilih kita. Aku juga yakin para tahanan itu tidak mau diatur dengan gaya kemimpinan dari tuan Rumen,” kata Tianhui, sependapat dengan Erissa.
“Namun… Disamping kedua alasan tersebut, aku masih memiliki alasan utama kenapa rencana kita untuk mengkudeta negeri Pavonas akan dijalankan secepat ini,” Lanjut Erissa.
“Apa alasan utama itu, nona Erissa?” Tanya Sineto.
“Karena keberuntungan akan segera berpihak di kubuh barat.” Kata Erissa.
“Apa maksudmu, nona Erissa?” Tanya Viecion, tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh perempuan tersebut.
“Lebih tepatnya sebentar lagi akan ada Venerate yang kuat, yang akan datang kemari untuk menundukkan aliansi GSG,” kata Erissa.
“Seseorang yang kuat…? Apakah dia adalah World Venerate?” Tanya Hangrao, penasaran.
“Bahkan dia lebih kuat dari World Venerate pada umumnya.”