
“Akh…!” Zynotyn meluncur dengan kencang dibawah oleh serangan roda api tersebut.
**
“Ukh… Haah… Haah…” Akan tetapi, proyeksi energi yang digunakan oleh Vlagomir untuk mengendalikan roda api tersebut tiba-tiba lenyap akibat pria itu telah kelelahan.
Alhasil serangan roda api yang sekaligus membawa Zynotyn terus meluncur tanpa arah yang jelas.
Benar saja, apa yang mereka khawatirkan selama ini tentang serangan tersebut hendak terjadi lagi.
Serangan roda api tiba-tiba dengan kencang mengarah ke bangunan tempat senjata kubuh timur berada.
***
Serangan tersebut meluncur melewati Raquille dan Alyara yang sedang menuju ke arah bangunan tersebut.
“Gawat…” Ucap Alyara.
Raquille yang sedang dalam mode mata emasnya dengan sigap menggunakan kekuatannya saat dirinya mengangkat salah satu tangannya pada serangan roda api itu.
Serangan tersebut tiba-tiba lenyap di depan mereka berdua, hingga bangunan di tengah kota itu pun masih tetap terlindungi.
“Hei kemana serangan itu pergi?” Tanya Alyara, penasaran.
“Aku mengirimnya ke sebuah dimensi yang bisa kuakses sendiri,” jawab Raquille.
Pemuda Elfman itu lalu memperhatikan Venerate tingkat atas Midauz yang sedang melawan serta menahan delapan Continent Venerate Graina yang dalam wujud pelepasan kedua mereka.
“Tenang saja… Serangan itu akan kukembalikan ke dunia ini… Dan aku tahu dimana harus menaruhnya,” ucap pemuda itu dengan memasang ekspresi menyeringai.
***
Semua Venerate tingkat atas Midauz mundur, sejenak menjaga jarak mereka dari para Continent Venerate Graina.
Para Venerate Midauz tidak percaya walaupun terdapat empat World Venerate yang bertarung disisi mereka, namun hal tersebut tidak bisa membuat musuh-musuh mereka kalah atau terdesak sedikitpun.
Mereka harus melancarkan serangan yang cukup besar karena pertahanan yang dimiliki oleh para Continent Venerate Graina juga telah meningkat setelah mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua.
***
Kembali pada Raquille yang sedang mengangkat salah satu tangannya ke arah para Continent Venerate Graina untuk mencoba memunculkan serangan roda api yang sebelumnya dikirim ke dimensi lain.
***
“Jangan menyerah… Tetap tahan mereka…” Ucap Kyreas.
Para Venerate Midauz hendak maju, namun tiba-tiba serangan roda api dari Wilrock muncul dari arah atas para Continent Venerate Graina, yang sontak juga membuat Venerate-Venerate Midauz langsung berhenti.
“Akh…!” Tiga diantara mereka menghantam roda api tersebut dan langsung membawa mereka hingga ke permukaan.
Serangan itu seketika menciptakan sebuah ledakan yang kuat, bahkan langsung membuat tiga Continent Venerate ditambah Zynotyn yang dibawahnya pun menjadi tak berdaya.
Lima Continent Venerate yang lain pun hanya bisa terkejut untung saja tidak berakhir seperti rekan-rekan mereka yang terbawah oleh serangan tersebut.
Begitu juga dengan para Venerate Midauz yang terkejut melihat serangan tersebut tiba-tiba mengalahkan sebagian musuh-musuh yang mereka hadapi.
Namun, para Venerate Midauz merasa berterima kasih berterima kasih kepada siapapun yang melancarkan serangan tersebut karena telah membuat beban mereka sedikit berkurang.
Kini kekuatan dari kedua belah pihak pun akhirnya menjadi setara akibat tiga dari para Continent Venerate Graina telah tumbang.
***
“Ayo tuan putri…” Ucap Raquille menyuruh Alyara melanjutkan tujuan mereka.
Pemuda Elfman bersama putri negeri Morseli itu pun kembali menuju ke arah bangunan di tengah kota.
Saat sampai di depan gerbang masuk bangunan tersebut, para Venerate Graina yang sedang berjaga sontak maju hendak menyerang Raquille dan Alyara.
Dengan sigap Raquille menggunakan kekuatannya memindahkan posisi para Venerate dengan sekejap hingga membuat mereka tanpa sadar melayangkan serangan satu sama lain.
Para Venerate Graina pun dengan mudahnya dapat dikalahkan tanpa disentuh oleh pemuda Elfman itu sedikitpun.
Tidak perlu berlama-lama lagi, keduanya pun langsung memasuki bangunan tersebut.
***
Beberapa saat kemudian Azouraz terbangun dan menyadari dua lawan mereka sebelumnya sudah dikalahkan.
“Tuan, akhirnya kau sadar…” Ucap Vlagomir melihat pria Ledyana itu.
“Mereka sudah kalah?” Tanya Azouraz.
“Iya… Untung saja Continent Venerate dari Brizora itu datang menolong, dan bahkan secara tidak langsung juga telah mengalahkan Venerate tingkat atas Graina yang sedang bertarung dengan rekan-rekan kami…” Jawab Vlagomir sambil menunjuk Wilrock yang berdiri di dekat situ.
“Dia juga telah menyembuhkan kita semua,” lanjut Vlagomir berkata.
Salah satu Venerate Midauz bernama Valennes juga nampak telah pulih kembali setelah berkorban menerima serangan Vlagomir sebelumnya.
Azouraz memperhatikan keadaan para Venerate Midauz yang ternyata sudah mulai dapat mengimbangi setelah tiga Continent Venerate Graina telah dikalahkan.
“Tuan-tuan, apa kalian masih bisa bertarung lagi?” Tanya Azouraz.
“Walaupun sebenarnya aku sudah mulai kelelahan, tapi ayo kita bantu mereka,” jawab Vlagomir.
“Tidak… Maksudku bukan membantu mereka, namun tuan Raquille dan tuan putri Alyara.” Vlagomir hendak berdiri untuk bersiap membantu para Venerate Midauz, tetapi maksud Azouraz bukan mereka.
“Kita akan membantu mereka…” Ucap Vlagomir.
“Iya, karena mereka tidak akan mampu menahan tiga World Venerate sekaligus…” Balas Azouraz.
***
Di dalam bangunan tersebut Raquille dan Alyara terhenti ketika Arvhen bersama dua World Venerate Graina berada di depan mereka.
Salah satu World Venerate sudah diketahui oleh Raquille dan Alyara karena pernah bertarung dengan mereka ketika memasuki bangunan itu sebelumnya.
Sedangkan World Venerate yang satunya merupakan pria bernama Arvorys Cheverno, World Venerate Graina yang masih hidup sejak abad enam belas abad yang lalu.
“Tidak kusangka kau berani kembali masuk ke negeri ini setelah sebelumnya, Elfman,” ucap Arvhen.
“Kenapa aku harus takut dengamu?” Balas Raquille.
“Raquille, pergilah… Aku akan mencoba menahan mereka sebisaku,” ucap Alyara.
“Apa kau bodoh? Aku saja akan berpikir dua kali melawan mereka.” Sontak Raquille pun tidak menyetujui hal tersebut, karena merupakan hal yang sia-sia menahan tiga World Venerate sekaligus tanpa menggunakan kekuatan pelapasan kedua.
“Percaya padaku… Akan kuperlihatkan kekuatanku yang sebenarnya hingga kau percaya bahwa aku sanggup menahan tiga World Venerate sekaligus.”
Alyara memejamkan kedua matanya sambil melepaskan semua perhiasan yang dia pakai, baik itu sebuah kalung, gelang, cincin, maupun anting-anting.
“Heh, apa kau yakin mau membuang semua perhiasan mahalmu itu?” Ucap Arvhen, sedikit meledek tingkah aneh Alyara.
Setelah semuanya selesai dilepaskan, putri negeri Morseli itu pun kembali membuka matanya, yang kini warna mata tersebut tiba-tiba berubah menjadi warna merah.
Disaat yang bersamaan tekanan kekuatan yang besar memancar dari perempuan itu hingga membuat Raquille terdiam.
Raquille serta tiga World Venerate Graina itu tiba-tiba terkejut kini berada di sebuah tempat menyeramkan dengan dikelilingi oleh pepohonan kering ditambah pancaran cahaya redup berwarna merah, layaknya hari telah menjelang malam.
“Heh, aku yakin ini adalah sebuah ilusi,” ucap Arvhen.
“Raquille… Jangan khawatir, aku akan menahan mereka,” ucap Alyara.
Raquille pun kini percaya bahwa perempuan ternyata mampu menahan tiga World Venerate itu sekaligus.
“Apa kau tahu jalan keluarnya?” Tanya Alyara.
“Tenang saja, aku bukanlah orang suka tersesat,” jawab Raquille dengan percaya diri.
Raquille mengedipkan kedua matanya, dalam sekejap kembali ke dalam bangunan yang berada di tengah kota Lynerbyich.