
“Terima kasih tuan atas bantuan anda, kami disini menjadi sangat tertolong... Benar sekali, setelah kita berhasil mengalahkan kubuh timur, baik negeri Tsureya maupun Ledyana akan masuk menjadi bagian kubuh barat.” Raquille mendekati Venerate dari Ledyana sambil menepuk-nepuk pundaknya, merasa senang mendapatkan lagi pasukan bantuan.
Akan tetapi hal tersebut tampak tidak disenangi oleh Kurmer dilihat dari raut wajahnya, karena masih merasa curiga terhadap Venerate dari Ledyana tersebut memiliki niat yang lain.
***
Beberapa saat kemudian, setelah pasukan Tsureya dan pasukan Ledyana berlabuh ke sisi lain kota, mereka kemudian mengalahkan semua prajurit Geracie yang masih tersisa di dalam kota tersebut.
Pasukan Tsureya dan Ledyana yang telah menguasai kota tersebut, mengumpulkan Asseios bersama dengan salah satu Venerate Geracie yang melawan Kurmer sebelumnya, serta semua prajurit Geracie di satu tempat.
“Tunggu dulu, dua orang ini tidak perlu untuk diborgol.” Venerate dari Ledyana itu tiba-tiba menghentikan prajurit Tsureya yang mau memborgol dua Venerate tingkat atas Geracie tersebut.
“Apa maksudmu?” Ucap Kurmer tampak serius dengan pertanyaannya saat pria Ledyana itu mencoba menghentikan prajuritnya.
“Kita memerlukan kekuatan dua orang ini untuk melawan Geracie... Jadi kita perlu untuk mengendalikan mereka,” jawab pria itu.
Orang itu perlahan mengangkat salah satu tangannya ke arah dua Venerate Geracie itu.
“Tekhnika eksorsista... Soul release...” Seketika asap hitam keluar dari tangannya.
Asap tersebut masuk ke dalam dua orang itu hingga membuat mereka jatuh terkapar tak sadarkan diri.
“Hei apa yang kau lakukan pada mereka?” Kurmer bertanya melihat kedua orang itu seketika terkapar tak berdaya.
“Kau tinggal melihatnya saja...”
Baru saja bertanya, tiba-tiba kedua orang itu kembali tersadar dan terbangun. Mereka kemudian berlutut di hadapan pria dari Ledyana tersebut, seperti menganggapnya sebagai tuan mereka.
“Ayo, lebih baik kita segera berangkat sekarang... Aku yakin pasukan Geracie hampir dekat ke wilayah Nascunia.”
Seluruh pasukan Tsureya maupun pasukan Ledyana kemudian naik ke kapal-kapal mereka dan berlayar menuju ke negeri Nascunia.
***
Di tempat lain, terlihat para pasukan Venerate negeri Geracie telah melewati perbatasan negeri mereka ke wilayah negeri Nascunia.
Pasukan tersebut sontak langsung dihujani oleh serangan proyeksi dari para Venerate kubuh barat, yang telah sampai ke tempat tersebut.
Tampak Vingto beserta Clava sebagai pemimpin dari pasukan kubuh barat memerintahkan semua prajurit mereka untuk maju dan menyerang langsung semua pasukan Geracie.
Tidak tanggung-tanggung, kedua orang itu juga langsung bergerak untuk menyerang. Dalam satu kibasan serangan, beberapa Venerate negeri Geracie seketika terhempas ke jarak yang cukup jauh.
Serangan selanjutnya yang dilancarkan oleh Clava maupun Vingto berhasil mengalahkan beberapa Venerate yang berada di depan mereka, namun walaupun begitu, para Venerate dari negeri musuh masih terus berdatangan berusaha mengalahkan pasukan kubuh barat mulai berkurang jumlahnya seiring waktu berjalan.
“Mereka banyak sekali...” Ucap Vingto, nampak khawatir melihat pasukan mereka kian hari kian berkurang.
“Fokus saja menyerang, lagipula Venerate tingkat atas mereka masih belum berada disini.” Clava meluncur ke arah prajurit Geracie hendak melancarkan serangannya kembali.
“Akh...” Baru saja Clava mengatakan bahwa Venerate tingkat atas Geracie masih belum datang, tiba-tiba saja salah satu petinggi clan Magchora, yang merupakan seorang Continent Venerate muncul dan langsung menyerangnya, hingga pria Serepusco terhempas ke arah Vingto.
Tak lama kemudian, salah satu petinggi clan Magchora yang lain juga datang ke tempat itu.
Vingto yang melihat Clava terkapar membantu pria itu berdiri kembali.
“Sepertinya kita harus melawan mereka,” ucap Clava.
“Akhirnya aku lawanku sekarang bukanlah seorang wanita.”
Vingto nampak bersemangat melihat musuh yang akan dilawannya kini merupakan seorang pria. Selama peperangan antar kubuh barat dan kubuh timur, lawan kuat yang setara dengannya hanyalah para wanita saja. Itu membuatnya tidak bisa leluasa menyerang musuh, hingga pria Calferland itu pun sulit untuk menang.
Sekalipun dia menang, itu hanya berkat kekuatan dari senjata sucinya, yang bisa mengeluarkan sebuah penghalang, agar musuhnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Tanpa pikir panjang lagi, Vingto seketika meluncur ke arah dua Venerate Geracie dan menyerang salah satu diantara mereka.
Serangan yang dilancarkan oleh pria itu langsung ditahan oleh salah satu Venerate Geracie tersebut, dengan menggunakan proyeksi energi berwarna emasnya, yang diubah menjadi layaknya berbentuk sebuah pedang.
Venerate Geracie yang satunya kemudian mengambil kesempatan mengayunkan proyeksi energi emasnya, yang berbentuk layaknya sebuah pedang ke arah Vingto, ketika pria itu sibuk berhadapan dengan rekannya.
“Oh, terima kasih. Maaf karena aku terlalu bersemangat,” ucap Vingto.
“Iya, fokuslah saja pada lawanmu,” balas Clava.
Kedua orang itu lalu melanjutkan pertarungan melawan musuh mereka masing-masing.
“God aura... Superior stabs...” Venerate yang dilawan oleh Vingto melancarkan serangan proyeksi energi emasnya.
“Breaker ice...” Vingto pun mengantisipasi serangan tersebut dengan menciptakan sebuah dinding es.
Walaupun serangan proyeksi dari Venerate Geracie itu bisa membuat dinding es Vingto hancur, namun serangan tersebut seketika lenyap tidak sampai mengenai pria Calferland itu.
“Breaker lightning...” Pria Calferland itu melompat dan seketika melancarkan serangan proyeksi elemen petir.
“God aura... Superior punch...” Melihat serangan dari Vinto, Venerate Geracie tersebut juga melancarkan serangan proyeksi energi emasnya.
Hingga kedua serangan tersebut bertabrakan dan menciptakan ledakan yang cukup kuat, hingga semua prajurit yang berada di tempat tersebut dapat merasakan efek hempasan anginnya.
**
Sementara itu, Clava yang melawan Venerate Geracie satunya masih terus melancarkan serangan langsung, tanpa meluncurkan sebuah teknik khusus.
Pria Serepusco bersama Venerate Geracie tersebut tampak setara dengan saling mengayunkan tongkat gada serta pedang proyeksi mereka satu sama lain.
Beberapa dari prajurit Geracie maupun kubuh barat seketika terhempas menerima efek serangan meleset dari kedua pria tersebut.
***
Tak jauh dari tempat itu, terlihat armada kendaraan tempur dari pasukan Geracie sedang menuju ke medan pertempuran.
Tampak juga pimpinan dari negeri Geracie, Chrolexius Magchora berada di salah satu kendaraan tempur tersebut.
“Ini terlalu lama, aku mai duluan.” Pria itu nampak merasa bosan dengan perjalanan mereka yang cukup lama.
Dia kemudian keluar dari kendaraan tersebut dan terbang ke langit dengan kecepatan tinggi.
***
Tak berapa lama Chrolexius mendarat di medan pertempuran. Semua prajurit yang berada di tempat itu, termasuk prajurit-prajurit dari kubuh barat seketika merasakan tekanan kekuatan dari pria tersebut.
*
“World Venerate...” Ucap Clava dalam hati merasakan tekanan intimidasi yang terpancar dari pemimpin negeri Geracie itu.
**
Kedua petinggi clan Magchora yang melawan Clava maupun Vingto seketika mundur, saat merasakan bahwa pemimpin mereka telah sampai ke tempat itu.
Clava dan Vingto hanya terdiam melihat Chrolexius datang dengan perlahan-lahan mendekati mereka.
Para prajurit kubuh barat yang mencoba untuk menyerang pria itu sontak terhempas, walau hanya dengan mengeluarkan tekanan kekuatannya saja.
Walaupun tetap akan berakhir dikalahkan, kedua pria itu meluncur ke arah Chrolexius.
Clava maupun Vingto sontak melancarkan serangan mereka secara bergantian, namun dengan mudah Chrolexius menghindarinya.
Mendadak pemimpin Geracie itu melancarkan serangan proyeksi energi emasnya, yang langsung membuat Clava dan Vingto terhempas.
Masih bisa bertahan, kedua Venerate kubuh barat itu pun kembali berdiri.
“Hei Vingto, apa kau siap melawan pria itu?” Tanya Clava.
“Mau bagaimana lagi? Hanya kita yang bisa diandalkan disini,” jawab Vingto.