The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 65 - Pimpinan tertinggi negeri Gimoscha



Tak jauh dari tempat tersebut, nampak sebuah pesawat tempur negeri Gimoscha pergi melarikan diri dari jangkauan para prajurit Calferland.


“Ayo angkatlah...” Di dalam ruang kendali terlihat salah seorang prajurit berusaha untuk menghubungi seseorang.


***


Beberapa saat kemudian sambungan komunikasi tersebut tersambung pada pria bernama Acadiuno yang sedang duduk di dalam suatu ruangan.


“Iya, ada apa?” Tanya pria itu.


“Tuan Acadiuno, maaf pasukan kami mengalami kekalahan saat berhadapan dengan pasukan Calferland... Prajurit World Venerate mereka, Zero Lancheur tidak bisa dihentikan. Bahkan, dua prajurit Continent Venerate kita dengan mudah dikalahkan oleh pria itu.”


“Apa...?” Pria yang bernama Acadiuno itu pun seketika terkejut mendengar pernyataan dari prajurit yang menghubunginya tersebut.


“Baiklah... Lebih baik kalian mundur terlebih dulu. Jangan paksakan diri kalian melawan mereka.” Pria itu kemudian memerintahkan prajurit yang masih berada di wilayah utara tersebut untuk kembali ke ibukota.


Setelah itu, pria bernama Acadiuno itu menutup sambungan komunikasinya dan merenung tentang keadaan dari negeri tersebut.


“Ayah, apa yang terjadi dengan para pasukan di wilayah utara sana?” Neptuno yang berada di ruangan tersebut bersama dengan ayahnya, sontak bertanya ketika melihat pria itu terkejut setelah menerima laporan dari prajurit yang menghubunginya.


“Pasukan yang dikirim ke utara telah dikalahkan oleh Calferland... Mereka sekarang telah mundur untuk kembali ke kota ini.”


“Apa...? Kalau begitu, kirim aku sekarang kesana.” Mendengar hal tersebut Neptuno kembali bersikeras agar diijinkan untuk menyerang kubuh barat.


“Itu percuma saja, salah satu World Venerate mereka bahkan dengan mudah mengalahkan prajurit Continent Venerate kita... Itu mungkin hanya akan memperburuk keadaan saja jika kau datang kesana.”


Pria itu kemudian berdiri dari kursinya dan mendekat ke jendela yang berada di ruangan itu. Di luar ruangan tersebut terlihat pemandangan ibukota negeri Gimoscha yang telah dipadati oleh para penduduk yang datang memenuhi hampir di setiap sudut kota itu. Bahkan masih banyak pula dari penduduk yang berdatangan dan terjebak di depan pintu gerbang tidak bisa masuk ke dalam kota.


“Clan Nerautunno yang kupercayakan untuk menangani pasukan Serepusco bahkan telah dikalahkan. Aku terlalu meremehkan mereka, entah apa yang akan terjadi jika pasukan kubuh barat dari kedua sisi mencapai kota ini... Di sisi selatan ada Elfman itu, sedangkan di sisi utara ada Zero Lancheur.”


“Bagaimana nasib para penduduk jika kita harus bertarung sambil melindungi mereka...”


Negeri Gimoscha sendiri memiliki jumlah penduduk enam puluh empat juta jiwa lebih dan sekitar dari tujuh puluh lima persen penduduk tersebut menghuni wilayah semenanjung Pianena, daratan utama Gimoscha. Karena invasi dua sisi dari negeri Serepusco maupun Calferland membuat semua penduduk yang berada di wilayah tersebut datang mengungsi ke ibukota negeri itu.


Acadiuno menjadi dilema memikirkan para warga yang memenuhi kota tersebut tidak bisa lari lagi, setelah para kubuh barat mencapai kota itu nantinya.


Tidak mau terhanyut dalam masalah itu lebih lama lagi, Acadiuno kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


“Ayah, kau mau kemana?” Neptuno sontak bertanya melihat pria itu akan meninggalkan ruangannya.


“Aku mau menemui Yang mulia Janus sekarang,” jawab Acadiuno lalu meninggalkan ruangan tersebut.


***


Di depan gerbang masuk kota Reom sebagian besar para penduduk negeri Gimoscha yang datang mengungsi ke kota tersebut nampak terabaikan tidak dibiarkan masuk.


Beberapa dari mereka yang tidak bisa masuk ke dalam kota lebih memilih untuk mendirikan tenda area pintu gerbang tersebut sebagai tempat berlindung.


“Tuan, biarkan kami masuk, atau setidaknya biarkan para wanita, orangtua dan anak-anak yang masuk... Tolong jangan seperti ini.” Sebagian dari para penduduk mencoba untuk meminta para prajurit yang berjaga di depan gerbang untuk memperbolehkan mereka masuk karena tenda-tenda yang didirikan oleh mereka telah dipenuhi oleh para penduduk yang lain.


“Tuan, kami mohon...” Para penduduk tidak menyerah untuk memohon walaupun telah dilarang oleh para prajurit.


Saking putus asanya, para penduduk seketika mendorong para prajurit yang berjaga menyingkir dari depan gerbang dan kemudian membuka paksa gerbang tersebut untuk masuk ke dalam kota.


Setelah gerbang kota dibuka paksa, ratusan ribu penduduk seketika berlomba-lomba masuk ke dalam kota.


“Breaker flame...” Namun, baru saja sepuluh sampai dua puluh langkah dari para penduduk, tiba-tiba sebuah serangan proyeksi elemen api meluncur dan menghantam mereka yang berada dibarisan paling depan hingga terhempas ke luar dari dalam kota.


Di saat yang bersamaan, dua orang prajurit Venerate, pria dan perempuan mendadak muncul di depan para penduduk, hingga membuat mereka pun menjadi ketakutan.


Pria yang merupakan salah satu dari dua prajurit yang datang tersebut seketika melancarkan serangan proyeksi elemen apinya membuat pintu masuk kota terhalang oleh kobaran api, hingga para warga tidak dapat melewatinya.


“Dengarkan aku. Tidak tempat untuk kalian berlindung di dalam sini... Jadi, tetaplah disana dan jangan berbuat ulah lagi,” ucap pria itu dengan nada tinggi dan tatapan yang tajam.


“Kami terpaksa melakukan ini karena keadaan kota sedang kacau akibat penduduk yang menumpuk... Kumohon pengertian dari kalian.” Namun, perempuan yang datang bersama pria itu, nampak dengan sopan menjelaskan kepada para penduduk agar mereka bisa mengerti tentang keadaan kini dari ibukota Gimoscha tersebut.


Warga yang mendengar penjelasan perempuan itu hanya bisa terdiam dan tidak memiliki pilihan lain selain tetap berada di luar kota.


***


Tak jauh dari situ, terlihat Acadiuno masuk di sebuah basilika yang berada dalam wilayah yang dikelilingi oleh sebuah tembok di tengah ibukota negeri Gimoscha tersebut.


**


“Tuan wali kapten, ada apa kemari?” Di dalam bangunan tersebut, nampak salah seorang prajurit yang berjaga sontak bertanya tentang keperluan pria itu datang ke tempat tersebut.


“Aku ingin bertemu dengan Yang mulia,” jawab Acadiuno.


Mendengar jawaban tersebut, seketika prajurit yang berjaga itu membuka gerbang raksasa yang berada di depan mereka.


Acadiuno pun masuk ke dalam ruangan luas yang berada di balik gerbang raksasa tersebut sambil memperhatikan sekitaran mencari orang yang mau ditemuinya.


“Acadiuno... Ada apa kemari?” Tiba-tiba terdengar suara dari seseorang yang tidak diketahui keberadaannya, hingga membuat pria itu sedikit terkejut.


Pria itu kemudian kembali melihat ke sekitar ruangan yang luas tersebut, mencoba mencari asal suara yang terdengar sebelumnya.


Seketika sebuah butiran-butiran cahaya yang cukup terang muncul dan menyatu menjadi wujud seorang pria muda dengan memiliki penampilan rambut berwarna hitam dan dua bola mata yang berwarna kuning kecoklatan nampak melayang di atas permukaan.


Pria muda yang melayang itu secara perlahan-lahan mulai turun ke permukaan dan menghampiri Acadiuno.


“Kukira kau sedang sibuk?” Tanya pria itu.


“Yang mulia, aku ingin memberitahukan bahwa pasukan Serepusco dan Calferland yang menyerang wilayah utara serta selatan semenanjung berhasil memukul mundur para pasukan kita,” ucap Acadiuno, menghiraukan pertanyaan dari pria yang disebutnya sebagai Yang mulia.


Mendengar ucapan dari Acadiuno, pria itu sontak memasang ekspresi senyuman tipis di wajahnya.