
“Tentu saja sesuatu yang sedang terjadi di negeri kalian ini ada di kota Vegoblashchenks, dimana pasukan dari negeri yang berbatasan dengan kota itu kini berhasil menguasainya,” ucap Xirdinth, membuat semua Venerate yang berada di ruangan itu lantas terkejut.
“Erissa… Bagaimana perintahmu? Setidaknya berikan aku tugas pertama sebagai Venerate yang baru saja bergabung,” tanya Raquille sambil meminta kepada Erissa untuk mengirimnya ke wilayah yang kini sedang dikuasai oleh negeri lain.
“Dewi merak… Kirim aku kesana juga… Jangan khawatir, aku pasti bisa mengusir mereka lebih baik dari Elfman ini,” sambung Zero, meminta Erissa untuk mengirimnya juga.
“Lebih baik katamu… Bukankah saat menyerang ke negeri Gimoscha sebelumnya kau membantai pasukan-pasukan mereka… Kau pasti akan melakukan hal yang sama… Aku tidak akan membiarkanmu membantai pasukan, karena itu juga akan berdampak pada warga yang tak bersalah, yang kemungkinan berada di kota itu.” Raquille pun menginterupsi ucapan Zero yang dengan percaya diri bisa lebih baik dibandingkan dengannya untuk menangani penyerangan di negeri tersebut, sambil mengungkit tentang hal yang pernah dilakukan oleh pria itu ketika menyerang negeri Gimoscha sebelumnya.
“Lalu jika aku ingin melakukannya, apa itu menjadi masalah bagimu…” Ucap Zero, terhasut ucapan Raquille yang membuatnya menjadi kesal, hingga menghampiri Raquille, dan langsung mencengkram kerah baju pemuda Elfman itu.
“Singkirkan tanganmu…” Ucap Raquille dengan ekspresi serius, merasa risih ketika pria itu mencengkram kerah bajunya.
Raquille pun membalas mencengkram kerah baju pria itu, sampai kemudian keduanya saling mengeluarkan tekanan kekuatan, yang membuat ruangan, serta kastil tempat mereka berada seketika berguncang, dan membuat semua Venerate yang berada di dalam ruangan itu langsung berdiri dari tempat duduk mereka untuk mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi.
Haniwa yang berada dekat dua World Venerate tersebut lantas merasa tegang, sampai perlahan-lahan berjalan ke belakang untuk menjauh dari mereka.
“Raquille… Tuan Zero… Hentikan… Apa kalian mau menghancurkan kastil ini?” Disaat bersamaan, Erissa datang menghampiri mereka sambil memperingati mereka berdua untuk berhenti saling memancarkan tekanan kekuatan.
Akan tetapi, kedua World Venerate tersebut tidak mau mendengarkan peringatan dari Erissa, walau merupakan pemimpin dari negeri tersebut.
Tidak mau membiarkan persitegang dari dua World Venerate itu terus terjadi, Erissa pun mengakses kekuatannya, memunculkan sebuah tongkat sihir berukuran pendek yang merupakan senjata suci miliknya.
Namun, Erissa tiba-tiba saja memasang ekspresi terkejut ketika melihat sesuatu di depannya, dimana Xirdinth yang berada di dalam cermin es, melangkah keluar dan perlahan-lahan mendekati Raquille dan Zero.
Melihat hal tersebut, Erissa pun nampak sedikit lega karena kemungkinan besar makhluk suci itu akan dengan mudah menangani Raquille dan Zero yang sedang saling berselisih.
“Bocah-bocah bodoh… Hentikan sekarang juga sebelumnya aku bertindak keras…” Ucap Xirdinth, dengan mudah memisahkan Raquille serta Zero, hingga membuat keduanya terkejut.
“Ibu Xirdinth…” Ucap Raquille, tidak menyangka bahwa makhluk suci itu akan memisahkannya yang tengah berselisih dengan Zero.
“Makhluk suci… Beraninya kau menggangguku…” Sementara Zero yang tidak terima ketika dipisahkan sontak melancarkan kepalan tangannya ke arah naga berwujud seorang perempuan tersebut.
“Ekh…” Dengan mudah Xirdinth menepis tangan Zero, kemudian mencengkram bagian belakang kepala pria itu.
“Ukh…” Dengan kuat Xirdinth menghentakkan Zero ke bawah sampai menghancurkan lantai yang dihantam oleh pria itu.
Tanpa disangka-sangka, hal tersebut langsung membuat Zero seketika tidak sadarkan diri, walau merupakan seorang Venerate dengan tingkatan tertinggi.
Xirdinth kemudian menatap Raquille, yang seketika membuat pemuda Elfman itu dengan refleks menatap ke arah lain, karena sedikit merasa takut makhluk suci itu akan melakukan hal yang sama kepadanya.
“Dewi merak… Pasti sulit harus menangani dua pria kekanak-kanakan ini…” Ucap Xirdinth kepada Erissa.
“Kau benar nyonya… Tapi, sebelumnya terima kasih karena sudah mau memisahkan mereka…” Balas Erissa, berterima kasih kepada Xirdinth sambil membungkukkan badannya.
“Setidaknya kau sebagai pemimpin perintahkan apa yang akan dilakukan… Dan ingat bahwa salah satu dari mereka harus pergi kesana karena Venerate yang sebelumnya kukatakan bukanlah lawan hanya bisa ditangani oleh kalian bertiga saja,” ucap Xirdinth, menyarankan agar Erissa menentukan keputusannya sambil menjelaskan mengenai musuh terkuat yang sedang menguasai salah satu kota Pavonas.
“Kau benar nyonya… Setidaknya aku memang tidak boleh membiarkan ini lebih lama terjadi… Raquille, aku ingin kau memimpin pasukan untuk mengambil alih kota Vegoblashchenks, sementara tuan Zero akan menunggu jika hal yang buruk terjadi nantinya,” ucap Erissa, kemudian langsung memerintahkan Raquille untuk mendapatkan tugas pertamanya sebagai Venerate Pavonas.
“Baik pemimpin agung… Tenang saja, aku pasti bisa merebut kembali wilayah yang diambil, tanpa perlu pria perlu membuat pria bodoh itu bergerak untuk membantu…” Ucap Raquille dengan percaya diri pada misi yang akan dijalaninya tersebut.
“Aku ingin kakakku juga ikut bersamaku…” Lanjut Raquille, menyarankan Hyphilia untuk ikut bersamanya.
“Tentu saja… Karena beberapa dari pemimpin wilayah juga memang harus pergi bersamamu…”
“Nona Erissa… Aku juga akan ikut bersama dengan pamanku…” Mendengar pernyataan Erissa, Phyton pun langsung mengunjuk dirinya untuk ikut bersama dengan pasukan yang akan dipimpin oleh Raquille ke kota Vegoblashchenks.
“Nona Erissa… Biarkan aku juga ikut dengan pangeran Raquille… Aku mau menemui perempuan bernama Everwhite itu…” Sambung Haniwa, mengunjuk dirinya juga untuk ikut bersama dengan Raquille, karena memiliki tujuan untuk menemui Zchaira yang memang dikenalnya.
“Baik… Kalian bisa ikut dalam misi penyerangan balik ini…” Erissa pun lantas menyetujui kedua Venerate itu untuk ikut.
“Verre… Kau juga harus ikut…” Tiba-tiba Erissa menunjuk salah satu Continent Venerate untuk ikut bersama dengan pasukan yang akan dipimpin oleh Raquille.
“Eh… Kenapa aku harus ikut?” Tanya Verre, nampak terkejut padahal dirinya tidak mengunjukkan diri seperti Venerate yang lain.
“Baiklah… aku mengerti nona Erissa…” Namun, karena tidak mau melawan perintah dari sang pemimpin agung, pemuda itu lantas menerimanya.
Setelah beberapa Venerate telah bersedia untuk ikut, Erissa kemudian menatap salah satu Continent Venerate yang bernama Gudov.
“Apa aku juga harus ikut?” Tanya Gudov, mengetahui bahwa tatapan Fairyman perempuan itu ingin menunjuknya untuk ikut ke kota Vegoblashchenks.
“Diantara kita semua, kau merupakan Venerate yang memang berasal dari kota itu kan… Apa kau bersedia untuk ikut kakak?” jawab Erissa sambil bertanya mengenai kesiapan dari pria tersebut.
“Baiklah… Sesuai perintahmu…” Jawab Gudov, sontak menerima perintah dari pemimpinnya tersebut.
“Jika kalian sudah siap… Waktunya kita berangkat sekarang…” Ucap Raquille.
“Raquille… Ada satu hal yang belum kau ketahui mengenai perempuan bernama Everwhite itu…” Ketika akan pergi meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan Venerate yang akan ikut, tiba-tiba Xirdinth berbicara untuk hendak mengatakan sesuatu yang membuat Raquille tentu saja menjadi penasaran.