
“Hei, gadis aneh! Kenapa kau berada di bawah sana?!” Tanya Raquille.
“Pria cantik…?! Apa itu kau…?! Tolong aku...! Aku tidak bisa berdiri!” Jawab Neyndra.
Mendengar bahwa Neyndra yang berada di dalam jurang tersebut, Raquille pun sontak melompat ke bawah.
“Jadi kau berhasil mengalahkan lawanmu yah…” Kata Raquille.
“Sudahlah… Cepat bantu aku sekarang.” Kata Neyndra.
“Eh… Merepotkan saja.”
“Aaahh…!” Tiba-tiba Raquille langsung menarik kaki perempuan itu, hingga membuatnya kembali terjatuh.
“Hei, apa yang mau kau lakukan?”
“Sudah diam saja.”
Raquille pun nampak menyembuhkan kaki Neyndra yang terkilir dengan kekuatan sihirnya.
“Eh… Kakiku tidak sakit lagi,” kata Neyndra, sambil berdiri kembali.
“Pria cantik, kau hebat juga yah…” Neyndra pun nampak melompat-lompat karena tidak merasa sakit pada pergelangan kakinya lagi.
“Kalau begitu ayo cepat pegangan sekarang,” kata Raquille, menyuruh perempuan itu untuk memegang tangannya.
“Kenapa aku harus berpegangan padamu?” Tanya Neyndra, bingung.
“Kita akan naik ke atas sekarang,” kata Raquille dengan nada tinggi.
“Memangnya kau bisa melompati tebing setinggi itu?” Tanya Neyndra, masih beralasan.
“Urgh… Dasar perempuan ini membuatku kesal saja,” kata Raquille, mengumpat.
Seketika Raquille memunculkan sayap dari proyeksi energi sihirnya.
“Cepatlah sebelum aku berubah pikiran.”
“Baiklah…” Neyndra pun kemudian berpegangan pada Raquille.
“Uwah…” Tiba-tiba Raquille terkejut melihat tangan Neyndra, yang sontak membuatnya mendorong perempuan itu.
“Hei bodoh, beraninya kau mendorongku.”
“Ada apa denganmu? Apa kau ini jelmaan makhluk lain?”
“Hati-hati dengan omonganmu itu. Ini adalah perubahan dari senjata suciku. Aku juga tidak tahu kenapa tanganku ini tidak kembali normal lagi.”
“Senjata suci…? Yah sudahlah… Ayo pegangan padaku sekarang. Dan hati-hati dengan cakarnya itu.”
“Iya-iya…”
Mereka pun kemudian terbang ke atas keluar dari jurang tersebut.
**
Di sisi lain, terlihat Bohrneer yang nampak sudah bersama dengan Heinz.
“Heh… Ternyata si gadis aneh itu memenangkan pertarungannya,” kata Bohrneer.
“Yah… Sepertinya poin dari tim kitalah yang sedang memimpin sekarang,” kata Heinz.
Saat sedang membicarakan hal tersebut, tiba-tiba saja sebuah batu besar terbang ke arah mereka berdua.
“Tuan Bohrneer… Apa itu?” Tanya Heinz, menunjuk batu yang mengarah pada mereka.
“Sepertinya itu batu,” jawab Bohrneer.
“Oh… Jadi itu batu yah…”
“Tunggu dulu… Itu batu katamu…?” Tiba-tiba saja, Heinz tersadar bahwa benda yang sedang mengarah pada mereka adalah sebuah batu.
“Heinz, cepat menghindar…”
“Uwaaah…” Teriak kedua orang itu, melompat menghindari batu tersebut.
Nampak kedua orang itu jatuh tersungkur setelah menghindari batu tersebut.
“Wah… Wah… Sepertinya kita bertemu dengan lawan yang lemah disini.” Tiba-tiba Fegant bersama dengan Essal, dua Giantman dari tim Asimir datang menghampiri mereka berdua.
“Kau benar tuan Fegant. Salah satu dari mereka adalah orang yang kukalahkan pada babak sebelumnya.”
Kemudian terlihat Bohrneer dan Heinz yang nampak telah kembali berdiri.
“Lawan yang lemah katamu?” Nampak ekspresi Bohrneer menjadi kurang senang setelah mendengar perkataan dari Fegant sebelumnya.
“Heinz… Sepertinya dua raksasa bodoh ini adalah lawan kita.”
“Iya, sepertinya begitu. Aku juga ingin membalaskan dendamku saat babak pertama.”
Tanpa pikir panjang, Bohrneer dan Heinz pun langsung mengaktifkan kekuatan dari kapak mereka, hingga membuat kapak kedua orang tersebut memancarkan kobaran api. Mereka berdua maju mendekati Fegant dan Essal sambil mengayunkan kapak mereka.
“Fire burst… Strong axe…”
Melihat serangan mereka berdua, Fegant serta Essal pun sontak mengantisipasinya dengan mengayunkan gada mereka.
“Giant physical attack… Home run…”
Fegant nampak menahan serangan dari Bohrneer, serta Essal terlihat menahan serangan dari Heinz. Dari tabrakan serangan tersebut terciptalah sebuah ledakan yang cukup besar.
Tak berapa lama, setelah serangan tersebut, keempat petarung tersebut nampak saling melancarkan serangan satu sama lain.
“Uwaaah…!” Tiba-tiba Heinz terhempas karena tidak dapat mengimbangi tekanan kekuatan dari Essal.
“Heinz…!” Bohrneer terlihat mengkhawatirkan Heinz, namun dirinya tidak dapat membantu karena nampak kesulitan mengahadapi Giantman dihadapannya.
“Hei, jangan palingkan pandanganmu bodoh.” Melihat kesempatan tersebut, Fegant langsung memanfaatkannya dengan mengayunkan gadanya, menyerang Bohrner, hingga membuat pria itu langsung tersungkur di tanah.
“Akh…!” Teriak Bohrneer, menerima serangan dari Fegant.
Masih belum puas, Fegant kembali mengayunkan gadanya tersebut pada Bohrneer yang sedang tersungkur tersebut.
“Fire burst… Strong punch…” Namun, dengan mengandalkan refleksnya Bohrneer pun melancarkan serangan tinju api untuk menahan serangan Fegant.
Bohrneer kemudian terlihat berdiri kembali dan langsung mengayunkan kapak yang dipegangnya tersebut.
Tak mau kalah, Fegant pun juga nampak kembali mengayunkan gadanya pada pria tersebut, hingga membuat mereka berdua kini saling melancarkan serangan kembali.
**
Tak jauh dari tempat pertarungan antara Bohrneer dan Fegant, terlihat Heinz yang masih berusaha untuk berdiri kembali setelah menerima serangan dari Essal.
“Sial… Tubuhku rasanya sakit sekali.” Keluh pria itu, kesulitan untuk berdiri.
Belum sempat pria itu berdiri kembali, tiba-tiba saja Essal sudah berada di hadapannya.
“Tampaknya kau kesulitan untuk berdiri.” Kata Giantman tersebut, dengan ekspresi menyeringai.
Heinz pun nampak terkejut melihat Giantman tersebut kini berada dihadapannya.
“Biar kubantu untuk berdiri.” Dengan cepat Essal mencengkram leher pria itu dan mengangkatnya ke atas.
“Ukh…” Heinz pun nampak meronta-ronta mencoba untuk melepaskan cengkram tangan Giantman itu dari lehernya.
Namun, karena perbedaan kekuatan fisik yang cukup jauh antara mereka berdua, membuat Heinz akhirnya pasrah dengan keadaanya tersebut.
“Ternyata kau ini sangatlah lemah. Berani-beraninya saat itu kau mau menantangku. Aku yakin pasti orangtuamu itu merupakan orang yang lemah juga.”
“Atau… Apa mungkin dia kini sudah meninggal, karena kemungkinan dia orang yang lemah sepertimu,” kata Essal, terlihat memanas-manasi Heinz dengan menghina keluarganya.
“Beraninya menghina keluargaku… Yang sudah tenang disana…” Mendengar hinaan tersebut, Heinz sontak menjadi tidak senang.
Seketika mata Heinz nampak memancarkan cahaya berwarna putih. Dia pun terlihat menggenggam erat kedua tangan Essal, yang sontak membuat Giantman itu sedikit terkejut.
Dalam waktu yang bersamaan, terdengar suara gemuruh petir dari langit di atas mereka.
*
“Eh… Kenapa cengkraman tangannya menjadi kuat seperti ini?” Kata Essal dalam hati.
**
Dengan sekuat tenaga, Heinz pun berhasil melepaskan cengkraman tangan Essal darinya.
Dengan cepat Heinz langsung menendangnya, hingga membuat Giantman itu pun langsung terjatuh.
Heinz pun kemudian bergerak mengambil kapaknya yang berada di dekatnya. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung menyerang Giantman tersebut.
Secara bersamaan, saat Giantman tersebut menerima ayunan kapak dari Heinz, sebuah petir langsung menyambar Essal, yang langsung membuatnya terhempas.
“Argh…!” Teriak Essal, mendapat serangan dari Heinz dan sambaran petir secara bersamaan.
“Eh… Petir…? Apakah akan turun hujan?” Heinz pun nampak kebingungan setelah melihat sambaran petir yang menghantam Giantman itu barusan.
Masih bisa bertahan dari serangan sebelumnya, Essal terlihat kembali berdiri. Nampak dari raut wajah kesal Giantman tersebut, setelah perbuatan Heinz padanya sebelumnya.
Melihat hal tersebut, Heinz sontak bersiap untuk menahan serangan dari Giantman itu. Dia kemudian mengangkat kapaknya dan meningkatkan kekuatannya, hingga menciptakan kobaran api pada senjatanya tersebut.
Saat Giantman itu berada tepat di depannya, dengan cepat Heinz pun mengibaskan kapaknya tersebut.
Tiba-tiba terciptalah sebuah pusaran angin yang cukup besar hingga membuat Giantman itu terbang ke udara layaknya sebuah layang-layang.
“Aaah…!” Teriak Essal, terhempas ke udara.
“Haah…? Sejak kapan aku bisa menciptakan pusaran angin?”
Heinz nampak terkejut keheranan melihat hal yang barusan dia lakukan. Setahunya bahwa dia memang tidak bisa melakukan hal tersebut, dikarenakan kekuatannya hanyalah elemen api.
Tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut terlalu lama, saat melihat Giantman tersebut kini nampak sudah mulai terjatuh, Heinz pun mengambil kesempatan tersebut dengan terlebih dahulu berkonsentrasi meningkat kekuatan kembali.
“Fire burst… Long slash…” Dengan cepat serangan proyeksi elemen api Heinz meluncur ke arah Essal yang sementara terjatuh dari langit.
Serangan tersebut langsung menghantam Essal, hingga membuatnya kembali terhempas sampai mendarat dengan kerasnya ke tanah. Hal tersebut sontak membuat Giantman itu seketika mengalami kekalahan.
“Wuu… Huu…” Seru Heinz sambil mengangkat kapaknya, berhasil mengalahkan Essal.
**
Berpindah pada pertarungan Bohrneer dan Fegant, yang nampak terlihat masih sengit.
Tiba-tiba saat kedua petarung itu mulai kehabisan tenaga, mereka berdua pun sontak secara bersamaan melompat ke belakang untuk menjaga jarak.
“Heinz Flaus, dari tim Fuegonia B berhasil mengalahkan Essal Nomos, dari tim Asimir.”
Mendengar pengumuman hasil pertarungan Heinz dan Essal, kedua orang itu pun sontak langsung terkejut.
“Apa…? Essal telah dikalahkan…”
“Dasar Heinz, membuatku khawatir saja tadi.”
Nampak ekspresi kesal terlihat dari wajah Fegant setelah mendengar pengumuman hasil pertarungan tersebut.
“Baiklah, sekarang bukan waktunya untuk main-main,” kata Fegant, dengan ekspresi serius.
Giantman itu terlihat meningkatkan kekuatannya, yang sontak membuat tanah disekitarnya berguncang.
*
“Apa mungkin Ekdosi?” Kata Bohrneer dalam hati, menduga sesuatu.
**
Tidak mau kalah, Bohrneer pun sontak berkonsentrasi. Nampak kapak yang dipegangnya tersebut perlahan-lahan mengeluarkan kobaran api.
**
Di lain tempat, terlihat Raquille dan Neyndra yang sedang menuruni sebuah bukit, nampak merasakan goncangan tersebut.
Dikarenakan goncangan tanah tersebut, tiba-tiba saja membuat Neyndra jatuh terperosok.
Melihat perempuan itu nampak meluncur ke bawah, dengan cepat Raquille melompat dan langsung menggapai tangannya.
“Eh… Terima kasih,” ucap Neyndra.
“Iya, sama-sama,” balas Raquille.
“Kenapa tiba-tiba terjadi gempa bumi?” Lanjutnya, nampak memikirkan sesuatu.
**
“I defteri ekdosi… Vrofor the mud lord…” Bersamaan dengan goncangan tanah tersebut, seketika gumpalan-gumpalan tanah yang berada disekitar Fegant terbang menempel hingga menyelimuti tubuhnya. Tanah-tanah tersebut kemudian memadat, sehingga membuat Giantman itu kini memiliki wujud layaknya seperti monster tanah.
Di sisi lain, nampak Bohrneer gagal untuk mengaktifkan kekuatan pelepasan kedua miliknya. Terlihat kobaran api yang keluar dari kapaknya, seketika masuk kembali ke dalam kapaknya.
“Sial…” Keluh Bohrneer.
**
Kembali pada Raquille dan Neyndra yang berada ditempat lain.
“Goncangannya berhenti,” kata Neyndra.
“Iya,” kata Raquille
*
“Sepertinya Bohrneer dalam bahaya sekarang,” kata Raquille dalam hati, tampaknya mengetahui keadaan Bohrneer.
**
“Gadis aneh, pegang kapakku sebentar,” kata Raquille, memberikan kapaknya.
Neyndra pun langsung mengambil kapak dari Raquille, namun dengan ekspresi yang bingung.
Seketika Raquille menciptakan sebuah panah dari es.
“Ice cursed… Cold arrow…” Raquille pun kemudian meluncurkan anak panah es tersebut entah kemana.
“Hei, apa yang kau lakukan?” Tanya Neyndra.
**
Kembali pada Bohrneer. Nampak Fegant yang mengalami perubahan tersebut perlahan-lahan mulai mendekati Bohrneer.
“Sial, padahal aku ingin sekali untuk menang.” Melihat hal tersebut, Bohrneer pun kini hanya bisa pasrah karena walaupun menyerang lawan yang berada dihadapannya tersebut merupakan hal yang percuma.
“Akh…!”
Tiba-tiba anak panah es yang sebelumnya diluncurkan oleh Raquille, menancap pada tubuh Fegant. Anak panah tersebut nampak perlahan-lahan menjadi butiran es dan masuk ke tubuh Giantman itu.
*
“Ada apa ini…?” Kata Fegant dalam hati, seketika jatuh tersungkur.
**
Setelah anak panah tersebut masuk ke dalam tubuhnya, tiba-tiba Giantman itu merasakan dingin yang amat menusuk.
Seketika tanah yang melapisi tubuhnya mencair seperti lumpur, hingga membuatnya kembali ke wujud semula.
*
“Panah es? Apa mungkin ini perbuatan tuan Raquille?” Kata Bohrneer dalam hati, menduga hal tersebut.
**
“Hahaha…!” Seketika Bohrneer tertawa dengan senangnya.
“Hei raksasa, sepertinya ini bukan hari keberuntunganmu,” lanjutnya, nampak merendahkan Giantman tersebut.
Tanpa berlama-lama lagi, Bohrneer pun langsung mengangkat tangannya dan menciptakan sebuah bola api yang cukup besar.
“Fire projection… Ball of fire…” Seketika dia pun langsung meluncurkan bola api tersebut ke arah Fegant, yang sedang tersungkur tersebut.
Saat bola api tersebut menghantam Giantman itu, terciptalah sebuah ledakan yang cukup kuat.
“Aarrghh…!” Teriak Fegant.
Dalam sekejap Giantman itu pun langsung mengalami kekalahan.
***
“Bohrneer Flaus, dari tim Fuegonia B berhasil mengalahkan Fegant Nomos, dari tim Asimir.”
Mendengar pengumuman hasil pertarungan tersebut, sontak para penonton pun seketika bersorak.
Kemudian layar yang berada pada arena turnamen tersebut langsung menampilkan perolehan poin dari seluruh tim.
Fuegonia B (33), Fuegonia A (22), Lightio (17), Cielas (13), Asimir (12), Vielass (8), Mormist (4), Neodela (3), Machora Tira (2).
**
Kemudian memperlihatkan Rox dan Rourke, yang kini telah kembali ke tribun khusus mereka. Nampak di tempat itu juga mereka telah bersama dengan Ailene, salah satu saudara dari Neyndra.
“Ternyata tim Fuegonia B memang tidak boleh dianggap remeh,” kata Rox, memuji para Raquille dan yang lain.
“Iya ayah, kau juga perlu bangga karena kakak Neyndra juga berada di tim tersebut. Ditambah lagi, kini anggota Land Venerate pada clan telah bertambah,” kata Ailene.
“Hahaha… Kau benar, sepertinya clan kita sekarang sudah selangkah lebih maju dengan clan lain,” kata Rox, tertawa, nampak membanggakan perkataannya tersebut.
*
“Tadi itu kalau tidak salah dia sebelumnya menerima serangan dari sebuah panah es… Apa mungkin panah tersebut berasal dari Laventille.”
“Apa itu semacam sihir pembatalan?”
“Yang kulihat selama ini, sudah kedua kalinya Elfman itu menggunakan teknik tersebut, dan juga pada petarung Land Venerate yang mengaktifkan Ekdosi mereka.”
Berbeda dengan ayah dan saudaranya, yang mengapresiasi kemenangan dari para anggota tim Fuegonia B sebelumnya, Rourke nampak bergumam dalam hati, memikirkan sesuatu yang membuat kecurigaannya pada Raquiile menjadi lebih kuat.