The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 34 - Komandan besar Pavonas



Nampak Rox, Rourke, Drakon dan Raquille berada di dalam ruangan pertemuan.


“Jadi sebenarnya sebelum kalian datang kemari, kalian lebih dahulu pergi kota kecil yang berada di daerah Barat Laut sana?” Tanya Rox.


“Tuan Rox, sebenarnya aku serta para pasukanku sebelumnya hanya ditugaskan oleh tuan Achilles Noroh untuk pergi ke kota D’Swano, kota yang berada di daerah Barat Laut sana untuk menangkap para perampok gunung yang dipimpin oleh Bohrneer Flaus.”


“Namun, saat kami dalam perjalanan ke kota tersebut, kami sontak mendapatkan sebuah perintah lagi, bahwa setelah kami menangkap para perampok tersebut, kami diharuskan untuk pergi ke kota ini untuk menghadiri acara penobatan dari tuan Rourke di kota Novacurve sebagai perwakilan dari Wattao, menggantikan nona Ailene dan tuan Lazurno yang sejak hari itu masih belum sampai.”


“Lalu… Bagaimana denganmu Laventille?” Tanya Rox pada Raquille.


“Eh… Iya… Aku…” Jawab Raquille nampak terbata-bata saat berbicara.


“Tuan Achilles menyuruh Laventille untuk mendampingiku saat pergi ke kota D’Swano tuan Rox. Karena sebelumnya dia juga pergi ikut dengan tuan Achilles pergi ke kota itu,” Drakon pun sontak menyangga perkataan Raquille yang terbata-bata saat ditanyai oleh Rox.


“Benar juga… Sudah pasti seperti itu, kenapa juga aku bertanya seperti itu, hahaha…” Tiba-tiba pemimpin clan Drown tertawa.


“Baiklah… Lanjutkan ceritamu itu.” Dia pun kemudian menyuruh Drakon untuk menceritakan cerita yang selanjutnya.


“Tetapi, saat sekitar kurang dari sepuluh kilometer dari kota Novacurve, Bohrneer beralasan untuk ingin buang air, jadi kami memutuskan untuk berhenti sejenak,” kata Drakon.


“Namun, ternyata para perampok sudah menyusun rencana untuk melarikan diri dari kami. Mereka kemudian langsung menyerang pasukan kami saat sedang berhenti.”


“Lalu apa hubungannya dengan Rourke?” Tanya Rox.


“Saat itulah tuan Rourke, secara tiba-tiba muncul dan langsung menyerang Bohrneer,” jawab Drakon.


“Benarkah begitu?” Tanya Rox pada Rourke.


“Waktu itu, saat selesai berlatih di gunung Galbrid, aku hendak menunggu Dierill dan Afucco yang entah pergi kemana. Namun, dari arah jalan raya aku mendengar sebuah keributan. Aku melihat bahwa para prajurit Fuegonia sedang bertarung dengan para perampok,” kata Rourke menceritakan hal tersebut.


“Aku melihat salah satu dari mereka akan segera melancarkan sebuah serangan pada Drakon. Dengan cepat aku langsung menyerang orang itu, yang ternyata adalah Bohrneer, sehingga membuatnya langsung terluka.”


“Aku hampir saja membunuhnya, namun Laventille datang menahan seranganku itu. Bohrneer kemudian disembuhkan olehnya dan akhirnya dia malah loyal kepada pemuda ini.”


“Hmph… Jadi seperti itu ceritanya… Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin tahu saja.” Setelah mengatakan hal tersebut, pemimpin clan Drown itu kemudian pergi dari ruangan tersebut meninggalkan mereka bertiga tanpa bertanya kembali.


“Dasar pak tua sial… Percuma saja aku menceritakan hal itu,” Melihat pria itu pergi begitu saja, Rourke sontak langsung mengumpati ayahnya tersebut.


“Mohon maaf karena sifat ayahku memang seperti itu. Yang pasti dia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Kalian tenang saja, dan fokus saja pada turnamen final besok malam,” lanjutnya.


“Kalau begitu aku pergi juga.” Rourke kemudian meninggalkan Raquille dan Drakon.


*


“Dasar ketua clan dan anaknya itu… Apa mereka berdua tidak sadar bahwa ada dua penyusup yang sedang berada di tempat ini? Heh… Aku jamin pasti kalian akan ketar-ketir nantinya jika para penyusup itu mengambil sesuatu yang berharga dari tempat ini,” kata Raquille dalam hati.


**


“Laventille… Kalau begitu ayo kita kembali ke tempat kita sekarang,” kata Drakon.


“Namaku Raquille…” Pemuda itu nampak kesal mendengar pria itu memanggil dirinya dengan nama samarannya.


“Terima saja bahwa namamu sekarang adalah Laventille. Dan juga kau harus bersyukur karena aku masih menyembunyikan identitas aslimu pada semuanya,” kata Drakon.


“Bahkan pada nona Neyndra-mu itu…? Tapi, kenapa aku melihat sepertinya kecewa padamu. Apa karena dia sudah tahu bahwa kau telah berbohong padanya?” Balas Raquille.


“Diam kau…”


“Hahaha… Lihat kau sekarang, pasti kau sedang patah hati?” Sontak Raquille langsung menyindir pria itu saat menyuruhnya untuk diam.


“Sudah kubilang diam…”


Setelah pembicaraan singkat tersebut, mereka berdua pun kemudian pergi dari ruangan tersebut dan kembali ke tempat mereka.


***


Berpindah ke negeri Pavonas, benua Greune. Tepatnya di sebuah kota yang bernama Vosmoc, dimana kota tersebut merupakan pusat pemerintahan, sekaligus kota terbesar yang berada di negeri tersebut.


“Sambutlah… Komandan besar negeri Pavonas… Tuan Vahal Izumir…” Nampak sebuah rombongan prajurit Pavonas memasuki gerbang masuk kota sambil mengatakan hal tersebut berulang kali.


Terlihat seorang pria yang bernama Vahal Izumir sedang menunggangi seekor kuda di tengah para pasukan Pavonas itu.


**


Kemudian di sebuah balkon istana terlihat perempuan yang bernama Erissa sedang bersama dengan dua pria bernama Yankee dan Viecion.


“Berisik sekali… Mereka bahkan masih berada jauh disana, namun suara mereka sangat jelas terdengar sampai kesini,” kata Yankee, mengomentari rombongan prajurit itu, yang dirasanya sedikit berisik.


“Heh… Ini sudah menjadi kebiasaan dari para pasukan Pavonas pada suatu kedatangan dari seorang petinggi, kapanpun atau dalam suasana apapun itu,” kata Viecion.


“Namun, disamping itu… Siasat macam apa lagi yang dia lakukan sehingga bisa memenangkan peperangan kembali?” Lanjutnya, bertanya.


“Kurasa siasat yang sama lagi,” kata Erissa.


“Tapi, aku penasaran pada tawanan yang dia bawah kali ini. Aku ingin melihatnya.” Erissa kemudian pergi meninggalkan kedua orang tersebut untuk menemui para pasukan itu.


**


Beberapa saat kemudian rombongan prajurit itu sampai di depan istana. Pria bernama Vahal itu kemudian turun dari kudanya dan masuk ke dalam istana.


Beberapa dari para prajuritnya pun lalu menurunkan beberapa tawanan dari sebuah kendaraan dan kemudian mendorong-dorong tawanan-tawanan itu untuk masuk ke dalam istana.


**


Di dalam istana terlihat Rumen, pemimpin dari negeri Pavonas telah berada di atas singgah sananya.


“Vahal… Sungguh kejutan kau datang malam-malam begini. Bagaimana keadaanmu sekarang?” Kata Rumen, yang kemudian bertanya tentang keadaan dari pria bernama Vahal itu.


“Seperti yang anda lihat tuanku, aku masih sehat-sehat saja. Hahaha…!” Jawab pria bernama Vahal itu dengan tertawa.


Pemimpin negeri Pavonas itu kemudian melihat beberapa tawanan yang dibawah oleh para prajurit.


“Seperti yang kau lihat…” Vahal kemudian mengaktifkan kekuatannya, yang membuat keenam tawanan tersebut bergerak maju berlutut di depannya.


“Dua laki-laki dan dua perempuan ini merupakan anggota clan Axt yang berasal dari negeri Frieden. Sedangkan sepasang laki-laki dan perempuan lainnya adalah anggota dari clan Adge dari negeri Erstleland,” kata Vahal memperkenalkan para tawanannya pada Rumen.


“Dan lebih dari itu… Satu anggota dari masing-masing clan ini merupakan seorang Continent Venerate.” Pria itu lalu menggunakan kekuatannya kembali untuk membuat kedua orang yang dia maksud itu berdiri dan bergerak maju, kemudian berlutut kembali.


“Dua Continent Venerate yah…?” Rumen lalu berdiri dari singgah sananya mendekati kedua Continent Venerate tersebut.


“Bagaimana jika kalian menjadi prajurit Pavonas saja dan melayaniku sebagai tuan kalian? Maka belenggu kalian akan kulepaskan sekarang juga.” Tanya Rumen menawarkan sebuah tawaran pada orang itu.


“Heh… Lebih baik kau mengirimku ke dalam tahanan sampai membusuk atau membunuhku sekarang juga, daripada harus menjadi prajurit negeri ini,” kata salah Continent Venerate, menolak mentah-mentah tawan dari Rumen.


“Aku banyak mengetahui tentangmu Rumen Sayruz. Pemimpin negeri Pavonas yang menganggap dirinya ada di atas segalanya, sehingga semua perintahmu itu harus dipatuhi secara mutlak…”


Mendengar perkataan dari salah Continent Venerate itu, ekspresi dari Vahal sontak menjadi tidak senang. Dia hendak menghentikan perkataan dari pemuda itu, namun Rumen sontak langsung mengangkat tangannya untuk membiarkan Continent Venerate itu melanjutkan kata-katanya.


“Kau banyak kali sering menyulitkan rakyatmu sendiri… Memerangi negeri lain yang berbeda ideologi denganmu…”


“Hahaha… Kurasa kau yang salah anak muda. Kubuh kalianlah yang tidak mau menerima keberadaan kami dan menyerang kami lebih dulu. Aku hanya memberi perlawanan untuk membuktikan bahwa negeri ini memang tidaklah lemah seperti negeri-negeri dari kubuh kalian,” kata Rumen, menjelaskan hal tersebut pada pemuda itu.


“Dan untuk para rakyatku… Aku hanya memberikan pelajaran yang pantas kepada mereka agar harus patuh kepadaku,” lanjutnya.


“Dasar iblis… Kau pantas untuk mati…” Kata pemuda dengan nada tinggi.


“Ternyata kau keras kepala juga yah...? Kalau begitu kirim mereka semua ke penjara saja.” Rumen lalu memerintahkan para prajurit, lalu pergi membelakangi mereka semua.


Belum sempat para prajurit akan membawa mereka, dengan cepat salah satu Continent Venerate yang menolak tawaran dari Rumen itu terlihat membuka borgolnya dan langsung berlari ke arah pemimpin negeri Pavonas itu.


“Hei…!” Teriak Vahal, tidak memperkirakan hal tersebut.


Pemuda Continent Venerate itu sontak langsung melompat dan memunculkan sebuah tombak hendak menyerang Rumen yang membelakanginya.


Seketika, sebuah tumbuhan merambat tiba-tiba muncul dan langsung menjerat pemuda itu sampai membuatnya tidak dapat bergerak untuk menyerang Rumen.


“Urgh… Sialan kekuatan macam apa ini?” Tanya pemuda itu, kebingungan dirinya terjerat oleh tumbuhan merambat tersebut.


Rumen kemudian menoleh pada pemuda yang telah terjerat oleh tumbuhan itu.


“Wah… Wah… Rupanya usahamu itu sia-sia… Kalau saja tumbuhan ini tidak muncul untuk menghentikanmu, pasti hal yang lebih buruk akan terjadi padamu anak muda. Benarkan begitu Erissa?” Pria itu lalu menoleh pada Erissa yang tiba-tiba sudah berada di tempat itu.


“Benar sekali tuan Rumen… Aku mencoba menghentikannya agar tidak terjadi hal yang buruk pada pemuda ini nantinya,” kata Erissa berjalan mendekati Rumen dan pemuda itu.


“Karena kudengar kemampuan dari clan Agde dari negeri Erstleland sangatlah menarik. Kita memerlukan orang ini,” lanjutnya, menyentuh wajah dari pemuda itu.


Setelah Erissa menyentuh wajah dari pemuda itu, dia nampak langsung tertidur oleh kekuatan dari Erissa.


“Kakak…! Apa yang kalian lakukan padanya?!” Teriak salah satu tawanan, yang merupakan saudara dari pemuda yang menyerang Rumen itu.


“Nona Agde… Mohon tenang dulu, aku yakin mereka tidak akan melakukan hal yang buruk pada saudaramu itu,” kata salah satu Continent Venerate.


Kemudian tumbuhan yang menjerat pemuda itu tiba-tiba menghilang, sehingga membuat jatuh terkapar di lantai.


Para prajurit lalu mengangkat pemuda itu dan membawanya keluar bersama dengan kelima tawanan lain.


“Mohon maaf tuan Rumen, aku tidak memperkirakan hal ini,” Kata pria bernama Vahal.


“Tak usah dipikirkan… Dan juga, aku tidak menyangka bahwa kau bisa mengalahkan dua Continent Venerate sekaligus,” kata Rumen memuji Vahal.


“Anda terlalu berlebihan memuji tuanku,” kata Vahal, merendahkan dirinya dihadapan Rumen.


“Tuan Vahal ini sangat aneh, biasanya kau langsung membunuh musuhmu, kenapa sekarang kau malah membawa mereka sebagai tawanan?” Tanya Erissa.


“Nona Erissa… Mungkin anda telah salah. Sejak kapan aku seperti itu?”


***


Beralih kembali pada Raquille dan Drakon. Terlihat kedua orang itu telah sampai di depan paviliun mereka. Di depan paviliun tersebut nampak Bohrneer serta Heinz sedang duduk.


“Hei… Ada apa kalian masih berada di luar?” Tanya Drakon.


“Bagaimana tuan prajurit, apakah mereka tak akan mempermasalahkan hal itu?” Tanya balik Bohrneer.


“Yahh… Sepertinya mereka tidak terlalu peduli tentang hal itu,” jawab Drakon.


“Tapi…”


“Sudahlah yang pasti sekarang kalian berdua serta para bawahan kalian sudah bukan lagi seorang perampok, melainkan prajurit Fuegonia,” kata Drakon, menyemangati Bohrneer dan Heinz.


“Heh… Aku tidak perlu pujianmu itu. Tapi, terima kasih karena sudah membela kami, dan tuan Raquille juga, terima kasih juga.” Tiba-tiba Bohrneer berterima kasih pada Drakon.


“Lihat kau… Terima kasih…? Baru kali ini kau hormat pada atasanmu ini,” kata Drakon terkejut Bohrneer berterima kasih padanya.


“Tapi, aku penasaran kenapa kalian sebelumnya menjadi perampok? Kurasa kalian berasal dari clan yang terhormat?” Tanya Raquille.


“Sebelumnya memang seperti itu. Kami berdua merupakan orang yang berasal dari clan Flaus, salah satu dari besar Fuegonia yang mendiami daerah Akalsa, Fuegonia,” kata Bohrneer.


“Apa kau mau menceritakannya pada kami?” Tanya Raquille yang kemudian duduk bersama mereka berdua.


“Tapi… Kenapa anda ingin tahu tentang hal itu?” Tanya balik Bohrneer.


“Aku hanya penasaran saja tentang apa yang dikatakan Heinz tadi, sewaktu berada di arena turnamen,” jawab Raquille.


“Baiklah… Demi kau, aku akan menceritakannya,” respon Bohrneer.


“Masa kecil kami setiap harinya diisi dengan keceriaan, sebelum hari itu datang. Hari dimana malapetaka datang menghampiri clan kami,” lanjutnya berkata.


“Dua belas tahun yang lalu, pasukan dari negeri yang berada di benua seberang datang menginvasi daerah Akalsa. Entah kenapa pasukan Fuegonia tidak mau turun tangan melawan mereka. Clan kami secara terpaksa harus melawan mereka demi melindungi daerah kami. Namun, hal itu sia-sia, anggota clan kami satu per satu dibunuh hingga hanya menyisakan kami berdua.” Heinz pun kemudian menyambung cerita tersebut.


“Kami beruntung masih bisa hidup sampai sekarang karena seseorang telah menyelamatkan kami… Aku masih jelas mengingatnya, dia tinggi, berambut putih, dan dengan gagahnya dia melawan mereka dengan memegang sebuah pedang berbilah dua di kedua ujungnya…”