The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 62 - Masuk ke wilayah Gimoscha



–16 sampai 20 Juni 3029–


Setelah mengalahkan pasukan Gimoscha di kota Ceabalte, sesuai dengan rencana dari Juaferrex sebagian pasukan Serepusco bersama dengan World Venerate tersebut menyerang pasukan Gimoscha yang menduduki wilayah pesisir timur Serepusco, dan sebagian dari pasukan Serepusco menuju ke wilayah Serepusco dan Calferland yang diduduki oleh pasukan Gimoscha.


Dalam tiga hari berturut-turut pasukan Serepusco yang dipimpin oleh Juaferrex terus-terusan menyerang pasukan Gimoscha hingga mengusir pasukan tersebut dari wilayah pesisir timur Serepusco kembali negeri asal mereka.


Sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Clava berhasil mengusir pasukan Gimoscha di wilayah kepulauan Cirabale selama kurun waktu dua hari setelah keberangkatan mereka ke wilayah negeri Serepusco tersebut.


Clava bersama pasukan dari Serepusco yang dipimpinnya tersebut kemudian melanjutkan penyerangan mereka ke wilayah dudukan pasukan Gimoscha di pulau Criosca dan pulau Danirias.


Dalam dua hari berturut-turut pasukan Serepusco yang menyerang berhasil merebut wilayah tersebut dan memaksa muncur pasukan Gimoscha ke wilayah negeri asal mereka.


Clava bersama pasukannya lalu terus maju hingga ke wilayah negeri Gimoscha di kepulauan Mayilicasta, dan berhasil merebut wilayah tersebut sehari setelah kedatangan mereka.


Pasukan Serepusco lalu menyebrang ke wilayah ujung selatan semenanjung Pianena, daratan utama negeri Gimoscha dan terus maju sampai mereka berhasil mencapai ke ibukota negeri tersebut.


Di sisi lain, pasukan Calferland yang telah berhasil mengambil alih wilayah mereka kemudian masuk ke wilayah utara dari semenanjung Pianena. Mereka akan terus maju menyerang wilayah Gimoscha sampai mereka berhasil mencapai ibukota negeri itu dan bertemu dengan para pasukan Serepusco.


–21 Juni 3029–


Di kota Reom yang merupakan ibukota serta kota terbesar di negeri Gimoscha, terlihat Neptuno, Marte, Mercurio, serta perempuan bernama Terra seorang pria di suatu ruangan.


“Jadi, bagaimana keadaan dari Dagon dan Tezia sekarang?” Tanya pria itu.


“Mereka tidak merespon pertanyaan kami sampai sekarang. Apapun yang kami lakukan itu tetap saja sia-sia. Bahkan mereka tidak melakukan apa-apa dan hanya terdiam dengan ekspresi datar sejak kembali kemari,” jawab Marte menjelaskan keadaan dari Dagon dan Tezia setelah pertarungan mereka berdua melawan Raquille sebelumnya.


“Hmph… Memangnya Venerate mana yang bisa melakukan teknik seperti itu selain bangsa Slivan,” ucap pria itu, nampak penasaran.


“Kurasa Venerate yang kalian bicarakan ini merupakan penyihir.” Tiba-tiba seorang perempuan datang memasukki ruangan tersebut dan menjawab penasaran pria itu.


“Penyihir…?” Tanya pria itu.


“Benar sekali tuan Acadiuno, Venerate yang dilawan oleh Dagon dan Tezia kemungkinan adalah adalah penyihir.”


“Mereka memiliki kemampuan beragam dengan kekuatan mereka tersebut… Baik penyembuhan, ilusi, spasial, pertahanan, maupun beberapa serangan elemental seperti kita para pengendali musim.”


“Bagaimana ciri-ciri dari Venerate itu,” tanya perempuan tersebut pada para prajurit yang pernah melawan Raquille.


“Orang itu berambut putih, tingginya mungkin kurang dari seratus sembilan puluh sentimeter, memiliki warna mata biru, beberapa teknik yang dilancarkannya adalah elemen es… Namun, walaupun dia adalah laki-laki, tapi wajahnya lebih mirip seorang perempuan.” Mercurio pun menjelaskan ciri-ciri dari Raquille pada perempuan yang bertanya itu.


Mendengar jawaban dari Mercurio, perempuan itu nampak memasang ekspresi senyuman menyeringai dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Ada dua bangsa penyihir kuat yang mendiami benua Aizolica… Yang pertama adalah bangsa Lightio, bangsa yang terdiri dari beberapa serikat penyihir di dalamnya. Sedangkan yang kedua adalah bangsa Blueland atau bisa disebut juga sebagai Elfman, ras keturunan campuran yang memiliki kemampuan memanipulasi elemen es dan kekuatan sihir itu sendiri,” ucapnya.


“Benar juga bangsa Elfman yah… Aku baru ingat bahwa bangsa itu sangat disegani karena raja mereka yang diklaim sebagai World Venerate terkuat,” respon pria bernama Acadiuno.


“Ayah, daripada membahas hal yang kurang penting seperti itu, lebih baik biarkan aku pergi ke wilayah selatan melawan mereka kembali. Aku yakin kali tidak akan mengecewakanmu.” Seketika Neptuno memotong pembicaraan pria yang disebutnya sebagai ayah itu.


“Neptuno, sudahlah… Terima saja kekalahanmu. Untuk sekarang aku telah mempercayakan clan Nerautunno untuk menangani pasukan Serepusco yang masuk dari wilayah selatan.” Namun, pria tersebut tidak mengijinkan anaknya itu untuk berangkat melawan pasukan Serepusco.


“Tuan, Acadiuno. Tenang saja, kemenangan pasukan Serepusco hanya bersifat sementara saja. Mereka akan kalah telak jika berhadapan dengan para saudaraku… Aku juga telah berpesan bahwa mereka harus menangkap pemimpin-pemimpin Serepusco yang datang menyerang tersebut,” ucap perempuan itu dengan percaya dirinya.


“Benar sekali, dan juga aku ingin kau memberitahukan kepada mereka bahwa Elfman yang menawan anakku Plutone harus dibawah kemari,” respon pria bernama Acadiuno tersebut.


*


“Heh… Perempuan sombong sekali perempuan ini,” kata Neptuno dalam hati.


**


“Neptuno, sudah kukatakan padamu kalau aku tidak akan mengijinkanmu untuk pergi. Aku khawatir jika kau tertangkap oleh pasukan Serepusco.” Namun, ayah dari pria itu masih tetap tidak mengijinkannya untuk dengan alasan khawatir terhadapnya.


Neptuno pun terlihat kesal, tetapi pria itu tidak bisa melanggar perintah dari ayahnya tersebut dan memilih untuk diam.


***


Berpindah ke armada pesawat dari pasukan Serepusco yang telah jauh masuk ke dalam wilayah semenanjung negeri Gimoscha tersebut.


Di salah armada pesawat tersebut, terlihat Raquille, Clava, beserta Arepo dan Mayorio sedang berkumpul di dalam ruang kendali pesawat tersebut.


“Setelah kita melewati pegunungan yang berada di depan ini, kita akan sampai ke kota pertama di wilayah semenanjung ini,” ucap Clava.


**


Beberapa saat kemudian, setelah armada pesawat Serepusco melewati pegunungan yang menjulang tinggi, terlihat sebuah kota dengan dibatasi oleh sebuah benteng nampak berada di balik pegunungan tersebut.


Di atas benteng kota tersebut, nampak tiga orang prajurit Gimoscha, yang terdiri dari dua pria dan satu perempuan sedang berdiri di tempat tersebut.


“Pasukan Serepusco, aku peringatkan untuk segera putar balik ke wilayah kalian sekarang juga… Jika tidak maka kami tidak akan segan-segan untuk menyerang kalian,” ucap seorang pria suara yang berdiri di tengah dengan suara yang menggema.


**


“Haah, sial… Itu clan Nerautunno,” kata Clava.


“Memangnya kenapa dengan mereka?” Tanya Raquille.


“Bisa dibilang mereka adalah lawan alami kita,” jawab Clava.


“Lawan alami…?” Raquille pun nampak bingung mendengar jawaban dari pria itu.


**


Walaupun dapat mendengar peringatan dari pria itu, armada pesawat Serepusco tersebut tetap terus maju tanpa menghiraukan peringatan darinya.


“Sepertinya kita tidak punya pilihan,” kata pria yang berada di samping.


Tanpa pikir panjang, ketiga prajurit Gimoscha itu mengangkat salah satu tangan mereka ke atas.


Tak berapa lama setelahnya sebuah kobaran api yang sangat besar muncul di atas tiga prajurit tersebut.


**


“Oh, jadi itu yang kau sebut dengan lawan alami.” Raquille pun akhirnya paham dengan penjelasan dari Clava sebelumnya, setelah melihat tiga prajurit Gimoscha itu mengeluarkan kobaran api hendak menyerang armada pesawat mereka.


“Clava, ayo kita keluar sekarang.” Pemuda itu bersama dengan Clava kemudian keluar dari pesawat dan terbang ke udara.


Mereka berdua kemudian berhenti dan melayang di udara setelah berada beberapa jarak dari ketiga prajurit Gimoscha itu.


**


“Breaker flame… Holy star flame…” Seketika ketiga orang itu langsung meluncurkan serangan mereka ke arah Raquille dan Clava yang sedang melayang di udara.


“Geheimer Windzauberspruch… Mikill vindvirvelschild…” Dengan santainya Raquille mengangkat tangannya ke arah serangan elemen api tersebut sambil mengucapkan sebuah mantra.