
“Hmph, Serepusco dan Calferland yah... Selama ratusan tahun yang lalu, ketiga bangsa ini hidup dengan sengsara atas kekejaman yang dilakukan oleh kaisar pertama Seremoschan. Aku tidak akan terkejut lagi jika suatu hari mereka akan membalas kekejaman itu padaku, sebagai keturunan dari kaisar pertama.” Pria itu nampak menceritakan tentang kekejaman yang dilakukan oleh leluhurnya terdahulu.
“Yang mulia, invasi yang dilakukan oleh Serepusco beserta Calferland bukanlah bertujuan untuk menggulingkan anda dari tahta Gimoscha, melainkan untuk menghentikan pengaruh dari kubuh timur dari benua ini.” Namun, tujuan Acadiuno menemuinya untuk memberitahukan bahwa dua negeri kubuh barat menyerang bukan untuk mendengarkan ocehan yang dilontarkan oleh pria itu.
“Kubuh timur...? Apa yang kau maksud sebenarnya?” Mendengar penjelasan dari Acadiuno, pria itu tampak bingung dan tidak mengerti dengan persoalan yang terjadi di negerinya tersebut.
“Penyerangan dari Serepusco dan Calferland bukanlah semata-mata tentang persoalan antara bangsa Seremoschan saja... Awal konflik ini pertama kali berasal dari negeri Pavonas, salah satu negeri bangsa Slivan yang memiliki pengaruh besar di benua ini. Negeri-negeri bangsa Friedenic dan Seremoschan lainnya tidak begitu menyukai bangsa tersebut dan sering menindas mereka.”
Acadiuno kemudian menceritakan awal permasalahan dari konflik antara kubuh barat dan kubuh timur, dimana saat negeri Pavonas sering ditindas, negeri tersebut kemudian membentuk sebuah aliansi bersama negeri Riemic dan Graina, negeri bangsa Slivan yang lain, serta negeri Geracie.
Negeri Gimoscha yang pada saat itu sering berkonflik dengan negeri sesama bangsa mereka, lebih memilih untuk mendukung bangsa Slivan memerangi negeri Greune lainnya lewat keputusan dari Acadiuno sendiri sebagai wali kapten, pimpinan perwakilan dari negeri Gimoscha.
Setelah aliansi kubuh timur yaitu GSG (Gimoschan-Slivan-Geracian) terbentuk, mereka kemudian melancarkan serangan invasi ke negeri kubuh musuh mereka selama sembilan tahun terakhir. Walaupun aliansi kubuh barat GANCO lebih dulu terbentuk, tapi mereka pergi sekalipun dapat mengimbangi kekuatan dari kubuh GSG tersebut.
Hingga pada saatnya, kubuh barat akhirnya bangkit dan melakukan serangan mereka dimulai dari invasi negeri Gimoscha, hingga negeri itu akhirnya terdesak sampai sekarang ini.
“Jadi, itulah yang terjadi selama aku mengurung diri dari tempat ini...” Setelah mendengar cerita dari Acadiuno, pria itu pun akhirnya mengerti tentang masalah yang sekarang dihadapi oleh negerinya tersebut.
“Jika dari awal aku tidak memutuskan untuk mendukung bangsa Slivan, pasti negeri ini tidak akan mengalami hal yang buruk,” ucap Acadiuno, merasa menyesal setelah memikirkan tentang keputusan yang diambilnya dahulu.
“Walaupun, kita dari awal berada di kubuh barat, negeri ini tetap akan mengalami kesulitan yang sama juga,” balas pria itu.
“Tapi, berbeda dengan kubuh timur yang sering mementingkan urasan pribadi, kubuh barat selalu saling menopang baik saat mereka mengalami kekalahan sekalipun.”
Melihat Acadiuno nampak menyesal dengan keputusan yang diambilnya, pria itu seketika mendekat dan memegang pundaknya.
“Acadiuno... Belum terlambat untuk mengakhiri semua ini. Aku yakin kubuh barat akan mengerti jika kita menyerah dengan baik-baik pada mereka. Walaupun sebagian wilayah telah diambil, tapi pikirkan dahulu tentang para warga.” Pria itu sontak menasehati Acadiuno agar dapat memilih pilihan terbaik untuk negeri mereka itu.
“Jadi, maksudmu menyerah adalah pilihan yang terbaik?” Tanya Acadiuno.
Pria itu pun seketika menganggukkan kepalanya sekali, menjawab pertanyaan dari Acadiuno.
*
“Menyerah...? Sejak kapan bangsa Seremoschan akan menyerah sebelum menyatukan kembali apa yang telah terpisah.” Tiba-tiba terdengar suara misterius berbicara di dalam kepala pria itu.
**
Mendadak saat suara tersebut didengarnya, kedua bola mata pria itu seketika berubah menjadi merah.
“Akh...!” Dia kemudian berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya, terlihat jatuh berlutut.
“Yang mulia... Ada denganmu?” Acadiuno yang khawatir melihat pria itu sontak memegang kedua pundaknya.
Baru saja Acadiuno bertanya tentang keadaannya, pria itu mendadak terdiam tidak menjerit kesakitan lagi.
“Tuan Janus, kau tidak apa-apa?”
“Siapa yang kau panggil Janus? Pria itu sekarang sedang tidur... Akulah yang mengambil kendali sekarang.” Tiba-tiba suara dari pria itu menjadi berbeda dari sebelumnya.
“Kau... Yang mulia Giano kan?”
Pria itu berdiri dengan tatapan tajam dan memegang pundak Acadiuno. Seketika hawa panas langsung dirasakan dari pundak pria itu.
“Mau negeri menjalin aliansi dengan bangsa Slivan sekalipun, aku tidak akan terima jika harus kalah dari budak-budak kita.”
“Aku telah membuat kesalahan menemui Yang mulia Janus ditempat ini... Seharusnya kau itu lenyap saja...” Acadiuno sontak menepis tangan pria itu melepaskan cengkramannya dari pundak Acadiuno.
“Kau melakukan pilihan yang dengan datang ke tempat ini anak muda... Mulai dari sekarang aku yang akan mengambil alih posisi pemimpin negeri ini, dan Gimoscha akan tetap berada di pihak kubuh timur.”
“Aku tidak akan membiarkannya. Kau seharusnya sudah menghilang dari dulu dasar hantu...” Saking kesalnya, Acadiuno sontak mengumpati pria itu.
“Oh, lancang sekali kau pada leluhurmu anak muda...” Tidak terima dengan ucapan tersebut pria seketika melancarkan serangan elemen apinya.
Sempat sedikit terhempas menerima serangan tersebut, Acadiuno membalasnya dengan serangan elemen petir.
Namun, pria itu dengan muda langsung menghindari serangan tersebut dengan melompat ke samping dan mendadak melancarkan serangan elemen api secara bertubi-tubi.
Melihat hal itu, Acadiuno dengan sigap menciptakan pusaran angin di depannya hingga melenyapkan serangan elemen api yang meluncur padanya.
“Baiklah, ini akan menjadi pertarungan antara World Venerate.”
“Tunggu dulu... Pertarungan antar World Venerate katamu...?” Merasakan sesuatu yang berbahaya jika dia meneruskan hal tersebut, Acadiuno seketika mengurungkan niatnya untuk menyerang pria itu.
“Sial...” Umpatnya dengan kesal.
“Kalau begitu, biarkan aku keluar dari sini anak muda.”
Acadiuno tidak memiliki pilihan selain mengikuti perintah dari pria itu, karena jika dia melawannya maka hal tersebut akan berujung pada sebuah pertarungan yang besar, yang akan berdampak pada kehancuran kota itu serta banyaknya korban berjatuhan.
Pria itu kemudian mendekat ke pintu gerbang ruangan yang luas tersebut dan memberikan kode pada Acadiuno agar penghalang yang berada pada gerbang tersebut dihilangkan.
“Breaker wind... Unlimited wind barrier... Released...” Tanpa memiliki pilihan yang lain, Acadiuno sontak menghilangkan penghalang dan mengeluarkan pria itu dari ruangan tersebut.
“Yang mulia... Bagaimana bisa anda keluar?” Salah satu prajurit yang berjaga di depan seketika terkejut, saat melihat pria itu keluar dari ruangan tersebut.
Tanpa menghiraukan prajurit tersebut, pria itu tetap berjalan menuju pintu keluar dari bangunan tersebut.
Tak berapa lama, Acadiuno juga keluar dengan raut wajah yang kesal, setelah membiarkan pria itu keluar.
“Haah... Sudah lama aku tidak menghirup udara yang segar ini,” ucap pria itu saat keluar dari basilika tersebut bersama dengan Acadiuno.
Setelah menghirup udara segar, pria itu kemudian terbang ke udara melihat pemandangan kota Reom dari atas.
“Reom... Ternyata kau telah banyak berubah setelah terakhir kali,” ucap pria itu sambil tersenyum menyeringai.
“Tenang saja, aku pasti akan menyatukan kembali bangsa Seremoschan yang telah terpisah selama ratusan tahun lamanya.”