The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 156 - Rumen Sayruz maju



Alyara kemudian menghampiri Ienin sambil berhati-hati karena World Venerate Pavonas itu berada di pihak musuh.


“Alyara apa maumu?” Tanya Ienin dengan ekspresi wajah yang serius.


“Ienin, aku tahu kau juga menentang ayahmu sendiri… Tapi, mengapa kau menghalangi mereka yang ingin menundukkan Rumen?” Tanya balik Alyara.


“Jelas saja harus menghalangi kalian karena masih menjadi Venerate Pavonas… Aku hanya menentangnya, namun tidak memiliki maksud untuk menundukkannya ataupun berusaha untuk melengserkannya sebagai pemimpin negeri ini,” jawab Ienin dengan tegas.


“Ienin, kau tahu sendiri kan apa yang dilakukan oleh pasukan Pavonas selama ini… Karena perintah dari ayahmu mereka menyerang wilayah negeri lain hingga membuat orang-orang yang tidak mengetahui masalah apa-apa terkena dampaknya,” ucap Alyara, berusaha meyakinkan pria itu.


Ienin pun hanya bisa terdiam sambil memikirkan sebuah pilihan yang akan dilakukannya setelah ini.


***


Di sisi lain, tiga World Venerate Pavonas yaitu Tianhui, Ashur dan Kemala tiba-tiba bersiaga karena dihampiri oleh Gahaelix beserta dua Venerate yang datang bersama dengan Artemis sebelumnya.


“Gahaelix, ternyata kau masih hidup,” ucap Venerate Lightio yang bernama Lucierence.


“Jadi kau menginginkanku mati dengan konyol…” Balas Gahaelix.


“Tuan-tuan hentikan omong kosong kalian… Di depan kita sekarang sedang ada Venerate yang memiliki tingkatan setara dengan kita,” Venerate yang memiliki kulit pucat bernama Silvan pun langsung memperingati kedua Venerate Lightio itu untuk bersiaga pada tiga Continent Venerate yang berada di depan mereka.


**


“Sepertinya kita harus mengurus mereka dulu, sebelum memberi pelajaran padanya,” ucap Tianhui melihat tiga Venerate dari Lightio itu dan menyarankan rekan-rekannya mengurungkan niat untuk menghukum Phyton.


Ketiga Continent Venerate Pavonas itu lantas memunculkan senjata suci mereka masing-masing, dimana Tianhui memunculkan sebuah pedang, Ashur memunculkan sebuah kapak, serta Kemala memunculkan dua pisau belati yang melengkung ke arah depan.



Tianhui, Ashur serta Kemala pun meluncur dan langsung melancarkan serangan proyeksi pada tiga Venerate Lightio itu dari senjata suci mereka masing-masing.


“Difesa sillabare… Holy eldritch shield…” Dimulai pada Venerate Lightio bernama Lucierence, dimana pria langsung menciptakan sebuah perisai dari proyeksi energinya menahan serangan yang dilancarkan oleh Tianhui.


Venerate bernama Lucierene itu langsung meluncurkan perisai proyeksinya ke depan hingga membuat Tianhui langsung terdorong ke belakang.


“Heavenly reach…” Masih belum terpengaruh dengan serangan yang tidak cukup kuat tersebut, Tianhui lantas meluncur dan langsung melancarkan serangan proyeksi melalui senjata sucinya.


“Incantesimo segreto… Coup de poignard…” Dengan sigap Lucierence langsung membalas serangan Tianhui dengan melancarkan serangan proyeksi elemen petir dengan gaya mengacungkan salah satu tangannya ke depan.


Tabrakan kedua serangan tersebut sontak menciptakan sebuah tekanan kekuatan serta hempasan angin yang kuat.


**


Kemudian pada pertarungan yang lain, terlihat Kemala sedikit kesulitan menangani Venerate Lightio bernama Silvan, yang selalu menghilang ketika perempuan itu melancarkan serangan proyeksi tebasannya.


“Akh…” Kemala tiba-tiba terhempas ketika Venerate bernama Lightio itu muncul dan langsung menganyunkan kakinya dengan keras.


Saat Kemala pun terkapar, Venerate tersebut muncul di dekatnya sambil melancarkan serangan elemen api berwarna biru, namun dengan sigap Kemala memutar tubuhnya dan kembali berdiri, menghindari serangan tersebut.


Kemala terdiam, tidak menyangka bahwa sesulit itu harus melawan Venerate yang memiliki kemampuan berteleportasi. Perempuan itu pun sedikit berkonsentrasi meningkatkan kekuatannya untuk membuat refleksnya meningkat.


Karena terkejut tidak menyangka hal itu, Silvan pun kembali menghilang dan muncul di tempat yang sedikit jauh dari jangkauan perempuan itu.


“Boleh juga kemampuanmu,” ucap Silvan tidak menyangka tangannya bisa dilukai oleh perempuan itu.


Tiba-tiba Kemala terkejut melihat tangan pria itu seketika menyembuhkan diri dengan cepat.


“Apa mungkin kau adalah ras keturunan campuran dari benua Aizolica itu?” Tanya Kemala.


“Tentu saja… Aku adalah salah satu dari ras Vampireman yang berasal dari negeri Machora Tira… Tapi karena suatu alasan, aku sekarang telah menjadi salah satu Venerate negeri Lightio,” jawab Silvan, menyatakan bahwa dirinya adalah ras keturunan campuran manusia dan Vampire murni.


Silvan pun memunculkan sebuah pedang yang merupakan senjata sucinya kemudian menjadi serius untuk melawan perempuan Pavonas itu. Dalam sekejap Vampireman itu menghilang dan muncul di dekat Kemala. Dengan mudah, Kemala langsung merasakan keberadaan Vampireman tersebut dan menahan serangan yang akan dilancarkannya.


“Aakh…!” Ketika salah satu pisau Kemala menyentuh pedang milik Silvan, tiba-tiba sebuah energi listrik memancar pada perempuan itu, membuatnya langsung menjerit.


Hal tersebut lantas membuat Kemala terkapar tak berdaya kemudian langsung tak sadarkan diri.


“Gadis kecil… Walaupun kau adalah Continent Venerate, tapi pengalamanmu masih kurang untuk melawan pak tua ini,” ucap Silvan, menyatakan bahwa memiliki usia yang lebih tua daripada penampilannya yang seperti laki-laki berumur dua puluh tahunan.


**


Di sisi lain, terlihat pertarungan yang sengit antara Gahaelix melawan Ashur, dimana kedua Venerate itu saling melancarkan serangan mereka masing-masing.


Gahaelix yang telah memunculkan pedang, yang merupakan senjata sucinya tampak dengan mudah bisa mengimbangi serangan dari Ashur, yang dilancarkan menggunakan kapak senjata sucinya tersebut.


Ashur mengeluarkan serangan proyeksi energi dari kapaknya ke arah bawah hingga dalam seketika membongkar tanah tersebut naik ke atas.


Ashur lalu melancarkan proyeksi energinya mendorong bongkahan-bongkahan tanah tersebut dengan cepat ke arah Gahaelix.


Namun, serangan tersebut dengan mudah ditangani oleh Gahaelix dengan menganyunkan pedang yang dipegangnya pada kedua tangannya menciptakan sebuah serangan tebasan elemen api secara beruntun, membuat bongkahan-bongkahan tanah yang diluncurkan oleh Ashur seketika hancur berkeping-keping.


Ashur dan Gahaelix pun secara bersamaan meluncur kemudian menganyunkan senjata suci mereka masing-masing hingga saling bertabrakan dan menciptakan hempasan angin yang kuat.


Gahaelix tiba-tiba meningkatkan kekuatannya hingga membuatnya dapat menepis kapak dari Ashur.


“Incantesimo segreto… Coup de sabrer…”


“Uakh!” Dengan sigap Gahaelix langsung melancarkan serangan proyeksi tebasan yang kuat, membuat Ashur seketika terhempas.


Ashur pun terkapar tak berdaya dan langsung tak sadarkan diri setelah menerima serangan yang kuat dari Gahaelix.


“Gahaelix, ayo bantu Lucierence sekarang.” Setelah mengalahkan Ashur, Silvan pun datang menghampiri Gahaelix untuk menyarankan membantu Lucierence yang sedang berhadapan dengan Tianhui.


“Biarkan saja dia…” Namun, Gahaelix menolak dan lebih memilih memperhatikan saja pertarungan tersebut karena melihat Lucierence mampu menghadapi lawannya tanpa menggunakan senjata sucinya sekalipun.


***


Di dalam kastil kota Vosmoc, Rumen yang sedang duduk, nampak pusing memikirkan keadaan dari para Venerate-nya yang perlahan-lahan mulai terdesak.


“Kurasa waktunya aku untuk maju sekarang…” Rumen pun akhirnya berdiri dari tempat duduknya karena sudah membulatkan tekadnya untuk bertarung melawan para Venerate kubuh barat.