
Asseios dalam wujud pelepasan keduanya dapat mengimbangi kekuatan Raquille, yang berada satu tingkat diatasnya.
Raquille beberapa kali meluncurkan serangan pasak-pasak es dalam jumlah banyak, serta proyeksi tebasan kapak dengan berbagai elemen, dimana serangan tersebut dengan mudah ditepis oleh pria Geracie itu tanpa mengalami kesulitan.
Asseios pun menyerang balik dengan meluncurkan serangan proyeksi energi emasnya secara berturut-turut ke arah pemuda Elfman itu.
“Elfman axe technique... Whip axe consecutive slashes...” Raquille dengan sigap memanjangkan gagang kapaknya kemudian mengayun-ayunkannya, layaknya sebuah cambuk menepis segala serangan proyeksi yang diluncurkan oleh Asseios.
Masih belum puas dengan serangan sebelumnya, Asseios kemudian memfokuskan energi emasnya ke salah satu tangan yang diangkatnya ke atas.
“Supreme deity aura... Stardust spark...” Seketika pria itu melancarkan serangan proyeksi dalam skala yang besar, berharap kali ini dapat mengalahkan Raquille.
Namun, Raquille memasang ekspresi menyeringai melihat serangan yang diluncurkan tersebut, tampak bisa diatasi olehnya.
Kapak yang dipegang oleh pemuda Elfman itu seketika berubah menjadi raksasa, membuat Asseios seketika terkejut melihatnya.
“Elfman axe technique... Super great axe swing...” Raquille mengayunkan kapak raksasa tersebut, menepis serangan proyeksi dari pria Geracie itu hingga terbelah menjadi dua menjadi bagian dan kemudian lenyap dengan seketika.
“Sial...” Umpat Asseios dengan kesalnya, melihat serangan tersebut dengan mudah ditepis oleh Raquille.
Sejenak Asseios pun terdiam memikirkan cara agar bisa mengalahkan World Venerate yang berada di depannya.
Beberapa saat kemudian setelah menemukan sebuah cara, pria itu seketika meluncur ke arah Raquille sambil mengayunkan tongkatnya.
Raquille sontak mengubah ukuran kapaknya menjadi normal kembali agar lebih mudah untuk menangkis serangan ayunan senjata pria itu.
Mereka berdua pun kini saling melancarkan serangan langsung secara bersamaan.
Tampak pergerakan Asseios lebih lincah, sehingga membuat pemuda Elfman itu sedikit kesulitan untuk menepis serangannya.
Asseios kemudian memanfaatkan ujung meruncing pada tongkatnya untuk mengaitkan kapak yang dipegang oleh Raquille, hingga terlepas dari pegangan pemuda itu.
Dia kemudian melempar kuat-kuat kapak yang terkait pada tongkatnya sampai terhempas ke jarak yang sangat jauh.
Tidak sampai disitu saja, pria itu lalu mengayunkan tongkatnya, yang telah dilapisi oleh proyeksi energi pada Elfman itu.
Raquille yang telah kehilangan senjata sucinya, hanya bisa menangkis serangan Asseios menggunakan kedua tangannya, hingga pemuda itu pun sedikit terhempas, namun masih bisa mengontrol pergerakannya.
“Supreme deity aura... Stardust spark...” Sontak Asseios kembali mengonsentrasikan energi emasnya, dan meluncurkan serangannya lagi.
Sontak Raquille menerima serangan tersebut, terbawah ke jarak yang cukup jauh.
Namun, serangan proyeksi yang diluncurkan ke arah Raquille tersebut perlahan-lahan mulai mengecil dan lenyap tak bersisa.
“Apa...?”
Betapa terkejut Asseios melihat serangannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap pemuda Elfman itu, karena sebelumnya saat serangan tersebut hampir menghantam Raquille, dengan refleks dia langsung memunculkan pedang sucinya, yang memiliki kemampuan untuk menyerap serangan proyeksi.
“Sialan...!” Umpat Asseios sekali lagi, berteriak dengan kesalnya.
Tidak peduli lagi, pria itu meluncur ke arah Raquille berniat untuk menyerang, walaupun tahu akhirnya akan dikalahkan oleh Elfman itu.
“Heh...” Raquille hanya bisa memasang ekspresi menyeringai melihat pria itu nampak putus asa melawannya.
Pemuda itu perlahan-lahan mengangkat pedangnya ke arah Asseios.
“Ini, kukembalikan seranganmu... Lagipula aku tidak membutuhkannya.”
Sontak proyeksi energi emas yang diserap pedang pemuda itu keluar dan meluncur menghantam Asseios sampai menghempaskannya masuk ke dalam perairan, tenggelam dan seketika tidak sadarkan diri.
***
Di sisi lain, Kurmer nampak kewalahan berhadapan dengan salah satu Continent Venerate Geracie, yang selalu membuatnya tersudut.
“Haah... Haah...”
“Walaupun aku akan menyerah, tapi aku tidak yakin bahwa aliansiku akan menerimanya.”
“Apa maksudmu?” Tanya pria Geracie itu, tidak mengerti dengan ucapan dari Kurmer.
“Lihat saja, rekanmu sepertinya sedang menyelam di dalam lautan setelah menerima serangannya sendiri,” jawab Kurmer.
“Apa...?” Baru saja pria itu akan menoleh, tiba-tiba Raquille telah berada di samping, merangkul bahunya.
“Ice cursed... Cold hell...” Raquille seketika mengucapkan sebuah mantra, yang sontak membuat pria Geracie itu menjadi terdiam kaku.
*
“Sialan...” Dia pun hanya bisa mengumpat dalam hati, setelah merasakan tubuhnya tidak bisa digerakan lagi.
**
Pria itu jatuh berlutut kemudian terkapar. Perlahan-lahan kedua matanya mulai tertutup lalu tak sadarkan diri.
Semua pasukan Geracie yang berada di atas kapal Tsureya dan kapal mereka sendiri pun seketika menyerah setelah dua pemimpin mereka berhasil dikalahkan oleh Raquille.
“Aku tidak menyangka kau bisa dengan mudah mengalahkan mereka... Yah, walau dua Venerate ini tidak setingkat denganmu,” ucap Kurmer.
“Tapi, sepertinya bala bantuan mereka juga sudah datang.”
Kurmer tampak terkejut melihat armada kapal Geracie yang ditunjuk oleh Raquille, datang mendekat ke arah mereka.
“Hei, singkirkan esmu ini,” ucap Kurmer, menyuruh pemuda Elfman itu untuk mencairkan es yang membeku di sekitar perairan tersebut, agar armada kapal mereka bisa bergerak.
“Tenang saja, aku bisa mengatasinya... Lagipula kita memerlukan kapal baru untuk menyeberang,” ucap Raquille, bertujuan untuk merebut armada kapal pasukan Geracie agar bisa dipakai oleh pasukan mereka.
Namun, baru saja akan berancang-ancang bergerak menuju ke armada kapal musuh, tiba-tiba hujan tembakan proyektil dari arah belakang mereka, menghantam kapal-kapal Geracie itu hingga hancur dan tenggelam.
“Eh...”
Raquille, Kurmer, serta pasukan Tsureya menjadi terkejut bercampur bingung melihat tembakan tersebut.
Mereka seketika menoleh ke belakang, mendapati sebuah armada kapal dari pasukan lain datang memasuki selat tersebut.
“Apa itu bala bantuan kita?” Tanya Raquille.
“Sepertinya bukan... Itu adalah negeri Ledyana,” jawab Kurmer, seketika mengenali asal armada kapal tersebut berasal dari salah satu negeri yang juga terletak diantara benua Greune dan Antikara, dengan melihat sebuah bendera yang berada di masing-masing armada kapal itu.
“Tapi, kenapa mereka menyerang Geracie?” Kurmer tampak bingung melihat armada kapal dari negeri Ledyana itu menyerang kapal-kapal Geracie, karena setahu pria itu bahwa negeri Ledyana juga termasuk negeri anggota dari aliansi SGS, walau bukan menjadi anggota utama dalam organisasi kibuh timur tersebut.
***
Beberapa saat kemudian, setelah semua kapal-kapal Geracie telah hancur, serta semua pasukannya kini telah tertangkap, salah satu Venerate Ledyana, yang merupakan pimpinan dari pasukannya, datang menemui Raquille dan Kurmer di atas kapal Tsureya.
“Salam tuan-tuan, maaf telah lama menunggu, untung saja kami tepat waktu menolong kalian,” ucap pria dari negeri Ledyana itu, memberi salam dengan sopan.
“Hei, apa maksud kalian menyerang armada Geracie?” Namun, Kurmer sontak bertanya tentang maksud dari pasukan tersebut menyerang aliansi mereka sendiri.
“Soal itu, sebenarnya kami sudah tidak berniat untuk menjadi bagian dari kubuh timur,” jawab pria itu.
“Setelah mendengar tawaran dari Yang mulia Hanzerim, sultan kalian, negeri kami juga memutuskan untuk membantu kubuh barat agar nantinya kami bisa masuk sebagai anggota GANCO, dan menjadi negeri yang resmi berada di benua Greune,” lanjutnya berkata.
*
“Ternyata sultan mereka itu bermulut ember juga...” ucap Raquille dalam hati, khawatir jika janji bohong tersebut diketahui oleh mereka.