The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 75 - Anggota keluarga kerajaan



Para warga yang berada di desa pun berkumpul melihat kedatangan para prajurit tersebut.


“Ada apa tuan? Bukannya kami sudah memberikan upeti yang kalian minta? Dan kurasa kami tidak terlambat mengantarkannya,” ucap salah satu warga.


“Kami kemari bukan untuk membahas hal itu… Ada yang ingin kami cari, kemungkinan mereka berada di tempat” Sambil menjelaskan kepada para warga, pemimpin prajurit dari pasukan tersebut memperlihatkan sebuah poster dengan sketsa wajah dari Seremino maupun Giano.


*


“Mereka berdua kan pemuda yang dibawah oleh Aulvius kemari,” ucap salah satu warga dalam hati, langsung mengenali sketsa wajah yang berada di poster tersebut.


**


“Apa kalian pernah melihat dua pemuda ini?”


“Mereka berdua bukannya anak-anak itu?” Bisik salah satu warga ke warga yang lain.


“Iya, itu mereka…”


Merasa curiga melihat dua warga saling berbisik di depannya, pemimpin prajurit itu sontak turun dari kudanya dan mendekati mereka.


“Maaf, sepertinya kalian tahu tentang dua pemuda ini.”


“Eh… Tidak, kami tidak pernah melihat mereka sebelumnya.”


“Lantas apa yang kalian bisikan itu?” Tanya prajurit itu.


“Eh… Eh… Tidak itu… Bukan apa-apa.” Warga tersebut sontak terbata-bata saat ditanyai oleh pemimpin prajurit itu.


“Sudah kuduga ada sesuatu yang kalian sembunyikan disini.” Prajurit itu sontak menjadi lebih curiga lagi setelah mendengar respon dari salah satu warga tersebut yang berbicara dengan terbata-bata.


“Kalian cepat periksa semua tempat ini. Sepertinya mereka telah menyembunyikan dua budak itu.”


Dengan perintah dari pemimpin prajurit itu, semua bawahannya seketika langsung menyisir semua rumah para warga yang berada di desa itu.


“Tuan, tolong jangan seperti ini.”


“Sudah diam saja kau…” Prajurit itu seketika memukul warga yang bermohon padanya hingga terkapar.


Para warga yang menyaksikan hal tersebut nampak ketakutan hingga tak berani untuk bergerak dari tempatnya.


Namun, salah satu warga seketika langsung berlari ke hutan.


***


“Lalu ibumu sekarang ada dimana?” Tanya tetua.


“Dia… Sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, setelah mencoba menyelamatkan kami dari untuk kabur dari pasukan yang mencoba untuk membunuh kami…” Jawab Seremino dengan ekspresi wajah yang murung.


“Kami berhasil lolos dari mereka, namun terpaksa harus kembali dan menjadi budak untuk mereka,” lanjut pemuda itu berkata.


“Tapi, siapa nama ibumu?” Tanya tetua itu lagi.


“Nama ibuku adalah Chryssavet…”


Tetua itu bersama dengan pria bernama Aulvius seketika terkejut mendengar jawaban dari Seremino.


“Tuan memangnya, kenapa kalian bertanya tentang nama ibuku?” Seremino bingung melihat kedua orang itu terkejut setelah pemuda itu menyebut nama ibunya.


“Nak, ternyata kau berserta saudaramu adalah anak kami cari selama ini.”


Tetua itu pun berdiri dan mendekati Seremino. “Ibumu adalah salah satu anggota dari keluarga bangsawan Geracie… Namun, karena suatu hal mereka anggota keluarga dibantai atas perintah keluarga kerajaan.”


“Kami mengetahuinya karena kami dulunya merupakan bawahan yang melayani keluarga ibumu,” sambung Aulvius.


“Tapi, kenapa keluarga ibuku dibantai? Apa salah mereka?”


“Itu karena keluarga kalian ditunjuk oleh dewa untuk menggantikan tahta Geracie… Raja Geracie tidak terima akan hal itu dan memerintahkan untuk membunuh semua keluarga kalian tanpa tersisa.”


“Ibumu berhasil melarikan diri saat masih mengandung kalian,” ucap Aulvius.


“Nak, dengan adanya kalian berdua sekarang itu memberikan harapan bagi kami untuk mengambil alih tahta Geracie…”


“Tuan Hordius… Pasukan Geracie datang dan mengobrak-abrik desa kita.” Tiba-tiba salah satu warga yang melarikan sampai di gubuk itu.


“Apa…?”


Tetua bersama dengan Aulvius nampak terkejut mendengar hal tersebut. Mereka pun langsung meninggalkan tempat itu untuk menemui para prajurit yang datang ke desa mereka.


“Giano…” Tak lama kemudian, Seremino yang tertinggal sendiri sontak mengingat adiknya yang masih dirawat di desa.


***


Pasukan yang diperintah untuk menyisir rumah-rumah warga seketika menemukan Giano yang dirawat oleh tabib.


“Tuan Vasilos, kita menemukannya!” Panggil salah satu prajurit pada atasannya.


**


Tak berapa lama, pemimpin mereka yang bernama Vasilos sampai di tempat itu.


“Akh…!” Tanpa merasa kasian dengan keadaan pemuda itu yang merasa kesakitan, prajurit tersebut langsung menyeretnya keluar dan melemparnya tepat di tengah desa.


“Kenapa hanya kau yang ada? Dimana saudaramu?” Tanya prajurit itu pada Giano.


“Aku tidak tahu…”


Pemimpin prajurit itu seketika menginjak kaki pemuda itu memaksanya agar mengatakan yang sebenarnya.


“Akh…!” Giano pun langsung menjerit kesakitan saat kakinya diinjak oleh prajurit tersebut.


“Setidaknya kita tangani yang satu ini dulu.” Prajurit itu pun mengeluarkan pedangnya dan mengayunkan ke leher pemuda tersebut.


Namun, Aulvius tiba-tiba muncul tepat waktu dan menghalangi ayunan pedang prajurit itu dengan langsung menendangnya hingga terhempas.


Bawahan pemimpin prajurit itu sontak langsung menyerang Aulvius melihat pimpinan mereka dihempaskan oleh pria itu.


Di saat yang bersamaan tetua desa datang dan langsung melancarkan serangan elemen api pada prajurit-prajurit tersebut hingga terhempas.


“Aulvius kau tidak apa-apa?” Tanya tetua desa.


“Jangan khawatir tuan Hordius. Aku bahkan tidak sempat menerima serangan mereka,” jawab Aulvius.


“Wah… Wah… Ternyata kalian memperlihatkan kemampuan kalian juga, Hordius, Aulvius,” ucap pemimpin prajurit itu sambil dia berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor.


“Kalian sudah berani melawan karena telah menemukan tuan kalian yang hilang.”


Pemimpin prajurit itu pun mengaktifkan kekuatannya, yang membuat tubuhnya kini memancarkan proyeksi energi berwarna biru.


“Aulvius, apa kau siap?” Tanya tetua.


“Kapanpun itu,” jawab Aulvius.


Ketiga orang itu seketika secara bersamaan maju dan saling melancarkan serangan mereka satu sama lain.


Pemimpin prajurit yang berhadapan dengan Aulvius berserta tetua desa itu nampak bisa mengimbangi kekuatan kedua orang tersebut.


Aulvius bersama dengan tetua desa pun kemudian melancarkan serangan proyeksi elemen api.


Namun, dengan sigap pemimpin prajurit itu langsung membentuk pancaran energi yang keluar dari tubuhnya menjadi sebuah proyeksi zirah.


Hal tersebut membuat dirinya menjadi kebal akan serangan yang dilancarkan oleh kedua orang tersebut.


“Maaf sekali, kurasa kalian harus lebih berusaha kelas lagi,” ucap prajurit itu.


Dalam sekejap prajurit itu pun bergerak mendekati Aulvius dan tetua desa. Dia seketika mengayunkan pedangnya melancarkan serangan proyeksi tebasan pada kedua orang tersebut.


“Akh…” Aulvius dan tetua desa pun terkapar menerima serangan tersebut hingga tidak melakukan apa-apa lagi.


Melihat mereka berdua tidak bisa melawan lagi, prajurit itu mengangkat pedangnya ke atas hendak mengakhiri kedua orang tersebut.


“Tunggu, jangan sakiti mereka…” Tiba-tiba Seremino berteriak menghentikan perbuatan yang akan dilakukan oleh pemimpin prajurit itu.


“Hahaha… Lihat siapa yang datang.”


“Bawa saja aku, dan biarkan mereka semua.” Seremino pun mendekati prajurit itu dan memohon kepada prajurit itu.


Tanpa merespon ucapan pemuda itu, prajurit tersebut langsung melancarkan sebuah pukulan hingga membuatnya terhempas.


“Kakak…!” Teriak Giano.


“Ukh…” Saking kuatnya serangan yang diterimanya hingga pemuda itu kesulitan untuk berdiri kembali.


“Kenapa harus membawamu jika aku bisa membunuhmu ditempat ini, sekarang juga,” ucap prajurit itu sambil mendekati Seremino.


Saat dalam keadaan panik melihat prajurit itu mendekat padanya, Seremino tiba-tiba melihat sebuah tongkat yang menancap di sebuah batu yang berada didekat.


Dengan berusaha keras pemuda itu kembali berdiri. Ketika dicabutnya tongkat tersebut seketika kilatan petir yang menyilaukan dari langit langsung menyambarnya.