
Tiga prajurit Gimoscha itu seketika jatuh meluncur ke bawah menghantam permukaan dengan kerasnya hingga tak sadarkan diri.
**
“Apa...? Bagaimana bisa tiga Continent Venerate dikalahkan dengan muda... Apakah orang yang bersama Clava Armadura itu adalah World Venerate?” Di dalam ruang kendali salah satu pesawat Gimoscha, nampak seorang pria seketika terkejut melihat tiga Continent Venerate Gimoscha jatuh meluncur ke bawah setelah menerima serangan dari Raquille.
“Aku juga tidak paham... Tapi, menurut informasi yang baru saja diterima, dia adalah salah satu dari ras keturunan campuran dari wilayah utara Aizolica,” kata seorang pria yang lain, berada di dalam ruang kendali pesawat tersebut.
**
Setelah mengalahkan para prajurit Gimoscha, perhatian pemuda itu kemudian tertuju ke armada pesawat Serepusco dan Gimoscha saling melancarkan tembakan satu sama lain.
“Clava, kurasa kita bereskan saja armada itu dengan cepat,” kata Raquille.
“Benar tuan, kurasa itu pilihan yang terbaik,” respon Clava.
Kedua orang itu pun kemudian terbang mendekati armada pesawat tempur Gimoscha dan melayang tepat di depannya.
“Para pasukan Gimoscha, kuperingatkan kepada kalian semua untuk segera mundur sekarang juga, jika kalian masih menyayangi nyawa kalian sendiri,” ucap Raquille dengan suara yang menggema, mengancam pasukan Gimoscha yang berada di dalam armada pesawat tempur.
**
“Tuan, apa perintah anda?” Tanya salah satu prajurit, yang mengemudikan pesawat.
*
“Sial... Continent Venerate saja dikalahkan oleh mereka. Bagaimana denganku ataupun prajurit lain yang berada disini? Aku tidak memperkirakan hal ini sebelumnya.” Dalam hatinya, pria yang menjadi salah satu dari pemimpin armada, yang ditanyai oleh prajurit tersebut nampak kebingungan untuk membuat pilihan yang tepat bagi para pasukannya yang diancam oleh Raquille.
**
“Tak perlu khawatir, kita tembak mereka. Itu cuma gertakan saja.” Namun, pria seketika membulatkan tekadnya untuk menyerang Raquille dan Clava, serta armada pesawat Serepusco yang berada di depan mereka.
“Baik, tuan.”
“Kepada seluruh armada, bersiap untuk menyerang mereka, sesuai dengan perintah dari tuan Ricorno.” Prajurit itu pun kemudian menghubungi yang lain untuk segara melakukan serangan atas perintah dari pria yang bernama Ricorno tersebut.
Tak lama kemudian, armada pesawat tempur Gimoscha seketika meluncurkan tembakan secara berturut-turut.
**
“Kurasa mereka tidak mendengarkan kita,” ucap Clava.
“Baiklah kalau begitu...”
Seketika gagang kapak yang dipegang oleh Raquille kembali memanjang. Pemuda itu lalu memutar kapak yang memanjang tersebut sambil dengan santainya menanti serangan yang diluncurkan ke arahnya.
“Elfman axe technique… Whip axe consecutive slashes…” Saat serangan tersebut hampir mendekati dia dan Clava, dengan cepat pemuda itu langsung meluncurkan bilah kapaknya menepis semua tembakan tersebut.
Serangan yang diluncurkan oleh armada pesawat Gimoscha itu sontak meledak-ledak saat ditepis oleh kapak Raquille.
Setelah semua serangan tersebut lenyap, kapak pemuda itu seketika kembali ke ukuran semulanya.
“Clava, teknik adalah es kan?” Tanya Raquille.
“Iya... Ada apa tuan?” Jawab Clava, kemudian bertanya balik.
“Kalau begitu, bantu aku sekarang... Kita serang mereka dengan elemen es,” kata Raquille.
“Baiklah.”
Clava pun menyetujuinya dan sontak mengangkat salah satu tangannya ke atas. Sedangkan Raquille terlihat mengepalkan salah satu tangannya.
Tak berapa lama kemudian kedua orang itu sama-sama memunculkan pasak-pasak es dengan jumlah yang sangat banyak melayang di udara, membuat para prajurit dari sisi Gimoscha maupun Serepusco menjadi terkejut melihat hal tersebut.
**
**
“Breaker ice...”
“Ice shaping...”
Pasak-pasak es itu seketika meluncur ke arah secara terus-menerus menghancurkan armada pesawat yang dihantamnya.
“Haah... Sangat disesali mereka harus berakhir seperti itu,” ucap Clava melihat armada pesawat Gimoscha hancur seketika.
Seketika Raquille memainkan jarinya, memunculkan sebuah lingkaran sihir yang besar di permukaan.
Tiba-tiba para prajurit Gimoscha yang berada di dalam pesawat muncul di dalam lingkaran sihir tersebut.
“Eh...” Para prajurit Gimoscha seketika terkejut menyadari mereka ternyata selamat.
“Ice shaping...”
Baru saja terkejut bahwa mereka masih hidup, tiba-tiba tangan mereka semua seketika terbelenggu oleh sebuah borgol es.
**
“Tuan Raquille, ternyata kau menyelamatkan mereka,” kata Clava.
“Jika kita membiarkan mereka semua terbunuh, apa bedanya kita dengan kubuh timur yang kalian anggap kejam itu. Kita harus berusaha mengalahkan mereka tanpa adanya korban dari kedua belah pihak,” kata Raquille, menjelaskan mengapa pemuda itu memilih untuk menyelamatkan para prajurit Gimoscha yang berada di dalam armada pesawat.
**
Beberapa saat kemudian, para pasukan negeri Serepusco telah mendaratkan armada pesawat mereka dan masuk ke dalam kota. Mereka juga telah mengumpulkan semua prajurit Gimoscha, yang telah terbelenggu oleh borgol es.
“Haah... Selama enam hari berturut-turut kita melakukan penyerangan, aku sangat lelah,” kata Clava.
“Kalau begitu, lebih baik hari ini kita beristirahat di kota ini. Pasukan kita juga perlu memulihkan diri,” kata Raquille.
“Semuanya, kita akan beristirahat hari ini dan melanjutkan perjalanan pada besok.” Mendengar usulan dari Raquille, pemimpin pasukan Serepusco itu sontak menyetujuinya dan memerintahkan semuanya untuk beristirahat semalaman di kota tersebut.
Setelah semuanya setuju untuk beristirahat, terlihat Raquille nampak bingung melihat-lihat ke sekitaran kota tersebut, yang tampak tidak terlihat satupun warga di tempat itu, selain prajurit Serepusco dan prajurit Gimoscha yang mereka tangkap.
“Ada apa tuan?” Melihat Raquille nampak kebingungan memperhatikan sekitaran kota, Clava pun sontak bertanya pada pemuda Elfman itu.
“Kemana semua para warga kota ini?” kata Raquille.
“Hmph... Sepertinya saat mengetahui bahwa pasukan kita akan menyerang daerah ini, semua warga yang ada sudah diungsikan terlebih dahulu dari tempat ini. Mungkin saja mereka sedang menuju ke kota Reom sekarang,” jawab Clava.
“Tunggu dulu... Apa mungkin semua warga yang tinggal di seluruh kota negeri ini mengungsi ke ibukota?” Tanya Raquille.
“Kemungkinan mereka akan menuju ke ibukota... Lagipula pasukan Calferland juga menyerang wilayah utara semenanjung ini. Satu-satunya tempat aman bagi mereka saat ini adalah kota Reom, yang berada di wilayah tengah.”
“Haah... Kita harus berhati-hati jika menyerang ibukota Gimoscha nantinya... Aku tidak mau para warga yang berada di kota itu akan terkena imbasnya,” gumam pemuda itu nampak mengkhawatirkan para warga.
***
Di wilayah utara semenanjung negeri Gimoscha, terlihat pasukan Calferland membantai pasukan Gimoscha dengan tanpa ampun. Memporak-porandakan kota yang diserang oleh mereka, tanpa memikirkan belas kasihan sedikitpun pada prajurit Gimoscha yang menjadi musuh mereka.
Berbeda dengan pasukan Serepusco yang menyerang wilayah selatan dengan membiarkan pasukan Gimoscha tetap hidup.
“Breaker storm... Black death tornado...” Prajurit yang menjadi pemimpin perwakilan negeri Calferland, saat menghadiri pertemuan organisasi kubuh barat tersebut nampak melancarkan sebuah angin topan raksasa disertai sambaran petir yang seketika menyapu bersih seluruh pasukan Gimoscha yang berada di jalurnya.
“Vingto, hentikan orang itu... Kurasa itu sudah terlalu berlebihan.”
“Mau bagaimana lagi jika pria itu sudah sangat bersemangat... Dia bahkan tidak perduli lagi bahwa musuh yang berada di depannya tersebut adalah seorang manusia juga.”
Dua prajurit yang juga pernah menghadiri pertemuan di negeri Frieden tersebut nampak khawatir melihat ratusan prajurit Gimoscha yang diserang oleh pria itu seketika meregang nyawa.