The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 30 - Pertarungan mulut



Tanpa pikir panjang kedua petarung itu secara bersamaan maju dan saling melancarkan serangan mereka.


Zeidonas terlihat melancarkan pukulannya ke arah tanah hingga menciptakan tekanan gelombang yang besar. Hal tersebut langsung diantisipasi oleh Saturno dengan melompat ke belakang menghindari efek dari serangan pria itu.


“Breaker wind… Wind slash…” Dengan cepat Saturno meluncurkan beberapa serangan tebasan elemen angin mengarah pada Zeidonas.


Melihat hal tersebut, dengan sigap Zeidonas langsung menepis semua serangan dari Saturno tersebut.


“Breaker wind…” Tidak sampai disitu, Saturno kemudian menciptakan sebuah pusaran angin yang besar dari bawah Zeidonas sehingga membuat pria itu langsung terhempas ke atas.


“Breaker wind… Strong pushing…” Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan oleh Saturno dengan langsung melompat ke atas menggunakan teknik dorongan elemen angin untuk mendekati Zeidonas.


Kemudian Saturno mengaktifkan kekuatan dari senjatanya yang terlihat memancarkan cahaya yang terang. Pria itu tampak siap untuk menyerang Zeidonas yang sedang terhempas ke udara.


**


“Apa pria dari Lightio itu yang akan kalah kali ini?” Kata Dierill bertanya-tanya melihat Zeidonas nampak disudutkan oleh Saturno.


**


Namun, Zeidonas yang masih belum menyerah langsung meningkatkan kekuatannya kembali. Tampak matanya kembali memancarkan cahaya berwarna emas seperti saat melawan Afucco sebelumnya.


Zeidonas kemudian menangkis ayunan pedang dari Saturno itu, yang sontak langsung menciptakan sebuah kilatan cahaya serta tekanan gelombang yang cukup kuat dari tabrakan serangan tersebut.


**


“Tidak semudah itu kau bisa mengalahkannya,” kata Dimira tampak tersenyum melihat Zeidonas masih dapat menahan serangan dari Saturno.


**


Efek tabrakan senjata mereka pun sampai-sampai membuat kedua orang itu terhempas secara bersamaan menabrak penghalang dan kemudian jatuh meluncur ke bawah.


Kedua petarung kemudian secara bersamaan berdiri kembali dan maju untuk saling melancarkan serangan mereka lagi.


**


“Mereka berdua seimbang. Tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya,” kata Dimira.


“Pada turnemen sebelumnya… Jika saja waktu itu aku tidak datang untuk membantu Zeidonas, pasti Zeidonas akan dikalahkan oleh orang itu, dan tim Cielas lah yang akan menjadi pemenangnya,” kata Gerhanther.


“Waktu itu juga yang aku tahu Zeidonas sudah kelelahan saat berhadapan dengan pemuda dari clan Drown itu,” kata Dimira yang kemudian menatap Dierill.


**


“Ada apa mereka menatapku?” Kata Dierill bertanya-tanya karena ditatap oleh Dimira dan Gerhanther.


“Mungkin mereka sedang membicarakan tentang seseorang yang kemampuannya berada di bawah dua petarung itu. Dan mereka merasa bahwa kaulah orangnya,” kata Yoford.


“Heh… Dibawah kedua petarung itu…? Aku itu memiliki kemampuan yang setara dengan mereka berdua.” Dengan percaya diri Dierill pun mengatakan hal tersebut.


“Mungkin memang benar bahwa selain dua petarung itu, kaulah merupakan salah satu juga yang dapat diperhitungkan,” kata Elford.


“Tapi, kita masih belum tahu bagaimana kemampuan dari dua Land Venerate dari tim Fuegonia B itu,” lanjut Elford.


**


Kembali ke pertarungan dari Saturno dan Zeidonas yang masih sangat sengit. Nampak mereka berdua masih saling melancarkan serangan mereka masing-masing.


“Breaker wind… Strong pushing…” Saturno melancarkan serangan dorongan elemen angin yang kemudian langsung ditahan oleh Zeidonas tanpa bergeming sedikit pun.


“God aura… Superior punch…” Zeidonas kemudian langsung membalas serangan Saturno dengan melancarkan serangan proyeksi energinya yang juga dapat ditahan oleh Saturno tanpa membuatnya bergeming sedikit pun.


**


Sampai beberapa menit telah berlalu, mereka berdua masih tetap bertarung dengan sengitnya.


*


“Sialan… Kalau begini terus aku akan kehabisan energiku. Aku harus menggunakan kekuatan pelepasan kedua,” kata Saturno dalam hati.


**


Kemudian pria Cielas itu langsung melompat ke belakang untuk menjaga jaraknya dengan Zeidonas.


Dia lalu menancapkan kedua pedangnya di tanah dan mulai berkonsentrasi.


Nampak kedua pedangnya yang ditancapkan tersebut mengeluarkan pancaran energi berwarna kuning kecoklatan yang langsung masuk ke dalam tubuhnya.


*


“Pasti dia mau menggunakan kekuatan pelepasan keduanya,” kata Zeidonas dalam hati.


**


“Kalau begitu aku juga,” Tidak mau kalah, Zeidonas pun langsung berkonsentrasi.


Nampak sarung tangan besinya menyala-nyala memancarkan energi emas, yang juga masuk ke dalam tubuhnya.


**


“Wah… Kekuatan ekdosi pelepasan kedua yah…?” Kata Raquille nampak bersemangat melihat hal tersebut.


“Kurasa kedua orang itu tidak mau lagi menahan diri untuk mengeluarkan kemampuan pamungkas mereka,” kata Neyndra.


**


“I defteri ekdosi…” Sontak secara bersamaan Saturno dan Zeidonas mengucapkan kata tersebut.


Namun, sebuah suara lonceng tiba-tiba berbunyi, yang menandakan bahwa pertandingan tersebut telah berakhir.


Sontak setelah mendengar suara tersebut, kedua orang itu pun langsung berhenti berkonsentrasi.


Nampak energi yang sebelumnya masuk ke dalam tubuh mereka dengan sekejap keluar dan masuk kembali ke dalam senjata mereka masing-masing.


**


“Haah…? Suara apa itu?” Tanya Raquille.


“Suara itu menandakan bahwa pertandingan telah selesai,” jawab Neyndra.


“Apa…? Jadi, pertandingan ini memiliki batasan waktu?” Tanya Raquille sekali lagi.


“Jelas saja… Apa kau pikir para petarung akan saling berhadapan sampai matahari terbit? Memangnya kau pikir ini pertarungan hidup dan mati?” Kata Neyndra menjelaskan hal tersebut pada Raquille dengan nada tinggi.


“Baiklah, gadis cantik… Santai saja, lagipula aku hanya bertanya,” kata Raquille, yang tiba-tiba menyebut Neyndra gadis cantik.


“Eh… Terserah kau saja.” Nampak wajah perempuan itu terlihat memerah karena pemuda itu agak menggodanya.


Raquille kemudian menatap Drakon. Nampak raut wajah Drakon terlihat kesal karena cemburu melihat pemuda itu menggoda perempuan yang disukainya.


“Hehe… Kau juga tenang yah…” Kata Raquille dengan sopan kepada Drakon.


**


“Hah… Akhirnya pertandingannya selesai juga. Tanganku menjadi kebas karena menahan penghalangnya.” Kemudian setelah pertandingan tersebut selesai, Rox langsung menurunkan tangannya untuk menghilangkan penghalang yang berada di sekitar tengah arena.


“Dasar pak tua baru saja seperti itu kau sudah mengeluh,” kata Rourke, agak tidak sopan pada ayahnya.


“Apa…? Kau pikir umurku masih seperti dulu?” Kata Rox agak kesal.


“Aku mengatakan ini karena masih ada dua pertandingan lagi. Bagaimana jika pertarungan selanjutnya malah lebih buruk dari yang tadi.”


“Benar juga… Kalau begitu untuk pertandingan selanjutnya, kau yang harus mengaktifkan penghalangnya,” kata Rox.


“Aku tidak mau…” Sontak pemuda itu langsung menolak mentah-mentah perintah dari ayahnya.


“Apa…?” Respon Rox, terkejut mendengar Rourke menolak perintahnya.


**


Kemudian nampak wasit langsung masuk ke tengah arena untuk mengumumkan hasil dari pertandingan barusan.


“Hasil dalam pertandingan ini seri... Petarung pertama yang mengalami kekalahan tidak mendapat poin, sedangkan dua petarung yang mengalami kekalahan setelahnya mendapat satu poin. Namun, untuk kedua petarung yang berhasil bertahan sampai waktu habis akan mendapatkan lima poin untuk masing-masing petarung.”


Lalu, setelah wasit mengatakan hal tersebut, di layar langsung memperlihatkan perolehan nilai dari semua tim.


Lightio (11), Fuegonia A (7), Fuegonia B (7), Vielass (7), Cielas (7), Asimir (6), Mormist (3), Neodela (3), Machora Tira (2).


**


“Jadi… Mereka berdua masing-masing mendapatkan lima poin yah…? Kenapa tidak mendapatkan poin pengasihan saja seperti pertarungan dari Trollman dan pria dari Lightio itu?” Tanya Raquille nampak bingung dengan sistem dalam turnamen tersebut.


“Urgh… Kau banyak sekali bertanya. Jika kau mau lebih jelas lagi coba tanyakan saja pada wasit,” kata Neyndra yang mulai kesal.


“Hei wasit… Aku ingin bertanya padamu. Kenapa kedua petarung itu tidak mendapatkan poin pengasihan saja? Mereka berdua kan juga seri seperti pertarungan yang kemarin malam?” Sontak Raquille langsung bertanya kepada wasit yang berada di tengah arena dengan suara yang agak keras.


“Hei… Apa yang kau lakukan,” Kata Neyndra yang langsung merasa malu saat pemuda itu menanyakan hal tersebut kepada wasit.


**


Mendengar pertanyaan dari Raquille sontak membuat wasit langsung tersenyum.


“Maksud anda poin pengasihan adalah satu poin?”


“Begini tuan… Dalam sistem penilaian di ronde pertama, dimana peserta yang terakhir bertahan akan mendapatkan lima poin…”


“Eh, iya… Dengarkan aku dulu… Walaupun waktu telah habis, namun kedua petarung tersebut masih tetap berdiri dan bertahan. Jadi, mereka berdua berhak mendapatkan lima poin,” kata wasit menjelaskan hal tersebut kepada Raquille.


“Oh, jadi begitu yah… Baiklah, aku mengerti sekarang. Terima kasih atas informasinya dan mohon maaf karena aku banyak bertanya, karena aku baru pertama kali mengikuti turnamen ini,” kata Raquille.


“Tidak apa-apa. Itu juga hak anda untuk bertanya,” Kata wasit, yang kemudian langsung meninggalkan tengah arena.


**


Nampak Neyndra serta Drakon langsung terlihat malu dan tidak mau menatap para peserta lain setelah Raquille menanyakan hal tersebut.


“Laventille… Sebenarnya aku juga tadi sempat penasaran dan ingin menanyakannya kepada wasit juga. Tapi, kau langsung mendahuluiku bertanya pada wasit,” kata Bohrneer.


“Kau juga kenapa ikut-ikut menjadi bodoh seperti dia?” Kata Drakon dengan nada tinggi.


“Apa salahnya jika aku bertanya? Itu kan adalah hakku,” balas Bohrneer dengan nada tinggi.


**


“Hahaha… Lancang juga Elfman itu,” kata Giantman bernama Fegant dengan tertawa.


“Sudahlah… Apa salahnya jika dia bertanya? Elfman itu kan memang baru pertama kali mengikuti turnamen ini,” kata Dossur nampak membela Raquille.


**


Kemudian terlihat petugas medis langsung mengangkat ketiga petarung yang terkapar pada pertarungan sebelumnya.


Terlihat juga Saturno dan Zeidonas yang masih berdiri langsung kembali tribun mereka masing-masing.


**


Tak berselang lama, Tomair, pembawa acara dalam turnamen tersebut masuk ke tengah arena.


“Baiklah hadirin sekalian… Mari kita lanjutkan ke pertandingan yang kedua pada hari ini.”


Setelah Tomair mengatakan hal tersebut, layar langsung mengacak nama kelima peserta yang akan saling berhadapan.


**


“Oke… Tersisa dua pertandingan lagi… Kalau begitu siapa diantara kalian berdua yang akan maju kali ini,” kata Raquille memegang pundak Drakon serta Bohrneer.


**


Lalu terlihat nama dari kelima petarung yang akan saling berhadapan selanjutnya.


Fuegonia B, Drakon Magchora, 27 tahun, 182 cm, Human, Land Venerate.


Lightio, Gerhanther Zee, 19 tahun, 179 cm, Human, Land Venerate.


Neodela, Eldriata Greydust, 29 tahun, 165 cm, Fairyman, Land Venerate.


Cielas, Urano Redeglidei, 25 tahun, 175 cm, Human, Land Venerate.


Asimir, Dossur Sebastia, 26 tahun, 161 cm, Dwarfman, Land Venerate.


**


“Akhirnya sekarang giliranku,” kata Gerhanther terlihat bersemangat.


“Gerhanther… Jangan sampai kalah. Dan berhati-hatilah dengan si Drakon itu,” kata Zeidonas.


“Kau mengkhawatirkanku...? Tenang saja… Aku pasti akan menang,” kata Gerhanther dengan percaya dirinya dan kemudian langsung menuju ke tengah arena.


**


Beberapa saat kemudian, nampak keempat peserta kini telah berada di tengah arena.


**


“Oke… Tuan prajurit, sekarang giliranmu,” Raquille nampak mendorong Drakon hingga membuatnya terjatuh dari atas tribun sampai ke tengah arena.


“Uwaah…!” Teriak Drakon didorong oleh Raquille.


“Drakon…!” Teriak Neyndra melihat Drakon terjatuh dari tribun.


“Hei, pria cantik… Apa yang kau lakukan?” Lanjutnya, memarahi Raquille.


Raquille sontak hanya merespon omelan perempuan dengan hanya senyuman.


*


“Sialan Elfman itu, membuatku malu saja,” gumam Drakon dalam hati.


“Aku juga tidak bisa membalasnya karena mungkin jika aku melakukannya, aku pasti yang akan mati.”


**


Kemudian wasit memasuki tengah arena untuk memulai pertandingannya.


“Baiklah… Bersiap… Mulai…!”


Setelah wasit memulai pertandingannya, belum terlihat satu pun pergerakkan dari kelima petarung untuk menyerang.


“Tuan Magchora… Aku penasaran kenapa Zeidonas dan yang lainnya sangat membencimu?” Tanya Gerhanther.


Namun, Drakon tidak menjawab pertanyaan dari Gerhanther dan hanya diam.


“Jadi kau tidak mau membicarakannya yah…? Kalau begitu… Aku mau bertanya padamu nona Fairyman… Kudengar bahwa negerimu itu sedang bersitegang dengan negeri Cielas? Bukankah begitu tuan Redeglidei?” Pemuda Lightio itu lantas bertanya pada Fairyman perempuan bernama Eldriata serta Urano.


“Itu benar… Kalau saja negeri kalian tidak menangkap orang-orang kami, mungkin kami tidak berniat melakukan invasi pada beberapa wilayah kalian,” kata Urano.


“Apa…? Orang-orang kalian yang sangat kurang hajar kepada kami… Bagaimana mungkin mereka melakukan tindakan kriminal pada rakyat kami bahkan saat berada di negeri kami sekalipun,” kata Fairyman bernama Eldriata dengan nada tinggi.


“Tapi, kalian menolak permintaan kami untuk mengembalikan orang-orang kami agar mereka dapat dihukum di negeri kami,” balas Urano dengan nada tinggi.


“Itu karena kalian pasti berniat untuk membebaskan orang-orang itu saat mereka kembali ke negeri kalian,” kata Eldriata.


**


“Hei… Memangnya ini pertarungan mulut? Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?” Kata Rourke nampak kesal melihat perseteruan Urano dan Eldriata di tengah arena.


**


“Dasar Gerhanther… Dia mengadu domba para petarung lagi,” kata Zeidonas.


**


“Maaf sebelumnya tuan dan nona… Kalian berada disini untuk berkompetisi bukan untuk membahas permasalahan antar negeri kalian. Jika tidak ada dari kalian yang mau menyerang, lebih baik aku yang melakukannya,” kata Dwarfman bernama Dossur menyambung pembicaraan Urano dan Eldriata.


Tiba-tiba pasir yang berada dibelakang Dwarfman itu naik ke permukaan dan kemudian menjadi sebuah tangan raksasa.


Keempat petarung sontak terkejut dan bersiaga pada serangan yang akan dilancarkan oleh Dossur itu.


Namun, seketika kaki dari keempat petarung langsung terikat oleh pasir yang membuat mereka tidak bisa bergerak.


**


“Ayah… Kurasa kau harus mengaktifkannya lagi,” kata Rourke.


“Haah… Membuat repot saja.” Rox kemudian berdiri dari kursinya dan mengangkat tangannya untuk mengaktifkan penghalang di sekitar tengah arena kembali.


**


“Dwarfman sand technique… Giant hand of punishment...” Dengan cepat tangan raksasa pasir dari Dossur itu menghantam keempat petarung sampai ke dinding arena.


“Argh…!” Teriak keempat petarung tersebut menerima serangan dari Dossur.


**


“Apa Drakon baik-baik saja?” Kata Neydra mengkhawatirkan tentang keadaan dari Drakon.


**


Melihat keempat petarung tersebut telah terkubur di daam pasir. Dossur kemudian berniat menyerang kembali.


Nampak pasir yang berada di permukaan tengah arena perlahan-lahan mulai naik.


**


“Oh tidak… Serangan susulan...” Kata Raquille melihat Dwarfman tersebut akan melancarkan serangan kembali.


**


“Ukh…” Tiba-tiba saja sebuah belati menancap pada punggung Dwarfman itu.


Belati itu kemudian langsung mengeluarkan kilatan petir, yang membuat Dossur merasakan aliran listrik dari belati tersebut.


“Argh…!” Teriak Dwarfman itu.


Karena terkena serangan tersebut, pasir yang sebelumnya perlahan-lahan naik ke permukaan kembali jatuh.


“Hahaha… Boleh juga kemampuanmu tuan Dwarfman,” kata Gerhanther dengan tertawa keluar dari tumpukan pasir.


“Baiklah kalau begitu… Waktunya untuk serangan balasan.” Pemuda itu pun langsung mengambil delapan buah belati.