The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 241 - Sebuah kesepakatan



Dengan kemampuannnya tersebut, Drannor mampu melihat viasualisasi di setiap cabang-cabang lorong yang berada di bawah permukaan tersebut, namun terdapat sebuah pintu yang tidak bisa dilihat olehnya isi ruangan yang berada dibalik pintu tersebut.


“Sepertinya aku mendapatkan tempat disimpannya senjata itu… Ayo ikut aku sekarang,” ucap Drannor sambil menyuruh Eiseach ikut bersamanya menuju pintu misterius tersebut.


***


Beberapa saat kemudian, setelah melewati lorong yang cukup panjang tersebut, Drannor dan Eiseach akhirnya sampai di depan pintu yang sebelumnya sempat dilihat oleh pemuda Elfman itu menggunakan kekuatan observasi miliknya.


Drannor mengakses kekuatan sihirnya untuk mencoba membuka pintu tersebut, namun terdapat sebuah mantra yang menyegel kunci tersebut, yang bahkan tidak dapat dibuka oleh kekuatan miliknya.


“Hei, berlindung dibelakangku…”


Mendengar ucapan Drannor, Eiseach pun langsung bergerak pergi ke belakangnya karena merasa bahwa pemuda Elfman itu hendak melancarkan sebuah serangan.


Drannor berjalan mendekati pintu tersebut, kemudian menyalurkan energi sihirnya, hingga memunculkan aksara-aksara rune di permukaan pintu tersebut.


“Geheimer zauberspruch… Heilog springing…”


“Abwehrzauber… Holy eldritch shield…” Ketika aksara-aksara rune tersebut menciptakan sebuah ledakan, Drannor dengan sigap melompat ke belakang, kemudian memunculkan sebuah perisai proyeksi agar mampu melindunginya serta Eiseach yang berada belakangnya dari efek ledakan tersebut.


“Sial…” Saat efek ledakan tersebut lenyap, Drannor pun mengumpat karena melihat pintu tersebut masih tetap utuh setelah menerima serangan teknik ledakan yang diciptakan olehnya.


“Tuan Elfman… Lebih baik aku yang mencobanya,” ucap Eiseach kemudian berjalan mendekati pintu tersebut.


Dengan mengacungkan tongkat sihir senjata suci milik Barnedict, Eiseach pun menyalurkan sebuah proyeksi energi hingga mampu merusak mantra yang menyegel pintu tersebut.


Perempuan itu kemudian melancarkan serangan proyeksi energi brskala besar dari senjata suci yang dipegang olehnya, hingga pintu yang berada di depannya dalam sekejap hancur.


“Wah… Jadi ini senjata penghancurnya…” Eiseach pun nampak terkejut melihat sebuah senjata artileri berukuran besar berada dalam ruangan dibalik pintu yang dihancurkan olehnya.


Perempuan itu bersama dengan Drannor kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut untuk melihat senjata penghancur milik bangsa Fuegonia lebih dekat lagi.


Tiba-tiba Eiseach langsung menggunakan kekuatannya, mengirim senjata artileri itu ke dalam ruang spasial yang bisa diakses olehnya.


“Hei, apa yang kau lakukan?” Tanya Drannor, terkejut melihat perempuan itu langsung menyimpan senjata tersebut ke dalam ruang spasial miliknya.


“Serahkan senjata itu…” Tanpa pikir panjang Drannor langsung menciptakan sebuah pedang es, kemudian mengacungkannya ke arah Eiseach untuk mengamcam perempuan itu agar menyerahkan senjata yang disimpan olehnya.


“Tunggu tuan Elfman, mari kita buat kesepakatan terlebih dahulu,” ucap Eiseach.


“Kesepakatan apa yang kau inginkan? Seharusnya aku sudah mengakhirimu dari tadi,” ucap Drannor, tidak memperdulikan ucapan dari perempuan itu.


“Percuma saja jika kau melakukan itu… Kau tetap tidak akan bisa mendapatkan senjata tersebut, karena kini telah berada di dalam dimensi spasial milikku.”


Mendengar pernyataan dari Eiseach, membuat Drannor pun harus berpikir dua kali untuk menyerang, karena apa yang dikatakan oleh perempuan tersebut memanglah benar.


“Cepat katakan apa kesepakatannnya?” Karena tidak punya pilihan, Drannor pun langsung menyetujui mengenai hal yang dibicarakan oleh Eiseach kepadanya, sambil menurunkan pedang es yang diacungkannya ke arah perempuan tersebut.


“Apa tujuan kau datang kemari hanya untuk mencari senjata ini?” Tanya Eiseach.


“Tidak… Kami kemari memang secara terang-terangan ingin membalas penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Fuegonia ke wilayah kami sebelumnya,” jawab Drannor.


“Berarti kau datang kemari dengan sebuah pasukan?”


“Tentu saja…”


“Baiklah… Sesuai yang kau katakan, aku akan menyetujuinya.” Drannor pun tidak mempunyai pilihan selain menyetujui permintaan dari Eiseach, karena kini senjata yang diincarnya serta para pasukan Elfman telah berada di tangan perempuan itu.


Setelah Drannor setuju, Eiseach kemudian mengakses kemampuan telepatinya untuk memberitahukan sebuah informasi kepada para rekan-rekannya.


*


“Semuanya… Aku telah mendapatkan senjata penghancur yang kita cari… Untuk saat ini aku telah membuat persetujuan dengan Venerate Blueland yang juga mengincar senjata itu agar bisa membawa kita kabur bersama dengan pasukannya,” ucap Eiseach kepada para Venerate Ierua melalui kemampuan telepati.


“Kakak… Aku sudah menemukan senjata itu, namun didahului oleh salah satu Venerate Ierua… Aku terpaksa menyetujuinya untuk bisa ikut kabur dengan pasukan kita membawa rekan-rekannya juga.” Sementara itu, Drannor juga menggunakan kemampuan telepati untuk memberitahukan informasi kepada Cyffredinol.


***


Kembali pada Cyffredinol di atas salah satu armada pesawat pasukan Blueland, yang sementara juga memperhatikan pertarungan para Venerate yang berada di depan mereka.


“Sepertinya ini bukan hari keberuntungan kita,” gumam Cyffredinol.


Ketika Cyffredinol sedang memperhatikan pertarungan dari para Venerate Ierua melawan Boulet, pria Elfman itu sontak melihat bahwa salah satu Venerate Ierua tersebut, yang tidak lain merupakan Aisling hendak menerima sebuah serangan elemen api.


Tanpa pikir panjang, Cyffredinol pun langsung meluncur dengan kecepatan penuh hingga membuat Raquille pun langsung terkejut.


***


Dalam sekejap Cyffredinol meluncur sambil menangkap Aisling menghindar dari serangan proyeksi elemen api yang dilancarkan oleh Boulet.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Cyffredinol mengenai keadaan dari perempuan tersebut.


“Aku baik-baik saja… Terima kasih,” jawab Aisling.


Perempuan pun kemudian hanya bisa terdiam sambil merasa terkejut, melihat dirinya tiba-tiba diangkat oleh seorang pria berambut putih dengan memiliki tinggi lebih dari dua meter tersebut.


Ketika meliht Boulet sedang melawan para Venerate Ierua yang lain, Cyffredinol pun langsung menurunkan Aisling, kemudian memunculkan sebuah senapan, yang merupakan senjata suci miliknya.


Disaat Boulet sedang sibuk bertarung dengan para Venerate Ierua, Cyffredinol mengambil kesempatan tersebut dengan langsung membidik senapannya ke arah Continent Venerate Fuegonia tersebut, lalu melancarkan sebuah serangan proyeksi energi dari senapannya itu.


“Akh…” Karena tidak menyadari serangan dari Cyffredinol, Boulet pun langsung menerimanya, hingga membuatnya terhempas ke jarak yang jauh.


**


“Lebih baik bergegas pergi dari tempat ini karena rekan kalian sudah meminta untuk membawa kalian kabur…” Ucap Cyffredinol, menyuruh para Venerate Ierua itu untuk kabur bersama dengan pasukan Blueland.


Tanpa pikir panjang, Aisling serta empat Venerate Ierua pun langsung meluncur terbang ke langit mengikuti Cyffredinol, menuju ke arah armada pesawat milik pasukan Blueland.


*


“Semuanya… Ayo kita mundur dulu…” Disaat yang bersamaan, Cyffredinol menggunakan kemampuan telepati untuk memberitahukan kepada seluruh pasukan negeri Blueland.


**


Mendengar hal tersebut, pasukan negeri Blueland yang merupakan para ras Elfman satu per satu mulai mundur menuju ke armada pesawat tempur mereka.


Begitu juga dengan Ackerlind dan para saudaranya, yang lebih memilih untuk mundur ditengah pertarungan mereka yang sedang berhadapan dengan para Continent Venerate Fuegonia.


Sementara itu, Raquille tidak lupa memunculkan salah satu Continent Venerate yang sebelumnya sempat dikalahkan bersama dengan Cyffredinol.