
“Drakon… Apa maksudmu tadi?” Nampak Neyndra ingin mendengar penjelasan dari perkataan Drakon sebelumnya.
“Eh, Maksudku itu… Lagipula juga dia itu kan adalah pira cantik… Itu maksudku mau mengejeknya,” kata Drakon beralasan pada Neyndra.
“Pra cantik katamu…? Apa mungkin aku yang salah dengar?” Tanya Neyndra.
“Iya, nona Neyndra, kau pasti sudah salah dengar,” jawab Drakon meyakinkannya.
Kemudian terlihat Neyndra pun tersenyum karena mempercayai perkataan dari Drakon.
*
“Untung saja nona Neyndra percaya perkataanku,” kata Drakon dalam hati, merasa lega.
Namun, mendengar Drakon mengatakan bahwa Raquille adalah pria cantik dan bermaksud mengejeknya, pemuda itu pun sontak menatap tajam Drakon dan membuatnya merasa terintimidasi oleh tekanan kekuatan yang kuat dari Raquille.
“Sialan… Aura kuat ini lagi...”
**
“Baiklah… Kalau begitu, langsung saja kita lanjut ke pertandingan selanjutnya,” kata pembawa acara.
Kemudian layar langsung mengacak nama-nama dari para petarung yang akan saling berhadapan.
Fuegonia A, Yoford Drown, 20 tahun, 180 cm, Human, Regional Venerate.
Lightio, Erklis Magchora, 26 tahun, 181 cm, Human, Regional Venerate.
Mormist, Aazir Wakor, 33 tahun, 172 cm, Ogreman, Regional Venerate.
Neodela, Margo Shores, 23 tahun, 180 cm, Beastman, Regional Venerate.
Vielass, Sligo Ekonji, 26 tahun, 170 cm, Trollman, Regional Venerate.
Setelah nama dari kelima petarung tersebut teterah di layar, mereka pun kemudian bersiap menuju ke tengah arena.
**
“Woah…! Akhirnya sekarang giliranku.” Nampak Erklis terlihat kegirangan dan langsung melakukan pemanasan sebelum pergi ke tengah arena.
**
“Erklis Magchora… Aku berhadapan denganya lagi,” kata Yoford.
“Jangan khawatir kakak, pasti kali kau akan menang,” kata Afucco menyemangati Yoford.
**
Beberapa saat kemudian, di tengah arena nampak kelima petarung terlihat sudah siap untuk saling berhadapan.
“Baiklah… Bersiap… Mulai…!” Kata wasit, memulai pertandingannya.
Setelah wasit memulai pertandingannya, terlihat Yoford langsung melompat ke arah Erklis untuk menyerangnya.
“Woaah… Hei… Apa kau mempunyai dendam padaku…?” Tanya Erklis.
“Jelas saja… Kali ini aku akan membalas dendam untuk pertarungan tahun lalu,” jawab Yoford.
Nampak kedua petarung tersebut kemudian saling melancarkan serangan satu sama lain.
**
Lalu terlihat Ogreman wanita bernama Aazir mengaktifkan kekuatan dari belatinya, yang langsung memancarkan pancaran energi listrik berwarna merah. Pancaran energi listrik itu kemudian diluncurkannya mengarah pada kedua petarung lainnya.
Beatsman perempuan bernama Margo yang melihat serangan tersebut, sontak langsung menangkisnya dengan tombaknya. Hal tersebut berbeda dengan Trollman bernama Sligo, dia terlihat dengan mudahnya menghindari setiap serangan dari Aazir.
*
“Apa…? Bagaimana mungkin dia terlihat seperti telah mengatahui segala seranganku…?” Kata Aazir dalam hati, bertanya-tanya.
**
Melihat Aazir sontak kebingungan pada serangannya yang selalu dihindari degan mudah oleh Sligo. Margo pun kemudian menggunakan kesempatan itu dengan langsung mengayunkan tombaknya ke Ogreman perempuan itu.
“Argh…!” Teriak Aazir menerima serangan dari Beastman itu.
“Hei… Wanita Ogre… Sebaiknya kau tidak mengalihkan pandanganmu padaku,” kata Margo.
Aazir pun kembali berdiri dan kemudian meningkatkan kekuatannya. Sontak energi listrik merah kembali terpancar pada kedua belati yang dipegang oleh Aazir, yang kini nampak lebih besar dari sebelumnya.
“Red electric style… Shocking shreds…” Ogreman wanita itu melancarkan serangan energi listrik tersebut ke arah Margo, yang meluncur dengan cepatnya sehingga membuat Beastman perempuan itu dengan sigap langsung menghindarinya.
Setelahnya, kedua petarung itu terlihat secara bersamaan maju dan saling melancarkan serangan mereka satu sama lain.
**
Di lain sisi, terlihat pertarungan antara Yoford melawan Erklis. Nampak pria Fuegonia itu melancarkan serangan elemen apinya dengan bertubi-tubi pada Erklis. Namun, pria Lightio itu dengan mudahnya dapat menghindari serangan tersebut karena pergerakannya yang gesit.
“Sial… Kenapa dari tadi dia dengan mudah bisa menghindari seranganku?” Kata Yoford kebingungan melihat kegesitan Erklis menghindari setiap serangannya.
Karena melihat Yoford mulai kelelahan terus-terusan melancarkan serangan elemen apinya dari tadi, Erklis dengan cepat maju ke depan untuk menyerangnya.
“God aura… Superior punch…” Pria itu kemudian meluncurkan proyeksi energi berwarna emasnya ke arah Yoford, yang sontak membuatnya langsung terhempas dan langsung mengalami kekalahan.
“Heh… Ini mudah sekali…” Kata Erklis.
**
“Hahaha…!” Nampak Gerhenther langsung tertawa saat melihat kekalahan telak dari Yoford.
Hal tersebut sontak membuat para anggota tim Fuegonia A langsung menatap tajam Gerhanther, yang sepertinya ingin memanas-manasi mereka.
“Hei… Kenapa lagi dengan kalian?” Pemuda itu sontak langsung kembali merespon tatapan tajam mereka padanya.
**
Kemudian pandangan Erklis tertuju pada Sligo yang sedari tadi hanya berdiam diri menonton pertarungan dari Aazir dan Margo. Dia pun berlari ke arah Trollman itu hendak menyerangnya.
Namun, walaupun tidak melihat kedatangan pria Lightio itu, yang akan melancarkan serangan padanya, Trollman itu mampu menghindari serangan tersebut.
*
“Apa…? Bagaimana bisa dia menghindariku tanpa melihatku…?” Kata Erklis dalam hati, terkejut serangannya dapat dihindari oleh Sligo walaupun tanpa melihatnya.
**
“Oh… Jadi kau sudah mengalahkan lawanmu yah...” Kata Sligo yang dengan seketika langsung menganyunkan tombaknya pada Erklis.
Melihat serangan tersebut, Erklis pun sontak melompat memutar tubuhnya mengindarinya serangan tersebut. Mereka berdua pun kemudian saling melancarkan dan menghindari serangan satu sama lain.
**
Berpindah kembali pada pertarungan Aazir dan Margo. Kini terlihat Margo yang merupakan ras Beastman telah berubah ke wujud manusia setengah kudanya untuk mengimbangi kekuatan dari Aazir.
Margo pun lalu berlari ke arah Ogreman itu dengan mengayunkan tombaknya. Sontak Aazir langsung menghindari serangan tersebut.
“Red electric style… Prickly stab…” Ogerman perempuan itu langsung melancarkan serangan balik dengan listrik merahnya, sehingga membuat Margo pun terluka pada bagian dadanya.
“Argh…!” Teriak Margo menerima serangan dari Aazir.
Belum menyerah karena mendapatkan luka akibat serangan sebelumnya, Beastman perempuan itu kini mengaktifkan kekuatan pada tombaknya, yang sontak membuatnya memancarkan energi berwarna merah.
Aazir pun sontak tidak mau kalah, dia kemudian meningkatkan kekuatannya, yang kini juga terlihat memancarkan energi listrik merah yang lebih besar.
Mereka berdua pun kini maju untuk melancarkan serangan mereka satu sama lain.
Tetapi, tiba-tiba saja Erklis dan Sligo yang dari tadi saling berhadapan muncul dari arah belakang mereka masing-masing dan kemudian melancarkan serangan kejut pada mereka berdua.
Erklis secara tiba-tiba muncul dari belakang Aazir, langsung menghantamnya ke tanah hingga membuatnya tersungkur. Begitu juga dengan Sligo yang muncul dari arah belakang Margo, dia kemudian menendang Margo hingga membuat Beastman itu terhempas dan menghantam dinding arena. Hal tersebut membuat kedua petarung itu langsung mengalami kekalahan.
Berlanjut pada Erklis dan Sligo yang kini saling menangkis serangan satu sama lain.
“Hei… menyerah saja dan biarkan aku yang menjadi pemenangnya,” kata Erklis.
“Lebih baik kau yang menyerah dan biarkan aku saja yang mendapatkan poin kemenangan,” balas Sligo.
Mereka berdua pun kini terlihat saling melancarkan serangan yang sebagian dapat ditangkis dan sebagian juga mengenai mereka.
**
“Lihat mereka berdua itu… Sama-sama tidak mau menyerah,” kata Raquille.
“Tinggal waktu yang dapat menentukan siapa yang menjadi pemenang diantara mereka berdua,” kata Drakon.
**
“Trollman itu bisa mengimbangi kekuatan dari Erklis walau hanya menggunakan kekuatan fisik saja,” kata Dimira.
“Erklis juga terlihat sudah kelelahan melawannya,” kata Zeidonas.
“Apa kalian tidak tahu…?” Tanya Gerhanther.
“Apa maksudmu?” Tanya balik Dimira.
“Kekuatan sebenarnya dari ras Trollman itu adalah kemampuan untuk mengobservasi lingkungan sekitar mereka. Itu sebabnya Trollman tersebut bisa menghindari serangan dengan mudah tanpa harus melihatnya,” kata Gerhanther.
Kemampuan yang digunakan oleh ras Trollman untuk menghindari serangan sebenarnya bukan hanya dengan menggunakan kemampuan mengobservasi. Ras tersebut memiliki suatu kemampuan untuk dapat melihat peluang-peluang masa depan, dimana jumlah peluang masa depan yang dilihat akan lebih banyak sesuai dengan tingkatan Venerate mereka.
**
Sontak secara tiba-tiba mereka berdua pun berhenti setelah cukup lama saling melancarkan serangan satu sama lain.
“Hei Beastman… Aku akui kau itu memanglah kuat…” Kata Erklis terlihat kelelahan.
“Aku juga mengakuimu... Ternyata sangat sulit sekali untuk menundukanmu...” Kata Sligo yang juga terlihat kelelahan.
Kemudian setelah mengatakan hal tersebut mereka berdua bersamaan jatuh tersungkur.
**
“Apa…? Bagaimana ini bisa terjadi…?” Kata Dimira melihat Erklis kekalahan anggotanya.
**
Setelah mereka berdua pun terkapar, terlihat wasit memasuki tengah arena.
“Hasil dalam pertandingan kali ini seri. Petarung pada pertandingan ini akan mendapatkan poin yang sama, kecuali untuk petarung yang pertama kali mengalami kekalahan tidak mendapatkan perolehan poin,” kata wasit.
Kemudian pada layar langsung memperlihatkan perolehan poin dari semua tim.
Fuegonia A (6), Lightio (6), Vielass (6), Asimir (6), Neodela (3), Fuegonia B (2), Mormist (2), Machora Tira (1), Cielas (1).
**
“Aku tidak percaya bahwa Erklis juga bisa kalah,” kata Dimira.
“Namun walaupun begitu, Trollman itu juga mengalami kekalahan,” kata Zeidonas.
**
Kemudian setelah petugas medis membawah kelima petarung yang telah terkapar tersebut, terlihat pembawa acara masuk ke tengah arena.
“Kalau begitu kita lanjutkan pertandingannya ke tingkat Land Venerate.”
**
“Heh… Akhirnya muncul juga giliran kita Zeidnoas,” kata Gerhanther nampak bersemangat mendengar hal tersebut.
**
“Mungkin pertandingan kali akan lebih menarik dari pertandingan sebelumnya,” kata Afucco yang juga terlihat bersemangat.
**
“Woaah…! Aku sudah tidak sabar menunggu giliranku,” seru Bohrneer, bersemangat.
“Tapi… Kau kan belum maju bertarung, kenapa pertandingannya sudah mau masuk ke tingkat Land Venerate?” Kata Drakon mempertanyakan Raquille yang masih belum mendapatkan giliran bertarung.
“Eh… Benar juga… Padahal aku adalah Regional Venerate,” kata Raquille, bingung.
“Berarti kau akan berhadapan dengan empat Land Venerate pada pertarungan pertama ini… Lihat saja nanti,” kata Neyndra.
“Hah…? Apa maksudmu…?” Tanya Raquille lebih bingung.
**
“Namun… Masih terdapat satu peserta di tingkat Regional Venerate yang belum mendapat giliran untuk bertarung. Secara terpaksa dia harus berhadapan dengan empat Land Venerate dalam pertarungan pertama ini.” Baru saja Neyndra mengatakan hal tersebut, pembawa acara langsung menyampaikannya.
Setelah menyampaikan hal tersebut, layar kemudian memperlihatkan nama Raquille, yang memakai nama samaran.
Fuegonia B, Laventille Noroh, 20 tahun, 188 cm, Elfman, Regional Venerate.
**
“Jadi Elfman itu yah… Peserta Regional Venerate yang tersisa,” kata Giantman bernama Fegant.
“Clan Noroh yah… Walaupun dia hanya berada pada tingkatan Regional, tapi kurasa dia bisa mengimbangi kekuatan yang berada di tingkatan Land,” kata Dwarfman bernama Dossur.
**
“Jadi dia hanya di tingkatan Regional saja…? Aku merasa kasian padanya jika harus berhadapan dengan empat Land Venerate… Bagaimana jadinya dia nantinya?” Kata Gerhanther meremehkan Raquille.
**
“Sialan… Ternyata dia hanya berada di tingkatan Regional Venerate... Awas saja kau jika berhadapan denganku nanti pada ronde kedua,” kata Urano.
*
“Pria itu adalah Regional Venerate? Tapi… Bagaimana bisa dia mengintimidasiku dengan tekanan kekuatannya tadi pagi? Padahal aku adalah seorang Land Venerate,” gumam Venere bingung melihat bahwa Raquille hanyalah Regional Venerate.
**
“Hmph… Aku penasaran dengan kemampuan dari Elfman itu?” Kata Rox.
“Memangnya kau belum pernah melihat Aguirre Noroh atau saudaranya yang lain bertarung?” Tanya Rourke.
“Eh… Jelas aku pernah melihatnya, bahkan saat pertama kali mereka datang ke negeri ini. Aku ingat dulu ketiga bersaudara itu pernah menantang tuan Barbiond bertarung,” jawab Rox.
“Lalu…?” Tanya Rourke lagi.
“Jelas saja mereka akhirnya dikalahkan oleh tuan Barbiond. Namun, pada awal pertarungan, mereka bertiga yang merupakan Continent Venerate sempat menyudutkan tuan Barbiond yang merupakan seorang World Venerate, dengan menggunakan kemampuan-kemampuan mereka yang sangat beragam,” kata Rox menceritakan hal tersebut kepada Rourke.
“Begitu yah… Memang clan itu memliki banyak keterampilan dengan kekuatan sihir mereka,” kata Rourke.
**
“Kalau begitu untuk empat nama lain yang nantinya berada di layar dimohon untuk bersiap ke tengah arena,” kata pembawa acara.
Tak berapa lama, terlihat nama-nama dari keempat petarung tersebut.
Machora Tira, Ascelin Wilmond, 42 tahun, 176 cm, Vampireman, Land Venerate.
Mormist, Nolani Dolliford, 36 tahun, 175 cm, Mermaidman, Land Venerate.
Vielass, Mesen Wycencor, 22 tahun, 154 cm, Pixieman, Land Venerate.
Cielas, Venus Redeglidei, 22 tahun, 160 cm, Human, Land Venerate.
**
Beberapa saat kemudian terlihat keempat petarung bersama dengan wasit telah berada di tengah arena duluan sebelum Raquille. Mereka lalu menunggu Raquille di tengah arena yang belum datang juga.
“Kenapa Elfman itu…? Apa dia takut?” Tanya Ascelin.
**
“Hei… Laventille…” Kata Drakon memanggil Raquille saat pemuda itu akan menuju ke tengah arena.
“Ada apa…?” Tanya Raquille.
“Jangan berlebihan pada mereka semua,” kata Drakon dengan berbisik.
Raquille hanya membalas Drakon dengan tersenyum dan kemudian pergi meninggalkannya.
**
Di tengah arena, terlihat mereka berlima sudah siap untuk saling berhadapan.
“Baiklah… Bersiap… Mulai…!” Kata wasit memulai pertandingan tersebut.
Sontak setelah wasit memulai pertandingan, terlihat Mesen dan Ascelin saling menyerang satu sama lain. Begitu juga dengan Venus dan Nolani yang saling menyerang tanpa menghiraukan Raquille yang berada di tempat itu.
Melihat hal tersebut, pemuda itu sontak kebingungan karena telah dihiraukan oleh keempat petarung tersebut.
“Hei… Apa kalian tidak mau menyerangku?” Tanya Raquille pada keempat petarung tersebut.
Namun, mereka tetap saja tidak menghiraukan Raquille yang bertanya pada mereka dan terus saja saling menyerang satu sama lain.
“Hah… Bagaimana mungkin aku dihiraukan?” Kata Raquille yang terlihat mulai kesal.
“Sialan dengan kalian semua…” Karena merasa kesal telah dihiraukan oleh petarung yang lain, terlihat dari mulutnya mengeluarkan uap es.
*
“Sialan… Apakah dia akan langsung mengalahkan mereka berempat dengan sekali serang?” Nampak raut wajah khawatir dari Drakon memperhatikan Raquille yang akan mengeluarkan serangannya.
**
“Ice spring… Thousand ice thorns...”
Seketika terciptalah bongkahan-bongkahan es berduri, yang langsung menutupi semua tanah yang berada di tengah arena tersebut, selain tempat berpijak Raquille dan keempat petarung lainnya.
Sontak hal tersebut langsung membuat keempat petarung itu serta orang-orang yang menonton menjadi terkejut melihat kemampuan dari Raquille itu.
Hal itu juga sontak langsung membuat keempat petarung yang saling melancarkan serangan mereka tiba-tiba langsung terhenti karena ruang pergerakkan mereka kini menjadi sempit karena bongkahan-bongkahan es berduri menutupi hampir seluruh tengah arena tersebut.
Raquille kemudian mengeluarkan proyeksi energi sihirnya dan kemudian membentuknya menjadi sebuah sayap dan terbang melayang ke atas.
“Hei kalian berempat… Apa kalian takut untuk berhadapan denganku…?” Kata Raquille dengan tatapan yang tajam menantang keempat petarung sekaligus.