
Raquille mengangkat salah satu tangannya ke arah para Continent Venerate Graina, yang sontak membuat lingkaran sihir yang berada di bawah mereka menjadi lebih bercahaya.
Para Venerate itu pun langsung dibuat ketar-ketir oleh Raquille, memikirkan efek serangan yang akan diterima oleh mereka.
Tidak mau hal tersebut terjadi, keenam orang tersebut secara bersamaan langsung mengangkat kedua tangan mereka, meminta ampunan dari pria Elfman itu.
“Baiklah, baiklah… Akan aku katakan darimana kami mendapatkan gelang-gelang itu,” ucap salah satu diantara mereka, akhirnya menyerah.
“Oke, bicaralah sekarang…” Ucap Rostyana.
“Gelang-gelang itu bukan berasal dari Nascunia ataupun kekuatan dari salah satu Venerate negeri itu…”
Mendengar hal tersebut Raquille pun merasa heran, karena yang pemuda itu ketahui bahwa sumber kekuatan di dalam benda-benda tersebut berasal dari Zitkavena sebagai pemegang kekuatan kekangan surgawi yang bisa mengunci kekuatan dari para Venerate.
Dia pun juga mengerti sebagai pemegang kekuatan dari makhluk suci juga bahwa jika telah memberikan kekuatan kepada satu orang Venerate, makhluk suci yang bersangkutan tidak akan pernah bisa bahkan mau memberikan kekuatannya lagi.
“Kalau begitu, pertanyaanku darimana sumber kekuatan kekangan yang berada di dalam gelang ini?” Tanya Raquille.
“Benda-benda ini berasal dari negeri Pavonas… Kemungkinan salah satu Venerate mereka juga memiliki kekuatan tersebut,” jawab salah satu Venerate Graina.
Para Venerate itu lalu menjelaskan bahwa bangsa Slivan, khususnya negeri Graina, Pavonas termasuk negeri Riemic juga mengetahui asal usul dari burung surgawi pemegang kekuatan tersebut.
Terdapat dua ekor burung surgawi dengan kekuatan sama yang mendiami dunia ini. Maka dari itu, Venerate yang menjadi wadah dari kekuatan mereka juga berjumlah dua orang, satu berasal dari burung surgawi yang pertama, sedangkan yang satunya berasal dari burung surgawi yang lain.
Fakta tentang keberadaan dua burung surgawi tersebut sebenarnya sudah tertulis oleh para pendahulu saat zaman kerajaan bangsa Slivan kuno beberapa milenium yang lalu.
Tulisan-tulisan itu sempat hilang sekitar beberapa milenium ke depan hingga kembali diketahui oleh para Venerate negeri Graina, Pavonas dan Riemic beberapa abad yang lalu.
Maka dari itu, negeri Graina yang dipimpin oleh Arvhen pada awal pemerintahannya sekitar satu setengah milenium yang lalu, tiba-tiba sudah tidak tertarik lagi pada keturunan Venerate Nascunia yang mewarisi kekuatan kekangan surgawi dimasa kini.
“Hmph… Ini rumit juga… Bagaimana jika ternyata Reonnog juga memiliki kembaran atau apapun itu sehingga pemegang kekuatan es ilahi bisa ada selain diriku…” Gumam Raquille.
“Entahlah… Kalau begitu, terima kasih sudah memberikan informasinya… Sekarang waktunya kalian tidur.” Raquille mengangkat tangannya ke arah enam Venerate itu kembali hingga lingkaran sihir dibawah mereka menjadi bercahaya lagi.
Dalam sekejap orang-orang Graina itu pun langsung tertidur dengan teknik sihir yang dilakukan oleh pemuda Elfman itu.
***
Berpindah ke wilayah negeri Pavonas, di kota Vosmoc, terlihat seorang pria dengan penampilan berusia sekitar tiga puluhan sampai empat puluhan nampak sedang berjalan menuju ke suatu tempat.
Dia berjalan melewati dua orang pria lainnya yang merupakan Viecion dan Sineto, Venerate Pavonas yang menjadi anggota dari kelompok dari rencana kudeta Erissa.
Pria itu melewati dua Venerate tersebut tanpa menyapa mereka berdua. Entah apakah pria itu memang tidak memperhatikan sekitarnya ataupun tidak mengenal mereka.
“Tuan Gudov…” Tiba-tiba Viecion memanggil pria itu.
Mendengar namanya disebut, pria itu pun langsung menoleh kebelakang.
“Oh, Viecion dan Sineto ternyata… Kalian ternyata berada di kota ini…” Ucap pria bernama Gudov itu sambil datang menghampiri Viecion dan Sineto.
“Bukankah tempat kalian di kota St. Redspurge? Kenapa kalian berada disini?” Tanya pria bernama Gudov itu.
“Kami mendapatkan tugas…” Jawab Viecion.
“Tugas? Tugas macam apa?” Tanya pria itu lagi, masih belum paham dengan penjelasan singkat tersebut.
“Kami mau merekrutmu menjadi salah satu anggota kami.”
“Salah satu anggota kalian…? Apa yang kalian bicarakan? Aku lebih tidak mengerti lagi…”
“Kami mau kau bergabung bersama kami ke pihak nona Erissa…” Sontak ekspresi Sineto menjadi serius dan menjelaskan inti dari tujuan mereka berbicara pada pria itu.
Mendengar hal tersebut ekspresi Gudov pun juga menjadi serius, walaupun yang sebenarnya dari awal dia sudah mengetahui maksud dari kedua orang tersebut, namun dia tetap memasang ekspresi layaknya tidak mengetahui apa-apa.
“Tuan Gudov, bergabunglah bersama kami… Aku tahu kau juga sebenarnya menentang pemimpin negeri ini dan mendambakan negeri yang damai tanpa harus ada konflik dengan negeri yang lain… Dengan memiliki kekuatanmu, aku yakin kita pasti bisa mengalahkan…”
“Aku menolaknya.” Dengan yakin Gudov langsung memotong ucapan Viecion, menolak tawaran mereka.
Viecion pun terdiam, tidak habis pikir dengan pria itu, padahal dia memiliki tujuan yang sama seperti mereka.
“Kalau begitu, bagaimana jika bertarung secara adil? Jika kau menang, maka kami tidak akan lagi memaksamu, dan bahkan kau bisa melaporkan pergerakan kami kepada tuan Rumen… Namun jika kau kalah, maka kau harus bergabung dengan kami tanpa alasan apapun.” Ucap Sineto, menawarkan sebuah tantangan kepada Gudov.
“Tunggu dulu Sineto… Ada apa ini? Ini bukan rencana yang kita bahas tadi.” Mendengar pernyataan dari Sineto, Viecion pun tampak kebingungan.
“Oh, begitu yah… Apakah kalian berdua mampu bertarung melawanku?” Tanya Gudov, memastikan tantangan yang dikatakan oleh Sineto.
“Tentu saja lawan yang akan bertarung denganmu harus sebanding…”
Tiba-tiba Verre Agde, pemuda dari Erstleland yang ditemui oleh Erissa di dalam penjara sebelumnya muncul dari arah belakang.
Mendengar sebuah suara Gudov pun sontak berbalik menengok ke arah belakangnya.
“Bukannya dia adalah seorang tahanan?” Ucap Gudov.
Ternyata tanpa sepengetahuan Viecion, Sineto, rekannya tersebut sudah mempersiapkan rencana lain. Pria itu tahu dan telah memperkirakan bahwa melakukan perundingan dengan Gudov tetap akan berakhir dengan pertarungan untuk menentukan sebuah pilihan yang adil.
“Apa kau takut?” Tanya Sineto.
“Tentu saja tidak,” jawab Gudov dengan percaya diri kemudian bersiap untuk pertarungannya.
Sineto pun menarik Viecion menjauh dari tempat agar dua orang itu menjadi lebih leluasa dalam pertarungan mereka yang akan segera dimulai.
Gudov tersenyum menyeringai perlahan-lahan maju mendekati Verre sambil bersamaan memunculkan sepasang belati di kedua tangannya.
“Eh…” Tiba-tiba Gudov kebingungan, entah kenapa dirinya terdiam di tempat tidak bisa maju ataupun menggerakkan tubuhnya.
“Begitu yah… Jadi kau memiliki kemampuan untuk memanipulasi gravitasi…” Gudov dalam sekejap berpikir dan langsung mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh pemuda yang berada di depannya itu.
“Tekhnika ekzortsista… Soul energy pressure…” Gudov pun melakukan sebuah teknik meningkatkan tekanan energi jiwanya agar bisa bergerak leluasa menandingi tekanan gravitasi yang dimanipulasi oleh Verre.
Pria itu bergerak berlari ke arah Verre, bersiap untuk menyerang pemuda tersebut.
Verre pun mengantisipasinya dengan memakai teknik lain. Dengan kekuatannya pemuda itu tiba-tiba menggerakkan semua benda-benda berat yang berada disekitarnya dan kemudian meluncurkannya ke arah Gudov.
Dengan sigap pria Pavonas itu mengalirkan energi pada kedua belatinya, hingga benda-benda yang meluncur ke arahnya dengan mudah hancur berkeping-keping ditebasnya.
“Telekinesis… Bangsa Frieden memang memiliki kemampuan yang beragam,” ucap Gudov mengagumi kemampuan dari Verre.
Dia seketika melompat sambil mengayunkan kedua belatinya ke arah Verre.
“Maaf… Pertarungan ini berakhir sampai disini saja.”
Akan tetapi, pergerakan Gudov tiba-tiba terhenti ketika Verre mengangkat salah satu tangan ke arahnya.
“Hei, bisakah kau diam… Aku benci mendengar orang yang selalu sok tahu tentang apapun.”
“Uakh…!” Gudov dalam sekejap terhempas ke jarak yang jauh ketika sebuah tekanan kekuatan dari Verre tiba-tiba mendorongnya.