The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 295 - Merasakan sebuah konflik yang akan segera datang



Hyphilia pun tersenyum melihat Raquille membantuk sebuah mahkota bunga, dimana Elfman perempuan itu megetahui bahwa Raquille akan memberikan mahkota bunga tersebut kepadanya. Hyphilia pun menundukkan kepalanya agar Raquille bisa memakaikan mahkota bunga tersebut ke kepalanya.


“Iya… Sudah kukatakan sebelum bahwa kau itu sangat cantik kakak… Bahkan dengan mahkota bunga ini kau bahkan terlihat lebih cantik,” ucap Raquille, lebih dahulu menjawab ketika Hyphilia hendak bertanya mengenai penampilannya.


Hyphilia tiba-tiba langsung merasa canggung dengan ucapan Raquille, dimana Raquille yang melihat hal tersebut lantas memikirkan sesuatu untuk mencoba menggoda Elfman perempuan tersebut. Pemuda Elfman itu membelai rambut Hyphilia, hingga perempuan itu merasa lebih canggung lagi, sampai membuat wajahnya seketika memerah.


“Eh…” Akan tetapi, dalam bayangannya tiba-tiba saja Raquille yang dilihatnya berubah menjadi Aguirre.


“Sial… Kenapa aku malah membayangkan tentang dia?” Gumam Hyphilia, menoleh ke arah lain, enggan menatap wajah Raquille karena tiba-tiba membayangkan wajah Aguirre.


“Mungkin kau sebelumnya membayangkan bahwa aku adalah kakak Aguirre kan…”


“Ternyata kau memang masih memiliki perasaan selama ini kepada kakak Aguirre… Seharusnya baik Aguirre maupun kau, kakak, tidak usah berbohong mengenai perasaan kalian,” ucap Raquille.


Mendengar hal tersebut, Hyphilia pun teringat ketika Aguirre baru saja menembus tingkatan World Venerate, dimana posisi putra mahkota yang menjadi kosong akibat hilangnya Raquille malah ditolak oleh pria Elfman tersebut.


Walaupun sedikit mengharapkan bahwa Raquille akan kembali, namun di dalam benaknya Hyphilia pada saat itu berharap agar dia bisa bersama dengan Aguirre.


Setelah Hyphilia memikirkan mengenai memori masa lalu tersebut, tiba-tiba Chrol datang menghampiri dirinya yang sedang bersama Raquille, sambil menggosokkan kedua tangannya akibat suhu yang begitu rendah.


“Maaf mengganggu waktu kalian, tapi berada di hamparan bunga ini akan terasa lebih hangat…” Ucap Chrol.


“Sebenarnya negeri Pavonas sedang bersitegang dengan negeri Fuegonia akibat bunga ini…”


“Beberapa waktu yang lalu beberapa Venerate Fuegonia menyebrang ke negeri ini dan masuk untuk mengambil, namun mereka saat itu gagal…”


“Entahlah… Mungkin saja Fuegonia memiliki alasan lain mengambil bunga ini selain untuk keuntungan mereka sendiri,” lanjut Chrol, menceritakan mengenai konflik yang sedang terjadi antara negeri Pavonas dan negeri Fuegonia yang memang pernah didengar oleh Raquille dan Hyphilia sebelumnya.


“Mendengar hal itu aku jadi merasakan bahwa sebentar lagi aka nada sebuah peperangan lagi, karena mengingat negeri Pavonas sebelumnya pernah menginvasi negeri Fuegonia…”


“Dan kemungkinan itu akan menjadi perselisihan saudara bagi kita…” Ucap Raquille, merasakan sebuah konflik besar akan segera datang, dan disaat bersamaan dirinya nampak khawatir karena beberapa Venerate Blueland, termasuk saudara-saudaranya, serta keluarga Chrol yang merupakan bagian dari negeri Fuegonia.


“Aku tetap akan membela negeri Pavonas yang sekarang, walaupun harus melawan clanku sendiri…” Ucap Chrol.


“Ada beberapa diantara kita yang harus bermusuhan dengan keluarga kita di negeri Fuegonia,” respon Raquille, mengingat bahwa Phyton juga termasuk salah satu yang harus melawan ayahnya sendiri yang memang merupakan salah satu Continent Venerate Fuegonia.


***


“Vingto… Apa kau tahu bahwa saat pertama kali melihat dewi merak itu, aku tiba-tiba mengingat Claireze…” Ucap Zero pada Vingto, menjelaskan bahwa dirinya melihat wajah seseorang ketika memandang Erissa.


“Kurasa kau harus mencoba melupakan masa lalu karena hal itu hanya akan menghambatmu… Kau sudah berjanji kepada putri Claireze bahwa kau akan terus melanjutkan hidupmu… Bagaimana jika dia mengetahui bahwa kini kau telah berubah drastis,” balas Vingto, mengingatkan Zero mengenai sifatnya yang kini memang terbilang cukup kasar hingga tidak akan segan-segan untuk melenyapkan musuhnya seperti kejadian sewaktu penyerangan pasukan negeri Calferland ke negeri Gimoscha, yang pada saat itu juga pria tersebut sempat mengalami perselisihan dengan Raquille yang tidak menerima perbuatannya.


Mendengar hal tersebut Zero pun lantas terdiam karena memang merasakan bahwa dirinya telah berubah setelah hal yang terjadi sebelum peperangan benua Greune terjadi.


***


Berpindah lagi ke kota Vosmoc, dimana terlihat Erissa sedang berada di sebuah balkon kastil utama kota tersebut.


“Kau belum kembali ke kota Vinks, Anatoliv…” Ucap Erissa, merasakan kehadiran seseorang yang mendekat, yang ternya merupakan salah satu Continent Venerate Pavonas.


“Aku masih ingin berada disini dulu… Lagipula Siramarg sudah kembali… Dan bahkan diikuti oleh putri Alyara…” Ucap Anatoliv.


“Begitu yah… Kurasa kita secara tidak langsung telah memiliki World Venerate bayangan… Tapi, aku cukup khawatir jika khatun agung akan mempermasalahkan ini, jika putri Alyara terus berkunjung ke negeri ini,” respon Erissa.


Erissa kemudian menatap Anatoliv, dan sontak merasa bingung melihat perempuan itu memperlihatkan ekspresi wajah yang cemas.


“Ada apa Anatoliv?” Tanya Erissa.


“Mengenai kejadian sebelumnya, ketika dua World Venerate itu berselisih, kurasa akan menjadi sebuah masalah jika nantinya mereka berdua dipertemukan…” Jawab Anatoliv, mencemaskan mengenai perselisihan antara Raquille dan Zero.


“Soal mereka berdua kurasa jangan khawatir… Aku akan berusaha keras untuk memisahkan mereka jika hal itu terjadi, karena saat ini kita memang sangat membutuhkan kekuatan mereka untuk melawan negeri Tengal dan Fuegonia yang sedang berkonflik dengan kita…” Ucap Erissa, meyakinkan Anatoliv agar tidak perlu terlalu mencemaskan mengenai hal tersebut.


“Yah… Walaupun aku berharap agar ada satu World Venerate lagi yang akan bergabung untuk bisa membantuku membandung kekuatan dari Raquille maupun Zero…” Lanjut Erissa, berharap agar negeri Pavonas bisa mendapatkan satu World Venerate lagi.


***


Kemudian, di sebuah pegunungan yang berada di perbatasan negeri Pavonas dan negeri Tengal, terlihat seorang gadis mengenakan sebuah gaun berwarna putih beraksenkan warna hijau, dengan memiliki rambut hitam yang panjang terurai tertiup oleh angin, serta sepasang mata berwarna sehijau daun yang baru saja bertunas, tampak sedang duduk menyilangkan kakinya di sebuah batu sambil memainkan sebuah melodi yang indah dari sebuah seruling.


Gadis yang sedang duduk di sebuah batu sambil memainkan seruling tersebut, tidak lain merupakan salah satu Venerate dari negeri Tengal yang disebut sebagai dewi merak, sama seperti Erissa, dan sebelumnya sempat meneteskan airmata ketika melihat wajah Raquille di sebuah layar, dimana saat itu memperlihatkan sebuah berita mengenai Raquille yang secara resmi menjadi pahlawan utama dalam perang benua Greune.


Entah kemungkinan gadis itu memang mengenal Raquille sejak sepuluh tahun silam, hingga membuatnya tiba-tiba merasa senang sampai meneteskan airmatanya ketika melihat sang pemuda Elfman tersebut telah kembali.


Tak berapa lama kemudian, dari arah belakang muncul seseorang, yang sontak menghentikan langkahnya karena enggan untuk mendekat sebelum gadis yang disebut sebagai dewi merak tersebut selesai memainkan melodi yang indah dari serulingnya.