The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 29 - Dua petarung terkuat



–13 Juni 3029–


Keesokan malamnya terlihat turnamen hari ke tiga akan segera dimulai. Nampak para penonton telah memenuhi arena turnamen. Terlihat juga semua peserta telah hadir dan berada di tribun mereka.


Kemudian Tomair, pembawa acara turnamen tersebut masuk ke tengah arena.


“Selamat malam hadirin sekalian. Hari ini merupakan hari terakhir, dimana pertandingan babak pertama akan berakhir… Karena besok kita akan menyaksikan pertandingan babak kedua dimana semua anggota dari kesembilan tim akan saling berhadapan.”


“Kalau begitu… Kita langsung saja ke pertandingan ketujuh dalam babak pertama ini… Bagi anggota tim yang namanya tertera pada layar diharapkan untuk segera bersiap dan menuju ke tengah arena.”


Setelah pembawa acara mengatakan hal tersebut, layar langsung mengacak nama-nama dari para anggota tim. Tak berapa lama, nama-nama dari kelima petarung yang akan saling berhadapan pun langsung terlihat.


Fuegonia A, Afucco Drown, 16 tahun, 178 cm, Human, Land Venerate.


Lightio, Zeidonas Magchora, 30 tahun, 180 cm, Human, Land Venerate.


Machora Tira, Zurbag Yarbill, 40 tahun, 203 cm, Orcman, Land Venerate.


Cielas, Saturno Redeglidei, 26 tahun, 175 cm, Human, Land Venerate.


Asimir, Rys Weagsai, 29 tahun, 173 cm, Goblinman, Land Venerate.


**


Akhirnya… Sekarang giliranku,” kata Afucco nampak bersemangat melihat gilirannya untuk bertarung.


“Kau akan melawan petarung dari Lightio dan Cielas itu. Berhati-hatilah… Dari semua peserta yang mengikuti turnamen ini dilihat dari persentase kemenangan, mereka berdualah yang tertinggi,” kata Dierill.


“Tenang saja kakak, aku pasti tidak akan kalah dari kedua petarung itu,” Kata Afucco dengan percaya diri.


“Kuharap begitu.”


**


“Kakak, kurasa lawanmu akan berat kali ini,” kata Urano yang ragu.


“Jangan langsung mengambil kesimpulan seperti itu,” kata Saturno.


Nampak pria tersebut kemudian langsung berjalan menuju tengah arena.


**


“Jadi… Belum saatnya aku berhadapan dengan Drakon yah...” Kata Zeidonas melihat namanya berada di layar.


“Tapi… Bukannya pertarungan kali akan menarik? Lihatlah salah satu lawanmu adalah pria dari Cielas itu,” kata Gerhanther.


“Benar juga… Jika kuingat lagi pada turnamen sebelumnya, aku dan dia hanya selalu berhadapan pada ronde kedua, saat semua sudah tereliminasi,” kata Zeidonas yang kemudian langsung bersiap menuju ke tengah arena.


**


Lalu terlihat wasit memasuki tengah arena setelah kelima petarung di tempat tersebut.


“Bersiap… Mulai…!” Kata wasit memulai pertandingan.


Setelah wasit memulai pertandingannya, nampak Afucco langsung saja berkonsentrasi meningkatkan kekuatannya sehingga tongkat yang dipegangnya memunculkan kobaran api.


Dengan cepat pemuda itu melompat dan mengayunkan tongkatnya tersebut mengarah pada Zeidonas.


Melihat ayunan tongkat dari pemuda itu, sontak membuat Zeidonas dengan refleks langsung menangkis serangan tersebut dengan sarung tangan besinya yang memancarkan energi berwarna emas.


Hasil dari dua tabrakan serangan mereka sontak membuat sebuah gelombang kejut yang kuat hingga membuat para penonton juga dapat merasakannya.


Setelah itu hal tersebut, Afucco kemudian langsung melompat ke belakang dan terlihat memutar-mutar tongkatnya.


“Flame projection… Mutiple flame ball…” pemuda itu seketika meluncurkan serangan bola-bola api ke arah Zeidonas.


“God Aura… Superior punch…” Zeidonas pun langsung mengantisipasi serangan bola-bola api tersebut dengan mengeluarkan proyeksi energi emas dari sarung tangan besinya.


Setelah menepis serangan bola-bola api tersebut, Zeidonas kemudian maju menyerang Afucco. Kedua petarung itu kemudian saling melancarkan serangan mereka satu sama lain.


**


Di sisi lain, terlihat pertarungan yang sengit antara Zurbag, Saturno dan Rys. Nampak ketiga petarung yang berhadapan itu juga saling melancarkan serangan mereka satu sama lain.


“Breaker wind…” Saturno memutar-mutar dua pedang di tangannya, dan seketika menciptakan sebuah pusaran angin yang besar.


Hal tersebut sontak membuat Zurbag serta Rys langsung menghindari serangan elemen angin tersebut.


“Heh… Hampir saja aku terbang oleh anginnya itu,” kata Rys.


Goblinman perempuan itu kemudian langsung berlari dengan kencangnya ke arah Saturno untuk meyeruduknya.


“Breaker wind… Wind slash…” Melihat Goblinman itu mendekatinya, Saturno pun mengantisipasinya dengan melancarkan serangan tebasan elemen angin secara bertubi-tubi.


Namun dengan kegesitannya, Rys dapat menghindari serangan tebasan elemen angin bertubi-tubi itu dan dengan mudah mendekati Saturno hendak menyerangnya.


Melihat Rys sudah berada di hadapannya, Saturno dengan cepat langsung melakukan lompatan memutar tubuh untuk menghindari serangan Goblinman perempuan tersebut.


*


“Sialan… Dia gesit juga,” Gumam Rys perempuan itu dalam hati, melihat Saturno melompat menghindari serangannya.


**


“Breaker wind… Strong pushing…” Saturno yang sekarang berada di atas Rys langsung melancarkan serangan elemen anginnya kembali, yang membuat Goblinman perempuan terdorong hingga tersungkur di tanah.


“Argh…!” Teriak Rys menerima serangan dari Saturno.


Efek dari serangannya tersebut sontak membuat pria Cielas itu juga terdorong sampai ke atas.


Para penonton yang melihat hal tersebut sontak terkejut melihat pria itu terdorong jauh ke atas.


Saat mencapai titik tertinggi, nampak Saturno menciptakan sebuah serangan elemen angin kembali.


**


“Oh tidak… Serangan itu…” Kata Venere, melihat Saturno akan melancarkan serangannya tersebut.


“Kurasa tuan Saturno sudah tidak mau lagi menyimpan serangan besarnya,” kata Vaena.


“Hei semua… Cepat menunduk atau berpegang pada sesuatu!” Teriak Urano kepada semua orang yang berada di tribun.


**


“Apa yang mereka lakukan?” Tanya Fegant, bingung melihat anggota tim Cielas menunduk.


“Kurasa serangan dari orang itu akan mengakibatkan kerusakan,” kata Dossur.


“Sebaiknya kita ikuti perkataan dari anggota timnya itu,” lanjutnya.


“Hahaha…! Apa kau pikir ukuran tubuhku ini bisa membuatku terhempas karena angin sejuk orang itu? Benar kan Essal?” Kata Fegant, yang terlihat meremehkan serangan yang akan dilancarkan Saturno tersebut.


“Hahaha…! Benar sekali tuan Fegant aku juga sependapat,” respon Essal.


“Dossur… Sini lebih baik aku memegangmu,” Giantman itu pun langsung mengangkat Dwarfman bernama Dossur itu dan memeluknya dengan satu tangan.


“Ukh… Hei lepaskan aku bodoh…” Kata Dossur, meronta-ronta ingin dilepas.


**


“Ayah… Kurasa serangan yang akan dilancarkan orang itu akan berbahaya bagi para penonton,” kata Rourke.


“Kau harusnya membuat penghalang agar nanti tidak mengakibatkan hal yang buruk,” lanjutnya, menyuruh Rox.


“Haah… Memang pertarungan dari Land Venerate sangat merepotkan,” kata Rox yang langsung berdiri dari kursinya dan mengangkat tangannya.


Seketika di sekitar tengah arena muncul sebuah penghalang.


**


“Eh… teknik penghalang yah?” Kata Fegant.


“Hei… lepaskan aku bodoh,” kata Dossur.


Sontak Fegant langsung melepaskan Dossur karena melihat penghalang yang dibuat oleh Rox itu.


**


“Breaker wind… Holy cyclone…” Saturno pun kemudian berputar-putar dengan cepatnya saat dirinya mulai meluncur ke bawah sehingga hal tersebut menciptakan sebuah pusaran angin yang sangat besar.


Melihat hal tersebut, Orcman bernama Zurbag langsung menciptakan sebuah dinding es untuk berlindung dari serangan pusaran angin tersebut.


“Argh…!” Saat serangan elemen angin yang besar itu menghantam permukaan, sontak membuat Goblinman perempuan itu seketika terhempas karena tidak memiliki pertahanan.


“Woah…!” Teriak Afucco


Nampak debu yang berada di permukaan tengah arena itu naik ke udara sehingga membuat pandangan mereka semua terhalang.


Saturno pun kemudian langsung bersiaga dari serangan dari petarung lain yang tidak bisa dilihatnya dibalik kabut debu tersebut.


“Akh…!” Namun, tiba-tiba Rys muncul dari belakang Saturno dan menendangnya dengan kuat sehingga membuat pria itu pun terhempas menabrak dinding arena.


Dengan sigap Saturno pun langsung berdiri kembali dan bersiaga terhadap serangan dari Rys selanjutnya.


Tetapi, dengan mudah Rys dapat menyerangnya kembali sehingga membuatnya lagi-lagi terhempas.


Rys dengan cepatnya langsung mengejar Saturno yang sedang terhempas tersebut. Perempuan itu kemudian melancarkan serangan serudukan pada Saturno secara berulang kali.


“Argh…!” Teriak Saturno, menerima serangan serudukan secara bertubi-tubi dari Goblinman perempuan itu.


Saat akan melancarkan serangan terakhirnya pada Saturno. Tiba-tiba saja Zeidonas muncul dari belakang Rys tanpa sepengetahuannya.


“God aura… Superior punch…” Zeidonas pun langsung melancarkan serangannya pada Goblinman perempuan itu sehingga membuatnya terhempas dan langsung mengalami kekalahan.


Pria itu kemudian mengulurkan tangannya pada Saturno yang sedang tersungkur di tanah.


Namun, Saturno menolak uluran tangannya tersebut dan kemudian berdiri sendiri.


“Untuk apa kau menyelamatkanku?” Tanya Saturno pada Zeidonas.


“Aku menolongmu hanya karena ingin berhadapan denganmu. Kita lihat kemampuan siapa yang lebih hebat,” kata Zeidonas, menantang pria tersebut.


Mendengar perkataan dari Zeidonas itu, Saturno kemudian langsung mengangkat kedua pedangnya, yang membuat Zeidonas langsung bersiaga terhadapnya.


Namun, pria itu menghempaskan salah satu pedangnya untuk mengeluarkan elemen anginnya agar membuat debu yang berterbangan di udara kembali turun ke permukaan tengah arena tersebut sehingga pandangan mereka tidak terhalang lagi oleh debu-debu itu.


**


“Apa…? Rys sudah dikalahkan?” Kata Fegant melihat Goblinman perempuan tersebut telah terkapar akibat menerima serangan tiba-tiba dari Zeidonas sebelumnya.


**


Nampak Zeidonas serta Saturno bersiap untuk saling berhadapan.


“Flame martial… Rolling staff technique…” Namun, tiba-tiba Afucco datang dan langsung mengganggu kedua orang itu dengan menyerang Zeidonas.


“Ukh…” Zeidonas yang tidak melihat serangan tersebut, sontak langsung terhempas.


Afucco kemudian dengan cepat langsung mengayunkan tongkatnya pada Saturno yang berada di dekatnya tersebut.


Tapi, dengan sigap Saturno langsung melompat kebelakang menghindari serangan dari pemuda Fuegonia itu.


Tiba-tiba saja Saturno terpeleset dan tersungkur akibat tanah tersebut menjadi es. Seketika di atasnya muncul sebuah pasak es yang langsung meluncur ke arahnya.


Melihat serangan tersebut Saturno dengan refleksnya memutar tubuhnya menghindari serangan tersebut dan berdiri kembali.


“Gesit juga kau pendek,” kata Orcman bernama Zurbag, agak meledek Saturno.


Zurbag kemudian langsung menciptakan dua pedang es sekaligus dan maju untuk menyerang pria Cielas itu.


Mereka berdua pun kini saling memamerkan kemampuan bertarung pedang ganda mereka dengan melancarkan serangan satu sama lain.


**


Berpindah pada Zeidonas yang kini telah berdiri kembali setelah menerima serangan dari Afucco sebelumnya.


Melihat pria tersebut telah berdiri kembali, Afucco dengan cepat langsung maju untuk menyerangnya. Afucco melancarkan serangan secara bertubi-tubi kepada Zeidonas yang membuatnya agak kesulitan untuk menahannya.


“Flame martial… Rolling staff technique…” Dia kembali melancarkan serangan tersebut hingga membuat Zeidonas kembali terhempas.


“Flame projection… Flame ball…” Masih belum puas, dia lalu meluncurkan serangan bola api ke arah pria Lightio itu.


“Argh…!” Teriak Zeidonas menerima serangan bola api dari Afucco.


**


“Pemuda itu ternyata bisa menyudutkan Zeidonas,” kata Gerhanther.


“Tapi, tenang saja… Zeidonas masih belum memperlihatkan kemampuannya yang sebenarnya,” kata Dimira.


**


Setelah menerima serangan tersebut, Zeidonas lalu kembali berdiri lagi.


“Boleh juga kemampuanmu itu… Aku bahkan sampai tersudut dibuatmu,” kata Zeidonas, tersenyum menyeringai.


Dia lalu berkonsentrasi meningkatkan kekuatannya. Nampak proyeksi energi berwarna emas yang keluar dari sarung tangan besinya langsung melapisi tubuhnya menjadi sebuah zirah. Terlihat juga mata pria itu kini memancarkan cahaya emas.


Zeidonas kemudian langsung maju ke hadapan Afucco untuk melancarkan serangan balasan.


Tampak kini Afucco yang mengalami kesulitan mengatasi serangan beruntun dari pria itu.


Zeidonas terlihat melancarkan serangan pukulan yang kuat secara berturut pada Afucco. Afucco yang tidak tinggal langsung melancarkan serangan balasan dengan mengayunkan tongkatnya pada Zeidonas.


Dengan mudah Zeidonas langsung menghindari ayunan tongkat Afucco itu.


Tidak mau menyerah, Afucco terus berusaha melancarkan serangannya yang selalu dapat dengan mudah bisa dihindari oleh pria itu.


Seketika Zeidonas langsung memegang dengan erat tongkat pemuda itu, yang membuat pergerakannya terhenti.


“God aura… Deadly superior punch…” Zeidonas pun melancarkan serangannya saat memegang tongkat Afucco.


Efek dari serangan tersebut sontak membuat tongkat Afucco hancur dan membuatnya terhempas ke atas sampai menabrak penghalang yang dibuat oleh Rox.


Afucco kemudian terjatuh ke bawah dan seketika mengalami kekalahan.


Setelah mengalahkan Afucco, nampak mata dari Zeidonas yang tadi memancarkan cahaya berwarna emas kembali seperti semula.


**


“Sial…” Kata Dierill melihat kekalahan dari Afucco.


**


“Tetap saja, dia tidak bisa mengalahkan pria Lightio itu. Haah…” Nampak Rourke terlihat pasrah dan memang sudah memperkirakan hasil dari pertarungan antara Afucco dan Zeidonas.


**


Di sisi lain, terlihat pertarungan dari Saturno dan Zurbag yang masih sengit. Nampak Saturno mengalami kesulitan saat berhadapan dengan Orcman tersebut, dimana saat saling melancarkan serangan mereka, Orcman itu sekaligus memunculkan pasak es dan meluncurkannya ke arah Saturno.


Saat Saturno menghindari serangan pasak es dari Zurbag itu, dengan cepat Orcman tersebut langsung maju menyerangnya kembali.


Hal tersebut diulangi terus oleh Zurbag sampai membuat Saturno perlahan-lahan mulai kewalahan.


Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Orcman itu dengan mengubah tanah pijakan dari Saturno menjadi es, yang sontak membuat pria tersebut langsung terpeleset.


“Ice strike…” Dengan cepat Zurbag melancarkan serangan pusaran es dari tangannya hingga membuat Saturno terhempas.


Efek dari serangannya itu langsung membuat area sekitar dari Orcman itu tersebut membeku.


Melihat Saturno kembali berdiri, dengan cepat Orcman itu berlari ke arahnya.


Tiba-tiba saja, Saturno langsung memunculkan serangan elemen anginnya dari bawah Orcman itu hingga membuatnya terhempas ke atas.


“Breaker wind… Wind slash…” Saturno kemudian langsung melancarkan serangan tebasan angin secara bertubi-tubi ke arah Orcman itu.


“Argh…!” Teriak Zurbag menerima serangan beruntun tersebut.


Seketika Orcman itu pun terjatuh setelah menerima serangan dari Saturno dan tak sadarkan diri.


**


“Akhirnya… Hanya tersisa mereka berdua di tengah arena,” kata Urano.


**


“Selama tiga tahun terakhir turnamen ini diadakan, mereka berdua hanya pernah berhadapan pada pertarungan di ronde kedua,” kata Gerhanther.


“Namun, walaupun begitu… Zeidonas lah yang selalu memenangkan pertarungan dari mereka berdua walaupun hanya berbeda tipis,” kata Dimira.


“Apa kali ini akan berbeda?” Lanjutnya bertanya-tanya.


**


Kini di tengah arena hanya tersisa Saturno serta Zeidonas yang sering diakui oleh para peserta lain merupakan dua petarung terkuat dalam turnamen tersebut.


Nampak mereka berdua kini saling bertatapan dan bersiap untuk saling berhadapan.