The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 133 - Kebijakan surgawi



“Menjauh kau monster!” Teriak Arvhen.


Akan tetapi, Raquille yang tidak sadarkan diri itu segera maju kehadapan pria itu dan melancarkan serangan elemen api secara berturut-turut tanpa ampun, hingga pemimpin negeri Graina itu pun menjadi tak berdaya.


Arvhen yang terkapar lemah, tidak bisa lagi melayangkan serangan balik atau berdiri sekalipun.


Disaat Raquille memfokuskan energi apinya tersebut ke salah satu tangan untuk menyerang Arvhen sekali lagi, tiba-tiba sebuah proyeksi energi berwarna emas muncul dan menghadang serangan Raquille.


“Hentikan Raquille…” Makhluk suci yang bernama Xirdinth tersebut sontak muncul di belakang Raquille hingga membuat pemuda itu pun kini mengincarnya.


Raquille meluncur mengarah padanya dan melancarkan serangan elemen api, namun dalam sekejap wanita itu berpindah tempat.


Raquille tidak pantang menyerah, pemuda itu langsung mengetahui lokasi dari wanita tersebut dan meluncur kembali ke arahnya sambil melancarkan serangan elemen api lagi.


Hal yang sama tetap terjadi, wanita itu terus berpindah tempat sebagaimana Raquille terus saja mengincarnya.


Wanita bernama Xirdinth itu melancarkan serangan proyeksi energi emasnya membuat Raquille terhempas.


Bukan hal yang besar, Raquille yang terkapar setelah terhempas kembali berdiri lalu berkonsentrasi menciptakan proyeksi elemen api yang sangat besar, hingga ukurannya setidaknya ratusan ratusan kali lebih besar dibandingkan dengan dirinya.


“Sial… Padahal kau mau membuatku memperlihatkan wujud asliku lagi,” ucap Xirdinth, sedikit kesal melihat serangan yang akan dilancarkan oleh pemuda Elfman itu.


Tiba-tiba pancaran energi berwarna emas memancar dari tubuh wanita itu dan sontak mengubahnya menjadi seekor naga raksasa bersisik emas.


Dari kepakan sayap serta tekanan kekuatan yang memancar darinya menandakan bahwa wujudnya tampak lebih kuat dibandingkan dengan wujud manusianya.


Raquille meluncurkan serangan elemen api yang ditahannya. Xirdinth kemudian membalas serangan tersebut dengan meraung melancarkan serangan proyeksi energi emas berskala besar dari dalam mulutnya.


Kedua serangan yang besar tersebut saling bertabrakan hingga menciptakan tekanan kekuatan yang sangat besar.


Akan tetapi, setelah beberapa lama kedua serangan tersebut saling bertabrakan, proyeksi energi emas yang dilancarkan oleh Xirdinth terlihat lebih kuat dan perlahan-lahan mulai mendominasi serangan elemen api Raquille hingga lenyap.


Raquille pun seketika menerima serengan proyeksi tersebut dan menghempaskannya jauh dari tempatnya berdiri.


Anehnya, Raquille yang telah terhempas begitu jauh, tiba-tiba lewat dari arah belakang Xirdinth dan terkapar tepat di tempatnya berdiri sebelumnya.


Hal itu dikarenakan konsep dimensi yang berada pada tempat tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan dimensi yang berada di dunia nyata, hingga bagaimanapun mereka terhempas begitu jauh, mereka tetap akan kembali ke tempat awal mereka berada.


Raquille yang dalam mode tersebut tampak baik-baik saja. Layaknya serangan yang besar diterima oleh pemuda Elfman itu tidak berarti apa-apa. Dia kembali berdiri dan masih bersikeras untuk melawan makhluk suci yang berada di depannya.


Raquille memancarkan kobaran api berwarna merah yang samar-samar untuk meningkatkan kekuatannya, namun walaupun begitu jika hawa panas dari kobaran api itu dirasakan oleh orang-orang biasa, maka dalam sekejap pun mereka akan hangus terbakar.


Pemuda Elfman itu meluncur ke arah Xirdinth yang telah berwujud seekor naga, masih bersikeras untuk melancarkan serangannya kembali.


“Dasar bocah Elf bodoh… Aku tidak akan menahan diriku lagi,” ucap Xirdinth, kini terlihat serius untuk melawan pemuda Elfman itu.


*


“Hentikan itu Raquille…” Tiba-tiba terdengar seorang wanita dari dalam kepala Raquille, yang membuat dirinya terhenti saat akan meluncur kea rah Xirdinth.


**


*


Kesadaran Raquille ternyata selama ini telah terkurung di dalam alam bawah sadarnya, sedangkan tubuhnya kini hanya bergerak sesuai insting dari kekuatan api amarah yang telah mengendalikan tubuhnya akibat sebelumnya merasa emosi melihat keadaan kota Lynerbyich atas perbuatan Arvhen.


“Suara itu… Apakah kau Nandin?” Di dalam alam bawah sadar, Raquille bertanya kepada suara misterius itu, yang diduganya merupakan salah satu makhluk suci yang telah memberikannya kekuatan.


“Iya ini aku…” Jawab suara misterius itu, yang ternyata memang merupakan makhluk suci yang diduga Raquille.


“Nandin… Berkat kau berbicara padaku, aku kembali mengingat bahwa memiliki kekuatan kebijakan surgawi yang pernah kau berikan,” ucap Raquille.


“Sebegitu banyaknya kemampuan yang kau miliki, kau bahkan sampai melupakan kekuatanku yang padahal satu-satunya cara untuk bisa menahan kekuatan api amarahmu,” balas makhluk suci bernama Nandin tersebut dengan hanya berwujud suara.


“Iya-iya, aku tahu itu… Lagipula terima kasih sudah mengingatkanku…”


“Celestial wisdom…”


**


Raquille mengaktifkan kekuatan tersebut hingga membuatnya tersadar kembali, serta membuat pancaran kobaran api merah yang berkobar di sekitar tubuhnya berganti menjadi pancaran energi berwarna putih yang terang.


Melihat Raquille telah mendapatkan kesadarannya kembali, Xirdinth pun kembali dalam wujud manusianya dan datang menghampiri pemuda Elfman itu.


“Kau sudah sehat sekarang bocah…” Ucap Xirdinth.


“Xirdinth…” Raquille yang baru saja tersadar tiba-tiba terkejut melihat wanita itu, yang padahal sudah membuatnya beberapa kali terhempas menerima serangan wanita tersebut.


“Untung saja aku tidak sampai membunuh anak angkatku,” lanjutnya Xindinth berkata, merasa lega memastikan pemuda Elfman itu sudah tidak berada di dalam pengaruh kekuatan api amarah.


“Iya kau benar. Ini kali keduanya aku kehilangan kendali akibat kekuatan itu.”


“Pertama kalinya kau kehilangan kesadaran akibat kekuatan itu pada sepuluh tahun yang lalu kan… Apa aku salah?” Tanya Xirdinth.


Raquille sontak terkejut dan terdiam mendengar pertanyaan dari wanita itu.


“Benar sekali… Waktu itu aku mengamuk karena kekuatan api amarah juga,” ucap Raquille dengan ekspresi menyesal, kembali mengingat hal yang dilakukannya sekitar sepuluh tahun silam.


Saat sepuluh tahun yang lalu, Raquille yang kehilangan kendali akibat terprovokasi oleh ucapan salah satu Venerate di benua Avanca, dan membuatnya membantai rekan-rekannya juga akibat dari kekuatan api amarah di dalam tubuhnya yang tiba-tiba aktif.


“Lupakan dulu tentang hal itu… Aku penasaran selama ini kemana saja kau? Aku tidak bisa merasakanmu berada di Lamue sepuluh tahun terakhir.” Tanya Xirdinth.


“Soal itu… Sebenarnya aku masuk ke dalam lubang dimensi dan muncul di negeri Fuegonia sepuluh tahun kemudian… Raquille yang kau lihat sekarang merupakan Raquille yang sama dan tidak pernah bertambah usia sejak hari itu,” jawab Raquille, menjelaskannya pada Xirdinth.


“Orang yang membuka lubang dimensi itu adalah Aloof, Elfman sekaligus saudara sepupuku yang sama-sama berada di organisasi Guardian,” lanjut Raquille menjelaskan.


Mendengar penjelasan tersebut, Xirdinth terlihat tidak terlalu terkejut karena sebenarnya dirinya merupakan tipe makhluk suci yang memiliki kekuatan untuk memanipulasi ruang dan waktu. Bahkan dimensi dimana mereka berada sekarang sebenarnya bisa membuat mereka muncul di dunia nyata pada waktu yang berbeda, namun hal itu hanya bisa dilakukan saja oleh makhluk suci tersebut dan Raquille tidak bisa menguasai kemampuan tersebut.


“Kau memasuki sebuah lubang dimensi kan… Apa kau yakin tidak muncul di tempat yang lain selain negeri Fuegonia?” Tanya Xirdinth tampak serius.


Mendengar pertanyaan tersebut, ekspresi dari Raquille nampak terkejut, tidak mengira bahwa wanita itu akan menanyakan hal tersebut.