
–4 Februari 1431–
Di depan pintu gerbang kota bernama Theana, yang merupakan ibukota dari negeri Geracie, terlihat rombongan prajurit negeri tersebut yang sebelumnya berperang melawan pasukan negeri Tsureya masuk dengan diiringi oleh seruan para warga yang berada di kedua sisi jalan mereka.
Tepat di depan rombongan pasukan tersebut, Spirgios berjalan santai tanpa memperdulikan para warga yang sebagian besar menyorakinya sebagai pemimpin negeri Geracie.
Akan tetapi para warga tetap menyorakinya karena sudah terbiasa melihat sikap acuh raja mereka itu.
Sikap yang diperlihatkan oleh Spirgios hanyalah sebatas merasa risih dengan keramaian karena Spirgios memanglah tipe orang yang suka menyendiri, pria itu jarang sekali berada di dalam istananya untuk pergi menyendiri ke suatu tempat.
Namun dibalik itu Spirgios sebenarnya merupakan seorang pemimpin yang baik dan para warga mengetahui hal itu, dia bahkan tanpa pikir panjang turun langsung ke medan pertempuran untuk memukul mundur pasukan Tsureya yang hampir saja menguasai wilayah negeri Geracie di bagian benua Greune.
***
Beberapa saat kemudian setelah masuk ke dalam kastil, Spirgios bersama dengan Ancliedes kini berada di dalam ruangan singgasana raja.
Di dalam ruangan tersebut sudah berada beberapa Venerate tingkat tinggi, yang juga merupakan para pemimpin dari daerah-daerah negeri Geracie.
Spirgios berjalan menaiki tangga di depannya, dan setelah berada di atas pria itu pun duduk di kursi singgasananya.
“Ayo bicara sekarang, aku tahu ada yang ingin kalian katakan sampai harus berkumpul seperti ini,” ucap Spirgios yang langsung mengetahui maksud kedatangan para Venerate tersebut.
“Yang mulia… Beberapa hari yang lalu aku, bahkan hampir semua pimpinan yang lain mendapatkan pesan dari negeri Gimoscha untuk membantu mereka…” Ucap salah satu Venerate Geracie.
“Gimoscha mengalami sedikit kesulitan dalam untuk melawan negeri Calferland dan Serepusco.”
“Gimoscha katamu…?” Ucap Spirgios sedikit terkejut mendengar hal tersebut.
“Dari kalian jangan pernah lagi membantu mereka… Sudah cukup setelah aku membunuh seorang pemimpin bijak dari bangsa itu pada masa lalu.” Tanpa memikirkannya terlebih dahulu pemimpin negeri Geracie itu langsung menolak dan menyuruh para bawahannya tersebut untuk tidak ikut campur dalam permasalahan tersebut.
Walaupun para warga Geracie mengetahui bahwa raja negeri mereka tersebut merupakan pemimpin yang baik, namun jauh sebelum dia hidup berabad yang lalu, sifat dari pria itu sangat berbeda dengan yang sekarang.
Setelah membunuh Seremino, raja dari kerajaan Seremoschan, Spirgios sangat menyesal hingga menyendiri ke tempat terpencil dalam waktu yang cukup lama.
“Haah… Baru saja sampai aku harus mendengar hal seperti ini…” Gumam pria itu tiba-tiba berdiri dari kursi singgasananya dan kemudian berjalan perlahan menuruni tangga.
“Ingat perkataanku… Jangan pernah melakukan hal yang tidak aku inginkan.” Setelah memperingati para bawahannya, Spirgios pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
**
Di luar kastil, pria itu seketika terbang ke langit meninggalkan kota Theana dengan kecepatan penuh pergi entah kemana.
–6 Februari 1431–
Dua hari kemudian di sebuah daerah perbatasan, tepatnya di sebuah sungai yang menjadi garis pembatas antara wilayah negeri Geracie dengan negeri Nascunia, tampak Spirgios sedang berbaring di atas sebuah perahu kayu yang mengapung di tengah sungai.
“Haah… Hari-hari yang membosankan,” gumam pemimpin Geracie itu, merasa hidupnya sangat membosankan.
Tak berapa lama dari daratan negeri Geracie terlihat seorang pria berlari tergesa-gesa mendekati pinggiran sungai.
“Yang mulia…!” Teriak pria itu pada Spirgios yang berada di atas perahu.
Mendengar seseorang memanggilnya, Spirgios pun bangun dan menengoknya.
“Ada apa?!”
“Yang mulia… Cepat kembali kemari…!” Ucap pria itu.
“Kembali…? Memangnya ada apa?” Spirgios nampak bingung tiba-tiba pria itu menyuruhnya kembali disaat dirinya sedang bersantai.
“Cepat kembali, kau sudah bukan berada di wilayah Geracie lagi…!”
Baru saja mengerti dengan penjelasan pria itu, tiba-tiba saja sebuah anak panah berantai meluncur dari arah daratan negeri Nascunia langsung menancap ke badan perahu.
Dari pinggir sungai terlihat para prajurit Nascunia sedang memegang erat rantai yang terhubung dengan anak panah yang menancap pada perahu Spirgios.
Dengan kuat para prajurit Nascunia sontak menarik rantai tersebut hingga perahu bersama dengan Spirgios meluncur ke arah mereka.
Spirgios pun terlempar dan terkapar di depan para prajurit Nascunia.
“Hei kalian, kumohon lepaskan dia… Orang itu bukan warga biasa!” Dari seberang sungai, pria yang sempat memperingati Spirgios memohon kepada para prajurit tersebut untuk melepaskan pemimpinnya itu.
“Diam kau! Entah seberapa penting orang ini, dia tetap harus ditangkap karena berani memasukki wilayah kami tanpa ijin...!” Akan tetapi prajurit Nascunia menolak untuk melepaskan Spirgios dengan alasan telah memasuki wilayah mereka sembarangan.
Tanpa pikir panjang, prajurit Nascunia langsung mengambil sebuah borgol dan memakaikannya pada kedua pemimpin negeri Geracie tersebut.
Setelahnya mereka langsung membawa Spigios dari tempat itu tanpa menghiraukan lagi pria yang berada diseberang.
“Sial… Ini gawat…” Ucap pria tersebut, tampak khawatir melihat Spirgios dibawah oleh prajurit Nascunia.
Pri itu seketika pergi meninggalkan tempat tersebut berniat untuk melaporkan kepada yang lain karena merasa percuma saja menunggu di tempat itu berharap untuk para prajurit Nascunia melepaskan Spirgios.
***
Spirgios kemudian dibawah para prajurit ke sebuah kota kecil yang berada di dekat tempat tersebut.
“Hei anak-anak muda, sebenarnya kalian tidak menangkap warga biasa,” ucap Spirgios.
“Kau tak perlu mengulangi perkataan pria tadi, kami sudah tahu,” balas salah satu prajurit Nascunia.
Para prajurit masih belum paham dengan penjelasan tersebut, bahwa yang mereka tangkap adalah seorang raja Geracie, yang bahkan kapanpun bisa menumbangkan mereka dalam sekejap.
Mereka terus menarik Spirgios layaknya seorang budak ataupun tahanan sampai ke suatu tempat. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu, dia tidak melawan disaat prajurit-prajurit itu melakukan tersebut padanya.
“Hei kalian, darimana kalian mendapatkan pria ini?” Tiba-tiba terlihat seorang perempuan datang menghampiri mereka dan bertanya.
“Dia dari negeri seberang. Dia dengan santainya memasuki wilayah kita,” jawab salah satu prajurit menjelaskannya pada perempuan itu.
“Kalian pergi sekarang... Biar orang ini aku urus saja,” ucap perempuan itu, menyuruh semua tersebut untuk meninggalkan Spirgios.
“Tapi...”
Salah satu prajurit pun menjadi ragu untuk mengikuti perintah perempuan itu. Mereka masih belum mengetahui Spirgios merupakan orang yang berbahaya atau tidak.
“Sudah cepat kalian pergi saja sana.” Namun perempuan itu tetap bersikukuh untuk menyuruh para prajurit itu meninggalkan Spirgios bersamanya.
Kemungkinan perempuan tersebut merupakan atasan mereka, para prajurit pun tidak bisa melawan sehingga mereka langsung meninggalkan Spirgios bersama perempuan itu.
Setelah para prajurit meninggalkan mereka, tiba-tiba perempuan itu langsung memegang erat lengan Spirgios.
“Hei ada apa lagi ini?” Tanya Spirgios dengan raut wajah datar.
“Kau adalah Spirgios kan, raja negeri Geracie?” Tanya perempuan itu.
Raut wajah datar yang sebelumnya diperlihatkan oleh Spirgios kini berubah menjadi terkejut saat mendengar bahwa perempuan itu mengetahui siapa dirinya.