
“Berikan padaku alat komunikasinya,” kata Argis.
Orang tersebut kemudian langsung memberikan alat komunikasi yang dipegangnya tersebut pada Argis.
“Tuan Argis…” Kata orang yang berada dilayar alat komunikasi tersebut.
“Apa yang terjadi disana?” Tanya Argis yang nampak khawatir.
“Ada sebuah kapal yang datang dari negeri Pavonas kemarin hari. Mereka mengatakan bahwa tujuan mereka datang kemari adalah untuk menjalin kerja sama,” kata orang tersebut.
“Namun, beberapa dari warga melaporkan bahwa para prajurit Pavonas itu terlihat mendekati pertambangan yang sudah terbengkalai. Setelah kami menanyakan hal tersebut pada para prajurit itu mereka sontak langsung menyerang kami dan langsung membuat kekacauan di kota,” lanjutnya.
“Apa…? Tapi, bagaimana dengan keadaan kalian disana?”
“Kami hampir saja dikalahkan oleh mereka, namun untungnya ada tiga orang yang tiba-tiba datang dan langsung melawan mereka. Orang-orang itu mengatakan bahwa mereka adalah bala bantuan dari kota Hargoncane.”
*
“Tiga orang…? Apa mungkin…?” Kata Argis dalam hati, menduga sesuatu.
**
“Salam tuan Argis…” Belum saja berhasil menduga tiga orang yang dikatakan itu, tiba-tiba saja terlihat Raquille berada di layar komunikasi tersebut.
“Kau…?” Nampak Argis seketika terkejut kembali setelah melihat Raquille berada di kota tersebut.
“Tuan kumohon jangan salah paham dahulu, kami tidak pernah memberitahukan sedikit pun informasi tentang kristal berpijar.”
“Tak usah pikirkan itu dulu, aku percaya bahwa kalian tidak akan membocorkan informasi itu,” kata Argis, yang nampak percaya pada Raquille.
“Tuan, apakah para prajurit Pavonas juga datang ke kota Hargocane?” Tanya Raquille.
“Iya… Dan juga sepertinya para prajurit yang datang ke kota ini merupakan pemimpin dari armada tersebut,” jawab Argis.
“Kalau begitu, kami akan segera ke Hargocane sekarang.”
“Tunggu dulu… Tidak usah…” Nampak Argis langsung menghentikan Raquille.
“Memangnya kenapa tuan?” Mendengar hal yang disampaikan oleh Argis, Raquille sontak merasa kebingungan.
“Dengar… Aku ingin meminta bantuan kepada kalian… Apakah kalian bisa menolong para warga yang tinggal di beberapa kota, yang berada di garis pantai barat? Aku yakin para pasukan armada dari negeri Pavonas pasti berlabuh di kota-kota itu,” kata Argis, memohon kepada Raquille.
Mendengar hal tersebut Raquille terlihat seperti meragukan hal tersebut.
“Baiklah… Kami akan melakukannya, lagipula Guardian sebenarnya dibentuk bukanlah hanya untuk melindungi para ras campuran, tapi untuk melindungi benua ini dari ancaman jahat.” Namun, tak berapa lama, dia pun terlihat menyetujui permintaan dari ketua clan Flaus itu dengan sedikit bergurau tentang organisasi Guardian-nya tersebut.
“Terima kasih… Aku sangat berterima kasih kepadamu. Tenang saja, biar aku yang menangani para prajurit Pavonas yang berada disini,” kata Argis.
“Semoga kalian baik-baik saja disana,” kata Raquille.
Setelah mengatakan hal tersebut, beberapa saat kemudian mereka menutup sambungan komunikasinya.
“Gwell… Ayo kita pergi menghampiri para penipu sialan itu,” kata Argis dengan ekspresi serius.
Dia kemudian langsung mengambil sebuah kapak, yang berada di ruangan tersebut.
“Kalian mau kemana?” Tanya Derts.
Mendengar pertanyaan dari pemuda tersebut padanya, Argis kemudian langsung memegang pundaknya.
“Derts… Aku ingin kau tetap berada di sini untuk menjaga Bohrneer dan Heinz,” kata Argis sambil tersenyum.
“Eh, baiklah…” Mendengar permintaan dari pamannya, Derts sontak menyetujuinya.
Setelahnya Argis serta Gwell terlihat meninggalkan ruangan tersebut untuk pergi menemui para prajurit Pavonas.
***
Berpindah pada para prajurit Pavonas yang saat ini masih berada di salah satu kediaman clan Flaus, yang berada di kota Hargocane. Terlihat Vahal, Viecion serta prajurit lainnya sedang berada di suatu ruangan.
“Sepertinya wanita masih menaruh curiga pada kita semua,” kata Vahal.
“Tuan Vahal, jika seperti itu lebih baik kita jalankan rencana kita sekarang juga, aku dan para prajurit lain akan segera menuju ke pertambangan yang berada di dekat kota ini,” kata Viecion.
Mendengar perkataan dari Viecion, pria tua itu terlihat sedikit memasang ekspresi menyeringai.
“Anak muda, kau ini masih naif. Kau pikir tujuan kita datang ke tempat ini hanya untuk mengambil kristal-kristal itu lalu pergi.”
“Memangnya apa yang kau rencanakan lagi tuan Vahal?” Tanya Viecion, nampak merasa khawatir.
“Hahaha… Tentu saja kita akan memperluas wilayah kita ke benua Aizolica dimulai dari daerah ini.” Dengan ekspresi tertawa pria itu pun mengatakan tujuan lainnya dating ke tempat tersebut pada Viecion.
“Apa katamu…?” Mendengar hal yang dibicarakan oleh atasannya tersebut, Viecion terlihat sangatlah terkejut.
“Hei… Ada apa? Kenapa kau sangat terkejut mendengar hal itu?” Tanya Vahal, melihat ekspresi terkejut dari pemuda tersebut.
Namun, Viecion hanya terlihat kebingungan dan tidak menanggapi pertanyaan dari atasannya tersebut.
Tak berselang lama, alat komunikasi dari Vahal tiba-tiba berbunyi. Pria itu kemudian mengambil dan membuka alat tersebut.
“Iya, bicaralah,” kata Vahal pada prajurit yang menghubunginya tersebut.
“Tuan Vahal ada yang aneh, kapal pasukan yang mendatangi tambang kristal berpijar di arah barat Hargocane terlihat meniggalkan daerah Akalsa tadi,” kata prajurit tersebut.
“Haah…? Ada apa dengan mereka?” Tanya Vahal, terlihat kebingungan.
“Kami juga bingung kenapa mereka melewati kami pos kami di pulau Meokkyur. Seharusnya mereka meyerahkan kristal itu pada kami untuk diantar ke pulau St. Clewaren.”
“Sepertinya ada yang tidak beres,” kata Vahal, seperti mencurigai sesuatu.
“Apa kalian sudah menghubungi mereka?” Lanjutnya, bertanya.
“Kami beberapa kali menghubunginya, namun dari mereka tidak ada yang menjawabnya,” jawab prajurit tersebut.
*
“Aneh sekali… Apakah mereka ingin menyelundupkan kristal berpijar itu?” Kata Vahal dalam hati.
**
“Kalau begitu, lebih baik kalian susul kapal tersebut secepatnya. Aku takut jika mereka menggunakan berusaha menemui pedagang untuk menjual kristal itu,” kata Vahal, langsung memerintahkan prajurit yang menghubunginya tersebut.
“Baiklah, sesuai perintah anda tuan Vahal,” kata prajurit itu, yang kemudian langsung mematikan sambungan komunikasi mereka.
Setelah mengakhiri pembicaraannya melalui alat komunikasi, Vahal nampak menyadari bahwa Viecion sudah tidak berada di tempat itu.
“Hei, kemana Viecion?” Tanyanya pada para prajurit di tempat itu.
“Saat anda berbicara melalui alat komunikasi, tiba-tiba juga tuan Viecion menerima panggilan juga. Dia kemungkinan sekarang berada di luar,” jawab salah satu prajurit.
Tak berapa lama pria tersebut bertanya tentang Viecion, tiba-tiba pemuda kembali ke ruangan tersebut.
“Tuan Vahal, ini gawat,” kata Viecion.
“Gawat apanya?” Tanya Vahal, terkejut sambil merasa kebingungan.
“Aku baru saja mendapatkan beberapa panggilan dari para pasukan yang berlabuh di pantai barat Akalsa,” kata Viecion.
“Mereka mengatakan bahwa mereka barusan telah dipukul mundur oleh beberapa prajurit Fuegonia,” lanjutnya.
“Apa katamu…? Bagaimana itu bisa terjadi?” Kata Vahal, yang Nampak tidak percaya dengan pernyataan dari Viecion.
“Dan yang membuatku tidak habis pikir adalah prajurit Fuegonia itu hanya berjumlah tiga orang saja melawan pasukan kita,” kata Viecion.
*
“Sial… Aku tidak memperkirakan hal ini. Bagaimana bisa Akalsa memiliki Venerate tingkat atas selain ketua clan mereka? Apakah memang prajurit dari daerah lain yang memukul mundur prajurit Pavonas?” Kata Vahal dalam hati, Nampak bertanya-tanya.
**
“Tuan Vahal… Hei… Kau memikirkan apa?” Tanya Viecion, melihat atasannya tersebut seperti memikirkan sesuatu.
“Eh… Iya,” jawab Vahal.
“Kalau begitu, cepat hubungi dua kapal yang masih berdiam diri luar teluk untuk segera kemari. Kita akan kuasai kota ini dalam satu malam,” kata Vahal, memerintahkan anak buahnya.
“Baik…” Respon para prajurit, yang kemudian sontak langsung bergegas pergi dari ruangan tersebut.
Namun para prajurit keluar tersebut tiba-tiba saja terhempas hingga kembali kedalam ruangan.
Melihat hal tersebut, Vahal, Viecion serta para prajurit lainnya sontak langsung terkejut.
“Aku bahkan masih belum sempat bertemu langsung dengan kalian secara langsung. Tapi, aku telah lebih dulu mengetahui niat busuk kalian.” Nampak Argis perlahan-lahan memasuki ruangan tersebut bersama dengan Gwell.
“Senang bertemu dengan anda, tuan Argis Flaus. Namun, sepertinya sapaan sedikit kurang ramah,” balas Vahal, dengan memasang ekspresi menyeringai.
“Tuan… Apakah orang Pavonas sepertimu memang sering berdalih walaupun telah tertangkap basah?” Tanya Argis.
“Hahaha… Aku hanya tidak mau menghilangkan formalitas diantara kita saja,” jawab Vahal dengan tertawa.
“Sayang sekali, formalitas tidak ada untuk para pencuri seperti kalian ini.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Argis terlihat mengangkat kapaknya yang memiliki kobaran api. Pria itu pun tanpa pikir panjang langsung mengayunkan kapaknya hingga membuat kobaran api di kapak tersebut meluncur ke arah prajurit Pavonas.
Melihat hal tersebut, para prajurit Pavonas itu sontak bergerak untuk menahan kobaran api yang meluncur ke arah mereka.
“Akh…” Saking kuatnya serangan tersebut, hingga membuat para prajurit tersebut terhempas ke arah samping Vahal dan Viecion.
Tak perlu menunggu lama, sekali lagi Argis meluncurkan serangan api dari kapaknya tersebut ke arah Vahal dan Viecion.
Namun, serangan yang datang tersebut tidak membuat Vahal maupun Viecion menjadi gentar. Kedua orang itu terlihat memasang ekspresi santai tanpa memikirkan untuk menghindari serangan yang diluncurkan pada mereka tersebut.
Seketika serangan api yang diluncurkan oleh ketua clan Flaus itu, tiba-tiba saja seperti tertahan oleh sebuah dinding yang kasat mata hingga membuat serangan tersebut sontak lenyap.
Tidak merasa heran akan hal tersebut, Argis kini melompat sambil dengan kuatnya mengayunkan kapak apinya tersebut.
Saat ayunan kapak apinya tersebut menghantam dinding tak kasat mata itu, tiba-tiba saja tercipta sebuah ledakan yang cukup besar sehingga membuat Vahal maupun Viecion terhempas ke jendela sampai keluar ruangan.
“Fire burst… Strong axe…” Masih belum mengakhiri aksinya tersebut, Argis kini dengan cepat langsung mendekati kedua prajurit Pavonas tersebut dengan melayangkan serangan dari kapak apinya.
Namun, ekspresi kedua orang tersebut kini terlihat berbeda dari sebelumnya. Melihat layangan serangan itu, Vahal serta Viecion pun kini langsung menghindarinya dengan melompat kesamping.
Viecion yang sudah nampak kesal kini terlihat maju mendekati Argis dengan melompat dan melayangkan sebuah tendangan pada ketua clan Flaus tersebut.
Namun, dengan sigap ketua clan Flaus itu memegang kakinya lalu membanting pemuda tersebut ke tanah. Argis pun kemudian langsung menendang Viecion sampai membuatnya terhempas cukup jauh.
“Akh…” Teriak Viecion, terhempas oleh serangan Argis.
Setelah menghempaskan Viecion, pandangan Argis kini tertuju pada Vahal, yang masih berdiam diri.
“Majulah kemari… Sepertinya kau masih belum mengeluarkan kemampuanmu yang sebenarnya,” kata Argis, menantang prajurit Pavonas itu.
“Haaah… Sepertinya ini akan sedikit sulit. Tapi, jangan salahkan aku jika terjadi hal yang tidak diinginkan,” balas Vahal.
Setelah mengatakan hal tersebut, Vahal terlihat berkonsentrasi hingga membuatnya memunculkan sebuah pedang dari tangannya.
“Kalau begitu, ayo kita mulai sekarang,” kata Vahal, sambil memasang ekspresi senyuman menyeringai.
Tanpa pikir panjang, Argis pun dengan cepatnya langsung mendekati Vahal sambil mengayunkan kapaknya ke arah prajurit Pavonas itu.
Begitu juga dengan Vahal, dia pun kini terlihat maju dan mengayunkan pedang ke arah ketua clan Flaus tersebut.
Tabrakan serangan dari kedua orang tersebut sampai menciptakan sebuah gelombang kejut yang besar, hingga membuat apa pun di sekitarnya terhempas ke segala arah.
Selanjutnya kedua orang tersebut memamerkan keahlian pertarungan senjata mereka dengan melancarkan maupun menangkis serangan satu sama lain.
“Wah… pertarungan antara dua Continent Venerate memang agak sedikit berbeda dari pertarungan Venerate yang lebih rendah,” kata Viecion, yang sedikit terkagum dengan pertarungan Vahal dan Argis.
Setelah mengatakan hal tersebut, perhatian Viecion tertuju pada Gwell, yang terlihat akan meninggalkan kediaman tersebut.
*
“Wanita itu mau pergi kemana?” Kata Viecion dalam hati, melihat Gwell meninggalkan tempat tersebut.
**
Di luar kediaman tersebut Gwell terlihat menaiki sebuah kendaraan. Dia kemudian menjalankan kendaraan tersebut dan pergi meninggalkan tempat itu.
***
Tak berselang lama, Gwell akhirnya sampai di kediaman clan Flaus. Wanita itu kemudian turun dari kendaraan lalu menghampiri beberapa anggota clan Flaus.
“Nyonya Gwell… Ada apa? Kenapa anda kembali?” Tanya salah satu anggota clan Flaus.
“Tuan Argis sekarang sedang bertarung dengan salah satu prajurit Pavonas… Apa kalian sekarang memegang alat komunikasi? Aku ingin menghubungi Wattao sekarang juga,” kata Gwell, yang kemudian bertanya balik.
“Tidak… Kami tidak memegangnya sekarang,” jawab salah satu dari mereka.
“Kalau begitu, lebih baik kalian fokus berjaga disini, aku takut jika ada prajurit Pavonas yang mengikutiku sampai kemari.”
“Baik… Sesuai perintah anda,” kata para anggota clan Flaus.
Gwell kemudian langsung memasuki kediaman clan Flaus.
**
Gwell pun kemudian menemui Derts, Bohrneer serta Heinz yang sedang bersama di dalam ruangan kerja Argis.
“Ibu… Dimana paman?” Tanya Derts.
“Iya bibi, dimana ayah sekarang?” Tanya Heinz juga.
“Heinz ayahmu sekarang sedang memiliki sedikit urusan dengan tamu-tamu kita,” jawab Gwell.
Gwell kemudian terlihat mengambil alat komunikasi yang berada di meja kerja Argis.
“Ibu, kau mau menghubungi siapa?” Tanya Derts.
“Ibu mau menghubungi pimpinan yang berada di kota Wattao,” jawab Gwell.
***
Tak berapa lama, di kota Wattao terlihat seorang prajurit menerima panggilan dari Gwell.
“Iya… Ada yang bias kubantu?” Tanya prajurit tersebut.
“Ini aku Gwell Flaus, dari kota Hargocane. Apakah aku bisa berbicara dengan satu pimpinan Wattao sekarang?”
“Tapi, memangnya apa yang ingin dibicarakan?” Tanya kembali prajurit tersebut.
“Ini sesuatu yang penting,” jawab Gwell.
“Baiklah… Tunggu sebentar akan aku.”
Prajurit tersebut kemudian nampak berlari untuk memberikan alat komunikasi tersebut kepada salah satu pimpinannya.
**
Tak beselang lama, prajurit itu pun sampai di sebuah ruangan kerja. Di dalam ruangan tersebut nampak Barbiond, pimpinan negeri Fuegonia sedang berada di dalam.
“Tuan Barbiond… Ini dari Gwell Flaus yang berada di kota Hargocane,” kata prajurit tersebut, sambil memberikan alat komunikasinya kepada Barbiond.
“Berikan padaku,” kata Barbiond, mengambil alat komunikasi tersebut.
“Salam nyonya Gwell… Ini saya Barbiond Cane.”
*
“Barbiond Cane…? Dia pemimpin Fuegonia… Ini bagus sekali,” kata Gwell dalam hati.
**
“Tuan Barbiond… Begini sebenarnya ada beberapa…”
Belum sempat Gwell menjelaskan hal tersebut pada Barbiond, tiba-tiba saja alat komunikasinya terlihat direbut.
“Wah… Wah… Sepertinya kau mau melapor pada atasanmu yah…” Nampak orang yang merebut alat komunikasi tersebut merupakan Viecion.
Tanpa pikir panjang, Viecion pun langsung menghancurkan alat komunikasi yang direbutnya tersebut.
Melihat hal tersebut, Gwell serta anak-anaknya yang berada ditempat itu sontak langsung terkejut.
Kemudian dengan cepatnya Viecion bergerak mendekati Gwell dan melancarkan sebuah tendangan yang cukup kuat pada wanita tersebut.
Gwell yang tidak sempat merespon serangan pemuda itu, sontak terhempas sampai ke luar ruangan.
“Ibu…!” Teriak Derts.