The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 77 - Seremino vs Giano



Keduanya seketika berkonsentrasi meningkatkan kekuatan mereka, hingga pancaran elemen api maupun petir secara bersamaan keluar dari senjata suci sampai menyelimuti tubuh mereka.


Tiba-tiba dalam sejenak sebuah kilauan cahaya memancar dari kedua orang tersebut, hingga membuat wujud mereka berdua pun berubah.


Giano terlihat mengenakan pakaian berwarna hijau terang, memiliki sebuah lingkaran cahaya yang melingkar dari bagian belakang punggungnya sampai ke atas kepalanya, serta tongkat obor yang dipegang oleh pria itu memiliki sebuah kobaran api berwarna-warni yang menyala pada bagian ujungnya.


Sedangkan perubahan yang nampak pada Seremino terlihat mengenakan pakaian hitam dengan aksen zirah perak di kedua bahu, tangan, kakinya, bahkan sebuah helm galea perak yang menutupi seluruh kepala dan wajahnya. Serta sebuah jubah panjang berwarna emas yang berkibar-kibar ditiup oleh angin.


“Kurasa hanya ini pilihan yang tepat agar bisa menyadarkanmu,” ucap Seremino.


Tanpa pikir panjang kedua saudara itu seketika maju dan saling melancarkan serangan proyeksi mereka. Seremino melancarkan serangan elemen petir dari kedua tangannya, sedangkan adiknya Giano melancarkan serangan elemen api dari tongkat obor yang dipegangnya.


Kedua serangan tersebut sontak saling bertabrakan hingga menciptakan pancaran api, petir, serta hempasan angin yang cukup kuat di sekitar tempat tersebut.


Akibat hal tersebut, prajurit-prajurit baik dari pihak Seremino maupun Giano bergerak menjauhi pertarungan kedua orang itu agar tidak berdampak kepada mereka nantinya.


Dua bersaudara itu kemudian saling menyerang dengan melancarkan serangan proyeksi mereka secara bertubi-tubi. Kemampuan Seremino maupun Giano nampak itu setara, mereka tidak bergeming sedikitpun setelah menerima serangan satu sama lain.


“Heh… Memang sulit untuk menundukkanmu,” ucap Giano.


Pria itu pun seketika mengeluarkan kobaran yang lebih besar lalu melancarkannya ke arah Seremino.


Melihat serangan tersebut, dengan cepat Seremino menyerap petir dari atas langit masuk ke dalam tubuhnya, hingga kedua matanya pun nampak memancarkan cahaya biru yang terang.


Setelah menyerapnya, petir tersebut kemudian diluncurkan pria itu mengarah ke serangan elemen api dari Giano.


Kedua serangan tersebut bertabrakan hingga menciptakan sebuah ledakan yang sangat besar. Efek ledakan itu kemudian meluas sampai ke arah Seremino dan Giano yang berada paling dekat dari ledakan tersebut.


Bahkan hempasan angin pun yang sangat kuat seketika dapat dirasakan oleh para prajurit walaupun telah berada di jarak yang sangat jauh dari pertarungan antara dua orang itu.


“Apa…?” Tak berapa lama setelah ledakan tersebut lenyap, Giano seketika dibuat terkejut melihat Seremino sudah tidak berada dihadapannya lagi.


Dengan kebingungan pria itu melihat ke segala arah memastikan keberadaan dari Seremino yang telah hilang dari depan matanya.


Tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat menyilaukan muncul di atas pria itu, hingga membuatnya kembali dikejutkan lagi.


*


“Apa-apaan ini?” Gumam Giano dalam hati.


**


Dari balik cahaya yang menyilaukan itu muncul Seremino, yang dengan cepat langsung melancarkan sebuah serangan proyeksi elemen petir yang cukup besar.


“Akh…!” Giano seketika dibuat terhempas menerima serangan elemen petir tersebut hingga membuat pria itu menghantam tanah dengan kerasnya.


Tidak sampai disitu, Seremino lalu mengangkat salah satu tangannya meluncurkan sebuah pancaran petir ke atas langit. Tak lama setelah itu, sebuah petir seketika meluncur menghantam Giano yang telah terkapar di tanah.


***


Di saat yang bersamaan Aulvius dari sisi Seremino datang menyaksikan pertarungan dari kedua saudara itu.


“Jika pada akhirnya begini, seharusnya sejak dulu suku-suku Calfer lebih baik hidup dibawah tekanan negeri Geracie saja. Entah kenapa setelah menyatukannya, selalu saja ada perpecahan setelah itu,” ucap pria itu, nampak menyesal.


***


Setelah melancarkan serangannya tersebut, Seremino datang mendekati Giano yang telah kembali ke wujud semulanya.


“Kurasa kau bisa membunuhku sekarang dan mengambil alih kerajaanku,” ucap Giano, mempersilahkan Seremino untuk mengakhirinya.


Seremino kembali ke wujudnya semula, kemudian mengangkat tongkatnya ke depan. Seketika sebuah pancaran energi listrik memancar dari tongkat tersebut.


Namun, saat akan mengakhiri saudaranya tersebut, tiba-tiba pria itu mengingat pesan ibunya sebelum meninggal untuk tetap saling menjaga satu sama lain.


Setelah mengingat ingatan tersebut, Seremino nampak tidak kuasa untuk menyerang adiknya tersebut. Pria itu menurunkan tongkatnya mengurungkan niat untuk membunuh Giano.


“Ada apa? Kenapa kau berhenti?”


“Maaf Giano, aku tidak mau melakukannya. Ibu pernah berpesan agar kita berdua harus tetap saling menjaga satu sama lain apapun yang terjadi.”


Mendengar penjelasan dari Seremino membuat Giano pun menjadi terdiam dan mengingat pesan dari ibu mereka.


“Aku mengaku kalah, kau bisa mengambil kerajaan Seremoschan… Mulai sekarang aku bukanlah raja negeri ini,” ucap Seremino.


“Tapi, seharusnya kau membunuhku saja, padahal aku sudah menerima kekalahanku.”


“Aku tidak mau lagi ada korban dalam perselisihan ini, aku lebih baik mengaku kalah saja…” Ucap Seremino kemudian membantu saudaranya berdiri kembali.


“Mulai sekarang kita harus saling menjaga sesuai pesan dari ibu,” lanjut pria itu berkata.


“Iya, terserah kau saja...”


Baru saja berdamai, tiba-tiba sebuah hempasan angin bersamaan dengan serangan proyeksi elemen angin meluncur ke arah dua bersaudara itu.


“Akh…!” Seketika serangan tersebut langsung diterima oleh Seremino layaknya sebuah peluru yang meluncur menembus bagian jantungnya.


“Kakak…!” Pria itu seketika jatuh terkapar, hingga membuat Giano seketika langsung menghampirinya.


**


Hal tersebut sontak membuat semua orang yang menyaksikan pertarungan mereka sontak menjadi terkejut.


“Seremino…” Aulvius yang menyaksikan hal tersebut seketika berlari untuk menghampiri Seremino dan Giano.


**


“Siapa yang melakukannya…! Sudah kukatakan untuk jangan mengganggu pertarungan kami!” Teriak Giano.


**


Para prajurit dari pihak Giano nampak kebingungan dengan apa yang terjadi. Mereka nampak melihat ke segala arah, memastikan serangan tersebut berasal dari mana.


“Itu kan…” Nampak salah satu prajurit seketika terkejut setelah melihat sesuatu mendekat dari arah langit.


**


“Kau…?”


Terlihat seorang pria melayang perlahan-lahan menghampiri Giano.


“Untuk apa kau datang kemari? Aku sudah mengakhiri aliansi dengan kalian,” ucap Giano.


Ternyata sebelum melakukan serangan invasi ke kerajaan Seremoschan, kerajaan Gimoscha sempat menjalin kerja sama aliansi dengan kerajaan Geracie untuk membantu mereka menyerang kerajaan dari Seremino tersebut.


Namun, karena tujuan dari Giano hampir tercapai, kerajaan Gimoscha kemudian mengakhiri kerja sama aliansi mereka.


“Kau mengakhiri aliansi kita di tengah jalan. Padahal tinggal sedikit lagi tujuan aliansi ini akan tercapai,” ucap pria dari Geracie itu.


“Dan sekarang aku harus membunuhnya, agar aliansi ini bisa diakhiri dengan baik,” lanjutnya, yang langsung meluncurkan serangan elemen api ke arah Seremino.


Tiba-tiba serangan tersebut langsung ditepis oleh Aulvius, yang seketika telah berada di tempat itu.


Aulvius pun sontak maju menyerang pria itu hingga terjadi pertarungan yang sengit diantara mereka berdua.


**


“Kakak, bertahanlah kau harus ditangani.”


Baru saja Giano akan mengangkat Seremino untuk membawanya, tiba-tiba pria itu menahannya.


“Tidak perlu Giano… Kurasa aku hanya bisa sampai disini saja,” ucap Seremino, yang nampak mulai melemah, setelah menerima serangan fatal dari pria Geracie sebelumnya.


“Tidak, jangan katakan itu, kau pasti akan selamat.”


“Giano, setelah kau menjadi raja dari bangsa ini seutuhnya, tolong jangan sia-siakan para rakyatmu lagi,” ucap Seremino.


“Baiklah, sesuai yang kau katakan, aku tidak akan menyia-nyiakan mereka lagi.” Giano yang nampak sedih sontak mengiyakan pesan dari saudaranya tersebut.


Setelah berpesan kepada saudaranya tersebut, Seremino pun meninggal dipangkuan Giano.


“Tidak… Tolong jangan seperti ini.” Giano pun menangis meratapi kepergian saudaranya tersebut.