
“Terima kasih pangeran…” Ucap Hazelise, menatap wajah Raquille sambil memasang ekspresi senyuman diwajahnya.
“Iya sama-sama…” Balas Raquille.
“Eh, pangeran Raquille… Kau mau kemana?” Karena merasa bosan terus melihat putri Ierua itu selalu menggodanya setiap memiliki kesempatan, Raquille tiba-tiba berlari dengan cepatnya, hingga dalam sekejap langsung meninggalkan perempuan itu, walaupun dia sempat mengejarnya.
***
Berpindah ke kota Nublid, dimana terlihat enam Venerate Ierua daerah wilayah lain datang memasuki ruangan menemui raja negeri Ierua yang sedang bersama dengan beberapa Venerate tingkat atas Ierua.
“Salam Yang mulia… Aku datang sesuai dengan perintah anda sambil membawa yang lain,” ucap seorang wanita diantara keenam Venerate tersebut.
“Akhirnya kau juga Ailis…” Respon Sheafear, nampak senang melihat wanita itu datang, yang ternyata merupakan Ailis, istri dari Cadhan.
Walaupun memiliki penampilan layaknya seorang wanita berumur tiga puluh tahun, namun salah satu Continent Venerate itu sebenarnya sudah berusia sekitar enam tujuh puluh tahun lebih.
“Baiklah, karena para Venerate tingkat atas Ierua telah terkumpul, maka kita akan segera kembali menyerang pasukan Brizora beserta para aliansinya, yang kemungkinan masih berada di pulau Vann,” ucap Sheafear, sambil dia berdiri dari kursi singgasananya.
Raja Ierua itu kemudian berjalan menuju pintu keluar dari ruangan tersebut sambil diikuti oleh para Venerate tingkat atas dari belakang.
**
“Ailis… Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kabarmu sekarang?” Ketika sedang berjalan mengikuti Sheafear keluar dari dalam kastil tersebut, Cadhan pun bertanya kepada Ailis mengenai kabar dari wanita itu.
“Kabarku baik-baik saja selama ini…” Jawab wanita bernama Ailis sambil memperlihatkan ekspresi wajah datar karena sebenarnya tidak merasa senang melihat perdana menteri negeri Ierua itu.
“Aku dengar bahwa Aisling kemungkinan telah ditangkap oleh pasukan Brizora, karena kau dan Yang mulia Sheafear meninggalkan pasukan kalian disana…”
“Aku juga mendengar bahwa tuan putri Hazelise juga ikut dengan pasukan Ierua kesana...” Ucap Ailis.
Mendengar hal tersebut, Cadhan pun lantas tidak bisa berkata apa-apa, karena memang benar bahwa dia terpaksa harus meninggalkan pasukan Ierua yang datang ke pulau Vann, akibat telah terpuruk melawan Raquille sebelumnya.
“Aku terpaksa melakukan itu, karena aku dan Yang mulia Sheafear sudah terdesak ketika melawan para World Venerate dari pasukan Brizora serta para aliansi mereka…”
“Aku memilih sebuah pilihan yang tepat agar Yang mulia Sheafear tidak akan tertangkap oleh mereka,”
Akan tetapi, tak berapa lama, Cadhan pun menjelaskan alasan mengapa dirinya harus melakukan hal itu untuk membuat Ailis mengerti dengan keadaan pasukan Ierua saat itu.
“Ngomong-ngomong, Phyton juga berada disana dengan pasukan Brizora…”
“Phyton katamu…” Ailis pun sontak terkejut mendengar pernyataan dari Cadhan, yang mengatakan bahwa cucunya berada di pihak pasukan aliansi musuh.
“Benar juga… Lagipula setelah mengetahui bahwa kau terus memanipulasinya, dia tidak mau lagi menjadi Venerate negeri ini.” Namun, ailis pun langsung menadari mengapa cucunya tersebut berada di pihak musuh, karena sebelumnya dia seudah mengetahui bahwa Phyton pergi bergabung ke negeri Brizora untuk menentang negerinya sendiri, termasuk kakeknya tersebut.
Disamping Cadhan dan Ailis sedang berbincang, tiba-tiba seorang prajurit datang menghampiri mereka untuk mengatakan sebuah informasi.
“Yang mulia… Baru saja tuan Claus Elfius bersama dengan beberapa Continent Venerate negeri Ereise sampai kemana dengan tujuan ingin membantu kita menyerang pasukan musuh,” ucap prajurit itu.
“Dimana dia sekarang?” Tanya Sheafear.
Mendengar informasi tersebut, Sheafear pun melangkah lebih cepat untuk keluar dari dalam kastil, hendak bertemu dengan Giantman yang datang ke kota Nublid itu.
**
Sheafear bersama dengan Venerate tingkat atas kemudian keluar dari dalam kastil menemui Claus serta para Venerate negeri Ereise.
“Salam Yang mulia Sheafear…” Ucap Claus, langsung menyapa raja negeri Ierua itu ketika baru saja keluar dari dalam kastil, mewakili para Continent Venerate yang datang bersamanya.
“Tuan Claus dan semuanya… Terima kasih sudah datang kemari…” Balas Sheafear.
“Sebelumnya aku minta maaf karena hanya kami saja yang datang kemari untuk membantu kalian menyerang pasukan kubuh barat.”
“Tidak masalah… Lagipula dengan datangnya kalian itu sudah lebih dari cukup untuk mengimbangi, bahkan mengungguli kekuatan dari para pasukan kubuh barat itu.” Sheafear lantas tidak mempermasalahkan jumlah Venerate yang datang bersama dengan Giantman tersebut, karena bagaimanapun, para Venerate dari negeri Ereise tersebut merupakan para Venerate tingkat atas yang setarah dengan setidaknya puluhan sampai ribuan Venerate yang berada di tingkatan lebih rendah.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat menyerang mereka… Karena kali ini, aku ingin menggunakan senjata pamungkas kita yang sebelumnya belum pernah kita pakai sama sekali,” ucap Sheafear, kemudian berjalan diikuti oleh pasukan negeri Ierua, beserta beberapa Venerate Ereise di belakangnya.
**
“Senjata pamungkas…” Gumam Cadhan, menerka-nerka hal yang dikatakan oleh Sheafear sebelumnya.
“Jangan-jangan…” Cadhan tiba-tiba terkejut ketika hal yang dikatakan oleh Sheafear nampak telah dimengerti olehnya.
“Cadhan… Apa kau mengetahui sesuatu?” Tanya Ailis, karena melihat perdana menteri itu tiba-tiba terkejut.
“Yang mulia Sheafear sepertinya ingin menggunakan senjata yang pernah dicuri dari negeri Fuegonia sebelumnya untuk melawan pasukan kubuh barat,” jawab Cadhan.
“Apa? Senjata itu…” Ailis pun juga terkejut ketika mendengar pernyataan Cadhan bahwa pasukan mereka akan menggunakan senjata penghancur tersebut.
***
Kembali ke pulau Vann, dimana semua Venerate tingkat atas dari negeri Blueland, Brizora, Pavonas, serta Fuegonia berkumpul di satu tempat untuk membahas mengenai sesuatu.
“Baiklah… Aku ingin setidaknya diantara kita, terutama para World Venerate satu per satu memegang sebuah harta karun yang sebelumnya telah kami kumpulkan,” ucap Raquille.
Setelah mengatakan hal tersebut, Hyphilia, serta Venerate Brizora bernama Reminel langsung mengakses kekuatan mereka, memunculkan harta karun yang disimpan ke dalam ruang spasial mereka masing-masing.
Hyphilia memunculkan sebuah kotak yang di dalamnya terdapat sebuah cincin, yang ditemukan mereka di dalam ruang dimensi berlapis, serta memunculkan seekor kuda, yang memiliki kemampuan bergerak setarah dengan kecepatan kilat.
Sementara Reminel memunculkan empat harta karun, dimana merupakan sebuah belati, batu asah, piring keramik, serta sebuah kuali, yang pernah diambil mereka ketika memenangkan pertarungan dengan pasukan Ierua di dalam sebuah hutan, di wilayah Weals.
Hyphilia memberikan cincin kepada Raquille, sementara seekor kuda dimunculkan olehnya, masih tetap ditahan Elfman perempuan itu, karena khawatir kuda tersebut harus kembali ditaklukan jika dipegang oleh Venerate yang lain.
Sedangkan Reminel menyerahkan sebuah kuali kepada Folvest untuk dipegang oleh pangeran tersebut, kemudian menyerahkan sebuah piring keramik pada Harmae.
“Tunggu dulu… Apa mungkin aku bisa memegang belati itu?” Ketika Reminel hendak menyerahkan sebuah batu asah kepada Barbiond, pria itu lantas meminta harta karun yang lain untuk dipegang olehnya.