The World Of The Venerate

The World Of The Venerate
Chapter 151 - Ayah dari pemuda itu



Dengan sigap, Gahaelix bergerak menangkap sabit tersebut, kemudian dengan cepat meluncurkan sabit tersebut ke arah pemiliknya.


Venerate yang memegang rantai, yang terhubung pada sabit tersebut seketika langsung melepaskannya.


“Eh…” Belum siap karena baru saja menghindari senjata sucinya sendiri, tiba-tiba Venerate itu dikejutkan melihat Gahaelix kini sudah berada tepat di hadapannya.


“Fiamma sillabare…” Dalam jarak yang dekat, Gahaelix dalam sekejap melancarkan serangan elemen api dalam skala yang besar pada Venerate tersebut.


Dengan refleks Venerate tersebut mengangkat kedua tangannya ke depan, secara tidak sengaja menggunakan sebuah teknik yang membuat serangan elemen api dalam skala yang besar itu tiba-tiba menjadi sangat kecil.


“Water technique… High pressure shot…” Venerate itu lalu melancarkan serangan elemen air dalam tekanan yang kuat, melenyapkan serangan elemen api Gahaelix serta membuat pria Lightio itu terhempas.


***


Sementara itu, Anatoliv bersama dengan Venerate yang satunya kini bertarung melawan Hefaistos.


Dengan melancarkan serangan proyeksi cahaya serta serangan elemen api biru secara bergantian, kedua Venerate Pavonas itu berusaha untuk membuat pemimpin dari negeri Lightio tersebut menjadi tersudut.


Akan tetapi, usaha mereka menyerang pria itu tetap sia-sia karena Hefaistos dengan mudah mampu menepis setiap serangan proyeksi mereka.


“Ventus sillabare…” Hefaistos dalam sekejap melancarkan serangan hempasan elemen angin, membuat kedua Venerate Pavonas itu langsung terhempas ke jarak yang cukup jauh.


***


Di sisi lain, setelah mengalahkan dua Venerate Pavonas yang melawan sebelumnya, Raquille terlihat kini hanya berdiam diri saja.


“Feuerzauber… Long way fire…” Tiba-tiba sebuah serangan proyeksi elemen api berwarna hitam meluncur ke arah, yang membuat pemuda Elfman itu langsung melancarkan serangan elemen api untuk menahannya.


Akan tetapi, serangan elemen api Raquille tiba-tiba lenyap, layaknya dilahap oleh serangan elemen api berwarna hitam tersebut.


Karena serangannya tidak mempan, Raquille pun dengan sigap melompat untuk menghindari serangan yang meluncur tersebut.


Baru saja bebas dari serangan yang meluncur sebelumnya, seketika seorang Venerate dengan muncul dengan langsung menganyunkan sebuah pedang yang dipegangnya ke arah Raquille.


Dengan sigap kembali Raquille pun langsung melompat kembali untuk menghindari ayunan pedang dari Venerate itu.


Tidak mau kalah, pemuda Elfman itu lantas menganyunkan juga pedangnya kea rah Venerate tersebut.


Walaupun sempat menangkis ayunan pedang tersebut, namun karena tidak kuat menahan tekanan kekuatan dari serangan Raquille, Venerate itu pun langsung terhempas.


Raquille dengan cepat memunculkan pasak-pasak es disekitarnya kemudian meluncurkannya ke arah Venerate tersebut.


Melihat serangan yang diluncurkan oleh Raquille, dengan sigap Venerate Pavonas itu kembali berdiri lalu mengeluarkan pancaran kobaran api berwarna hitam yang keluar dari dalam pedangnya.


Hal tersebut langsung membuat pasak-pasak es yang diluncurkan oleh Raquille dalam sekejap langsung lenyap.


“Eh…” Raquille tiba-tiba terkejut ketika melihat lebih detail wajah dari Venerate tersebut, yang merupakan seorang pemuda berusia sekitaran dua puluh tahunan.


Venerate tersebut tidak peduli melihat ekspresi terkejut dari Raquille dan langsung mengibaskan pedangnya menciptakan kobaran api berwarna hitam meluncur dengan lurus ke arah Raquille.


Dengan cepat Raquille menganyunkan salah satu bilah pedangnya ke depan membelah kobaran api hitam tersebut hingga lenyap tak bersisa.


“Hei kawan, siapa namamu?” Ucap Raquille, tiba-tiba menanyakan nama dari Venerate tersebut.


“Apa pentingmu mengetahui namaku?” Tanya balik Venerate tersebut, ingin mengetahui maksud dibalik pemuda Elfman itu.


“Sepertinya aku mengenalmu, dan pernah bertemu denganmu sebelumnya,” jawab Raquille.


“Kalau begitu biar kuperkenalkan namaku terlebih dahulu… Namaku Raquille, aku berasal dari clan Noroh yang berada di negeri Blueland,” lanjut Raquille berbicara, memperkenalkan dirinya pada Venerate tersebut.


“Raquille Noroh yah… Senang bertemu denganmu tuan muda. Kalau begitu, tidak sopan juga kalau aku tidak memperkenalkan namaku…” ucap Venerate tersebut.


“Namaku adalah Phyton Naisitorach dari negeri Ierua.” Venerate tersebut kemudian memperkenalkan namanya serta negeri asalnya.


*


“Phyton…” Ucap Raquille dalam hati, terkejut mendengar nama dari pemuda tersebut.


Disamping perempuan serta bayi yang digendongnya, Raquille juga mengingat bahwa disitu juga ada Cyffredinol, kakak pertama dari pemuda Elfman itu.


**


“Aku tidak menyangka kau sudah sebesar ini Phyton,” ucap Raquille, tersenyum mengetahui identitas dari pemuda tersebut.


Akan tetapi, pemuda bernama Phyton itu lantas tidak mengerti mengapa pemuda Elfman tersebut memperlihatkan ekspresi senyuman kepadanya.


“Hei Phyton… Apa kau sudah mengetahui siapa ayahmu?” Tanya Raquille.


“Ayahku? Memangnya kau tahu siapa dia? Siapa kau sebenarnya?” Tanya balik Phyton.


“Jadi si bodoh itu belum mengakui anaknya…” Gumam Raquille, membahas seseorang yang sepertinya merupakan ayah dari pemuda bernama Phyton itu.


“Phyton… Ayahmu datang ke negeri ini sebagai prajurit kubuh barat… Bahkan dia sebelumnya sempat tertangkap oleh prajurit Pavonas dan menjadi bagian prajurit kubuh timur,” ucap Raquille pada pemuda bernama Phyton itu.


“Ukh…” Baru saja mengatakan hal tersebut, Raquille tiba-tiba terhempas oleh sebuah tekanan yang kuat.


Dengan kuat pemuda Elfman terhempas, kemudian menghantam sebuah bangunan hingga hancur.


Ketika Raquille kembali berdiri, dia pun terkejut melhat Verre ternyata masih belum kalah dan kini telah melayang di udara.


“Jadi kau mau bertarung kembali?” Tanya Raquille, melihat pemuda itu nampaknya tidak mau menerima kekalahannya.


**


Tanpa memperdulikan ucapan dari Raquille, Verre memunculkan sebuah tombak yang merupakan sebuah senjata suci.


Dia kemudian berkonsentrasi mengaktifkan kekuatan pelepasan keduanya untuk mengimbangi kekuatan dari Raquille yang merupakan World Venerate.


“I defteri ekdosi… Zuurheme the lordly celestial…”


Verre tiba-tiba dilapisi oleh zirah berwarna emas dengan memiliki aksen kain berwarna biru tua, serta memegang sebuah tombak emas yang panjangnya sekitar dua kali lebih tinggi dari tinggi badannya.


Disekitar pemuda itu tampak beberapa bola besi dengan warna biru tua melayang mengelilinginya.


**


Melihat perubahan kekuatan pelepasan kedua dari Verre, Raquille pun menjadi antusias, dengan cepat pemuda Elfman itu meluncur dan kemudian menganyunkan pedangnya ke arah Venerate Pavonas itu.


Akan tetapi, dalam sekejap serangan yang akan dilancarkan oleh Raquille ditahan oleh salah satu bola milik Verre.


“Ukh…” Bola tersebut, tiba-tiba mengeluarkan sebuah tekanan dorongan yang kuat hingga membuat terhempas ke jarak yang cukup jauh.


**


Phyton yang melihat pertarungan Raquille melawan Verre nampak tidak mau ikut campur karena mengurungkan niatnya setelah mendengar ucapan Raquille yang membahas tentang ayahnya.


Di dalam benaknya, dia harus segera menolong Raquille agar bisa mendapatkan jawaban serta penjelasan langsung siapa ayahnya sebenarnya.


Namun, disamping itu Phyton pun merasa bingung bagaimana caranya menolong Raquille yang sedang dibuat tersudut, karena dia berada di kubuh berlawanan dengan pemuda Elfman.


**


Tidak seburuk yang dipikirkan oleh Phyton, Raquille yang terhempas dengan sigap bergerak hingga tak membuat terkapar.


Dengan sigap pria Elfman itu memunculkan pasak-pasak es kembali yang kini dengan ukuran yang lebih besar, lalu meluncurkannya ke arah Verre.


**


Dengan santai Verre mengendalikan salah satu bolanya, menyambar pasak es Raquille hingga hancur berkeping-keping.


Bola tersebut dengan cepat meluncur ke arah Raquille, membuatnya langsung melompat untuk menghindar.


Tiba-tiba saat Raquille menghindari salah satu bola dari Verre, bola-bola Verre yang lain pun kini sudah berada di dekatnya.