
Informasi tentang kalahnya pasukan Geracie ditangan pasukan Nascunia serta kubuh barat terdengar sampai ke telinga Chrolexius.
“Urgh…!” Dengan kesal, pemimpin negeri Geracie itu memukul meja yang berada di depannya hingga hancur berkeping-keping.
“Tuan Chrolexius, tolong tenang dulu…” Kata salah satu petinggi clan Magchora yang sedang bersamanya, menyuruh pria itu untuk tetap tenang dan berpikir jernih.
“Aku tidak bisa tenang disaat-saat seperti ini… Aku tidak mau menunggu lagi, ayo segera persiapkan pasukan kita, dan serang Nascunia serta kubuh barat sekarang juga.”
Chrolexius berdiri dari kursi yang didudukinya, lalu pergi meninggalkan ruangan bersama dengan para petinggi clan Magchora.
***
Setelah terbang menempuh jarak kurang lebih dari sekitar dua ratus mil jauhnya, Raquille dan Zitkavena akhirnya sampai di kota Arancar, kota terbesar serta menjadi pusat pemerintahan negeri Tsureya, yang berdiri di tengah-tengah padang stepa.
Di kota tersebut Raquille bersama perempuan itu kembali berbaris dengan para warga di depan pintu masuk sebuah istana.
Untungnya pada saat yang bersamaan di istana tersebut akan diadakan sebuah pesta, sehingga membuat kedua orang itu tidak perlu lagi menyelinap dari sisi lain untuk memasuki istana tersebut menemui pemimpin negeri Tsureya.
Karena telah mengubah penampilan sebelumnya, kedua orang itu kali ini tidak lagi dicurigai oleh para prajurit seperti pada saat menuruni kapal, saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di negeri itu.
Raquille dan Zitkavena kemudian membaur dengan para warga sambil menunggu kedatangan pemimpin negeri Tsureya berada di alun-alun istana tersebut.
Tak berapa lama kemudian, seorang pria paru bayah, yang merupakan sultan Hanzerim, sultan dari negeri tersebut datang ke tempat itu.
Pria itu juga datang dengan ditemani oleh beberapa prajurit yang mengenakan hiasan khusus di kepala mereka, berbeda dengan penampilan dari para prajurit Tsureya pada umumnya.
Semua orang yang berada di tempat tersebut seketika berseru melihat pimpinan negeri mereka akhirnya datang menjumpai mereka semua.
“Selamat datang semuanya. Aku senang sekali melihat kalian semua berada disini… Kalau begitu, silahkan menikmati pestanya,” ucap pria itu.
Dia kemudian pergi menghampiri para tamu khusus dan sedikit berbincang dengan mereka.
“Orang itu pasti adalah pemimpin negeri ini… Nona ayo kita pergi menemuinya sekarang,” ucap Raquille.
“Tunggu dulu tuan Raquille…”
Tiba-tiba Zitkavena langsung menghentikan pemuda itu saat akan menemui sultan Tsureya tersebut.
“Haah… Ada apa lagi?”
“Kita tidak boleh sembarangan mendekat. Kau lihat para prajurit yang sedang bersama pria itu. Mereka tidak akan segan-segan menyerang orang asing yang akan mendekati sultan mereka…”
“Walaupun aku yakin kau bisa mengatasi mereka semua, namun itu hanya akan membuat kekacauan di dalam pesta ini,” ucap Zitkavena.
“Lalu kita harus bagaimana?” Tanya pemuda Elfman mulai kesal.
“Kita tunggu sampai pria itu berjalan sendiri tanpa diikuti oleh para prajuritnya.”
“Haah… Baiklah…” Walau agak kesal harus menunggu, tapi Raquille harus tetap bersabar sampai pria itu beranjak dari tempat tersebut.
***
Dan setelah berapa lama pesta tersebut berlangsung, sang sultan akhirnya pergi beranjak dari tempat itu tanpa dikawal oleh beberapa prajurit, tidak seperti sewaktu pria itu datang pada awalnya.
“Ini saatnya…” Ucap Zitkavena.
Melihat kesempatan tersebut, Raquille berserta perempuan itu dengan sigap bergerak perlahan-lahan diantara para kerumunan, agar tidak terlalu dicurigai oleh para prajurit yang sedang menjaga tempat tersebut.
***
Raquille serta Zitkavena akhirnya dapat memasuki istana tanpa sepengetahuan dari para prajurit Tsureya yang sedang berjaga diluar istana sebelumnya. Mereka mengikuti sang sultan di sebuah lorong, yang entah tujuannya akan kemana.
“Padahal kita hanya mau meminta bantuan saja, tapi kenapa harus mengendap-endap seperti mau menculik pria itu dan mengancamnya agar mau memberikan bantuan pada kita,” gumam Raquille dengan berbisik.
“Kita tidak punya pilihan tuan Raquille…” Balas Zitkavena dengan berbisik juga.
**
Dengan mengeluarkan belati mereka kemudian melapisinya dengan proyeksi energi, para prajurit tersebut nampak siap untuk menyerang Raquille dan Zitkavena saat waktunya tepat.
***
“Hmph…” Seketika Raquille menghentikan langkahnya mengikuti sang sultan, karena merasa bahwa mereka berdua kini sedang diperhatikan.
“Ada apa tuan Raquille?” Tanya Zitkavena, yang langsung menghentikan langkahnya juga.
“Sepertinya kita sudah ketahuan… Baiklah ayo keluar…”
Baru saja pemuda Elfman berkata, tiba-tiba para prajurit bertudung tersebut dengan serentak melompat ke arah Raquille serta Zitkavena sambil mengayunkan belati mereka.
“Eh…” Dengan sigap Raquille menarik Zitkavena dan menggendong perempuan itu sambil menghindari semua serangan yang diarahkan kepada mereka berdua.
Raquille melompat, memutar tubuhnya sambil memegang Zitkavena, yang bagaimanapun keadaannya, para prajurit tersebut tidak bisa sekalipun dapat mendaratkan serangan mereka pada pemuda Elfman itu.
“Sial… Orang ini lincah sekali,” ucap salah satu prajurit bertudung.
“Cepat panggil pasukan Ruhawsari kemari, kita tidak bisa melawan mereka sendirian,” sambung prajurit lainnya, menyuruh beberapa rekannya untuk memanggil bantuan.
“Tuan Raquille, tolong turunkan aku sekarang. Aku bisa menghindari sendiri serangan mereka.” Disamping itu, Zitkavena yang mulai tidak nyaman diangkat oleh Raquille, sontak menyuruh pemuda itu untuk menurunkannya.
“Maafkan aku…” Ucap Raquille, lalu menurunkan perempuan itu.
Pemuda itu lalu menciptakan sebuah pedang dari elemen es, dan dengan cepat dia pun bergerak menyerang beberapa dari prajurit bertudung tersebut hingga terhempas.
“Tekhnika ekzortsista… Flame exterminator…” Tiba-tiba beberapa prajurit, yang sebelumnya bersama dengan pemimpin negeri Tsureya muncul di tempat itu, dan seketika langsung meluncurkan sebuah kobaran api dari tangan mereka masing-masing.
Api-api yang diluncurkan oleh mereka kemudian menyatuh hingga membentuk layaknya sesosok makhluk api dengan memegang sebuah pedang.
“Ukh…” Zitkavena yang baru merespon serangan tersebut, sontak hanya bisa menangkis dengan menggunakan kedua tangannya, yang langsung membuat perempuan itu pun terhempas.
Namun, untungnya perempuan itu dengan sigap langsung ditangkap oleh Raquille, yang terhempas ke arahnya.
“Nona, kau tidak apa-apa?” Tanya Raquille.
“Iya, aku baik-baik saja…”
“Tapi, kenapa teknik yang mereka lancarkan barusan, sepertinya adalah teknik dari bangsa Slivan,” ucap Zitkavena, nampak bingung melihat serangan yang dilancarkan oleh beberapa prajurit tersebut.
“Hahaha… Kelihatannya kau bertanya-tanya mengapa teknik mereka mirip dengan para pengusir setan…” Tak lama kemudian terlihat seorang pria datang ke tempat itu.
“Karena mereka adalah keturunan dari bangsa Slivan juga.”
“Apa…?” Zitkavena pun seketika terkejut mendengar pernyataan dari pria tersebut.
“Semuanya mundur, walaupun kalian adalah prajurit elit negeri ini, tapi dua Venerate yang berada di depan sepertinya berada di tingkatan yang lebih tinggi dari Land Venerate…”
“Biar aku saja yang melawan mereka…” Ucap pria itu.
Mendadak sebuah proyeksi energi berwarna merah memancar dari tubuhnya hingga membuat tempat tersebut sedikit berguncang.
***
“Eh, gempa bumi…”
Goncangan tersebut sontak langsung dirasakan juga oleh orang-orang yang sedang berpesta di luar istana.
“Cepat lari selamatkan diri kalian…”
Beberapa dari mereka pun mulai ketakutan hingga berlari meninggalkan istana tersebut.
***
Pria yang mengeluarkan tekanan kekuatan tersebut seketika maju ke arah Raquille dan Zitkavena, hendak melancarkan sebuah serangan pada kedua orang itu.