
“Apakah anda yang sering disebut sebagai tuan Warlock dari negeri Einor?” Tanya Ruvaen dengan nada suara sopan pada pria yang berada di depannya tersebut.
“Benar sekali tuan perdana menteri, Ruvaen Noroh, senang bertemu dengan anda… Ngomong-ngomong karena melihatmu lebih dekat, ternyata kau memang sangat mirip dengan orang itu,” jawab pria yang disebut sebagai Warlock tersebut sambil menyatakan bahwa pria Elfman yang berada di depannya mirip seperti seseorang yang dikenal olehnya.
“Siapa orang yang kau maksud?” Ruvaen pun lantas bertanya kepada pria itu mengenai orang yang memiliki kemiripan dengannya.
“Jangan terburu-buru, kau pasti akan mengetahuinya beberapa tahun ke depan,” jawab pria tersebut, tidak mau memberitahukan mengenai orang yang dibahas olehnya sampai waktunya tiba.
Karena merasa bahwa pria bernama Warlock tersebut hanya mengoceh, Ruvaen pun menciptakan pasak-pasak es di sekitarnya, dan sontak langsung meluncurkannya.
“Forsvalspel… Eldritch shield…” Melihat pasak-pasak es tersebut, pria bernama Warlock itu dalam sekejap mengakses kekuatan sihir miliknya, menciptakan sebuah perisai proyeksi.
Beberapa hantaman dari pasak-pasak es yang diluncurkan oleh Ruvaen sontak menghancurkan perisai proyeksi dari Warlock, namun dengan sigap pria itu langsung bergerak, melopat ke atas, kemudian memproyeksikan energi sihir miliknya, lalu menepis semua pasak-pasak es yang datang meluncur ke arahnya, hingga hancur berkeping-keping.
“Geheimer eiszauberspruch… Bluelandsbylur…” Disaat bersamaan, Ruvaen dengan cepat langsung langsung meluncurkan sernagan pusaran elemen es berbentuk horizontal dengan skala yang besar ke arah World Venerate yang berasal dari negeri Einor tersebut.
Melihat hal tersebut, Warlock hanya tersenyum sinis sambil mengangkat salah satu tangannya ke arah serangan elemen es yang besar dari Ruvaen.
Dalam sekejap, sebuah serangan proyeksi energi berwarna hitam dalam skala yang besar diluncurkan oleh Warlock, hingga tiba-tiba menyerap serangan pusaran elemen es dari Ruvaen.
Perdana menteri Blueland itu seketika terkejut melihat hal tersebut, Ruvaen pun dengan sigap menghindar ketika serangan proyeksi energi berwarna hitam tersebut meluncur ke arahnya, karena merasa akan sangat berbahaya jika harus diterima olehnya.
Benar saja apa yang ditakuti oleh pra Elfman itu, saat proyeksi energi berwarna hitam yang diluncurkan oleh pria bernama Warlock tersebut diterima oleh para Venerate Blueland yang berada di sekitar, mereka seketika terhempas, dan langsung terkapar dalam keadaan lemah, layaknya serangan tersebut, menyerap energi yang mereka miliki.
“Sihir hitam… Pantas saja kau sering disebut sebagai Warlock,” ucap Ruvaen, nampak mengetahui mengenai serangan yang dilancarkan oleh World Venerate Einor tersebut.
“Walaupun aku sering disebut seperti itu, tapi sang raja kami, Yang mulia Dokkalfar juga menguasai sihir yang sama persisi sepertiku,” ucap Warlock, menjelaskannya kepada perdana menteri Blueland itu.
“Jadi karena itu, para Venerate Ereise selalu saja dibuat layaknya seperti bawahan kalian,” respon Ruvaen.
Setelah mengatakan hal tersebut, pria Elfman itu dengan sigap meluncur ke arah Warlock untuk melancarkan sebuah serangan.
Akan tetapi, hal tersebut langsung didahului oleh World Venerate Einor tersebut dengan melancarkan kembali serangan proyeksi energi berwarna hitam miliknya.
Untung saja, Ruvaen dengan sigap langsung menghindarinya, namun Warlock dengan cepat mampu membaca pergerakan pria Elfman itu, hingga dalam sekejap kembali lagi melancarkan serangan proyeksi energi berwarna hitam.
“Abwehrzauber… Holy eldritch shield…” Ruvaen dengan sigap menciptakan sebuah perisai proyeksi berukuran besar untuk menahan serangan yang dilancarkan oleh World Venerate Einor tersebut.
Namun, perisai proyeksinya tersebut tetap saja tidak mampu menahan serangan proyeksi energi berwarna hitam itu, dan dalam sekejap langsung lenyap.
Ruvaen pun melompat ke belakang, menjaga jaraknya dari World Venerate tersebut, sambil memikirkan sebuah cara agar dirinya mampu mengatasi serangan yang memang sangat sulit untuk dibendung tersebut.
*
“Sial… Bagaimana caranya melawan teknik macam itu?” Ucap Ruvaen dalam hati, kesulitan memikirkan cara untuk mengatasi teknik serangan proyeksi energi hitam yang mampu menyerap segala macam jenis serangan.
**
Hal tersebut langsung membuat Ruvaen meningkatkan fokusnya untuk mencari keberadaan dari World Venerate Einor tersebut.
Tanpa dikira oleh Ruvaen, Warlock dalam sekejap muncul tepat dari arah atasnya sambil melancarkan serangan proyeksi energi berwarna hitam kembali.
Namun, tiba-tiba sebuah serangan proyeksi elemen api yang cukup besar meluncur, menyambar serangan proyeksi energi hitam tersebut hingga lenyap.
*
“Apa-apaan ini?” Ucap Warlock dalam hati, terkejut karena baru kali ini serangannya lenyap menerima sebuah serangan elemen api biasa.
**
Sontak Ackerlind muncul dari arah atas sambil mengayunkan pedang senjata sucinya yang memancarkan proyeksi energi berwarna biru, namun masih sempat dihindari oleh pria bernama Warlock tersebut.
“Forsvarspel… Holy eldritch shield…” Belum sampai disitu, tiba-tiba sebuah tombak meluncur, hingga membuat pria Einor itu pun langsung menciptakan sebuah perisai proyeksi untuk menahannya.
Akan tetapi, perisai yang diciptakan oleh Warlock tidak cukup kuat, hingga membuat dirinya harus terhempas menerima luncuran tombak yang mengarah padanya.
**
Disamping itu, Ruvaen yang terkejut melihat Ackerlind datang secara tiba-tiba, lebih dkejutkan lagi ketika melihat Achilles serta Aguirre muncul di dekatnya.
“Paman… Jadi orang itu yang sering disebut sebagai Warlock?” Tanya Ackerlind.
“Iya… Aku baru saja menanyakan hal itu, dan dia langsung menjawabnya… Bukan hanya itu, alasan mereka memanggilnya seperti itu, karena dia menguasai sihir hitam,” jawab Ruvaen.
“Sihir hitam yah… Untung saja kita memiliki Aguirre disini,” respon Achilles, tidak terlalu mengkhawatirkan mengenai kemampuan dari World Venerate yang berada di depan mereka karena memiliki cara untuk mengatasinya dengan menggunakan serangan proyeksi elemen api yang keluar dari pedang merah, yang digenggam oleh Aguirre.
Achilles kemudian mengngkat salah satu tangannya ke depan, membuat tombak senjata suci miliknya, yang sebelumnya menghempaskan Warlock, kembali ke tangannya.
“Menarik… Aku tidak menyangka bahwa anak-anak raja Elfman dibekali oleh senjata suci tingkat tinggi… Pedang Zornus, pedang merah Solring, dan bahkan tombak Naderyddig…”
“Para ras Elfman memang sangat serakah, bagaimana mungkin kalian bisa mengambil semua senjata-senjata legendaris dari wilayah utara itu?” Ucap Warlock, melihat Ackerlind, Achilles, serta Aguirre memegang sebuah senjata suci yang memiliki kemampuan lebih kuat dibandingkan dengan senjata suci pada umumnya.
“Hahaha… Jawabannya cukup simple tuan Warlock… Itu karena kami adalah juga termasuk orang-orang yang berasal dari utara, maka kami berhak meggunakan senjata ini,” balas Aguirre, menjelaskannya pada World Venerate negeri Einor tersebut.
“Heh, jadi begitu yah… Kalau begitu, aku ingin melihat kemampuan senjata-senjata itu di tangan Continent Venerate seperti kalian,” ucap Warlock, menantang ketiga Elfman bersaudara tersebut.
Mendengar tantangan tersebut, tanpa pikir panjang, Ackerlind, Achilles serta Aguirre pun meluncur ke depan, tidak peduli bahwa lawan mereka merupakan World Venerate.