
“Hei Sheafear… Seharusnya kau tidak mengungkit hal itu…” Ucap Harmae dengan ekspresi kesal.
“Oh… Maafkan aku Yang mulia ratu Brizora… Aku lupa bahwa kau sangat sensitif mengenai hal tersebut.” Sheafear pun lantas meminta maaf karena telah mengungkit penampilan dari Harmae sembari menjelaskan kepada Raquille.
“Ngomong-ngomong pangeran Raquille, lebih baik kau simpan saja pedang itu, karena kami disini tidak memerlukannya lagi,” lanjut raja Ierua itu berkata, menyuruh agar Raquille menyimpan pedang tersebut, karena senjata suci tersebut memang sudah menjadi hak milik dari pemuda Elfman itu sebagai pemimpin dari wilayah Brizerua.
Mendengar hal tersebut, Raquille pun sejenak terdiam memperhatikan pedang yang dipengangnya tersebut.
“Jadi senjata suci ini sudah menjadi milikku… Berarti aku bisa memberikannya kepada seseorang…” Ucap Raquille.
“Tentu saja…” Respon Sheafear.
“Tapi, kenapa kau ingin memberikannya pada orang lain? Bukankah itu senjata yang cukup kuat… Setidaknya jika kau menggunakan pedang itu, para bangsa Friedenic yang nantinya menjadi musuhmu tidak akan berkutik melawanmu,” Tanya Harmae, merasa penasaran sambil menjelaskan kepada kemampuan dari senjata suci tersebut jikalau nantinya Raquille hendak melawan Venerate yang berasal dari bangsa Friedenic.
“Memangnya siapa Venerate yang berasal dari bangsa Friedenic itu? Bukankah semua negeri bangsa Fridenic berada dalam kubuh barat,” tanya balik Raquille.
“Tentu saja masih banyak… Diantaranya ada kubuh utara, serta para ras campuran yang berada di benua Aizolica…” Jawab Sheafear.
“Kurasa kalian tidak perlu khawatir, karena aku memiliki banyak senjata suci… Bahkan aku memiliki tiga senjata suci baru yang masih belum pernah digunakan olehku sampai saat ini… Dan tenang saja… Aku sangat yakin bahwa kekuatan pelepasan kedua dari senjata suci milikku lebih kuat dibandingkan senjata suci yang lain,” ucap Raquille dengan percaya diri, menyatakan bahwa dirinya tidak memerlukan pedang tersebut.
Mendengar pernyataan dari Raquille, membuat Harmae dan Sheafear pun terdiam, tidak menyangka bahwa pemuda Elfman itu memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi dari pada Venerate pada umumnya.
Kedua pemimpin negeri Brizora serta Ierua itu lantas menjadi percaya dengan pernyataan dari Raquille karena mengetahui bahwa pemuda Elfman tersebut merupakan putra dari sang raja Blueland, yang dikenal sebagai World Venerate terkuat.
“Jika kau memiliki kepercayaan diri seperti itu… Kami pun juga tidak bisa memaksamu untuk menahan pedang itu,” ucap Harmae.
“Kalau begitu, berikan saja pedang itu kepada seseorang yang kau inginkan untuk memegangnya,” sambung Sheafear.
Raquille pun merespon pengertian dari Harmae dan Sheafear dengan menunjukan ekspresi tersenyum kepada mereka, dan setelah pemuda Elfman tersebut lantas meninggalkan mereka untuk hendak memberikan pedang tersebut pada salah satu Venerate yang kemungkinan masih berada di pulau tersebut.
***
Berpindah pada Hyphilia yang bersama dengan para Venerate Blueland lain. Tak berapa lama kemudian, tampak Arn datang menghampiri mereka dengan perasaan tidak enakan setelah apa yang dilakukan pria itu sebelumnya.
“Eh… Kakak Hyphilia… Aku ingin meminta maaf karena sebelumnya sempat mengancammu,” ucap Arn, meminta maaf kepada Hyphilia setelah apa yang dilakukannya kepada Elfman perempuan itu sebelumnya.
Mendengar permintaan maaf dari Arn, tiba-tiba Hyphilia menunjukan ekspresi ajah yang serius.
“Akh…” Tanpa pikir panjang, Elfman perempuan itu lantas memukul perut Arn, hingga pria itu pun kesakitan, merasakan kekuatan fisik dari ras Elfman walaupun merupakan seorang perempuan.
“Baiklah… Aku memaafkanmu…” Ucap Hyphilia sambil memasang ekspresi tersenyum.
“Jika kau memang memaafkanku, kenapa kau malah memukulku kakak?” Tanya Arn, tidak mengerti dengan perbuatan yang dilakukan oleh Hyphilia kepadanya.
“Itu hanya sedikit pelajaran karena telah berani mengancam kakak-kakakmu,” jawab Hyphilia.
Melihat hal tersebut, Anhilde, Asulf serta Haltryg yang berada di tempat itu lantas menertawai Arn.
“Kakak… Biar aku saja memukulnya kalau masih belum cukup…” Ucap Asulf, sambil melingkari tangannya pada leher Arn.
“Hei… Hei… Lebih baik kalian jangan merundung dia…” Tak berapa lama, Raquille datang menghampiri mereka sambil memperingati agar tidak melakukan hal yang tidak-tidak kepada Arn setelah apa yang dilakukan oleh pria itu.
“Raquille… Apa kau sudah selesai berbicara dengan mereka?” Tanya Hyphilia.
“Iya… Lagipula perbincangannya tidak terlalu penting…” Jawab Raquille.
“Karena ada yang ingin aku bicarakan padamu kakak…” Lanjut pemuda Elfman itu berkata, ingin berbicara dengan Hyphilia.
Mendengar hal tersebut, Arn, Anhilde, Asulf, serta Haltryg lantas menjadi pekah, dan hendak meninggalkan tempat tersebut.
“Hei tunggu dulu… Setidaknya ini bukan pembicaraan pribadi,” ucap Raquille, menghentikan Arn dan yang lain untuk pergi dari tempat itu, karena dirinya tidak bermaksud ingin berbicara dengan Hyphilia secara empat mata.
“Memangnya ini ada hubungannya dengan kami?” Tanya Arn penasaran.
“Sebenarnya tidak juga…” Jawab Raquille.
“Kupikir ini ada hubungannya dengan kami… Tapi, yah sudahlah… Aku juga penasaran, apa yang ingin kau bicarakan dengan kakak Hyphilia,” respon Arn.
Setelah selesai menjelaskannya kepada Arn dan yang lain, Raquille kemudian memberikan pedang yang dipegangnya tersebut kepada Hyphilia.
Dengan menunjukkan ekspresi kebingungan Hyphilia, bahkan semua orang yang berada di tempat itu tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh pemuda Elfman itu.
“Raquille.. Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Hyphilia, merasa bingung.
“Eh, maaf… Aku ingin memberikan agar kau bisa menyimpannya kakak...” Jawab Raquille.
Mendengar hal tersebut, Arn serta yang lain pun lantas terkejut, karena tidak menyangka bahwa pemuda Elfman itu akan memberikan pedang legendaris bangsa Friedenic yang telah dicabutnya pada sebuah batu, dengan cuma-cuma kepada Hyphilia.
“Kau ingin aku memegang pedang ini?” Nampak masih tidak mengerti bahwa pedang tersebut akan diberikan kepadanya.
“Apa? Kau ingin memberikan pedang ini kepadaku…” Setelah menyadari hal tersebut, Hyphilia pun lantas terkejut.
“Tapi… Bukannya kau yang telah mencabut pedang ini dari batu itu.”
“Tentu saja… Karena itu pedang ini telah menjadi milikku, dan aku bebas memberikannya pada siapapun.”
Melihat pedang tersebut, Hyphilia nampak kebingungan ingin mengambilnya atau tidak, membuatnya lantas menatap Arn dan yang lain untuk meminta pendapat.
Mereka pun secara bersamaan langsung menganggukkan kepala, ingin agar Hyphilia menerima pedang pemberian dari pemuda Elfman itu.
“Ayo terimalah pedang ini… Anggap saja ini adalah hadiah dariku karena telah meninggalkanmu selama sepuluh tahun,” ucap Raquille, kemudian menarik salah satu tangan Hyphilia, dan memberikan pedang itu.
Sejenak Hyphilia menatap pedang Hilgwyn pemberian dari Raquille tersebut. Elfman perempuan itu sontak memasang ekspresi tersenyum mendapatkan ide untuk ingin mengetes kekuatan dari pedang tersebut.
Hyphilia pun mengambil ancang-ancang, memegang pedang tersebut dengan kedua tangannya erat-erat, lalu mulai mengakses kekuatan dari pedang itu.