[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 98: Viator Knight



...****************...


Itu adalah mimpi.


Mimpi yang sudah terlalu sering ia lihat, sehingga ia muak melihatnya.


Ia tidak tahu mengapa ia memimpikan itu. Namun, mimpi itu terus diputar di kepalanya setiap ia tidur. Seolah, mimpi itu adalah satu-satunya rekaman yang bisa ditunjukkan otaknya padanya.


Tidak ada sesuatu yang spesial di sini. Hanya ada dosa dan penyesalan yang terus membuatnya berputar di lingkaran setan. Meskipun begitu, ia tidak mengetahui apa maksud mimpi itu.


Karena, ia sama sekali tidak memiliki kenangan seperti yang ditunjukkan mimpi itu padanya.


Langit mendung tak berujung yang terus mengeluarkan tangisan yang sangat keras, disertai dengan jeritan cahaya yang memekakkan telinga, dan reruntuhan bangunan raksasa yang terbakar oleh api abadi.


Itu adalah hal pertama yang selalu ia lihat di mimpinya.


Setiap kali ia melihat itu, ia hanya bisa berteriak dan mengutuk pada para dewa yang telah memberikan jenis kehidupan seperti ini padanya.


Raungan kemarahan, jeritan kematian, dan genangan darah yang selalu memenuhi pikirannya sangatlah menyakitkan sehingga ia akan hancur jika ia lengah.


Di kedua tangannya, ia menggendong seorang gadis kecil dengan rambut hitamnya yang sangat indah. Ia sedang tertidur dengan wajah polos di pelukannya.


Ia tidak tahu kenapa. Tapi, ia merasa kalau gadis itu adalah satu-satunya alasannya untuk tetap menjaga kewarasannya hingga saat ini.


Baginya, gadis itu seperti satu-satunya gudang harapan yang ia miliki, satu-satunya alasannya untuk tetap hidup dalam mimpi yang mengerikan itu.


Ia memperkuat pelukannya pada gadis itu, seolah tak akan membiarkannya terlepas.


Untuk menepati janjinya dengan seseorang yang sangat berharga baginya.


...****************...


Ia berlari, dan terus berlari. Berusaha menghindari semua mimpi buruk itu.


Tidak peduli seberapa lelah ia di sini, ia terus berlari. Semua rasa lelah itu tak ada artinya di sini, karena ini hanyalah alam mimpi.


Sambil sesekali memuntahkan sejumlah darah dari mulutnya, ia terus berlari menyusuri hutan yang gelap dan dipenuhi oleh musuh.


Aroma dan sensasi besi yang sangat kuat dan menyengat dari darahnya benar-benar membuatnya mual. Namun, ia mengabaikan semua itu.


Mengapa ini semua terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini? Apakah ini takdirnya? Meskipun ia sudah menanyakan itu di pikirannya jutaan kali, ia tetap tak menemukan jawabannya.


Ini adalah mimpi yang sangat menyesatkan. Sampai kapan ia harus menderita seperti ini? Mengapa harus dia yang mengalami ini? Ia benar-benar tidak mengerti.


Langkah kakinya semakin cepat. Ia sudah tidak peduli kemana kakinya akan membawanya. Ia hanya bisa mengikuti langkah yang dipicu oleh unit reflektif yang ada di otaknya. Satu-satunya yang ia inginkan saat ini hanyalah untuk melindungi gadis yang ada di pelukannya. Namun, kepalanya yang kacau benar-benar tak memberinya ruang untuk memperhatikan lingkungan sekitarnya.


Sebuah batu dan akar pohon yang cukup besar membuat gerakannya terganggu. Ia terjatuh dan terguling di tanah, dan membuat kepalanya membentur pohon dengan sangat kuat.


Untungnya, pelukannya pada gadis itu sama sekali tidak mengendur. Ia menggunakan tubuhnya sendiri demi membuat gadis itu tetap aman.


Dengan sisa kesadarannya yang perlahan memudar, dia menpererat pelukannya pada gadis itu dan meneteskan setitik air mata penyesalan.


Tak lama kemudian, kesadarannya yang sudah menghilang sebelumnya tiba-tiba membawanya ke sebuah ruangan besar dengan banyak ornamen yang indah.


-–Ahh, ini lagi ….


Begitulah yang ia pikirkan. Sama sekali tidak ada rasa penasaran atau bahkan pertanyaan atas situasi yang tiba-tiba terjadi ini.


Ia hanya bisa membuat ekspresi kecewa di wajahnya.


Ia sudah melihat bagian ini sekian kali hingga ia sudah tak dapat menghitungnya. Setiap kali ia kehilangan kesadaran di mimpinya, ia selalu kembali ke titik ini.


Dia berdiri sambil menatap seorang laki-laki yang duduk di lantai, menatap seorang pria tua di hadapannya dengan marah.


Wajah, postur tubuh, ekspresi, dan penampilan keseluruhan. Tidak salah lagi, laki-laki itu adalah dirinya sendiri.


Ia tidak terkejut. Pemandangan ini juga sudah sering ia lihat.


Tak lama kemudian, dirinya yang duduk di sana pun berbicara dengan nada yang hampir membentak pada pria tua di hadapannya.


"Tuan! Kumohon, tolong pikirkan lagi! Itu adalah tindakan yang gila! "


Meskipun dibentak oleh orang yang jelas jauh lebih muda darinya, pria tua itu hanya tersenyum sambil membelai janggut hitamnya yang sangat panjang.


Pria tua itu memiliki penampilan seseorang yang tampak sangat bijaksana. Dengan rambut, kumis, dan janggutnya yang masih berwarna hitam pekat meskipun di usianya yang tua, dan memakai pakaian yang terlihat seperti jenis kimono sokutai (束帯), disertai dengan tongkat ritual shaku (笏) di tangannya yang lain.


Dari penampilannya, jelas kalau pria itu bukanlah orang biasa. Penampilan dan aura wibawa yang dia keluarkan benar-benar menonjolkan dirinya sebagai seorang yang berdiri di takhta tertinggi dalam sistem pemerintahan yang masih tergolong kuno.


Pria itu tersenyum, dan menepuk kepala laki-laki yang menatapnya dengan marah di hadapannya, lalu berbicara.


"Sayangnya, itu tidak mungkin. Kita sudah kalah. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Musuh kita terlalu kuat, bahkan dengan semua kekuatan yang dimiliki klan kita, tidak mungkin kita bisa mengalahkan mereka."


Mendengar itu, dirinya yang lain menunjukkan wajah yang sangat menyedihkan. Ekspresi putus asa, tanpa harapan.


"I-itu tidak mungkin, 'kan?! Kita, masih bisa menang! Benar, jika aku menjadi pengalihan untuk mengulur waktu, Tuan dan yang lain bisa melarikan diri dan membangun kekuatan baru! "


Mendengar jawaban darinya, pria tua itu menunjukkan wajah sedih sejenak. Namun, ekspresinya kembali tegas.


Pria tua itu menatap laki-laki yang duduk di hadapannya.


"Kau tidak perlu mengorbankan dirimu demi kami. Kau bukan berasal dari klan ini, karena itu … kau tak perlu mengambil tanggung jawab ini bersama kami. Cukup lakukan tugas yang kuberikan padamu, dan bawa Putri pergi ke tempat yang jauh dari sini."


Pria tua itu kemudian berdiri, dan berjalan ke arah jendela besar yang ada di belakangnya.


Dia menatap situasi di luar dengan wajah sedih.


Dunia di luar jendela itu benar-benar mengerikan. Bangunan batu dan kayu yang runtuh tampak terbakar oleh api hitam besar yang tak dapat dipadamkan.


Jeritan kematian dari ratusan orang yang ada di luar jendela itu benar-benar menyakitkan telinga.


Tubuh mereka terbakar hingga gosong, dan sebagian tubuh mereka telah hilang karena terpotong oleh sesuatu yang sangat tajam. Itu adalah kondisi dari sebagian besar orang yang ada di luar jendela.


"Tidak perlu menyembunyikannya dari semua orang. Kita sudah kalah, dan semua orang di klan tahu itu. Satu-satunya keinginan kami adalah agar kau dapat membuat Putri tetap hidup dengan damai. Itu adalah satu-satunya keinginan, dan harapan kami."


"Meskipun begitu! Pasti ada cara lain! "


Laki-laki itu terus membentak dengan ekspresi penuh keputusasaan di wajahnya.


"Harold! Kau sudah lama kuanggap sebagai anakku sendiri. Kau juga sudah melayani keluargaku sejak kau kuselamatkan pada hari itu. Tolong, penuhi harapanku. Pergi dan bawa Putri kami—adikmu pergi jauh dari sini. Buat dia hidup dengan normal, dan jangan sampai dia mengingat sesuatu yang menyakitkan tentang kami. Aku tidak ingin mengacaukan kehidupannya hanya dengan mengingat kami."


Wajahnya yang tegas membuat laki-laki itu, Harold merasa merinding, ia secara refleks langsung menegakkan bahunya dan menatap pria itu dengan tidak percaya.


"I-itu tidak mungkin, 'kan?! Tidak mungkin aku bisa meninggalkan kalian! "


Pria itu tidak menjawab lagi, ia hanya berjalan menuju lemari kayu yang ada di sudut ruangan. Begitu ia membuka pintu lemari itu, ia langsung mengambil sebuah pedang panjang yang dibungkus dengan sarung pedang hitam pekat dengan corak ornamen emas.


Ia kemudian kembali pada Harold yang masih menatapnya dengan tidak percaya. Lalu memberikan pedang itu padanya.


"Kumohon.Ini adalah permintaanku, sekaligus perintahku sebagai seorang ayah, dan sebagai seorang pemimpin. Bawalah pedang ini, dan pergi dari sini bersama 'adikmu'. Kau harus tetap menjalankan hidupmu, Harold."


" ……… "


Harold menggertakkan giginya dengan penuh amarah. Ia memutuskan untuk tidak akan pernah mengambil pedang itu.


Jika ia menerima pedang itu, maka ia sudah tidak memiliki pilihan selain menuruti perkataan pria di depannya.


Menyadari kalau Harold tidak akan menerima pedangnya, pria itu tersenyum dengan tegas.


"Ini perintahku, Harold. Kau harus mematuhinya. Dan juga … Jika dibandingkan dengan penderitaan yang akan kau rasakan di masa depan, rasa sakit yang kami terima sekarang tidak akan ada apa-apanya," ucap pria itu sambil mengelus kepala Harold.


Hening sejenak, pria itu kemudian melanjutkan, " 'Teruslah maju dan menghadap ke depan, jadikan masa lalumu sebagai pelajaran, jangan biarkan penyesalanmu menghalangimu, dan hiduplah sesuai dengan keyakinan yang kau miliki! ', itu adalah motto yang kuajarkan padamu, 'kan? Kalau begitu, hiduplah sesuai dengan motto itu, kesatriaku, Harold."


Ia kemudian menatap pria itu dengan wajah yang hampir menangis.


Harold dengan berat hati menerima pedang itu dan berdiri, perlahan berjalan meninggalkan ruangan tempat pria itu berada.


" … Selamat tinggal, Ayah."


Meninggalkan kata-kata yang diucapkan dengan suara bergetar, Harold kemudian berlari menjauh dari ruangan itu.


Pria itu yang ditinggal di ruangan itu hanya tersenyum sedih sambil memandangi tempat Harold berdiri sebelumnya.


" … Dasar anak yang bodoh."


Dengan kata-kata itu, adegan mimpi itu sekali lagi berubah.


Dia, Harold asli yang melihat semua pemandangan itu tak menggerakkan ekspresinya sedikit pun.


Ia hanya terus menonton setiap adegan mimpi yang terus diputar tanpa henti itu.


Adegan sudah berubah. Ruangan gelap sebelumnya telah diganti menjadi pemandangan langit malam yang mendung dengan hujan badai di tengah hutan.


Ia berlari sekencang mungkin sambil menggendong seorang gadis di pelukannya.


Ini adalah adegan sebelumnya.


Ia sudah melihat ini berulang kali. Namun, ia tetap tak merasakan apa pun.


Penampilannya yang menyedihkan sedang berlari menyusuri hutan sambil membawa seorang gadis bahkan tak membuatnya merasakan déjà vu sedikit pun.


Berapa lama ia berlari? Sepuluh menit? Satu jam? Ia tidak tahu. Indera perasanya akan waktu sudah mati sejak ia meninggalkan seseorang yang sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.


Baginya, ini tidak lebih dari tindakan pengkhianatan. Itu tidak bisa dimaafkan. Dia adalah kesatria yang setia, tugasnya adalah melindungi semua orang dari bahaya.


Di saat yang sangat genting seperti ini, ia justru diperintahkan untuk melarikan diri dan hidup damai. Tidak mungkin ia bisa menerimanya.


Langkah kakinya perlahan melemah. Ia berhenti di sebuah pondok kayu dengan ukuran yang cukup besar yang ada di daerah gunung tempatnya melarikan diri.


Ia tidak tahu siapa yang tinggal di sana. Namun, ia hanya bisa menyerahkan harapannya pada orang yang tinggal di pondok besar itu.


Ia dengan kuat mengetuk pintu kayu yang basah karena percikan air hujan itu, lalu menunggu beberapa saat.


Berdasarkan cahaya yang keluar dari jendela pondok, seharusnya ada orang yang tinggal di dalamnya. Karena itu, ia memutuskan untuk menunggu sampai penghuninya keluar dengan sendirinya.


Meskipun begitu, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Ia lagi-lagi mengetuk pintu itu, dan menunggu beberapa saat.


Pintu akhirnya terbuka, dan seorang pria tua keluar dari pondok, menatap Harold dengan matanya yang tajam.


"Siapa kau? " tanya pria itu.


Harold menelan ludahnya dengan gugup, lalu menggelengkan kepalanya.


Ia berniat mengucapkan sesuatu pada pria itu. Namun, pandangannya langsung terdistori dan tubuhnya terjatuh tanpa daya.


" … Menyedihkan."


Mengatakan itu, pria itu kemudian membantu Harold untuk masuk ke dalam pondok dan bersandar di dinding. Ia juga membawa gadis yang digendong Harold sejak tadi untuk tidur di sofa.


Ia pergi ke kamarnya sejenak, lalu kembali sambil membawa sebotol air yang pada akhirnya ia siramkan ke wajah Harold.


Air itu langsung membawa kembali kesadaran Harold ke permukaan dan membuatnya bernapas dengan cara yang menyakitkan.


"Bertahanlah, kau akan pulih tidak lama lagi. Untuk sekarang, makan ini," ucap pria itu sambil menyerahkan sebuah roti pada Harold.


Harold tanpa mengatakan apa pun lagi mengambil roti itu dan memakannya dalam diam.


Setelah menghabiskan semua rotinya, ia bertanya pada pria tua itu.


"Hei, Pak tua, siapa namamu? "


"Itu cara yang sedikit tidak sopan untuk memanggilku. Tapi, namaku adalah Darkan Vanpille. Kau bisa memanggilku apa pun sesukamu."


"Begitu, ya … Hei, bisakah aku meminta sesuatu darimu? "


"Apa itu? "


"Tolong, rawat gadis itu, satu-satunya adikku."


" … Siapa namanya? "


Hening sejenak, Harold kemudian menjawab.


"Chloe … Namanya adalah Chloe. Hanya itu, ia sudah tidak memiliki nama keluarga lagi. Karena itu, aku serahkan dia padamu. Aku akan membalas semua kebaikanmu suatu saat nanti. Kumohon … Tolong, rawatlah adikku."


Harold berusaha menguatkan dirinya dan mengucapkan semua kalimat itu. Namun, ia tak bisa menahan air mata yang mulai menetes di wajahnya.


Bendungan yang berusaha menahan air matanya akan pecah tak lama lagi. Untuk menahan itu, ia memaksakan dirinya untuk berdiri dan mengambil pedang yang tergeletak di lantai.


"Kemana kau akan pergi? " tanya Darkan sambil menatap Harold.


" … Aku … Tidak tahu … Aku hanya ingin melindungi semua keluargaku."


Mengatakan itu, ia segera membuka pintu dan keluar dari pondok.


Di saat sebelum ia benar-benar pergi, ia berbalik dan menoleh pada Darkan.


"Terima kasih. Rotinya … Sangat enak."


Ia kemudian menatap satu-satunya adik yang ia miliki, Chloe dengan senyum sedih.


(Selamat tinggal, Chloe.)


Ia langsung berlari menyusuri jalanan yang telah ia lewati sebelumnya. Berkali-kali hampir tersandung karena batu dan akar pepohonan yang memenuhi jalannya. Meskipun begitu, ia tak berhenti.


Sambil mengayunkan pedangnya untuk menghabisi para monster yang mengganggunya, ia terus berlari dengan penuh tekad untuk kembali ke tempatnya seharusnya.


Namun, itu semua sudah terlambat.


Ia berdiri dan dalam diam menatap pemandangan mengerikan yang ada di hadapannya.


Kastil megah tempat ia dibesarkan sebelumnya telah hancur menjadi puing-puing kecil sehingga bentuk aslinya sudah tak dapat dilihat.


Mayat para rekannya yang berjuang bersamanya selama bertahun-tahun digantung di sebuah salib dalam keadaan tubuh yang sudah gosong dan kehilangan beberapa organnya.


Orang-orang yang ia cintai dan ingin ia lindungi, semuanya sudah lenyap.


Lebih dari itu, tepat di atas semuanya, ia melihat, sosok pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri tewas dalam keadaan yang mengenaskan bersama seorang wanita di sampingnya.


Tubuh mereka berdua digantung bersama di satu salib raksasa. Wajah mereka telah hancur sepenuhnya, dan kaki mereka hilang. Perut mereka terbelah dan membuat semua organ dalam yang mereka miliki diludahkan keluar.


Harold yang melihat semua itu langsung berteriak histeris dengan tidak percaya.


Ia mulai kehilangan kesadarannya dan mengamuk di puing-puing itu. Dengan keadaannya yang seperti itu, tidak mungkin ia bisa kembali lagi.


Ia membakar semua tubuh orang-orang yang ia cintai menjadi abu dan membiarkan semuanya menyatu dengan tanah.


Jeritan keputus asaannya menjadi pertanda untuk munculnya seorang kesatria yang telah kehilangan segalanya.


...****************...