![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Apa yang sebenarnya terjadi? Kecepatan berpikir Noelle meningjat. Meski begitu, dia tidak dapat menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini.
Wabah Kristal, meski terjadi lebih dari 600 tahun sebelumnya, efeknya tetap sama mengerikan dengan yang pernah terjadi 27 tahun yang lalu. Sebuah korban yang memakan ribuan korban jiwa, hanya segelintir orang beruntung yang mampu selamat.
Gild adalah contoh nyata dari orang yang beruntung itu. Dia masih hidup bahkan setelah melalui wabah yang begitu mengerikan.
Namun, yang ada di hadapannya kini berbeda.
"Grei …."
Tania juga menyadari keanehan ini. Dia memanggil Noelle dengan cemas, lalu sedikit bersembunyi di belakangnya.
Memang, meski sangat kecil, tetap ada peluang selamat. Namun, meskipun dia selamat, seharusnya tidak mungkin baginya untuk bertahan hidup sampai sekarang, mengingat kejadian itu sudah lebih dari 600 tahun yang lalu.
Selain itu, meski sudah sangat lama, tempat ini seharusnya masih penuh dengan sisa kontaminasi dari virus. Terbukti dengan adanya menara kristal yang menjulang tinggi ke langit di beberapa bagian ibu kota.
Siapa pun yang masuk pasti akan terinfeksi. Kecuali mereka yang memang memiliki imunitas terhadap virus itu.
(Tunggu sebentar, kenapa aku berasumsi kalau dia sudah hidup lebih dari enam ratus tahun? )
Bisa jadi sosok berzirah itu adalah orang yang belum lama datang, atau malah penjaga yang diposisikan langsung oleh pemerintah Republik.
Sejauh ini, yang Noelle ketahui memiliki imunitas tinggi terhadap virus adalah dirinya sendiri, Tania, Gild, Ratu Bengis, dan semua anggota suku Artof.
Tapi, dilihat dari mana pun, sosok berzirah ini tidak termasuk dalam salah satu golongan yang disebutkan.
Sosok berzirah itu akhirnya berhenti, dan seperti menatap tegas pada Noelle dan Tania yang berdiri di hadapannya.
Tinggi Noelle sebagai Grei hampir 2 meter, tapi itu pun masih kalah tinggi jika dibandingkan dengan sosok berzirah itu. Boelle bahkan masih harus mendongak untuk menatap helmnya.
Hanya menatap dalam keheningan, sosok berzirah itu kemudian menancapkan tombak di tangannya ke tanah, dan dengan tegas memperkenalkan diri.
"Aku adalah Kapten Kesatria Kerajaan Fortenia, Rudra fi Tharika. Dengan hormat, bisakah aku mengetahui siapa kalian ini? "
Suaranya dingin, tetapi terdengar begitu tegas dan kuat. Noelle mengenal beberapa orang dengan cara bicara yang serupa, tapi Rudra benar-benar berbeda jika dibandingkan dengan mereka semua. Ini membawakan perasaan yang aneh pada Noelle.
Tidak, daripada itu, ada satu hal yang menarik perhatiannya.
'Kapten Kesatria Kerajaan Fortenia'. Begitulah pria berzirah—Rudra memperkenalkan dirinya. Jika apa yang Rudra katakan itu memang benar, maka ini dengan mudah memelintir semua kesimpulan yang baru saja Noelle buat.
Pada akhirnya, dia kembali ke pertanyaan pertama; bagaimana orang ini masih bisa hidup?
Noelle ingin segera bertanya, tapi sepertinya Rudra sedang menunggu jawaban darinya, jadi lebih baik untuk menanggapi itu lebih dulu.
"Grei Noctis," jawab Noelle singkat dengan suara yang dipaksakan untuk terdengar tegas.
Rudra mengangguk, lalu memutar kepala helmnya ke arah Tania.
"Aku Tania. Kami berdua adalah petualang."
Tania mengeluarkan kartu lisensinya dan memberikan itu pada Rudra. Walaupun sebenarnya, tindakan itu sama sekali tidak diperlukan.
Atau setidaknya, itulah yang Noelle pikirkan.
"Petualang? "
Dari suaranya, Noelle menyimpulkan kalau Rudra merasa asing dengan nama itu. Dia pun menerima kartu lisensi Tania dan memeriksanya berulang kali.
(Ahh, benar ….)
Konsep 'petualang' baru dicetuskan sekitar 400 tahun yang lalu, oleh seorang pakar politik Kerajaan Nothernos. Jika Rudra tidak berbohong tentang identitasnya, wajar dia tidak mengetahui apa itu petualang.
Lagi pula, di masanya, petualang hanyalah konsep asing.
Noelle masih belum memiliki cara untuk menjelaskan fenomena ini, tapi sepertinya … dia sudah menemukan harta karun yang luar biasa, berupa saksi hidup yang menyaksikan pembantaian brutal dari Wabah Kristal yang menyerang Kerajaan Fortenia.
...****************...
Baik, ayo periksa kembali semua hal yang terjadi dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Yang pertama, Noelle dan Tania akhirnya tiba di bekas ibu kota Kerajaan Fortenia. Semua kota dan desa di sekelilingnya sudah hancur, dan hanya bekas ibu kota ini yang tersisa.
Lalu berikutnya, saat hendak masuk, mereka langsung dihentikan oleh tombak yang tiba-tiba muncul, menyerng keduanya tanpa ampun.
Melawan tombak itu bukanlah masalah, karena Noelle telah menemukan keberadaan yang mengendalikannya. Namun, hal itulah yang justru membuatnya semakin kebingungan.
Rudra fi Tharika, seorang Kapten Kesatria Kerajaan Fortenia.
Secara biologis, tidak mungkin dia masih hidup di era ini. Waktu sudah sangat lama berlalu, dan tidak mungkin bagi manusia untuk hidup selama itu.
Tapi, sebenarnya ada jawaban yang mungkin bisa mematahkan pemikiran Noelle tersebut.
Rudra bisa saja sudah mati sejak lama, tapi entah bagaimana dia mampu bertahan hidup sampai sekarang. Entah dengan menjadi sosok undead atau semacamnya.
Menurut Noelle, itu adalah tebakan yang tepat. Karena jika memang itu benar, maka dia tidak akan ragu kalau Rudra memang sudah hidup sejak masa lampau. Bagaimanapun juga, undead tidak memiliki batas umur. Satu-satunya yang menghambat mereka adalah pengaruh luar yang mampu membunuh mereka dengan berbagai cara.
Tapi, apa itu mungkin? Noelle belum pernah mendengar kasus di mana seseorang berubah menjadi undead namun masih mempertahankan kesadaran mereka sepenuhnya. Sejauh yang dia tahu, undead hanya akan mempertahankan sedikit ingatan dan perasaan bawaan dari orang itu saat dia masih hidup.
Kasus yang Noelle ingat saat Olivia menceritakan kemunculan undead Ein, adik Charlotte yang telah tewas tetapi muncul kembali di Eisen sebagai seorang undead.
Meski sudah tergolong monster yang tidak berakal dan tidak berperasaan, Ein sempat membiarkan perasaan sejatinya keluar, dan memanggil Charlotte dengan sebutan 'kakak'.
Noelle membiarkan pikirannya berkeliaran saat Rudra sibuk mencari arti dari 'petualang'. Namun, karena dia tidak bisa menemukan jawaban pastinya, yang bisa Rudra lakukan hanyalah mengajukan pertanyaan.
"Aku tidak tahu apa itu petualang. Tapi, bisakah aku mengetahui tujuan kalian datng ke tempat ini? "
Itu pertanyaan utama. Sesaat setelah Rudra mengekuarkannya, Noelle telah memperhitungkan semua keuntungan dan kerugian dari menjawab pertanyaan Rudra, entah itu dengan jujur atau hanya sekedar berbohong.
Tapi yang jelas, menjawabnya dengan jujur akan menjadi pilihan yang sangat bagus. Rudra mungkin bisa sangat membantu dalam situasi ini, mengingat dia adalah seorang kesatria yang pernah melayani Ratu Clament.
Dan sebelum itu, Noelle harus mengajukan pertanyaan untuk verifikasi. Dia harus memastikan identitas sejati Rudra; bukan identitas personal, melainkan identitas dari jiwa dan jati dirinya sendiri.
"Sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya. Siapa ratumu? "
Itu adalah pertanyaan dengan jawaban yang sudah sangat jelas. Jika Rudra masih sama dengan dirinya yang dulu, maka tidak mungkin dia salah dalam menjawabnya.
Sepertinya Rudra juga memahami niat Noelle dalam memberikan pertanyaan. Dan mungkin karena itulah dia berusaha menjawab dengan tenang, meski dipenuhi kegelisahan karena pertanyaan itu seolah mempertanyakan kepada siapa Rudra memberikan kesetiannya.
Tidak ada yang salah dengan jawaban Rudra. Noelle mengangguk sekali seolah sudah memverifikasi identitas dari sosok berzirah di depannya.
Sekarang, setelah identitas Rudra dipastikan, ada satu hal yang harus Noelle lakukan sebelum bisa mengharapkan bantuannya.
Noelle meminta tempat yang lebih baik untuk berbicara, dan Rudra langsung membimbingnya masuk ke area ibu kota, dan tentu saja dengan diikuti Tania dari belakang.
Dan Noelle memang sudah memprediksi ini, tapi di dalam ibu kota benar-benar berbeda daripada saat dia masih di luar.
Untuk alasan yang tidak diketahui, tempat ini lebih hangat tetapi memiliki tekanan dan udara yang jauh lebih mencekam dari semua tempat di Hutan Dingin.
Kesan horor yang diberikan juga masih sangat kuat. Noelle yakin, jika dunia sudah memasuki era modern, maka tempat ini pasti akan sering dijadikan tujuan wisata bertema horor. Atau jika tidak, orang-orang akan menggunakannya sebagai tempat uji nyali.
Tania menyetujui ucapan Noelle dengan mengangguk sambil bergumam sedikit.
Tidak ada satu pun mayat yang tersisa, dan Noelle juga tidak melihat adanya pemakaman yang tersebar di seluruh tempat.
Tapi, itu adalah hal yang wajar. Meski ibu kota Fortenia adalah kota dengan populasi hampir 600 ribu orang, hampir tidak dibutuhkan satu pun lubang galian untuk pemakaman.
Itu karena fakta bahwa mereka meninggal bukan karena faktor normal, melainkan diubah menjadi kristal setelah terinfeksi oleh wabah.
"Tapi … aku tidak melihat ada satu pun bekas kristalisasi manusia."
Selain pilar yang menjulang tinggi ke langit, tidak ada satu pun kristal berbentuk manusia. Ini seolah wabah memang tidak pernah menginfeksi manusia mana pun.
Padahal, bukan seperti itu faktanya.
Suara langkah berat Rudra bergema di tengah jalanan kota yang kosong. Hampir tidak ada reruntuhan di sepanjang jalan, mungkin karena Rudra telah membereskannya. Meski begitu, yang Rudra bersihkan mungkin hanya kawasan yang sering dia lewati saja.
Sambil membimbing Noelle dan Tania ke tempat yang lebih baik, Rudra menjawab, "Itu karena semua manusia yang berubah menjadi kristal langsung menghilang setelah beberapa waktu."
Jika dideskripsikan secara jelas, semua pasien dari wabah ini akan mengalami kristalisasi di seluruh tubuh mereka. Dan setelah tidak ada lagi bagian tubuh yang tersisa, kristal itu akan bertahan untuk waktu sekitar satu minggu, sebelum akhirnya mengalami fenomena yang dikenal dengan sebutan 'menyublim'.
Rupanya, semua sisa partikel kristal dari para pengidap wabah ini berkumpul di suatu tempat, hingga akhirnya membentuk menara kristal raksasa.
"Mengerikan …."
Tania bergumam sambil memperhatikan semua menara kristal yang tersebar di seluruh bagian kota. Dia sadar betul dengan penjelasan lebih lanjut yang tidak Rudra ucapkan.
Bisa dibilang, masing-masing menara kristal itu merupakan akumulasi dari para korban yang gagal selamat dari wabah.
Setelah tubuh mereka sepenuhnya berubah menjadi kristal, itu akan menyublim dan partikelnya akan saling menempel di suatu tempat, dan menara itu muncul sebagai hasilnya.
Secara total, ada tiga belas menara yang tersebar di seluruh bagian kota ini.
Jika dihitung dari total populasi ibu kota Kerajaan Fortenia, maka setiap menara itu terbentuk oleh sekitar 46 ribu korban yang jatuh oleh wabah.
Itu jumlah kematian yang fantastis. Ibu kota Kerajaan Fortenia dapat dengan mudah memenangkan penghargaan 'konstruksi yang terbuat dari orang mati terbesar di dunia'.
Setelah beberapa menit perjalanan, Noelle dan Tania akhirnya sampai di tempat yang Rudra sarankan.
Itu tidak terlalu jauh dari pusat kota dan gerbang masuk. Wilayah di sekelilingnya bersih, tetapi masih ada reruntuhan bangunan yang tidak terurus.
Rudra membimbing keduanya untuk masuk ke sebuah reruntuhan yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk tempat untuk berteduh.
Noelle bertanya-tanya tempat apa ini sebenarnya, dan kenapa Rudra membawanya ke sini? Dan seolah membaca pikirannya, Rudra dengan sempurna menjawab, "Ini dulunya rumahku."
(Ahh, itu menjelaskan semuanya.)
Meski begitu, tempat ini benar-benar tidak layak untuk disebut tempat tinggal.
"Apa kau tidak memperbaikinya? "
Helm Rudra menggeleng, dan Noelle dapat merasakan tatapan pasrah yang entah bagaimana memberinya perasaan aneh.
"Aku ingin memperbaikinya. Aku ingin memperbaiki semuanya. Tapi, aku tidak sanggup. Melihat tempat ini secara utuh hanya akan membawakan rasa sakit yang mendalam untukku."
Dengan tangannya yang mengepal, Rudra melanjutkan, "Membiarkan semuanya seperti ini juga membuatku selalu ingat dengan apa yang terjadi. Dengan begitu, aku tidak akan kehilangan kewarasanku."
Jadi singkatnya, Rudra tidak membenahi tempat ini meski dia ingin karena 'sistem perlindungan dirinya' sendiri.
Pemandangan kehancuran inilah yang membuat Rudra selalu mengingat semuanya. Dan berkat itu, Rudra masih menjaga kewarasannya sampai saat ini.
Noelle mengerti itu dengan baik. Jadi dia tidak banyak bertanya dan langsung berbicara ke inti.
"Aku yakin kau akan sangat bingung dan terkejut, tapi tolong dengarkan sampai aku selesai."
Dengan Tania menonton dari pinggir, Noelle dan Rudra langsung mempersiapkan diri mereka masing-masing. Noelle sebagai pembicara, dan Rudra sebagai pendengar.
Noelle menjelaskan semuanya dengan sangat baik. Dia tidak meninggalkan satu pun detail. Dia benar-benar menceritakan kejujuran, yang bahkan membuat Tania sendiri terkejut saat melihatnya.
Penjelasan Noelle dimulai dengan menceritakan keberadaan suku Artof yang memuja sosok yang disebut sebagai Ratu Bengis. Dia kemudian menjelaskan kalau Ratu Bengis adalah orang yang sama dengan ratu Kerajaan Fortenia, yaitu Clament sil Fortenia. Sedangkan suku Artof adalah para penduduk yang berhasil melarikan diri dan selamat dari wabah.
Penjelasan kemudian beralih tentang kondisi Ratu Bengis dan suku Artof saat ini.
Sejauh penjelasan ini berjalan, Rudra duduk diam seperti patung. Noelle tidak yakin dia mendengarkan atau tidak, tapi dia hendak memeriksanya.
Noelle pun melambaikan tangannya di depan helm Rudra, yang kemudian langsung disambut dengan suara dingin olehnya.
"Apa? "
Mendapatkan jawaban dari Rudra, Noelle pun menarik kembali tangannya dan duduk seperti semula.
"Aku tidak tahu kau mendengarkan atau tidak, jadi aku memeriksanya."
Sulit untuk menebak wajah seperti apa yang Rudra miliki di setiap detiknya. Apakah dia selalu tersenyum? Atau merupakan karakter polos dengan raut muka yang sangat tegas. Noelle tidak bisa memastikan apakah Rudra masih hidup atau sebenarnya sudah mati di dalam zirah itu.
"Baik, ayo lanjut ke penjelasan."
Setelah teralihkan sejenak, akhirnya percakapan mereka bisa dilanjutkan.
"Aku datang ke tempat ini untuk mendapatkan tiga katalis yang dibutuhkan untuk membebaskan Ratu Bengis."
Noelle kemudian memberikan selembar kertas yang merupakan catatan barang apa saja yang harus dia kumpulkan.
Rudra menerima itu dan membacanya dengan seksama.
Tiara sang ratu.
Darah sang ratu.
Bendera Kerajaan.
Ketiga barang itu adalah hal yang paling dibutuhkan untuk saat ini.
Meskipun hanya berisi daftar pendek, anehnya Rudra memakan waktu yang sangat lana untuk memandanginya.
Selama beberapa menit, tidak ada reaksi. Tapi itu hanya beberapa menit sebelum Rudra akhirnya memberikan reaksinya.
Noelle bisa merasakan Rudra menghela napas berat di dalam zirahnya.
"Jadi begitulah tujuanku datang ke tempat ini. Apa pun yang terjadi aku harus menemukan semua katalis itu."
Setelah tidak mendapatkan balasan apa pun, Noelle akhirnya berhenti menjelaskan dan berdiri.
"Aku akan berkeliling untuk mencari semua katalis itu. Temui aku di luar kalau kau punya pertanyaan."
...****************...