[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 182: Absurditas (4)



...****************...


"Baiklah, ayo pikirkan cara untuk keluar dari sini."


Ketiganya duduk di lantai untuk menduskusikan cara agar bisa keluar.


Meskipun begitu, sudah hampir satu jam mereka duduk di sini, dan selama itu sama sekali tak ada solusi yang berhasil mereka dapatkan.


Ketiganya sudah beberapa kali berkeliling, tapi tetap tak menemukan apa pun. Hanya labirin tanpa ujung yang akan selalu membawa mereka ke titik awal.


"Siapa yang salah di sini? "


"Aku akan memilih Noelle dalam voting untuk menentukan siapa yang akan dihukum."


" … Aku juga."


"Hei, itu tidak adil. Kalian berdua, dan aku sendiri! Setidaknya pilihlah diri kalian masing-masing! "


"Kau gila, Noelle."


"Aku setuju."


"Ughh … "


Cryll dan Norman tentu saja akan menyalahkan Noelle yang menjadi penyebab mengapa mereka bisa ada di sini. Jika bukan karena harapan Noelle yang ingin mereka berdua ikut terjebak bersamanya, Cryll dan Norman pastinya sedang bersantai sekarang.


" " " …… Haaahhhhh … " " "


Ketiganya secara bersamaan menghela napas lelah, dan mulai mengingat semua hasil penyelidikan mereka.


Benar-benar tak ada apa pun, tak ada sesuatu yang penting untuk dilaporkan.


"Pada akhirnya … Kita tidak punya informasi apa pun, ya … "


"Setidaknya kita tahu kalau ini adalah tempat yang aneh."


" …… Kau tidak perlu mengatakannya untuk membuat semuanya jelas. Kami sudah tahu hal itu."


Norman berbaring di lantai dan menutup matanya sendiri. Lalu, dia tiba-tiba terbangun dengan ekspresi terkejut.


"Ada apa? "


Noelle bertanya untuk memastikan, tapi Norman tak menjawabnya, dia mungkin sedang berpikir keras sekarang.


Noelle dan Cryll saking menatap sejenak, dan kemudian mengangkat bahu dengan bingung.


Tak lama kemudian, Norman akhirnya tersenyum, tawa kecil keluar dari bibirnya, dan ia menatap Noelle serta Cryll yang duduk di hadapannya.


"Tidakkah kalian memikirkannya? Semua yang ada di tempat ini … Benar-benar di luar logika."


"Ya, tentu kami tahu itu. Lalu apa? "


"Bukan hanya itu maksudku. Kalian ingat, apa saja yang sudah kita lewati di dungeon ini? "


Begitu Norman mengatakannya, Noelle langsung membuka matanya dengan terkejut.


Dia sudah memahami maksud Norman, dan mulai memikirkannya secara serius.


" …… Aku mengerti … "


Butuh waktu lmyang lebih lama bagi Cryll untuk ikut memahaminya. Dia akhirnya mengerti maksudnya dan tanpa sadar tersenyum.


"Rintangan pertama, lorong panjang dengan batu. Kita terjebak di sana karena Cryll yang mengaktifkan perangkapnya, 'kan? Tapi, bukankah rasanya sangat aneh jika hanya ada satu perangkap yang aktif, sementara kita sudah menjelajahi semua bagian dari tempat itu? "


"Kau benar. Setelah itu, kita berhasil keluar dan entah bagaimana sampai ke tempat yang aneh itu. Pondok dengan taman aneh, sebuah pohon yang menumbuhkan buah berupa kepala manusia yang memakai topi penyihir … Rasanya aku pernah mendengar sesuatu tentang itu."


Cryll mengerutkan keningnya dengan tidak senang saat ia mencoba untuk mengingat. Sekeras apa pun ia mencoba, anehnya ia tak bisa mengingat sesuatu yang mungkin bisa menjadi kunci untuk keluar dari sini.


"Yang kau bicarakan itu mungkin sebuah dongeng. 'Petualangan Pangeran Alexander di Tanah Penuh Keanehan'. Kalau tidak salah, itulah judulnya."


Norman dengan cepat mengoreksi bagian yang tak dapat Cryll ingat.


"Itu dia! Tidak salah lagi, itu judulnya! "


Noelle tidak mengetahui apa pun tentang dongeng itu, jadi dia hanya bisa diam sambil memikirkan hubungan antara dongeng itu dengan situasi ini.


"Aku belum pernah mendengar apa pun tentang dongeng itu. Bisa kau ceritakan? " Noelle memiliki firasat tentang ini, jadi ia meminta Norman untuk menceritakannya lebih lanjut.


"Sebenarnya, aku sendiri tidak begitu mengingatnya. Pertama dan terakhir kalinya aku mendengar tentang dongeng ini adalah ketika ibuku menceritakannya padaku. Saat itu, usiaku 3 tahun."


Itu adalah usia yang di mana Noelle sendiri harus mempelajari dasar-dasar untuk pertarungan.


"Apa kau ingat isi ceritanya? "


Norman mulai bergumam sejenak, lalu kembali menatap Noelle. "Kalau tidak salah … Dongeng itu menceritakan tentang seorang pangeran yang terjebak di suatu pulau dengan banyak keanehan. Persis seperti judulnya. Pangeran berpetualang untuk mencari cara agar dia bisa kembali, dan di salah satu tempat yang dikunjungi pangeran, ada sebuah tempat yang memiliki pondok kecil disertai sebuah taman yang penuh dengan monster. Salah satu pohon yang ada di sana juga memiliki kepala bertopi penyihir yang muncul sebagai buahnya."


"Persis seperti yang kita lihat, ya … "


Noelle memasang tangannya sendiri di dagunya, dan mulai menghubungkan semua titik yang ada.


"Ada satu bagian yang kurang dari ceritamu, Norman. Itu adalah bagian di mana sang pangeran memasuki pondok itu, dan menemukan ruangan yang penuh dengan patung. Sama seperti yang kita temukan di sana."


"Kau benar, terima kasih sudah mengingatkanku."


" … Aku mengerti. Kita sudah memahami tentang tempat itu. Lalu … Apa yang terjadi selanjutnya? Sebuah lorong yang membawa kita ke tempat yang penuh dengan skeleton dengan senapan mesin? "


"Sayangnya, bahkan aku tidak ingat kalau ada bagian dari dongeng yang menceritakan tentang hal itu."


Baik Cryll maupun Norman hanya menggelengkan kepala mereka. Saat itu, Noelle telah membuat beberapa kesimpulan dasar, tapi ia masih butuh informasi lain untuk membuat keputusan akhir.


Mungkin ada cara untuk keluar dari tempat ini. Sebuah cara yang ia sendiri tidak pernah memikirkannya.


"Hmm? Tunggu sebentar. Norman, saat kita berlari untuk menghindari skeleton itu, kau mengatakan sesuatu, 'kan? Sesuatu seperti kau tidak pernah membayangkan kalau mimpi burukmu akan menjadi kenyataan. Apa itu ada hubungannya? "


"Kemungkinan, ya."


Norman langsung setuju tanpa memberikan penjelasan tambahan. Tentu saja, itu karena penjelasannya akan mengandung informasi yang tak boleh Cryll ketahui.


Untungnya, Noelle secara alami memahaminya.


Pada dasarnya, tidak mungkin sebuah dungeon akan memiliki satu batalyon skeleton yang menggunakan senapan mesin. Pasti ada pemicu yang membuat mereka memiliki senjata itu.


"Lalu … Tempat ini. Tidak salah lagi, ini adalah backroom yang pernah menjadi ketakutanku saat kecil," ucap Noelle sambil mengangguk.


Sekarang, semuanya sudah jelas.


Ketiganya saling menatap dan sepakat pada kesimpulan yang mereka buat.


"Tempat ini, memproyeksikan ingatan kita dan memanfaatkan itu untuk dijadikan senjata yang akan melawan kita sendiri."


Itulah kesimpulan akhir yang mereka dapatkan.


...****************...


"Uhh– Percuma aku tidak bisa memikirkan cara apa pun untuk bisa keluar … "


Cryll memegangi kepalanya sendiri dengan frustasi ketika menyadari jalan buntu yang menghalanginya.


Sudah dua jam, dan mereka belum menemukan solusi apa pun, bahkan setelah mereka mencapai kesimpulan akhir.


"Kurasa ini percuma … Jika bensr ini adalah backroom yang berasal dari ingatan Noelle, maka akan sulit untuk menemukan jalan keluar."


Norman menunduk dan menghela napas pasrah sambil memainkan jarinya di lantai.


"Sebenarnya … Aku punya satu cara yang mungkin berhasil."


"Ya, ya. Kau mengatakan itu. Kau sungguh punya cara? Heh– Tunggu, kau punya cara untuk keluar? "


Cryll segera mengganti ekspresi wajahnya menjadi salah satu ekspresi yang bisa disebut sebagai 'bersemangat'.


"Noelle, benarkah itu? Katakan saja jika kau punya."


Norman san Cryll mendesak Noelle untuk memberi tahu mereka, tapi Noelle benar-benar ragu untuk itu.


Karena, ia sendiri juga ragu apakah cara ini bisa dilakukan atau tidak.


Noelle mengeluarkan pedang hitamnya—Langen—pada keduanya. Langen saat ini memiliki bentuk seperti pedang tradisional yang disebut 'chokuto'. Bentuknya lurus, dan bilahnya ramping.


Ketika melihat pedang itu, reaksi yang berbeda keluar dari mereka berdua.


Cryll membuat ekspresi yang seolah ia sudah mengerti maksud Noelle, sedangkan Norman kelihatannya masih membutuhkan penjelasan untuk itu.


Noelle tak berniat untuk memberi tahu Nornan tentang kekuatan pedangnya, tapi ia tak memiliki pilihan lain sehingga ia harus membocorkannya sedikit.


"Pada intinya, pedang ini memiliki kemampuan untuk 'menebas dan memotong segalanya'. Aku berencana untuk menggunakan kekuatan itu supaya kita bisa membuat jalan keluar."


Norman masih tidak mengerti dengan penjelasan Noelle. Dia memahami kekuatannya, tapi ia tidak mengerti mengapa sebuah pedang bisa memiliki kekuatan seperti itu.


Meskipun begitu, mengabaikan rasa penasarannya sendiri, Norman bertanya. "Caranya? "


Meresponnya, Noelle menjawab, "Kau ingat caraku bisa masuk ke sini? Saat itu, aku sedang bersandar pada dinding, 'kan? Nah, setelah aku 'tertelan' ke dalam dinding, aku keluar dari dinding lain yang ada di sini."


"Jadi … Kau berniat untuk memotong dinding tempatmu keluar sebelumnya? "


"Kau benar. Dengan begitu, aku harap setidaknya kita akan menemukan jalan keluar."


"Baik, ayo kita coba cara itu! "


Cryll segera berdiri dan menatap Noelle dengan penuh penekanan. "Kau yang sudah melibatkan kami ke dalam hal ini, karena itulah kau juga yang harus mengeluarkan kami. Jangan khawatir, kami akan membantu jika kau butuh bantuan."


Cryll mengulurkan tangannya pada Noelle, yang kemudian direspon oleh Noelle dengan tersenyum sambil meraih tangannya.


Dengan dibantu Cryll, Noelle segera berdiri. Dia pun berbalik menghadap dinding yang menjadi titik awal kemunculannya.


Noelle kembali memasukkan Langen ke dalam sarungnya yang ada di pinggan, lalu berakih ke posisi kuda-kuda yang siap untuk menarik pedang itu kapan saja.


Tangan kirinya menahan sarungnya, dan tangan kanannya sudah siap di atas gagang. Noelle memperhitungkan detak jantungnya, dan mulai menarik napas untuk menenangkan diri.


Dalam benaknya, ia memerintahkan dirinya sendiri untuk memberikan satu tebasan yang sangat kuat sehingga akan menghancurkan semua yang menghalangi. Dan untuk melakukan itu, ia butuh persiapan yang matang.


Setelah hampir satu menit diam tak bergerak dalam posisinya, Noelle langsung membuka matanya, dan dalam sekejap meraih gagang pedang Langen dengan tangan kanannya.


Tenaga dalam jumlah besar dialirkan ke tangan kanannya yang menggenggam gagang pedang, sementara tangan kirinya menarik sarung pedang itu sedikit ke belakang sehingga akan menghasilkan gesekan yang kuat antara bilah pedang, dengan pinggiran sarung.


Suara siulan yang dihasilkan itu berlangsung selama tidak lebih dari satu detik, tapi gerakan yang Noelle lakukan jelas melebihi suara itu sendiri.


Tanpa diketahui siapa pun, bilah pedangnya sudah ada secara diagonal di atas kepalanya sendiri.


Noelle sudah memberikan tebasannya, dan kini pedangnya berada di atas karena posisi tangannya.


Tebasan yang ia berikan adalah jenis tebasan diagonal, dan bekas yang ada pada dinding itu juga menggambarkannya dengan sangat jelas.


"?! Gawat, itu belum cukup! "


Cryll berteriak ketika menyadari bekas tebasan di dinding perlahan menghilang. Itu aneh, tebasan dari Langen seharusnya sudah cukup untuk melubangi dinding itu, tapi kenapa itu bahkan tak sanggup untuk menembus sebuah dinding?


Begitu menyadari alasannya, Cryll langsung melebarkan matanya dengan terkejut.


Ia ingat, kalau kekuatan senjata bintang, akan sangat dipengaruhi oleh pikiran dan keadaan emosional penggunanya.


Sama seperti kekuatan petir dari Geist yang akan mengamuk ketika Cryll dalam keadaan emosi yang tak stabil, mungkin pedang Noelle memiliki masalah yang sama dengannya.


Pedang yang seharusnya mampu memotong segalanya, menjadi sangat tumpul dan bahkan tak dapat menebas sebuah dinding. Hanya satu alasan yang bisa Cryll pikirkan.


"Noelle! Jangan ragu dengan kekuatanmu sendiri! Itu justru akan melemahkannya! Yakinlah! "


Cryll tidak tahu apakah kata-katanya berhasil memasuki telinga Noelle atau tidak, tapi ia benar-benar berharap kalau itu bisa mencapainya.


Dan hasilnya, sesuai yang ia harapkan.


Noelle kembali memberikan satu tebasan secara diagonal ke bawah dengan Langen, tapi kali ini tebasannya dengan mudah menembus dan memberikan dampak yang lebih besar dari serangan sebelumnya.


Sebuah lubang tercipta, tapi itu masih terlalu kecil bagi mereka untuk keluar, dan dinding juga terus memulihkan dirinya sendiri seperti tak membiarkan mereka pergi.


"Sekali lagi! Noelle! "


Kali ini Norman berteriak, membantu Noelle dengan cara melemparkan kerikil dengan akselerasi pada lubang yang tercipta itu.


Kerikilnya menancap dan terpaku di sana, tapi Norman langsung memasang senyumnya.


Itu tak sia-sia. Begitulah pikirnya.


Noelle kembali memberikan tebasan, dan kerikil yang sebelumnya Norman tembakkan itu dengan mudah terbelah. Tapi, pecahan dari kerikil itu justru masuk semakin dalam ke lubang di dinding.


Lagi, dan lagi, tebasan yang Noelle keluarkan otu tanpa henti merobek dinding, dan berusaha menghancurkannya.


Cryll sudah mengetahuinya. Kekuatan Langen, akan dipengaruhi oleh seberapa besar kepercayaan Noelle pada senjata itu.


Karena itulah, semakin tinggi kepercayaan Noelle, semakin besar pula dampak tebasan yang dihasilkan.


Hingga akhirnya, tebasan terakhir, sebuah tebasan yang diberikan secara vertikal dari atas ke bawah itu berhasil menembus dan membuka lubang yang cukup besar pada dinding.


"Bagus! "


Cryll tersenyum dengan penuh semangat saat melihat lubang itu. Ukurannya sudah cukup bagi dirinya dan semua orang untuk keluar, jadi itu seharusnya cukup. Tapi, Noelle tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dia bersiap memberikan tebasan lain, tapi Cryll tak berniat untuk memberinya izin.


Cryll bersama Norman langsung berlari menghampiri Noelle. Norman meraih kerah baju Noelle, dan menariknya keluar melalui lubang itu, menyusul Cryll yang sudah lebih dulu keluar.


Serangan yang akan Noelle berikan sebelumnya tak jadi dikeluarkan, dan kini Noelle dengan bingung memperhatikan sekelilingnya.


"Apa yang terjadi? "


Pemandangannya tiba-tiba berubah, begitulah menurut pandangan Noelle.


"Kau … Tidak ingat apa pun tentang yang terjadi sebelumnya? "


Atas pertanyaan Cryll, Noelle dengan ringan menggelengkan kepalanya. Jelas kalau dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi, melihat dari reaksi Cryll dan Norman, Noelle secara alami sadar kalau ada sesuatu yang baru saja ia lakukan, dan itu membuat mereka berdua terkejut.


Namun, meskipun begitu, Noelle tak dapat mengingat apa yang ia lakukan itu.


" … Serius? Kau melakukannya tanpa sadar? "


Jika bukan karena reaksi Noelle yang alami, Cryll mungkin tidak akan percaya pada apa yang dia katakan.


Kekuatan tebasan Langen bergantung pada seberapa tinggi kepercayaan penggunanya pada pedang itu. Jika hipotesisnya itu benar, maka tak mungkin bagi Noelle untuk memberikan serangan sekuat itu ketika dirinya sedang tidak dalam kondisi sadar.


Kecuali, jika ia memang sudah mempercayai dan meyakini kekuatan Langen dari alam bawah sadarnya. Tapi Cryll yakin kalau alasannya pasti bukan itu. Noee sebelumnya dengan jelas menunjukkan kelemahannya dalam hal menebas, tidak mungkin ia tiba-tiba menjadi kuat karena kepercayaannya yang bangkit di saat dirinya sedang tidak sadar.


Sebagai konfirmasi, Cryll menoleh pada Norman, tapi Norman hanya memberinya celengan singkat. Dia juga tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


" ………… Baiklah, kurasa kita bisa melupakannya untuk sejenak. Sekarang, kita bisa memikirkan apa yang akan kita lakukan selanjutnya."


Cryll memutuskan menyimpan topik itu untuk nanti. Dan sekarang, dia kembali fokus pada sekelilingnya.


Pemandangan telah sepenuhnya berubah. Sudah bukan ruangan yang dipenuhi oleh labirin tak berujung, melainkan sebuah gua dengan batu kemerahan yang menghiasinya.


Suhu di sana lebih panas dari tempat sebelumnya, jadi mereka bertiga secara alami mengetahui ada di mana mereka sekarang.


Meskipun, itu terasa sangat tidak masuk akal.


" …… Kenapa bisa ada gua api dengan banyak lahar di dungeon bawah laut? "


(Kurasa itu alami.)


Noelle hanya bisa menghela napas lelah setelah tersenyum masam sejenak.


Dia berjalan menghampiri Cryll, dan melihat situasinya.


Sekarang, mereka sedang berdiri tepat di pinggir tebing. Apa yang ada di bawah sana, adalah kolam yang penuh dengan lahar panas.


Tapi, bukan itu yang menjadi perhatian mereka.


Itu adalah segerombolan ikan berkulit sekeras batu yang terlihat sedang berenang ke sana dan ke mari di area kolam lahar.


"Setelah backroom, sekarang neraka, huh … Aku ingin tahu, ingatan siapa yang diproyeksikan kali ini."


...****************...