![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Kembali ke beberapa saat yang lalu.
–Wilayah kantor utama departemen keamanan kota.
Lucia yang menggunakan setelan biarawati itu berjalan dengan tenang melewati semua orang yang berkeliaran di jalanan malam. Beberapa dari mereka tampak berjalan dengan sempoyongan, dan memiliki bau alkohol yang sangat menyengat dari mulut mereka.
Meskipun begitu, Lucia tampak tidak terpengaruh dan terus berjalan melewati mereka semua. Dengan senyum keci di bibirnya, ia berhenti berjalan ketika melihat sebuah bangunan besar dengan beberapa menara dan tembok batu besar di hadapannya.
Topeng hitam dengan corak emas yang diberikan Ethan padanya sebelumnya tidak ia gunakan, hanya terlampir dengan santai di bagian pinggangnya.
Lagi pula, hampir tak ada alasan bagi Lucia untuk menggunakan topeng itu. Sejak awal, Lucia tidak berniat untuk menutupi identitasnya, dan juga, menggunakan topeng justru akan menyusahkan untuk kemampuannya nanti.
Kain yang biasanya menutupi bagian atas kepala hingga pinggangnya itu kini sudah tidak terlihat, membuat rambut kepangan besar berwarna rami dengan campuran perunggu yang panjangnya dapat mencapai pinggang itu jadi terlihat dengan sangat jelas.
Disertai dengan kain hitam yang menutup kedua matanya, penampipan Lucia sudah cukup untuk membuatnya memancarkan hawa kehadiran yang sangat kuat. Namun, anehnya tak ada seorang pun yang mempedulikan kehadirannya.
Lucia hanya tersenyum dan berjalan memasuki bangunan yang tampaknya menjadi kantor utama departemen keamanan itu.
"Permisi … "
Begitu Lucia membuka gerbang besar yang menghalangi jalan masuknya itu, kehadirannya menjadi semakin kuat dan mulai menarik perhatian semua orang di sana, baik yang sedang di luar, maupun yang di dalam.
"?! Siapa kau?! "
Salah satu pria dengan setelan militer lengkap yang pertama kali menyadari kehadiran Lucia berteriak dengan penuh antisipasi padanya. Meskipun begitu, Lucia tampak tak terkejut dan lanjut berjalan memasuki gedung, hingga akhirnya ia sampai di hadapan pria yang berteriak itu.
"Maaf karena sedikit tiba-tiba, tapi … Bisakah kalian mati? "
Ucapannya yang tiba-tiba itu sudah cukup untuk membuat semua penjaga yang ada langsung mengeluarkan senjata mereka dengan antisipasi.
Meskipun dikelilingi oleh niat membunuh yang sangat kuat dari semua sisi, Lucia tampak tidak panik dan terus tersenyum sambil perlahan melepaskan ikatan kain yang menutupi matanya.
"Apa yang kau lakukan di sini brengsek?! Hei, kalian! Cepat singkirkan orang aneh ini! "
"Y-ya! "
Begitu pria itu berteriak dengan penuh amarah, beberapa prajurit bersenjata langsung mendatangi Lucia dengan mengarahkan ujung tombak mereka padanya.
Tapi itu percuma. Sudah terlambat.
Kepala pria yang memberikan perintah itu segera meledak begitu menatap mata Lucia yang telah lepas dari kain hitam itu.
Udara membeku. Semua orang di sana, kecuali Lucia bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Tak ada satu pun dari mereka yang mengerti situasi apa yang mereka hadapi saat ini.
"Salah satu penyumbang yang cukup berpengaruh dalam penciptaan senjata malaikat, Tuan Viscount Marcus sera Choda. Target sudah dihabisi."
Suara konstan tanpa nada dari Lucia itu sudah cukup untuk memberikan getaran yang berbahaya tentang dirinya.
Sesaat kemudian, salah satu penjaga akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi, dan mulai berteriak, "Bajingan! Apa yang kau lakukan pada Tuan! Kalian! Habisi pelacur itu! "
Begitu perintah diberikan, prajurit yang tersisa akhirnya kembali tersadar, dan mulai menyerang Lucia dengan senjata yang mereka miliki.
Namun, itu semua juga percuma. Kepala mereka langsung meledak bahkan sebelum ujung senjata mereka mencapai tubuh Lucia.
Alarm peringatan segera berbunyi, dan puluhan penjaga lain yang tampak tidak mengerti dengan situasinya mulai berdatangan.
Senyum Lucia semakin melebar. Ia berbalik dan menatap semua orang dengan 'mata dewa' yang ia miliki.
Rupanya, di balik kain hitam yang selama ini menutupi matanya, terdapat sepasang mata yang tampak sangat indah.
Mata dengan warna emas terang yang indah, dan memiliki jutaan lingkaran sihir dengan pola dan sigil yang berbeda itu memiliki ukuran mikro yang saling tumpang tindih. Itu adalah apa yang disebut 'Mata Dewa'.
Awalnya matanya sama seperti kebanyakan manusia. Namun, berkat kemampuan mata dewa yang semakin kuat seiring berjalannya waktu, satu per satu lingkaran sihir aneh mulai terbentuk di matanya. Jumlahnya sudah tak bisa dihitung lagi sejak setahun setelah pola itu muncul.
Lucia melebarkan matanya dan menatap semua orang di sana dengan senyum yang aneh. Seketika, deretan sigil aneh dengan pola yang tidak diketahui langsung muncul di udara, menciptakan sesuatu seperti sebuah sangkar yang sepenuhnya mengurung kantor departemen keamanan.
Itu adalah salah satu kemampuan yang Lucia dapatkan ketika 'mata dewa' mulai berkembang.
"《Sentinia》"
Deretan sigil aneh mengalir keluar dari lingkaran sihir emas yang muncul di sekitar Lucia. Deretan sigil itu kemudian melayang menuju barisan prajurit yang berniat menyerangnya.
Deretan sigil itu menghilang begitu menyentuh kepala para prajurit, tenggelam ke dalam kepala mereka.
"A-apa ini?! "
"Ti-tidak! Berhenti! Kepalaku! "
"A-apa … Informasi ini?!! "
Deretan informasi yang tak terhitung jumlahnya mulai memasuki otak mereka, dan membuat mereka merasakan sakit yang luar biasa.
Sebagian orang di sana sudah dibuat gila dengan deretan informasi yang mengalir memasuki otak mereka, dan tak butuh waktu lama hingga kepala mereka meledak seperti balon.
Ini adalah jenis serangan psikologis terkuat yang dimiliki oleh Lucia. Kemampuan ini ia dapatkan sebagai hasil dari perkembangan yang dialami mata dewa miliknya.
Hanya dengan mengucapkan satu kata mantra, deretan informasi yang tak terhitung jumlahnya akan langsung memasuki kepala targetnya sekaligus.
Secara alami, otak manusia normal tak dapat menahan deretan informasi yang tiba-tiba saja memasuki otak mereka. Dalam kasus tertentu, akan ada orang yang berhasil bertahan dari itu, meskipun pada akhirnya ia mungkin harus mengalami koma panjang dan kehilangan semua ingatannya.
Kondisi terburuk yang akan dicapai oleh seseorang ketika menerima semua informasi itu bukanlah kegilaan, melainkan kematian. Kepala mereka akan langsung meledak seperti yang dialami oleh beberapa orang di sana.
Meskipun kemampuan ini sangat kuat, tetap ada persyaratan yang harus dipenuhi Lucia untuk menggunakannya. Yaitu, ia harus menatap langsung mata targetnya. Jika tidak, kemampuannya tidak akan aktif.
"Hmm? Sepertinya ini masih belum cukup untuk menghabisi kalian semua sekaligus, ya? "
Lucia membuat gerakan berpikir sejenak, lalu menjentikkan jarinya.
"《Petrilapus》"
Asap hitam mulai keluar dari telapak tangan kanannya, bersamaan dengan lingkaran sihir kecil yang muncul di depan matanya. Segera, asap hitam itu menyelimuti tubuh semua orang yang berteriak dalam kegilaan.
Perlahan, tubuh mereka mulai berhenti bergerak dan diam membatu dengan posisi berdiri.
"Ini sedikit terlalu mudah … "
Lucia tidak menghilangkan senyumnya, dan berjalan keluar gedung dengan meninggalkan puluhan orang yang sudah membeku menjadi batu di sana.
"Sekarang … "
Lucia mengayunkan lengannya sedikit, dan melemparkan sesuatu berbentuk tabung kecil ke dalam gedung itu.
Seketika, sebuah ledakan besar terjadi dari bagian dalam gedung, menciptakan kobaran api yang luar biasa kuat.
Gelombang kejut yang dihasilkan ledakan itu sudah cukup untuk membuat Lucia terdorong sedikit, dan hampir kehilangan keseimbangannya, tapi entah bagaimana dia bisa mempertahankan posisinya, dan berbalik ke belakang.
Tepat di belakangnya, ada sosok yang sudah ia duga akan datang kemari.
"Lama tidak bertemu, Voyager ke-empat, Olpus. Bagaimana kabarmu? "
Pria itu—Olpus, mengerutkan keningnya, dan menatap Lucia dengan raut wajah penuh kebencian.
"Lucia Khora … Apa kau mengkhianati kami? "
...****************...
Noelle berlari menyusuri lorong panjang yang dipenuhi dengan pasukan bersenjata. Dengan mudahnya ia melempar salah satu pedang kembarnya, dan membiarkan itu berputar seperti baling-baling ke arah musuh.
Bilah pedang kembar yang ia lempar itu dengan mudah menembus pertahanan dan memotong leher semua orang yang dikenainya.
Noelle memanfaatkan kesempatan itu, dan mengubah pedang itu kembali menjadi bentuk darah yang pada akhirnya ia padatkan lagi menjadi puluhan duri tajam.
Duri darah itu dengan mudah terbang dan menembus leher semua orang yang disentuhnya, lalu kembali berkumpul menjadi pedang yang sama seperti tadi.
Pedang itu kemudian kembali ke arah Noelle seperti ada sebuah benang yang menghubungkan keduanya.
"Si-sial! Habisi dia!! "
Salah satu penjaga yang berhasil selamat dari serangan itu berteriak dengan panik. Ia melemparkan beberapa belati tajam tepat ke arah Noelle, namun Noelle dengan mudah menghindari sebagian belati itu, dan menangkap salah satunya, sebelum akhirnya ia lemparkan kembali ke pemilik aslinya.
Belati yang Noelle lemparkan itu dengan mudah menembus tengkorak penjaga yang sebelumnya berteriak dengan panik itu.
"Kalian terlalu bodoh. Kenapa kalian tidak lari saja? Urusanku bukan dengan kalian."
Suara dingin yang terdengar seperti tanpa emosi dari Noelle itu bergema di lorong panjang yang dipenuhi dengan mayat dan genangan darah.
Semua orang yang berhasil selamat di sana juga dalam keadaan yang tak pantas untuk dilihat. Masing-masing dari mereka tampak gemetar sambil memegangi senjata mereka masing-masing, dan celana mereka juga basah karena kepanikan yang mereka alami.
Topeng yang Noelle gunakan itu kini memiliki banyak bercak darah kering, dan darah segar di seluruh bagiannya, membuatnya tampak mengotori pola warna violet yang indah itu.
Di sisi lain, rambut Noelle juga tampak ternoda dengan warna merah darah yang menjijikkan.
"Aku benci bau ini … "
Mengatakan itu, Noelle segera menghadap ke salah satu dinding yang ditutupi oleh pelat logam, dan langsung menendangnya dengan sekuat tenaga.
Berkat kekuatan fisik yang ia miliki sebagai seorang vampir, dinding yang dilapisi menggunakan pelat logam itu dengan mudah hancur dan membentuk suatu jalan keluar dari lorong panjang yang tak berujung ini.
"Aku tahu kalian di sana."
Noelle dengan tenang dan tanpa terburu-buru berjalan memasuki 'ruangan' itu, dan melihat seisinya.
Hanya ada ruangan kantor yang berantakan. Meja dan kursi yang hancur, kertas dokumen berserakan di semua tempat, serta dinding lainnya yang tampak dilapisi dengan pelat logam juga.
Noelle mencoba menendang bagian dinding itu. Namun, tak peduli berapa kali ia mencoba menendang, dinding itu tetap tidak hancur.
Noelle memperhatikan sekelilingnya dengan gelisah, dan tak menemukan seorang pun di sekitar. Itu situasi yang bagus.
Partikel cahaya gelap mulai berkumpul di tangannya, dan membentuk suatu pedang panjang hitam pekat yang dihiasi dengan liontin kecil di gagangnya.
Itu adalah Langen. Noelle baru saja mengambilnya dari penyimpanan spasial miliknya.
Noelle mengayunkan pedang itu, dan menebas tepat ke arah pelat logam. Dengan mudah, bilah tajam pedang itu menembus pelat logam yang bahkan tidak bisa dia hancurkan dengan kekuatan fisiknya sendiri.
"Ini cukup tebal … "
Noelle semakin menancapkan pedangnya, dan mengayunkannya dengan berbagai pola.
Dinding itu seketika hancur mengikuti pola tebasan yang dilakukan Noelle. Noelle seketika kembali memasukkan Langen ke dalam gudang spasial, lalu memasuki ruangan yang ada di balik tembok itu.
"Jalan bawah tanah, ya? "
Terdapat tangga menurun yang sangat panjang di hadapannya saat ini. Beberapa serpihan kayu dan batu yang tersisa di tangga itu menjadi jejak-jejak kehidupan yang berada di tempat ini beberapa saat yang lalu.
Dari posisinya, Noelle bisa merasakan beberapa hawa kehadiran yang berasal dari bawah sana. Yang artinya, kemungkinan targetnya ada di sana cukup tinggi.
Noelle berjalan menuruni tangga itu tanpa merasakan apa pun di hatinya. Atau setidaknya itulah yang terjadi, tepat sebelum tubuhnya merasakan dampak yang sangat luar biasa sehingga membuatnya terpental jauh ke belakang, menembus dan menghancurkan semua bangunan yang ditabrak punggungnya.
Gumpalan darah dan udara dari paru-parunya memaksakan diri mereka untuk menyelinap keluar dari mulutnya begitu ia merasakan bidang datar dari sebuah dinding logam besar yang menghentikan tubuhnya dari terpental lebih jauh.
Kemampuan berpikir Noelle yang biasanya cepat anehnya tak dapat memindai situasinya saat ini. Noelle melebarkan matanya dengan bingung dan berusaha memperbaiki posisinya di tanah, dan melihat ke arah depan, ke sosok yang menjadi penghalangnya.
Dinding logam tempat ia menabrak sebelumnya telah penyok, dan tampak akan hancur kapan saja, tapi Noelle terlihat seperti tidak menerima dampak apa pun selain gelombang kejut yang menggelitik organ dalamnya.
"Ya ampun, aku baru meninggalkan tempat ini sebentar, tapi aku tidak menyangka kalau akan ada orang yang berani berbuat sampai sejauh ini."
Meskipun jarak asal suara itu sudah cukup jauh dari posisinya, Noelle masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas seolah suara itu datang langsung dari sisinya.
"Haruskah aku menyambutmu? Kalau begitu … Selamat datang, Tuan penyusup bertopeng aneh. Semoga Knight of Round: Lucius Roux yang rendahan ini bisa menjadi seorang tuan rumah yang baik untukmu."
Dia, yang berdiri dengan angkuh, dan memiliki pedang besar di punggungnya, menatap Noelle dengan senyum dingin di wajahnya.
...****************...
—Kantor cabang Departemen Administrasi Publik.
Tempat ini memiliki jarak yang tidak begitu jauh dari lokasi Noelle. Namun, perbedaan suasana yang mengalir di udara benar-benar berbeda sepenuhnya.
Tidak ada satu pun suara yang muncul di sini. Hanya ada keheningan total.
Tak ada satu orang pun yang dapat dilihat di lokasi itu. Tentu saja, dengan sosok Colyn sebagai pengecualian.
Bantal malasnya yang berukuran besar itu mengambang di udara dengan tenang, sementara orang yang berbaring di atasnya hanya menatap bangunan besar yang ada di hadapannya dengan mata malas.
Colyn yang tubuhnya tampak menggigil beberapa kali itu meremas erat jubah yang diberikan Asher padanya.
Di bagian samping kepalanya, terdapat sebuah topeng putih dengan corak berwarna merah muda yang terlihat cantik. Colyn sengaja tidak menggunakan topeng yang diberikan Ethan itu untuk menutupi wajahnya. Lagi pula, itu percuma.
Wajahnya sudah terlihat dengan sangat jelas ketika ia berkunjung ke Eisen sebagai bala bantuan.
Colyn menunjukkan ekspresi melankolis ketika ia menatap bangunan besar itu. Sama sekali tidak ada tanda kehidupan yang datang dari sana.
Itu tentu saja, lagi pula, semua orang yang sebelumnya berada di tempat itu, telah ia musnahkan sepenuhnya tanpa sisa.
Jika dibandingkan dengan pertarungannya melawan Nix Regina, melawan kerumunan manusia bersenjata sama sekali bukan masalah untuk Colyn.
Ia hanya perlu menatap mereka sedikit, dan sosok mereka akan segera menghilang dari hadapannya.
"Sekarang … "
Colyn menghela napas lelah, dan berganti posisi menjadi duduk di atas bantalnya.
"Kurasa aku harus melenyapkan yang ini juga."
Mengatakan itu, Colyn mulai melambaikan tangannya.
Hanya dengan satu gerakan kecil itu, gedung administrasi berukuran besar yang sebelumnya dapat menampung manusia dengan jumlah lebih dari 100 orang itu seketika lenyap dari tempatnya.
Benar-benar lenyap tanpa sisa. Seolah, gedung itu memang tidak pernah ada di sana sejak awal.
...****************...
—Kantor pusat Departemen Administrasi Publik.
Sosok yang tampak kekanak-kanakan itu berdiri sendirian di atas tumpukan mayat yang terbunuh dengan berbagai cara.
Ethan mengeluarkan senyum cerah yang tersembunyi di balik topengnya, dan menoleh ke arah para prajurit bersenjata yang masih tersisa di hadapannya.
"Sekarang … Ayo kita bersenang-senang lebih lama! "
Ethan melebarkan kedua tangannya, dan puluhan kartu remi dengan masing-masing lambang sekop, hati, semanggi, dan berlian itu keluar dari lengan bajunya, dan terbang dengan mengarah langsung ke arah para prajurit yang tersisa.
Meskipun yang Ethan keluarkan itu hanya tampak seperti kartu remi biasa, semua prajurit itu tampak ketakutan dan terlihat seperti memiliki trauma tersendiri terhadap kartu itu.
Itu tidak heran, lagi pula, semua rekan mereka yang bertarung bersama mereka sebelumnya, tewas seketika begitu kartu yang dikeluarkan Ethan menyentuh mereka.
"T-tidak! Berhenti! Ja-jangan kejar aku lagi! Kumohon! "
Salah satu prajurit itu terjatuh dan memohon kepada Ethan dengan raut wajah penuh ketakutan. Namun, ekspresi Ethan yang tersembunyi di balik topengnya itu masih tersenyum lebar.
"Itu tidak mungkin! Setelah kartuku dilemparkan, aku tidak akan bisa menghentikannya! "
Dan seolah menjadi penutup untuk ucapan Ethan, salah satu kartu itu berputar dan terbang langsung ke arah leher prajurit itu, dengan mudah menembus lehernya.
"Seorang bartender yang baik harus bisa memainkan beberapa trik keren untuk menghibur pelanggan! Karena itu! Aku akan menghibur kalian! "
Ethan melompat dari tumpukan mayat itu, dan mengejar prajurit yang tersisa dengan sebuah tongkat pendek di tangannya.
...****************...
—Area pabrik produksi, gedung A-1.
Tania melemparkan sabitnya secara horizontal menuju deretan golem yang terus bekerja tanpa lelah di tengah malam.
Sabitnya itu dengan mudah menembus dan memotong semua kristal sihir yang menjadi inti sumber kehidupan mereka.
Dalam sekejap, sebaris golem batu yang tadinya tanpa henti bekerja untuk menyortir barang, kini tergeletak di lantai dengan bagian tubuh yang berhamburan.
『Aku belum pernah mengunjungi Ibukota kerajaan sebelumnya, tapi … Aku tidak menyangka kalau tempat ini akan dikelola oleh para golem siang dan malam.』
Suara dengan nada heran, sekaligus kagum itu datang dari Navi yang sedang memperhatikan situasi sekitarnya dengan mata Tania.
"Ini … Mudah."
『Jangan lengah, Tania. Berapa kali aku harus memperingatkanmu, kau tidak boleh lengah ketika kau berada di wilayah musuh.』
Navi masih berisik seperti biasa. Sikapnya itu sangat tidak cocok dengan Tania yang tidak mau banyak berbicara. Namun, Tania entah bagaimana bisa bertahan dengan perbedaan sikap itu selama bertahun-tahun.
Saat ia memalingkan wajahnya guna memeriksa situasi di tempat lain, Navi kembali berbicara, 『Yahh, ini memang sedikit terlalu mudah. Tempat ini hanya memiliki sedikit penjaga, dan petugas produksi di sini hanyalah kumpulan golem bodoh tak berotak yang tidak peduli dengan situasi di sekitar mereka. Kita bisa menyelesaikan ini dengan cepat.』
" ……… "
Tania lagi-lagi menyiapkan sabitnya, sebelum ia akhirnya melemparkan itu ke arah deretan golem lainnya yang masih terus bekerja tanpa henti.
Semua penjaga yang mengawasi jalannya proses produksi ini sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. Tentu saja, itu karena Tania sudah membunuh mereka lebih dahulu.
Sabit yang telah ia lemparkan itu kembali ke tangannya, dan Tania langsung berbalik, berniat meninggalkan bangunan ini, dan lanjut mengeksekusi bangunan lain.
Tentu saja, setelah ia menghancurkan semua alat-alat produksi yang sebelumnya digunakan oleh para golem.
Navi mengetahui semua yang Tania lakukan, tapi tetap saja ia merasa bingung dengan satu hal.
『Dilihat dari mana pun, mereka hanya memproduksi makanan. Bagaimana mungkin tempat ini akan menjadi salah satu lokasi yang akan menjadi sumber bencana di masa depan? 』
" … Senjata malaikat … "
『Tentu aku tahu itu. Aku tahu semua yang kau tahu. Hanya saja, aku masih tidak percaya dengan rencana aneh untuk menciptakan 'senjata malaikat' itu.』
—Senjata malaikat. Itu adalah kode nama untuk suatu senjata yang akan membawa bencana besar dalam kehidupan semua anggota Asterisk di masa depan.
Berkat ramalan yang diberikan kristal itu pada mereka, mereka akhirnya bekerja sama untuk menghancurkan semua jejak dari penciptaan senjata itu.
『Meskipun itu disebut senjata … Kita bahkan masih belum tahu seperti apa bentuknya. Gambaran masa depan yang diberikan kristal itu pada kalian semua terlalu sedikit.』
Bagaimanapun, yang mereka semua lihat saat itu adalah hal yang sangat sederhana. Yaitu, kematian mereka sendiri, bersama orang-orang terdekat mereka.
Dalam kasus Tania, ia melihat dirinya sendiri yang terbaring di tanah dengan tubuh yang hampir hancur karena tertimpa oleh sesuatu yang sangat berat.
Baik Tania, maupun Navi sendiri tidak tahu apa 'sesuatu' itu, tapi mereka samar-samar mengetahui wujudnya berdasarkan sensasi yang mereka rasakan.
Itu adalah wujud humanoid yang sangat besar. Hanya itu yang mereka tahu.
『?! Tania!!! 』
Saat Tania sedang diam merenung di pikirannya, suara panik Navi tiba-tiba muncul dan memperingatkannya.
Namun, refleks Tania tidak berfungsi dengan baik.
Meskipun begitu, tubuhnya terlihat bergerak dengan sangat alami, dan menyiapkan sabitnya dalam posisi bertahan untuk menerima hantaman besar yang akan datang.
Tanpa Tania sadari, sekali lagi, Navi mengambil alih tubuhnya dengan paksa.
...****************...
(AN: Referensi penampilan Lucia: Aponia dari Honkai Impact 3.)