[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 119: [Asterisk: Countdown] (5)



...****************...


“Mhmm. Sebenarnya, tidak banyak yang bisa kuberitahukan tentang Asterisk. Kami berdelapan tiba-tiba saja ditelan oleh kabut aneh, lalu dibawa ke tempat aneh yang penuh dengan kabut dan patung. Lalu … “


Noelle tidak melanjutkan perkataannya. Suaranya yang sedang menjelaskan itu perlahan pudar sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.


Olivia menoleh dan menatapnya dengan bingung, “Lalu? “


Keheningan kembali menguasai ruangan itu. Noelle mengalihkan pandangannya seolah menyiratkan ia tak mau menjawab pertanyaan Olivia.


Olivia menghela napas sejenak, lalu berdiri, dan berjalan mendekati Noelle.


Karena Noelle sedang mengalihkan pandangannya, Noelle tak dapat melihat sosok Olivia yang sudah ada di dekatnya, tapi ia samar-samar dapat mengetahui apa yang sedang dia lakukan.


Olivia perlahan melepas handuk yang melilit tubuhnya yang indah, lalu mulai memasukkan salah satu kakinya ke dalam bathub itu.


Bathub itu memiliki ukuran yang tidak terlalu besar. Ukurannya mungkin hanya sanggup menampung satu orang dewasa.


Meskipun begitu, Olivia dengan mudah masuk dan menyelinap ke dalam bak, memposisikan dirinya di atas pangkuan Noelle, lalu bersandar di dadanya.


“Livia … Posisi ini … “


Noelle masih mengalihkan pandangannya, tapi sensasi yang ia rasakan dari tubuh Olivia telah menyebar dan merangsang semua indera perasa yang dia miliki.


“Aku tidak akan pergi sampai Noelle menceritakan semuanya padaku.”


Meskipun rona merah di wajahnya menjadi semakin jelas, Olivia menjawab dengan ketetapan hati yang bahkan membuat Noelle terkejut.


Bathub yang sebelumnya cukup besar, kini menjadi sangat sempit karena Olivia memaksakan dirinya untuk masuk bersama Noelle. Namun, berkat tubuh kecil dan ramping yang Olivia miliki, ia masih bisa menggerakkan tubuhnya dengan cukup leluasa.


“Noelle … Kalau itu benar-benar bukan rahasia besar … Bisa kamu ceritakan padaku? “


Olivia bertanya sambil menyandarkan kepalanya ke dada Noelle.


“ ……… “


Secara alami, Noelle menyadari kalau ia benar-benar tidak bisa merahasiakan apa pun di sini. Baru beberapa waktu berlalu setelah ia mengungkapkan apa yang selama ini ia sembunyikan dari Olivia, tidak mungkin ia akan menyembunyikan hal lain lagi.


Noelle menghela napas pasrah, dan mengungkapkan isi pikirannya.


“Kristal itu … Memberiku … Memberi kami suatu ramalan.”


“Ramalan? “


“Mhmm. Berkat ramalan itu, kami jadi harus melakukan sesuatu malam ini.”


“Eh? “


Itu sangat tidak terduga bagi Olivia. Olivia berbalik dan menatap Noelle dengan mata terkejut.


Kata-kata Noelle barusan menyiratkan kalau ia akan pergi malam ini. Pergi untuk melakukan sesuatu yang tak ia ketahui.


“Tentang isi ramalannya … Maaf … Aku benar-benar tidak bisa memberitahumu.”


Noelle mengatakan itu sambil memeluk erat tubuh Olivia. Mata kelabu Noelle yang sebelumnya tampak suram kini sama sekali tak terlihat karena ditutupi oleh poni rambutnya yang panjang.


Olivia melihat sosok Noelle yang menggigit bibirnya sendiri, dan menampilkan ekspresi pahit dengan emosi campur aduk.


Lagi pula, tidak mungkin Noelle berani mengatakannya pada Olivia. Tidak mungkin dia berani mengatakan kalau dia dan semua orang yang dekat dengannya akan mati tak lama lagi.


Orang-orang yang ada di ramalan itu, akan menciptakan suatu bencana mengerikan di masa depan. Bencana yang bahkan sanggup menghabisi dirinya, dan semua orang yang memiliki keabadian.


Bencana yang bahkan tidak dapat ditahan oleh kekuatan mereka semua. Tingkat bencana yang melewati akal sehat, dan menembus keabadian. Tidak mungkin mereka bisa membiarkannya.


Karena itu, tidak ada cara lain selain memusnahkan semua sumbernya, sebelum bencana itu tercipta.


Ramalan mengerikan yang diberikan kristal itu, adalah beban yang diberikan pada semua anggota Asterisk.


Noelle bahkan tak sempat mengutuk kenyataan dan mencaci maki kristal itu. Satu-satunya tindakan yang bisa dia ambil adalah menuruti perintah yang disiratkan kristal itu padanya.


Beberapa detik berlalu dengan keheningan total. Satu-satunya suara yang mengisi kekosongan di ruangan itu hanyalah tetesan air dari rambut Olivia yang terjatuh di permukaan air bak.


Menyadari apa yang dirasakan Noelle, Olivia hanya bisa tersenyum sedih dan memegang lengan Noelle yang memeluknya dari belakang.


Olivia mencapai tangan Noelle, dan mulai menjalin jari-jari Noelle dengan jari-jarinya sendiri. Matanya terpejam, dan senyum lembut terbentuk di bibirnya.


“Begitu, ya … Kalau begitu … Aku tidak keberatan untuk membiarkan Noelle bertindak sendiri.”


“Eh? “


Kalimat yang diucapkan Olivia kini membuat Noelle terkejut. Noelle langsung mengangkat kepalanya dan melihat Olivia yang berbalik dan tersenyum lembut padanya.


“Noelle tidak dengar? Aku izinkan Noelle untuk melakukannya sendiri.”


“Itu … Aku dengar … Tapi … Kenapa? “


Noelle sudah menyiapkan diri untuk menerima penolakan yang cukup keras dari Olivia. Karena itulah, melihat Olivia yang dengan mudah menerima ini semua justru membuatnya terkejut.


Olivia tampaknya menyadari isi pikiran Noelle. Dia tertawa kecil, lalu kembali menatap Noelle dengan senyum masam di wajahnya.


“Aku juga penasaran tentang kenapa aku bisa mengizinkan Noelle bertindak begitu saja, tapi … Aku yakin kalau Noelle berniat melakukan itu semua sendirian bukan tanpa alasan. Ini semua demi diriku, demi kita, ‘kan? “


“ ……… “


Noelle terdiam. Sejujurnya, dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Ia bertindak secara naluri, mengikuti apa yang kepala dan hatinya katakan.


Mendengar bagaimana Olivia dengan sempurna dapat melihat apa yang ia rasakan, adalah hal yang membuat Noelle merasa tenang.


Berbalik ke posisi sebelumnya, Olivia kembali bersandar di dada Noelle dan bergumam, “Sejak awal, Noelle bukanlah tipe orang yang akan bertindak tanpa alasan. Noelle membutuhkan suatu alasan yang jelas untuk bertindak.”


“ … Benarkah? “


Noelle tidak pernah merasa seperti itu. Justru, ia sering kali bertindak tanpa alasan yang jelas. Atau setidaknya itulah yang ia rasakan.


“Nn. Justru aneh karena Noelle tidak pernah menyadarinya selama ini.”


Olivia menjawabnya sambil tersenyum kecil. Itu sudah cukup untuk mengacaukan isi pikiran Noelle. Jika itu yang Olivia katakan, maka mungkin itu benar.


Mungkin saja, Olivia mengenali Noelle lebih dari Noelle mengenali dirinya sendiri. Jika itu benar, maka jawaban yang Olivia berikan bisa dipastikan benar. Walaupun begitu, Noelle tetap tak tahu jawabannya. Bertindak berdasarkan asumsi yang didasari logika aneh itu, dari lubuk hatinya yang terdalam, Noelle masih tak dapat menerima itu.


Olivia mengangkat tangannya, dan tersenyum lembut saat melihat cincin perak yang melingkari jari manisnya.


“Noelle tahu? Aku sudah memikirkannya selama ini, dan aku akhirnya menyadari sesuatu.”


“ … Apa itu? “


Mata Olivia menyipit, dan ekspresi di wajahnya benar-benar menggambarkan ekspresi kebahagiaan. Senyum di bibirnya semakin dalam, sementara rona merah di pipinya juga semakin terlihat dengan jelas.


"Memalukan untuk mengatakan ini, tapi … Aku sadar kalau aku tidak perlu bertindak secara langsung untuk membantu Noelle. Jika aku terlalu banyak melibatkan diriku secara langsung, aku mungkin hanya akan menjadi beban untuk Noelle. Karena itulah, aku akan tetap diam di tempatku, menunggu sampai Noelle kembali. Aku akan menjadi orang yang menyediakan alasan dan tempat untuk Noelle kembali.”


Olivia melepaskan lengan Noelle yang masih memeluknya, dan berbalik untuk menatap langsung ke mata Noelle. Kini, posisi mereka menjadi duduk berhadapan di dalam bak yang penuh air hangat ini. Olivia kemudian menarik kepala Noelle dengan tangannya, lalu menempelkan dahi Noelle dengan dahinya sendiri.


“Aku tidak peduli harus berapa kali aku mengatakan ini, tapi aku tidak akan pernah berhenti mengatakannya.”


Olivia memejamkan matanya dan berbisik dengan lembut pada Noelle, “Noelle, kalau aku memang tidak bisa memberikan bantuanku secara langsung pada Noelle, maka setidaknya aku ingin menjadi seseorang yang menyediakan alasan dan tempat untuk Noelle kembali.”


“ ……… “


Noelle, bagaimanapun, dia hanya bisa ikut memejamkan matanya dan mendengarkan setiap kata yang Olivia ucapkan.


“Pilihan dan keputusan apa pun yang Noelle ambil, aku akan mendukung Noelle bagaimanapun caranya, dan jika Noelle merasa tersesat, aku akan menjadi orang yang membimbing Noelle ke suatu pilihan.”


Mata mereka berdua kemudian terbuka secara bersamaan. Pupil kelabu Noelle yang berhadapan dengan permata obsidian yang tampak berkilau itu kemudian memancarkan reaksi samar yang dapat digambarkan sebagai ‘ekspresi senang’.


Tersenyum lembut, Olivia menggerakkan telapak tangan kanannya dan membelai pipi Noelle.


“Karena itu, berjanjilah, kalau Noelle akan selalu kembali padaku. Apa pun yang terjadi, Noelle harus kembali padaku. Aku akan selalu ada setiap kamu membutuhkanku.”


Mata mereka saling menatap untuk beberapa saat. Tak ada satu pun dari mereka yang bisa mengucapkan apa yang mereka pikirkan.


Bahkan, Olivia yang sebelumnya dengan lancar mengatakan semua yang ia rasakan, kini hanya bisa membuka dan menutup bibirnya beberapa kali dengan wajah yang memerah sepenuhnya.


Meskipun begitu, Olivia tidak menarik wajahnya. Ia terus menatap Noelle dari dekat dengan ekspresi kebahagiaan di wajahnya.


Beberapa saat kemudian, Noelle memejamkan matanya, dan tersenyum kecil. Salah satu tangannya menimpa, dan langsung menggenggam tangan Olivia yang sebelumnya membelai pipinya dengan lembut, lalu mencium jari-jari itu.


“Mhmm. Di saat seperti ini … Aku tidak tahu harus jawab apa … “


Itu adalah ungkapan jujur dari Noelle. Dia benar-benar tidak tahu harus menanggapi Olivia dengan apa. Mungkin dia terlalu senang karena ada orang yang mau melakukan sesuatu sejauh itu hanya untuk dirinya.


“Fufu … Noelle tidak berguna.”


Mengatakan itu, Olivia kemudian menunduk, dan menempelkan pipinya sendiri ke dada Noelle.


“ … Jantungmu … Berdetak dengan sangat cepat … “


“ … Sejelas itu, ya? “


“Nn.”


Olivia dengan senang menutup matanya dan fokus mendengarkan irama yang dihasilkan detak jantung Noelle sambil tersenyum lembut.


Karena tidak tahan dengan kesunyian yang mengisi situasi itu, Noelle mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Tentang ancaman tadi … Bagaimana menurutmu? “


“Itu jebakan.”


Olivia menjawab dengan cepat tanpa mengangkat kepalanya sedikit pun.


Noelle juga memiliki pikiran yang sama dengannya, tapi dia cukup khawatir dengan Cryll sehingga dia hampir mengabaikan pemikiran itu.


“Noelle terlalu khawatir dengan Cryll. Bukankah dia sudah memberikan pesan dengan kode morse yang hanya bisa kita mengerti? Dia bilang dia baik-baik saja.”


“Tetap saja … “


“Selain itu, yang seharusnya menjadi orang paling khawatir di sini adalah Stella. Tapi, dia justru menerima kata-kata kita dan bisa tidur dengan tenang.”


Memang, Stella sudah menjadi sedikit lebih tenang setelah Noelle dan Olivia entah bagaimana meyakinkan dirinya.


Noelle dan Olivia secara alami menghindari percakapan tentang bom waktu yang akan meledak setiap satu jam, dan menewaskan 10 orang. Lagi pula, tidak bagus untuk membahas itu semua di saat seperti ini.


“Hmm? “


Olivia memiringkan kepalanya dengan bingung.


“Aku tidak mengerti.”


“Kalau begitu, akan kuberitahu. Orang-orang yang menahan Cryll, dan memberikan pesan ancaman itu, adalah orang-orang yang sama dengan yang ada di ramalan Asterisk.”


“Eh? “


“Karena itulah, masalah ini akan beres tidak lama lagi.”


“ ……… “


Tidak perlu mendapatkan penjelasan yang lebih lanjut lagi, Olivia sudah mengerti maksudnya. Dia hanya bisa menghela napas pasrah, lalu menyembunyikan wajahnya sendiri di dada Noelle.


“Apa Noelle … Benar-benar mengkhawatirkan Cryll? “


“Hm? Kurasa … Aku sendiri juga tidak terlalu tahu tentang itu … “


Apa dia benar-benar khawatir dengan Cryll? Bagaimanapun, Noelle tidak mengerti. Sebelumnya, ia hanya mengkhawatirkan Cryll karena tidak ada yang menjaga Stella. Tapi sekarang, Stella mendapatkan perlindungan langsung dari Chloe yang bisa membawanya ke dalam《Reign》jika terjadi keadaan darurat.


“Kenapa kamu menanyakan itu? “


“Tidak … Aku … Hanya penasaran … Noelle dan Cryll terlihat sangat dekat, jadi … “


“Aku? Dengan dia? Kurasa tidak … Bagaimanapun, Cryll hanya bertindak berdasarkan keuntungan yang akan dia dapat.”


“Nn, itu sama seperti Noelle.”


“ ……… “


Noelle tidak bisa membantah itu.


“Aku senang … Noelle bisa mendapatkan teman laki-laki yang sebaya … Selama ini, Noelle hanya dekat denganku, jadi aku sedikit khawatir dengan jangkauan sosial Noelle.”


“ …… Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku.”


Noelle mengucapkan rasa terima kasihnya dengan tulus, sembari memeluk Olivia. Punggung halus Olivia yang tak ditutupi oleh apa pun itu terlihat sangat rapuh, jadi Noelle dengan hati-hati meletakkan tangannya di sana.


“Meskipun … Kedekatan kalian sedikit mengkhawatirkan … “


“ ……… “


Olivia mengangkat wajahnya, dan menatap Noelle dengan senyum kecil, “Aku suka dengan cara kamu memelukku.”


Kalimat itu sudah cukup untuk membuat Noelle melebarkan matanya dengan terkejut. Perlahan, wajahnya mulai mendekati wajah Olivia, dan Olivia tampak menyadari apa yang akan Noelle lakukan.


Olivia memejamkan matanya, dan memajukan wajahnya sedikit.


Tak butuh waktu lama sampai sensasi yang lembut dan manis mencapai bibir mereka masing-masing.


“Nnghnn … “


Erangan manis keluar dari bibir Olivia saat ia menikmati bibir Noelle yang menciumnya dengan lembut.


Bibirnya secara alami terbuka untuk menerima lidah Noelle yang mencoba menyelinap masuk ke dalam, membuat Olivia juga secara tanpa sadar menggerakkan lidahnya untuk menyambut itu.


“Mnn … Noelle … “


Olivia dengan susah payah mengucapkan nama Noelle di sela-sela ciuman itu. Namun, Noelle mengabaikan panggilannya, dan terus menikmati proses bertukar air liur yang terjadi di antara mereka berdua.


Bukan berarti Olivia tidak menyukainya. Justru sebaliknya, Olivia sangat suka, dan sangat menikmati momen berciuman dengan Noelle, tapi dia tetap akan merasa malu saat Noelle melakukannya secara tiba-tiba.


Ciuman yang sebelumnya dilakukan dengan lembut dan penuh perhatian, perlahan berubah menjadi ciuman yang lebih liar dan agresif.


Olivia hanya bisa menerima semua yang Noelle lakukan padanya. Dia secara alami menggerakkan tubuhnya untuk merespon rangsangan yang diberikan Noelle secara bertahap.


Bibir dan lidah mereka yang saling bertaut itu kemudian terpisah, menghasilkan jembatan perak bening yang berkilauan, bergelantungan di antara bibir mereka.


Noelle dan Olivia saling menatap mata satu sama lain, dan wajah mereka kembali berdekatan untuk lanjut ke tahap berikutnya.


Sudah tidak ada tanda penolakan yang diberikan Olivia. Kini ia sepenuhnya menikmati semua hal yang Noelle lakukan padanya.


Menanggapi itu, Noelle menguatkan lengannya yang memeluk Olivia, membuat tubuh bagian depan mereka menjadi semakin lengket, dan meremas satu sama lain.


Berkat sensasi lembut dan kenyal yang Noelle rasakan di dadanya, serta rasa geli yang ia rasakan di area sekitar pangkal pahanya, pergerakan lidah Noelle menjadi semakin agresif dan sepenuhnya mendominasi Olivia.


Suara yang dihasilkan dari bibir dan lidah mereka yang bertaut satu sama lain, dan mengaduk semua air liur mereka, serta suara percikan air bak yang mereka tempati itu sudah cukup untuk sepenuhnya mengubah suasana. Dari suasana yang menenangkan, berubah menjadi suasana cabul yang tampaknya dipenuhi oleh rangsangan dari zat afrodisiak.


Kegiatan bertukar air liur itu terus berlanjut sampai akhirnya salah satu dari mereka menyerah.


...****************...


“Kurasa di sini sudah cukup … “


Noelle memanfaatkan momentum, dan gravitasi untuk membiarkan tubuhnya secara alami terjatuh ke tanah.


Kakinya yang kuat dengan kokoh menopang semua berat yang ia tanggung di kedua tangannya.


Itu adalah Olivia yang merangkul leher Noelle dengan tangannya, sementara tubuhnya digendong oleh Noelle dengan posisi gendongan putri.


Saat ini tengah malam, dan waktu pertemuan antara anggota Asterisk akan dimulai tidak lama lagi.


Noelle berniat pergi sendiri, tapi Olivia bersikeras untuk mengantarnya, setidaknya sampai ke gerbang.


Karena itulah, Noelle tidak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya.


Noelle perlahan menurunkan Olivia ke tanah, dan menatapnya dengan lembut.


“Apa kamu bisa berjalan? “


“N-nn … Ini sedikit sulit, tapi … Aku rasa aku masih bisa bergerak … “


Cara Olivia berdiri cukup canggung. Kedua kakinya tampak lemas, sehingga gerakannya juga diiringi dengan gemetar yang membuatnya tampak lucu.


Noelle tanpa sadar tertawa kecil saat melihat Olivia yang tak berdaya itu.


“J-jangan tertawa … Ini salah Noelle aku jadi seperti ini … “


Wajah Olivia sepenuhnya berubah warna karena rasa malu yang memenuhi dirinya, tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk membuat Noelle berhenti bercanda dengannya.


“Maaf, maaf … Kurasa aku sedikit terlalu kasar padamu tadi.”


Noelle meminta maaf sambil berusaha menahan tawanya, tapi itu justru membuat Olivia mengerucutkan bibirnya karena kesal.


“Ini salah Noelle. Noelle terlalu bersemangat sampai tidak memperhatikan kondisiku.”


“Ini salahmu karena begitu menggoda.”


“Uuu … I-ini salah Noelle karena tidak berhenti melakukannya bahkan saat aku menolak! “


“Aku tidak ingat kamu menolaknya. Bukannya justru kamulah yang sangat bersemangat tadi? "


“Uuu … I-itu tidak mungkin … “


“Itu benar. Bahkan Levina sampai bangun dan hampir melihat kita tadi. Untungnya dia segera kembali tidur dengan sedikit hipnotis.”


“Uuuu … “


Kali ini Olivia hanya bisa memegangi kepalanya dan menunduk dengan penuh rasa malu saat mendapat kilas balik tentang apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.


Noelle tertarik untuk menggoda Olivia lebih lama lagi, tapi ia sadar kalau waktu yang tersisa baginya tidaklah banyak.


Dengan senyum lembut di wajahnya, Noelle mengangkat tangannya, dan mulai membelai rambut perak Olivia yang sangat halus itu.


“Baiklah, aku akui ini sebagian salahku. Aku sedikit terlalu bersemangat tadi. Lagi pula, siapa orang yang bisa tahan ketika melihat pasangannya menjadi begitu agresif. Ahh, tapi ini adalah salahku. Aku minta maaf.”


Karena perbedaan besar pada ketinggian mereka, Noelle hanya bisa menundukkan kepalanya sedikit, dan menatap Olivia dari atas.


Olivia yang ditatap dengan mata lembut itu tampak terpesona sejenak. Namun, segera menggelengkan kepalanya untuk menghapus rasa malu yang sebelumnya ia rasakan.


“Nn … Sebenarnya ini juga salahku karena jadi sedikit lebih egois, tapi … Bisakah Noelle menunduk lagi? “


“Hmm? “


Noelle bingung, tapi tetap mengabulkan keinginan kekasihnya itu. Kepalanya semakin menunduk, dan jarak antara wajah mereka hanya beberapa inci lagi.


Meskipun begitu, Olivia mengerucutkan bibirnya sebagai cara untuk menunjukkan ekpresi cemberutnya.


“Bukan begitu,” ucap Olivia sambil menarik kerah baju Noelle dengan kedua tangannya.


Kemudian, jarak antara wajah mereka dengan cepat menyusut, dan bibir mereka berdua menyatu untuk ke sekian kalinya.


Hanya memakan waktu sekitar tiga detik, Olivia kemudian melepaskan ciumannya, dan menatap Noelle yang masih terkejut itu dari dekat.


“Noelle masih ingat kata-kataku tadi, ‘kan? “


Mata Noelle berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya kembali menatap Olivia dengan lembut.


Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Olivia, dan berbisik, “Tentu saja.”


Setelah itu, Noelle kemudian mencium kening Olivia sekali.


“Aku akan selalu kembali padamu. Karena itu, tunggulah aku sebentar, oke? “


“ … Nn.”


Olivia merespon dengan ekspresi senang. Matanya terpejam, dan senyum di bibirnya tampak bermekaran, sehingga menampilkan wajah yang begitu mempesona.


“Kalau begitu, aku pergi … “


“Nn … Aku akan menunggumu … “


Dengan itu, Noelle berjalan meninggalkan Olivia, untuk mengambil suatu tindakan yang akan mengubah hidupnya sepenuhnya.


...****************...