![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Noah, ke sini."
Dalam proses pencarian terhadap katalis di taman bunga Mentine, Tania tiba-tiba memanggil Noelle ke tempatnya, dan menunjukkan sesuatu yang baru saja dia temukan.
"Ini …."
Tempatnya ada di pinggiran taman, berada tepat di bawah pohon besar dengn daun kuning yang memutih.
Itu adalah dua papan baru yang diposisikan seperti sebuah batu nisan. Atau lebih tepatnya, sebuah altar persembahan, dengan coretan yang tidak jelas di permukaan.
"Ini diletakkan secara sengaja."
Dilihat dari mana pun, Noelle hanya bisa berpikir begitu. Posisi dan bentuk batunya terlalu tidak alami, jadi pasti ada orang yang membentuk, dan meletakkannya di sana.
Belum diketahui kenapa altar atau nisan ini bisa berasa di tempat yang begitu terpencil. Namun, ini layak untuk dicurigai.
Noelle mengelilingi altar itu untuk melihat apakah ada sesuatu yang mencurigakan tetapi tidak bisa menemukan apa pun.
Noelle tidak bisa menggunakan sihirnya atau dominasi pada altar itu karena dia khawatir akan mengganggu sistem yang sudah dirancang.
"Noah."
Beberapa saat yang lalu, Tania pergi dengan berkata kalau dia akan mencari petunjuk, dan sekarang dia sudah kembali, dengan membawa seikat bunga Mentine.
Tania melihat ekspresi bingung di wajah Noelle, dan menjelaskan, "Ketika kamu melihat sebuah altar di tempat asing, apa yang akan kamu lakukan? "
Tanpa berpikir, Noelle langsung menjawab, "Ada banyak yang bisa kulakukan, tapi aku mungkin akan menghindarinya. Lagi pula, altar itu bisa saja menjadi sebuah perangkap."
Mendengar itu, Tania pun mengangguk. Begitu sampai di depan altar, dia langsung berjongkok.
"Itu pemikiran yang bagus. Kamu memang harus mewaspadai itu. Tapi, ada saat di mana kamu tidak bisa melakukan apa pun selain menggunakan altar itu untuk membuka jalan dan peluang."
Tersenyum sejenak, Tania kemudian meletakkan seikat bunga Mentine itu ke atas altar, lalu menyatukan kedua telapak tangannya seperti sedang berdoa.
"Di dungeon, kamu akan sering menemukan hal-hal seperti ini. Dan pada saat itu, tidak akan ada yang bisa kamu lakukan selain menggunakan altarnya."
Tania menutup matanya, lalu mulai berdoa. Dia begitu fokus sehingga Noelle merasa dirinya tidak boleh mengganggu konsentrasi Tania.
Setelah beberapa detik doa yang penuh dengan konsentrasi, seikat bunga Mentine di atas altar itu akhirnya menghilang, dan digantikan oleh cahaya yang memancar dari suatu benda kecil. Begitu kecil sehingga Noelle tidak bisa melihatnya.
Tania tidak berhenti. Dia masih menutup mata dengan telapak tangan yang bersatu, tampak sangat serius saat melanjutkan doanya.
Cahaya itu menjadi semakin kuat, dan benda kecil yang menjadi pusatnya pun memuntahkan beberapa benang cahaya yang terlihat seperti tentakel, saling menjalin satu sama lain sehingga menciptakan satu objek yang utuh.
Itu adalah sebuah tiara, dengan cahaya pudar yang melapisinya.
Seolah tahu kalau ritualnya sudah selesai, Tania akhirnya membuka mata dan tersenyum.
Dia mengambil tiara itu, lalu menunjukkannya pada Noelle.
Ada nama lengkap Ratu Clament yang terukir di sisi dalam tiara itu.
"Sekarang, yang tersisa hanya satu katalis lagi," ucap Tania sambil tersenyum saat dia menyerahkan tiara itu pada Noelle.
Noelle pun tidak mengatakan apa pun. Hanya dengan tercengang menerimanya dan memacu pikirannya sendiri untuk memahami apa yang baru saja terjadi.
"T-tunggu, apa kau yakin tiaranya bisa didapatkan dengan cara yang sederhana seperti ini? "
Tania tersenyum tipis dan menatap Noelle. "Jangan terlalu dipikirkan. Lakukan saja apa yang menurutmu bisa kamu lakukan. Itulah yang Navi katakan padaku dulu."
...****************...
Katalis kedua, tiara sang ratu sudah ditemukan.
Meski dengan cara yang mengejutkan, tiara itu benar-benar sudah ditemukan.
(Siapa yang bisa menyangka kalau caranya sesederhana itu? )
Bahkan meski beberapa jam sudah berlalu, Noelle masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi hanya memikirkannya saja tidak akan membawakan jawaban. Tania mungkin bisa menemukannya dengan mudah karena dia sudah sangat terbiasa dengan mekanisme seperti ini.
Noelle akhirnya menghela napas dan mengacak-acak rambutnya. Dia harus berhenti memikirkan itu, atau ia akan dibuat gila olehnya.
Saat ini, dia sedang duduk di sofa rumah portabelnya, yang diletakkan di area pinggiran taman Mentine.
Hari sudah cukup larut saat mereka menemukan tiara, dan Tania meminta Noelle untuk bermalam di tempat ini sebelum akhirnya berangkat keesokan paginya.
Langsung kembali ke Fortenia bukanlah masalah, tapi Noelle tidak bisa begitu saja mengabaikan stamina Tania yang terbatas.
"Bermalam di sini juga tidak terlalu buruk."
Itu memang ide yang bagus. Ketika Noelle membuka jendela, apa yang dia lihat adalah hamparan bunga Mentine yang disinari oleh bulan.
Noelle menyilangkan kakinya saat dia menatap tiga benda langit raksasa yang bergerak secara tak kasat mata.
Di sofa yang lebih panjang, ada Tania yang sedang tertidur pulas dengan selembae selimut menutupinya. Noelle yang melihat itu pun lagi-lagi memikirkan hal yang sama:
(Dia benar-benar lengah.)
Entah apakah Tania benar-benar ceroboh, atau dia sudah cukup mempercayai Noelle sehingga bisa tidur tanpa rasa takut tepat di hadapannya. Mungkin, yang kedua adalah jawabannya.
Jika Tania benar-benar orang yang ceroboh, maka tidak mungkin dia masih hidup sekarang. Noelle belum pernah pergi ke dungeon, tapi dia yakin kalau Tania tidak bisa beristirahat secara sembarangan di sana.
Sekarang, kembali ke masalah lainnya.
Pertanyaan: apa ada cara agar Rudra bisa menginjakkan kaki ke dunia luar?
jawaban: belum pasti. Masih perlu diselidiki.
Noelle menggigit kuku ibu jarinya sendiri saat dia memikirkan berbagai cara yang menurutnya bisa menjadi solusi untuk masalah ini.
Pada akhirnya, dia menghabiskan semalaman penuh hanya untuk berpikir. Dan saat matahari akhirnya terbit, Noelle membuka mata dengan satu ide di pikiran.
...****************...
Berangkat lebih awal, keduanya langsung tidak di bekas ibu kota Fortenia saat hari masih pagi.
Begitu tiba di gerbang, sudah ada Rudra yang sudah duduk di sana, entah sudah berapa lama menunggu kedatangan mereka.
Rudra langsung berdiri, dan Noelle juga langsung menghampirinya.
"Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Rudra.
Noelle pun membalasnya dengan senyum tipis, lalu mengeluarkan sesuatu dari gudang spasial.
Itu adalah tiara ratu yang dia dan Tania temukan di pinggiran taman Mentine. Noelle memberikan itu pada Rudra untuk dia periksa.
"Kau mungkin terkejut, tapi ternyata menemukan itu tidak sesulit yang kita bayangkan pada awalnya."
Rudra seperti tidak mendengarkan penjelasan Noelle. Alih-alih melakukan itu, dia justru tampak sibuk memperhatikan tiara yang baru Noelle berikan.
Dia membolak-baliknya, melihat semua detail yang ada pada tiara itu; mulai dari ornamen, ukiran, dan nama yang ada di bagian dalam.
Di sana tertulis 'Clament sil Fortenia'. Tidak salah lagi. Tidak mungkin Rudra bisa melupakannya.
Bentuknya masih sama seperti terakhir kali dia melihatnya. Bersih, tanpa goresan sedikit pun. Biarpun 600 tahun telah berlalu, tiara itu masih terlihat bagus dan masih layak pakai, seolah tidak ada hal buruk yang pernah terjadi.
"Kalian … menemukannya …. Kalian benar-benar menemukannya …."
Bahkan meski tubuhnya kini hanyalah seonggok logam, Rudra tidak bisa menahan posturnya. Dia secara alami jatuh berlutut, dan memperhatikan tiara itu dari dekat.
Noelle melihat semuanya, dan tidak tahu harus melakukan apa. Dia sendiri tidak tahu apa yang sekarang sedang dirasakan Rudra.
Jika Rudra masih memiliki tubuhnya yang lama, apakah dia akan menangis saat ini? Itu mungkin saja.
"Terima kasih, karena sudah menemukannya."
Suara berat Rudra mengucapkan terima kasih dengan penuh ketulusan. Meski begitu, masih belum banyak emosi yang bisa Noelle rasakan darinya.
Ini mungkin berat. Tidak bisa mengungkapkan secara jelas apa yang dia rasakan, dan semua ini karena tubuh anorganik serta pembatas yang mencegah luapan emosinya.
Noelle pun berlutut, dan memegang bahu Rudra dengan satu tangan.
"Berterimakasihlah pada dirimu juga. Kami bisa menemukan tiara ini berkat petunjuk yang kau berikan."
Kemudian, dengan senyum kecut di wajahnya, Noelle melanjutkan, "Yahh, Tania yang sebenarnya menemukan itu. Aku sama sekali tidak membantu di sini."
Noelle terdengar cukup pesimis saat dia mengatakannya. Tapi, memang begitu kenyataannya. Tania yang menemukan tiara itu dengan caranya, dan bukan Noelle.
Ini mungkin menjadi bagian penting yang membuktikan bahwa sosok dalam ramalan Ratu Bengis bukanlah Noelle seorang, melainkan ada satu tambahan; yaitu seorang gadis yang mendampinginya.
(Sejauh mana kau sudah melihat masa depan, Ratu Bengis? )
Tiara itu tidak mungkin akan disembunyikan dengan cara yang begitu sederhana kalau Ratu Bengis tidak tahu siapa yang akan menemukannya. Justru, karena Ratu Bengis tahu bahwa Tania-lah yang akan menemukannya, dia menyembunyikan itu dengan cara yang sangat sederhana.
Setelah dipikir lebih lanjut, semua ini memiliki pola yang jelas.
Noelle merasakan kekaguman yang cukup jelas pada Ratu Bengis karena sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang. Namun, di saat yang sama dia juga merasa ngeri dan jijik karena telah sadar akan sesuatu.
Rudra mengucapkan terima kasih tanpa henti sambil membawa tiara itu ke dekapan dadanya. Hanya dengan melihatnya saja, Noelle sudah tahu kalau Rudra sangatlah menghargai tiara itu. Mungkin karena itu menjadi satu-satunya benda yang dia lihat, yang menjadi bukti bahwa Ratu Clament benar-benar selamat di dunia luar.
Noelle mencoret 'to do list' di kepalanya, dan mulai memikirkan katalis yang tersisa.
Bendera dan tiara sang ratu sudah di tangannya, dan sekarang hanya satu yang tersisa. Itu adalah darah sang ratu sendiri.
...****************...
Siang hari, mereka bertiga berkumpul di tempat yang Rudra jadikan rumah.
"Kalian sudah mendapatkan bendera dan tiara Yang Mulia, itu artinya …."
"Hanya tersisa satu katalis lagi."
"Tapi itulah yang paling sulit."
Rudra, Tania, dan Noelle secara bergantian berbicara. Ketiganya tampak bingung dengan bagaimana mereka harus menemukan katalis terakhir, yaitu darah ratu.
Pencarian di seluruh kota tidak menghasilkan apa pun, dan pencarian di luar justru memberi mereka katalis lain yang sebenarnya bukan menjadi tujuan utama mereka.
Pada awalnya, Noelle dan Tania pergi ke taman Mentine untuk menemukan darah sang ratu. Namun, yang mereka temukan di sana justru bukanlah darah, melainkan tiara.
Ini berarti, darah ratu masih ada di suatu tempat di dunia ini. Dan bisa saja itu disembunyikan dengan cara yang aneh dan sederhana, seperti yang terjadi pada tiara ratu.
Tapi, meski memikirkannya sepanjang hari pun, mereka tak dapat menemukan jawabannya.
Pada akhirnya, Noelle meminta waktu untuk berpikir sendirian di hari yang mulai malam ini.
...****************...