![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Itu adalah kilas adegan yang sangat singkat.
Menunjukkan sekelompok orang yang tengah bertarung sengit, melawan satu sosok yang tidak layak disebut manusia.
Wujudnya humanoid, seperti pria dewasa, tapi seluruh tubuhnya terbuat dari kristal ungu kehitaman dengan corak kuning di beberapa bagian. Benar-benar penampilan yang tidak manusiawi.
Kristal itu bergerak dengan gesit, menciptakan menara-menara kristal di sekitarnya, yang kemudian menembakkan ratusan peluru kristal ke sekelompok orang yang menyerangnya.
Meski dihadapkan pada rentetan serangan tanpa henti dari sosok kristal, sekelompok orang dengan seragam militer hitam-merah itu tetap tak tertandingi. Mereka bergerak dengan kecepatan dan kelincahan yang melebihi sosok kristal, saling bekerja sama untuk menutupi kelemahan, dan terus menghujani sosok kristal dengan berbagai serangan.
Salah satu dari sosok itu melemparkan satu tombak, dan di saat yang sama juga maju sambil menebas horizontal dengan pedang panjangnya, sementara yang lain melancarkan serangan dengan cara mereka sendiri.
Tubuh sosok kristal itu terbelah karena berbagai serangan yang mengenainya. Meski begitu, 'dia' terlihat tidak memiliki masalah apa pun. Setiap potongan yang lepas dari tubuh utamanya akan berubah menjadi cairan hitam, dan kembali ke tubuh utama untuk meregenerasi bagian yang hilang itu.
Sosok kristal kemudian mengangkat lengan, dan sebuah pedang panjang yang juga terbuat dari kristal perlahan keluar dari telapak tangannya.
Pedang itu diayunkan dalam putaran penuh secara horizontal, yang kemudian menciptakan gelombang kejut yang seketika menghempaskan semua orang di sekitarnya.
Tak berhenti di sana, sosok kristal itu melompat, lalu menciptakan sebuah tombak kristal yang setelahnya langsung ia lemparkan ke tanah tempat ia berpijak sebelumnya.
Hasil dari menancapnya tombak itu ke tanah adalah kekacauan. Kristal ungu kehitaman muncul dari dalam tanah, seketika menyebar ke seluruh tempat dalam radius 50 meter.
Hanya dalam waktu singkat, seluruh area dalam radius itu telah berubah sepenuhnya menjadi 'taman kristal'. Dan tentu saja, itu sama sekali tidak indah.
Meski tanah telah berubah menjadi tempat yang mengerikan, kelompok yang bertarung melawan sosok kristal itu tidak terluka. Salah satu anggota mereka telah lebih dulu melompat tinggi ke udara, dan menarik semua orang dengan menggunakan benang yang terlihat sangat tipis.
Karena itulah, setelah penyebaran kristal itu berhenti, mereka langsung kembali ke daratan, dan berusaha mendaratkan serangan mematikan pada sosok kristal itu.
Hanya itu yang Noelle lihat.
...****************...
Begitu Noelle membuka mata, apa yang pertama ia lihat adalah kepala yang botak, berwarna biru dengan tato putih.
Wajah sosok itu masih buram, tapi Noelle secara naluri sudah lebih dulu mendorong tangannya ke depan. Namun, dia salah dalam mengatur kekuatannya.
Sosok Dolum seketika menghilang dari pandangan Noelle, dan terhempas jauh hingga menabrak dinding.
Noelle kemudian menyadari apa yang baru saja dia lakukan.
"Ahh, maaf … kupikir kau …."
Masih dalam keadaan mengigau, Noelle menghentikan kata-katanya. Dia hampir saja menyebut kepala suku Artof sebagai goblin.
Bangkit dan melihat ke samping, ada Tania yang juga baru sadar.
Mereka masih di gua yang sama tempat Dolum membawa mereka, tapi mereka telah dibaringkan di tempat yang menurut Noelle agak nyaman dibandingkan di samping peti es itu.
"Apa sebenarnya itu tadi …." Tania bergumam, tampak bingung dengan situasi yang sedang terjadi.
Begitu pula dengan Noelle. Apa yang dia lihat di mimpi itu masih mengganggunya.
"Tania, apa kau bermimpi? " tanya Noelle.
Mimpi tidak mungkin bisa muncul secara tiba-tiba. Terutama, sesaat setelah dia pingsan. Karena itulah, Noelle yakin kalau mimpi yang baru saja dia alami ini tidak muncul secara alami, melainkan respon otaknya terhadap rangsangan tertentu.
Mendapat pertanyaan dari Noelle, Tania terlihat terkejut. "Grei … juga? Apa kamu juga bermimpi? "
Tania berusaha merangkak mendekatinya, dan Noelle hanya menepuk lembut kepala Tania beberapa kali sebelum akhirnya menghela napas.
Reaksi itu saja sudah cukup untuk menjadi konfirmasi.
"Tania … apa yang terjadi di mimpimu? "
Pertanyaan itu membuat Tania menunduk lemah. Dia kemudian memperbaiki posisi duduknya dan menatap Noelle.
"Aku … tidak terlalu ingat. Tapi, itu mungkin peperangan. Ada pertarungan yang hebat antara sekelompok orang, dan … benar, makhluk kristal itu! "
Tania seketika bangkit, terhuyung sejenak sebelum akhirnya berlari mendekati peti es yang masih di tempatnya dalam kondisi yang sama persis seperti yang dia ingat.
"Tolong jangan terlalu terburu-buru, Nona Tania. Anda masih memiliki banyak waktu."
Suara Dolum menghentikan langkah Tania. Pria tua bertubuh kecil itu muncul dari balik peti, seolah tidak memiliki masalah sedikit pun meski Noelle baru saja mendorongnya hingga menabrak dinding.
"Pertama, biar saya jelaskan."
Dolum kemudian menaiki sebuah kotak kayu agar bisa melihat ke dalam peti es. Di sisi lain, Noelle telah berjalan mendekat, dan membantu menenangkan Tania.
Sambil menatap sosok di dalam peti es dengan campuran emosi di matanya, Dolum akhirnya menghela napas.
"Saya tidak tahu pasti dengan apa yang terjadi di masa lalu. Tapi, bagi kami semua, inilah yang telah membuat kami menderita selama ini."
Dengan jari-jemarinya yang kecil, Dolum menelusuri permukaan peti es yang transparan, kemudian berbalik untuk menatap Noelle dan Tania.
"Peti ini, dan kristal yang ada di dalamnya, sudah ada di tempat ini untuk waktu yang sangat lama. Usianya mungkin saja setara dengan usia suku kami. Bagaimanapun, kami sendiri tidak tahu pasti sudah berapa lama peti ini berada di sini."
Petinya tidak bisa dihancurkan, dipindahkan, atau bahkan sekedar dibuka. Sosok kristal yang terbaring di dalam peti itu benar-benar tersegel, tanpa ada cara untuk membebaskannya.
Sudah pasti, ada alasan kuat mengapa sosok kristal itu sudah berada di sana. Noelle berasumsi kalau peti itu merupakan segel yang digunakan untuk menahan sosok kristal.
Bagaimanapun juga, dari mimpinya dia tahu, bahwa sosok kristal itu sama sekali bukan lelucon. Kekuatannya nyata, dan tidak diketahui juga seberapa besar potensi bahayanya.
Mengabaikan Noelle dan Tania yang tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, Dolum melanjutkan penjelasannya.
"Meski begitu, kami tahu pasti. Sudah tugas kami untuk menjaga agar peti ini tidak hancur. Itu disebutkan dalam ramalan yang Ratu Bengis turunkan pada leluhur kami."
Ramalan yang Dolum sebutkan, menyinggung tentang keberadaan dua pengembara yang akan datang untuk memberikan keselamatan.
(Keselamatan … dari apa? )
Kecurigaan Noelle berubah menjadi keyakinan. Ramalan mengenai dua pengembara itu pasti berkaitan langsung dengan peti es ini.
Mungkinkah, sosok kristal itu adalah bahaya besar yang harus dilawan oleh dua pengembara? Dengan begitu, keselamatan akan diberikan pada suku Artof.
Bagaimanapun, semuanya masih sekedar spekulasi. Noelle tidak bisa seenaknya menyimpulkan karena itu bisa berakibat fatal.
Meskipun tentu saja, jawaban dari pertanyaan ini mungkin sudah sangat jelas.
"Kalau begitu, izinkan saya untuk mengantar kalian ke ruangan selanjutnya."
Dolum turun dari kotak kayu, dan berjalan semakin dalam ke gua melalui lorong gelap yang ada di sisi utara dari jalan masuk.
Semakin ke dalam, semakin tipis kadar oksigennya. Meski begitu, kesadaran Noelle dan Tania masih sejernih kristal. Mereka tidak memiliki masalah dengan pernapasan, dan pengelihatan mereka juga sangat lancar meski di sini cukup gelap.
Semakin jauh dia memasuki gua, semakin Noelle menyadarinya. Tempat ini begitu dipenuhi kehidupan. Bukan kehidupan biologis, melainkan kehidupan spiritual berupa makhluk roh.
Setelah menyusuri lorong dalam waktu singkat, mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan luas yang berisi puluhan patung aneh. Dan lagi-lagi, mereka terbuat dari kristal.
Namun, berbeda dari sosok yang terbaring di peti es. Semua patung ini hanya memiliki warna ungu kehitaman tanpa corak kuning. Mereka juga tidak memberikan kesan intimidasi yang kuat seperti yang dimiliki sosok dalam peti es itu.
Noelle langsung sadar dengan apa sebenarnya semua patung itu.
(Mereka … terkena virus? )
Orphiment Virus, Apocalypse Virus, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Wabah Kristal. Semua petung itu mirip dengan kristal yang pernah Noelle lihat di tubuh Gild.
Kembali pada saat Noelle masih berkelana sebagai Noah Ashrain, dia sempat bertemu seorang pria tua bernama Gild. Pria tua itu memiliki kristal ungu kehitaman menutupi area lehernya, yang kemudian menyebar hingga ke tangan di pertemuan kedua mereka.
(Sepertinya Tania belum menyadari ini.)
Di sampingnya, Tania masih terlihat heran sambil menatap semua patung itu satu per satu. Dan dengan bermodalkan pengetahuan tentang hal itu, Noelle berani membuat kesimpulan.
"Hei, apa mereka ini–"
Namun, sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya, Dolum yang telah berjalan ke tengah ruangan menatapnya, dengan mata dingin yang tidak Noelle duga akan muncul dari sosoknya.
"Saya tidak tahu apa yang Anda pikirkan, tapi saya yakin itu benar. Semua yang terlihat seperti patung kristal ini, adalah para pasangan pengembara yang pernah datang, namun gagal memenuhi syarat untuk menjadi 'Yang Ditakdirkan'."
Tania mengerutkan keningnya, memiliki firasat buruk akan hal ini. Di sampingnya, Noelle juga melakukan hal yang sama.
"Apa maksudmu? "
Merasakan kecemasan memuncak di dadanya, Tania akhirnya tidak tahan dan mundur untuk berlindung di belakang Noelle. Dia juga siap untuk mengeluarkan sabitnya kapan saja.
Pada saat ini, Tania sama sekali belum mengetahui situasinya. Dia tidak tahu dengan kesimpulan yang Noelle buat, dan dia juga tidak akan bisa membuat kesimpulan yang sama.
Semua itu karena Tania kekurangan pengetahuan. Dia tahu tentang Wabah Kristal, tapi hanya sebatas pada pengetahuan dasar saja. Dia masih belum tahu wujud dari kristalnya. Karena itulah, Tania tidak pernah terpikir kalau semua patung itu mungkin saja disebabkan oleh Wabah Kristal.
"Artinya sama seperti yang sudah saya katakan, Nona. Semua patung kristal ini dulunya sama seperti kalian, mereka semua adalah para pengembara yang bertemu dengan kami, yang kami duga sebagai sebagai 'Yang Ditakdirkan', tapi sebenarnya merupakan orang yang salah, dan tidak memenuhi kriteria."
Dolum kemudian berjalan mendekati salah satu patung, dan menyentuh patung itu dengan tangannya.
"Sudah begitu banyak pasangan pengembara yang datang, tapi tak satu pun dari mereka merupakan 'Yang Ditakdirkan'. Kami sudah pasrah akan takdir yang terus mengecewakan ramalan Sang Ratu, tapi akhirnya, kalian datang."
Kata-katanya dipenuhi dengan kebahagiaan murni. Dia menatap semua patung itu dengan penuh prihatin, sebelum akhirnya beralih menatap senang pada Noelle dan Tania.
"Kalianlah 'Yang Ditakdirkan'. Kalianlah yang Ratu sebutkan dalam ramalannya."
" … kenapa kau bisa begitu yakin? "
Tidak ada alasan untuk bertanya. Jika semua benar-benar seperti yang Noelle pikirkan, maka jawabannya sudah jelas. Meski … dia sendiri tidak memiliki pemahaman mengapa bisa seperti itu.
Sudah menjadi pengetahuan dasar kalau Apocalypse Virus, atau Wabah Kristal itu sangatlah menular. Itu bisa menyebar melalui udara, meski hanya ada bagian kecil dari kristalnya di sebuah ruangan terbuka.
"Semua sudah jelas, Tuan. Alasan saya, dan semua orang yakin kalau kalian adalah 'Yang Ditakdirkan', adalah karena kenyataan kalau kalian masih hidup sampai sekarang."
(Ahh ….)
Semua seperti yang Noelle pikirkan. Tebakannya benar. Kalau begitu, ini justru memberinya lebih banyak pertanyaan baru.
"Bisa kau jelaskan lebih lanjut? "
Tania masih tidak mengerti. Karena itu dia meminta Dolum untuk menjelaskannya lebih detail lagi. Namun, melihat dari ekspresi yang Noelle buat, Tania yakin kalau ini bukanlah hal yang baik.
"Tentu saja, Nona. Akan saya jelaskan sampai Anda paham."
Dolum tersenyum tipis lalu berjalan mendekati Noelle dan Tania yang berdiri di tengah ruangan.
"Sudah ada puluhan pasangan yang datang menemui suku kami. Tapi, mereka semua berubah menjadi kristal saat mendekati peti es yang saya tunjukkan sebelumnya. Saya tidak yakin dengan alasannya, tapi itu mungkin karena kutukan yang mereka, para Penjajah Kristal jatuhkan."
Tania teringat pada sosok kristal yang ada di dalam peti es.
(Jadi itu yang mereka sebut dengan Penjajah Kristal.)
Mungkin itu adalah mayat dari salah satu Penjajah Kristal, karena Dolum menyebutnya sebagai 'mereka'. Meski begitu, bahkan Dolum sendiri tidak tahu ada berapa banyak dari 'mereka' yang ia sebutkan ini.
Yang pasti, Dolum dan semua anggota suku Artof meyakini bahwa Penjajah Kristal itu membawa kutukan; siapa pun yang mendekati mayat Penjajah Kristal, selain suku Artof akan seketika berubah menjadi kristal.
Itulah yang menjadi dasar atas keyakinan Dolum dan semua pendahulu suku Artof, bahwa 'Yang Ditakdirkan' seharusnya kebal dengan kutukan Penjajah Kristal.
Karena jika mereka tidak kebal, bagaimana mereka bisa memberikan keselamatan? Mereka justru hanya akan menjadi patung hiasan di ruang museum suku Artof nantinya.
Dolum dan semua anggota suku Artof menganggapnya sebagai kutukan, tapi yang sebenarnya terjadi itu sesuai dengan apa yang Noelle pikirkan.
Tania sudah sedikit memahaminya, tapi ada banyak hal yang membuatnya bingung. Melihat itu, Noelle segera membantu Tania untuk memahaminya lebih lanjut.
"Singkatnya … syarat untuk menjadi 'Yang Ditakdirkan' adalah bertahan setelah mendekati peti es. Jika kita berubah menjadi kristal, itu artinya kita tidak memenuhi kualifikasi."
"Bukankah itu … sangat beresiko? " Mendengarnya saja sudah membuat Tania bergidik ngeri.
Jika saja dia dan Noelle, tidak memenuhi kualifikasi, dan langsung menjadi kristal. Jika itu terjadi, maka keduanya dapat dipastikan akan langsung mati. Bahkan keabadian yang mereka miliki mungkin saja tidak akan membantu dalam situasi itu.
Noelle mengangguk. "Sangat beresiko, tapi itu hanya bagi kita."
Usai mengatakannya, Noelle langsung menyipitkan mata ke arah Dolum, seketika mengeluarkan aura intimidasi yang kuat hingga rasanya suhu dingin dari ruangan ini kalah olehnya.
"Bajingan, kau membuat kami datang ke sini, tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika aku menjadi kristal, aku akan langsung membawamu ke neraka terdalam."
Beberapa pedang muncul di sekitar Noelle, melayang dengan sendirinya tanpa ada yang menyentuh. Melihat itu tentu saja membuat Dolum panik. Meski begitu, dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang.
"Ini aneh. Saya pikir Anda adalah orang yang memahaminya. Dalam situasi di mana kami sering dikecewakan oleh harapan, bukankah adalah hal yang wajar untuk bersikap dingin? Untuk bertahan hidup, Anda juga akan melakukan segalanya, 'kan? Meski itu harus menipu dan merugikan orang lain."
Apa yang dia katakan memang tidak salah. Suku Artof telah terjebak dalam situasi aneh ini untuk waktu yang lama, dan mereka juga sudah sering dikecewakan oleh harapan. Tidak ada satu pun pasangan pengembara yang benar-benar menjadi 'Yang Ditakdirkan'. Semuanya tidak lebih dari manusia biasa yang akan berubah menjadi kristal sesaat setelah mendekati peti es.
Dalam situasi seperti itu, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, tidak heran jika suku Artof mampu bertindak dingin. Mereka akan langsung membawa pasangan pengembara ke peti es, dan melihat apakah mereka akan berubah menjadi kristal atau tidak. Semua demi memastikan ramalan yang diturunkan oleh Ratu Bengis.
Noelle juga memahami itu. Meski dia benci dipermainkan, Noelle paham kalau inilah kehidupan; penuh akan tipu daya dan perasaan dingin.
Semua pedang yang melayang dengan penuh haus darah itu pun perlahan menghilang, dan intensitas intimidasi Noelle juga secara bertahap menurun, membuat Dolum secara alami menjadi tenang.
"Setelah kuingat … ada rumor yang mengatakan kalau banyak petualang dan tentara bayaran datang ke Hutan Dingin, tapi mereka tidak pernah kembali, dan tidak pernah terlihat lagi. Mereka benar-benar lenyap tanpa jejak …. Sekarang semua masuk akal, mungkin mereka adalah pengembara yang berubah menjadi kristal."
Penjelasan yang tiba-tiba dari Tania itu ibarat sambaran petir bagi Noelle.
"Kenapa … kau tidak memberitahuku lebih awal? "
Tania merasa tidak enak, dan berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menyandarkan keningnya pada punggung Noelle.
"Ku-kupikir mereka tidak pernah kembali karena mati diserang monster atau semacamnya …."
...****************...