[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 310: Darah dan Ramalan (2)



...****************...


(Kupikir dia hanya bocah yang tidak berguna.)


Berbaring santai di atas altar, Raja Naga yang menguasai Darah dan Segel Ramalan, Azhar, membuat penilaian singkat tentang situasinya saat dia menyaksikan sosok bocah laki-laki yang sedang sibuk mengayunkan pedang.


Bukan berlatih, bocah laki-laki pirang itu sibuk mengayunkan pedangnya dalam pertarungan sengit melawan kumpulan kelabang besar, yang ukurannya bahkan setara dengan ukuran tubuhnya sendiri.


Sudah satu minggu sejak Azhar menjadikan Cryll sebagai muridnya, dan sejak saat itu pula dia telah menyiksa Cryll dengan jadwal dan metode latihannya yang gila. Begitu melelahkan sampai Cryll bisa merasakan nyawanya berada di ujung tanduk setiap kali sesi istirahat dimulai.


Meski begitu, setiap kali Cryll merasa ingin mati karena beratnya pelatihan yang diberikan, Azhar langsung memberikan ancaman yang membuat Cryll tetap melanjutkan pelatihannya. Ini adalah metode keji yang dipikirkan Azhar setelah dia memeriksa ingatan Cryll.


(Bajingan itu yang menyebabkan ini terjadi. Jika dia tidak mengacau, maka semua akan berjalan sesuai ramalan.)


Azhar diam-diam mendecakkan lidahnya saat dia memikirkan penyimpangan yang telah terjadi.


(Kenapa dia harus bertemu dengan bajingan itu? Kupikir bajingan itu sudah hidup bahagia di dalam segelnya.)


Memikirkan sosok bajingan berambut hitam dengan mahkota hitam itu saja sudah membuat suasana hatinya memburuk, tapi dia sekarang menjadi semakin kesal karena sosok itulah yang telah mengacaukan ramalannya.


Karena ulah bajingan itu, ramalannya menjadi tidak valid, dan realita telah meluncur ke alur yang berbeda dari seharusnya.


Ini seharusnya merupakan masalah besar, tapi melihat semua masih berjalan dengan lancar, Azhar mulai memikirkannya kembali.


Jika alur benar-benar diubah, maka seharusnya akan ada pengulangan waktu yang disebabkan oleh 'sosok itu', dan Charmon akan mendeteksinya sebelum akhirnya melaporkan itu pada Azhar.


Tapi karena semua masih berjalan di alur ini, maka itu artinya tidak ada pengulangan waktu.


Sayangnya Azhar telah kehilangan kemampuannya untuk mendeteksi pengulangan atau distorsi waktu yang terjadi karena telah terlalu sering mengalaminya. Saat ini, orang yang dapat mendeteksi itu mungkin hanyalah Charmon seorang, mengingat dia seorang Raja Naga yang menguasai Waktu.


(Haruskah aku melaporkan ini pada Charmon dan Ephilus? )


Azhar berpikir panjang sejenak, menimbang mana pilihan yang layak untuk diambil.


Dan setelah mempertimbangkannya lebih lanjut, Azhar memilih untuk menyimpan masalah ini terlebih dahulu. Tidak ada gunanya melaporkan situasi yang setengah matang pada mereka. Terlebih lagi, dia tidak bisa begitu saja meninggalkan tempatnya dan memanggil dia Raja Naga lain untuk berkumpul.


Azhar mulai bosan, dan dia hampir tertidur saat menyaksikan sosok Cryll masih sibuk menghadapi belasan kelabang yang masih hidup.


Pedang yang digunakan Cryll bukanlah pedang yang biasa dia pakai, atau bahkan pedang dari Geist. Itu tidak lebih dari pedang biasa, yang bisa dia dapatkan dari toko dengan harga yang sangat murah.


Kualitasnya sangat buruk, dan sama sekali tidak dapat menggorea tubuh kelabang.


Dari hal itu, sudah jelas kalau metode pelatihan ini seperti penyiksaan yang akan membunuh Cryll kapan saja. Namun, bukan itu maksud sebenarnya.


Setelah menghapal pergerakan semua kelabang di sekitarnya, Cryll langsung melompat mundur, memposisikan kakinya seperti hendak lari cepat. Kemudian, sosoknya tiba-tiba menghilang.


Satu kelabang yang sebelumnya hendak menyerang Cryll tiba-tiba terjatuh kaku di lantai, dengan memiliki bekas tebasan pada celah sisiknya.


(Pedang ini bahkan tidak bisa menggores tubuh terluar mereka. Tapi, kalau aku menargetkan celah di tubuhnya, bukanlah hal yang mustahil untuk langsung melukainya.)


Hasilnya tepat seperti yang Cryll bayangkan. Meski keras, masing-masing kelabang itu memiliki tubuh yang sangat lunak dan lemah di dalam 'armor' mereka.


Sejak awal, latihan ini diterapkan untuk melatih kemampuan Cryll dalam melihat celah. Jika dia tidak begitu pintar untuk menyadarinya, maka dia pasti sudah adu jotos dengan para kelabang itu sekarang. Yang tentu saja, merupakan hal yang sangat sia-sia.


Setelah intensitas serangan kelabang mulai menurun karena jumlahnya yang terus berkurang, Azhar langsung mengeluarkan beberapa kelabang lagi dari darahnya yang membentuk kolam di lantai.


Dia tidak akan berhenti melakukan ini sampai dia merasa Cryll dianggap layak di matanya.


(Sayangnya aku tidak mengerti apa yang dipikirkan dan direncanakan oleh Ratu Phantasmal.)


Azhar menghela napas berat ketika dia mulai menyusun ratusan skenario yang memungkinan. Namun, tidak satu pun dari itu bisa membawanya pada 'kemungkinan kebenaran'.


Ratu Phantasmal sama sekali tidak bisa ditebak. Azhar sendiri tidak mengerti mengapa waktu terus diulang.


Yang dia tahu, ada satu pengulangan waktu yang sangat berpengaruh, dan akan merubah masa depan ke arah yang berbeda. Itu tidak luput dari masa depan yang sudah pernah terjadi.


Masa depan yang penuh dengan kekacauan, garis waktu di mana bahkan para dragonoid pun sudah musnah. Bisa dibilang, itu adalah kiamat.


Mungkin Ratu Phantasmal ingin menghindari rute itu dengan melakukan pengulangan waktu ratusan, atau bahkan ribuan kali. Azhar tidak tahu jumlah pastinya.


Dan mungkin karena ingin menghindari rute itu pula, Ratu Phantasmal sampai harus memberikan 'ramalan' pada Raja Naga yang menguasai Darah dan Segel Ramalan.


Tentu saja, jika alasannya bukan untuk menghindari kiamat, Azhar tidak akan menuruti keinginan Ratu Phantasmal untuk menjaga ramalan.


Namun, semua berbeda sekarang.


Segalanya telah berjalan dengan rute yang berbeda dari yang diramalkan.


Ini memang membuat bingung, tapi Azhar tidak punya pilihan selain melanjutkannya.


Bahkan meski ramalannya meleset, seharusnya dia tetap harus berusaha agar masa depan tidak terlalu melenceng dari jalur yang telah disediakan Ratu Phantasmal.


Dan untuk melakukan itu, Azhar telah menciptakan sebuah rencana yang menurutnya cukup bagus.


Ramalan dari Ratu Phantasmal telah benar-benar meleset, sehingga yang datang bukanlah 'dia yang ditakdirkan'. Meski begitu, setidaknya Azhar mendapatkan kompensasi berupa 'orang yang dekat dengan dia yang ditakdirkan'.


Begitu membaca jiwa Cryll, Azhar langsung dikejutkan dengan fakta yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.


Dan sekarang dia memanfaatkan itu, dengan menjadikan Cryll sebagai muridnya. Jika Cryll bisa menjadi kuat seperti yang Azhar harapkan, meski alur dunia ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, setidaknya masih ada bidak yang bisa mempertahankan rutenya. Dan tujuan Azhar adalah untuk memaksimalkan potensi dari bidak itu.


Azhar diam-diam tersenyum saat melihat Cryll menghabisi semua kelabang satu per satu.


(Aku benci mengakuinya, tapi aku sudah kalah karena bajingan itu telah menarik bocah itu ke sisinya lebih dulu.)


(Aku tidak akan menerima ini.)


Azhar berdiri, dan sosoknya seketika menghilang.


Dia muncul kembali tepat di hadapan Cryll yang mulai lelah karena seharian bertatung melawan kelabang.


"Pelajaran pertama, jangan pernah lengah."


Pukulan yang kuat seketika diluncurkan ke perut Cryll, membuatnya memuntahkan semua udara di perut dan paru-paru keluar.


Pukulan itu tidak sekuat yang Azhar berikan pada saat pertemuan pertamanya dengan Cryll. Pukulan kali ini tidak membuat Cryll terbang menjauh. Atau mungkin itu karena Cryll sudah sanggup menahannya? Azhar tidak peduli.


Dia berjalan mendekati Cryll dengan tenang, dan sementara Cryll bersiap, dia kembali menghilang dan langsung muncul tepat di belakang Cryll.


"Pelajaran kedua, kau pemula, jadi selalu anggap kau akan kalah jika tidak mengeluarkan semua kekuatanmu dalam pertarungan."


Azhar memberikan pukulan dengan bagian pinggir tangannya tepat pada leher Cryll, dan itu membuat Cryll memuntahkan darah karena serangan yang tiba-tiba.


Tak berhenti di sana, Azhar kemudian melompat kecil dan memberikan tendangan kuat setelah berputar sekali di udara.


Cryll pun terbang menjauh, tapi dia berusaha menahannya dengan postur tubuh dan kekuatannya sendiri.


"Pelajaran ketiga, jangan mengamuk tidak jelas ketika kau kalah, tetapi cobalah untuk berpikir keras untuk mengembangkan teknik yang lebih baik agar kau menang lain kali."


Azhar tiba-tiba berubah menjadi kumpulan kelabang berukuran sama dengan yang menyerang Cryll sebelumnya, dan kali ini dia melesat cepat menuju Cryll.


"Aku sudah terbiasa dengan yang ini! "


Cryll mengangkat pedangnya, bersiap menyerang bagian terlemah dari kelabang. Namun, belum sempat dia menyerang, salah satu kelabang itu tiba-tiba bergerak keluar jalur dan sudah melilit tubuhnya dari belakang.


Tubuhnya tidak bisa bergerak, dan sensasi geli menjalari seluruh tubuhnya saat kaki kelabang itu menggelitik kulitnya.


Kelabang yang lain merayap di udara, berusaha mendekati Cryll, dan satu per satu dari mereka mulai menunjukkan aura intimidasi yang kuat saat kaki mereka yang seperti duri itu menjelajahi leher Cryll.


"Pelajaran keempat, mengingat pola serangan musuh mungkin bagus, tapi itu hanya berfungsi saat kau melawan makhluk yang jujur dan memiliki tingkat kecerdasan rendah. Selalu asumsikan kalau kau akan menghadapi musuh yang cerdas dan licik, agar mereka tidak mengecohmu."


Memang, kebanyakan orang kalah dari mereka yang licik. Cryll juga baru menyadari itu sekarang.


Mereka yang licik, entah itu humanoid atau monster, cenderung memiliki segudang trik untuk mengalahkan lawan.


Dengan memperlihatkan pola serangan yang konstan, lawan mereka akan beranggapan kalau mereka bisa menang jika melakukan gerakan tertentu. Namun, lawan tidak akan tahu kalau itu sebenarnya hanyalah jebakan.


Ketika lawan bergerak untuk menyesuaikan strategi dengan pola gerakan mereka, maka di situlah lawan kalah. Karena pergerakan mereka telah sepenuhnya dikendalikan.


Yang terburuknya, kebanyakan dari mereka tidak akan sadar kalau mereka telah dikendalikan. Yahh, pada akhirnya semua akan berujung pada kematian, jadi tidak ada yang bisa dilakukan juga bahkan meski mereka memahami strategi liciknya di akhir pertarungan.


Cryll tidak terlalu mengerti tentang ini karena dia belum terbiasa.


Sejauh ini, lawannya adalah orang-orang dan monster yang selalu bertarung dengan segenap kemampuan mereka. Dia sama sekali belum bertemu dengan mereka yang memiliki akal licik dengan segudang trik kotor.


Sekarang Cryll memahaminya.


"Terima kasih karena sudah memberitahuku! "


Lilitan dari tubuh kelabang Azhar masih menyulitkannya untuk bergerak, tapi Cryll sekarang sudah bisa menggerakkan tangannya meski hanya sedikit.


Dan dengan mengandalkan itu, dia mengarahkan pedang ke bawah, lalu menjatuhkannya dengan menambahkan sedikit tenaga.


Ujung pedang meluncur langsung ke arah celah tubuh pada salah satu kelabang, tapi pedangnya sendiri tidak pernah sampai ke sana, melainkan ditangkap oleh kaki kelabang yang dengan cepat meremas pedang itu hingga hancur.


Lilitan pada tubuhnya juga jadi semakin kuat, dan membuat Cryll mau tak mau harus meronta kesakitan.


Azhar tiba-tiba berubah ke wujud humanoidnya, dan langsung menendang Cryll kembali ke altar.


"Pelajaran terakhir, agak bertentangan dengan pelajaran ketiga; carilah sebanyak mungkin solusi, gunakan segala cara agar kau bisa menang. Jangan pernah bertarung dengan orang yang sama dua kali, tapi pastikan untuk mengalahkan mereka di percobaan pertama. Pengalamanmu tidak akan berkembang pesat hanya dengan mengalahkan satu musuh yang sama berulang kali."


Mendengarkan itu semua tanpa melewatkannya sedikit pun, Cryll sekarang paham kenapa Noelle tidak pernah mencoba untuk serius saat melawannya.


(Karena dia tidak akan berkembang, ya? )


Saat memikirkannya, kekesalan seketika berkelebat di kepala Cryll. Dia tidak bisa menerima penghinaan itu, tapi pada saat yang sama juga tidak bisa tidak mengagumi orang yang tidak akan repot-repot membuang waktunya untuk bertarung dengan orang yang lebih lemah.


Sekarang dia ingat, Noelle tidak pernah bertarung dengan sosok yang sama berulang kali, kecuali itu untuk keperluan eksperimen dan latihan sparing.


"Bajingan sialan itu …."


Azhar yang melihat Cryll perlahan berdiri dan mengeluarkan Geist mau tak mau tersenyum.


Memang tidak sekuat bocah yang ada di ramalan, tapi yang satu ini juga tidak kalah.


(Potensi mereka yang tidak terbatas cukup mirip satu sama lain.)


Yang membedakan mereka adalah cara hidup dan metode pelatihan. Jika keduanya dilatih dengan metode dan porsi yang sama, maka perkembangan kekuatan mereka akan selalu seimbang, tanpa ada yang menang atau yang kalah.


Pada akhirnya, Azhar mendapatkan bidak yang cukup bagus sekarang.


(Ayo kita lihat, murid siapa yang akan menang. Aku, atau kau, bajingan bermahkota hitam.)


Azhar diam-diam menyatakan perangnya terhadap entitas asing yang disebut Noir.


...****************...