![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Di bawah sinar bulan yang amat cerah, Dwayne melangkahkan kakinya dengan tenang, melewati puing-puing batu yang berserakan di lantai.
Tujuan perjalanannya adalah sebuah bangunan yang sudah lama menjadi reruntuhan. Bentuknya bundar, dengan atap kubah yang dilapisi cat putih.
Meski sudah menjadi reruntuhan, tak ada setitik pun debu yang menyelimuti struktur raksasa itu.
Dwayne tanpa memperhatikannya sedikit pun berjalan masuk, dan menemukan sebuah meja bundar besar yang ada di tengah ruangan.
Itu adalah bangunan dengan satu ruangan, dan hanya dengan lirikan sekilas, Dwayne sudah selesai memindai keseluruhan area.
"Maaf membuat kalian semua menunggu."
Dia duduk di salah satu kursi, dan secara alami menatap semua orang yang sudah menunggunya.
Tepat pada saat ini, pertemuan rutin organisasi Paradise Falls, yang beranggotakan para penerus keluarga dari bangsa Aino ini akhirnya dilaksanakan.
Di sandaran kursi Dwayne, nama Minster terukir jelas meski sudah sedikit retak.
Tak terhitung berapa lama waktu yang telah dihabiskan semua bagian bangunan itu, tapi sepertinya tidak ada sedikit pun perubahan dari saat pertama Dwayne melihatnya.
Ada delapan kursi, dengan nama yang berbeda terukir di masing-masing sandarannya.
Tatapan Dwayne tertuju pada orang yang duduk di kursi berlabel 'Grimald'.
"Aku harap kau sudah membagikan laporanku pada yang lain."
'Grimald' mendengus dan menjawab, "Jangan khawatir tentang itu. Semua orang sudah tahu tentangnya."
Semua orang yang hadir mengangguk sepakat.
Menanggapinya, seorang wanita yang duduk di kursi 'Amana' tersenyum. "Tapi … tidak kusangka kalau semuanya akan berjalan dengan sangat lancar. Harus kuakui, memilih Feran Cerces sebagai boneka adalah pilihan yang tepat."
"Kau harus memujiku untuk itu," ucap seorang wanita lain yang duduk di kursi 'Hall'.
Proses pemilihan 'boneka' bisa dibilang cukup rumit. Semua Paradise Falls harus menyeleksi setiap kandidat satu per satu, dan akhirnya didapatkanlah Feran Cerces.
Orang yang paling berjasa dalam proses seleksi itu adalah pewaris keluarga Hall saat ini, Meika Hall.
Meika telah melakukan banyak hal; mulai dari penyelidikan lapangan, sugesti target, dan banyak hal merepotkan lainnya.
Semua pekerjaan itu adalah hal yang dihindari oleh yang lain, dan karena itulah Meika dengan senang hati mengambilnya. Ini juga bisa menjadi poin kontribusi untuknya.
"Ohh, tentu saja. Kami sangat berterima kasih akan hal itu," ucap seorang pria berbadan besar yang duduk di kursi 'Yacob'. Meskipun penampilannya akan membawakan rasa takut pada yang melihat, entah bagaimana dia terasa benar-benar santai dan ramah.
Dwayne secara alami senang saat melihat percakapan antara para anggota berjalan dengan lancar, jadi dia berinisiatif untuk memulai bagian utama.
"Baiklah, sudah waktunya untuk saling membagikan laporan."
Dwayne mengeluarkan beberapa lembar kertas dari ruang kosong, dan menyerahkannya pada setiap orang.
Di kertas kosong itu tertulis jelas semua hal yang harus ia laporkan.
"Pertama, dan yang utama, rencana kita sejauh ini masih berjalan dengan sangat lamcar. Feran Cerces sudah bergerak mendekati eselon atas dengan membawa 'berkas' yang telah kita persiapkan."
Semua anggota Paradise Falls adalah mereka yang menjadi keturunan terakhir dari delapan keluarga besar bangsa Aino. Kejayaan keluarga mereka telah hancur, diinjak-injak secara tidak hormat oleh para musuh yang menyebut diri mereka sebagai 'Swallow Life Order'.
Secara alami, ini membawakan kebencian pada semua anggota keluarga yang tersisa.
Ratusan tahun berlalu, dan kebencian itu belum mereda sedikit pun. Satu-satunya ambisi mereka untuk saat ini adalah menghabisi setiap bagian dari organisasi itu.
Sejauh ini, belum ada rencana dengan prospek yang menjanjikan. Namun, semua berubah saat keturunan terakhir keluarga Minster, Dwayne Lee Minster akhirnya mengajukan diri untuk menyelinap ke dalam organisasi.
Bagi mereka yang menganggap Swallow Life Order sebagai musuh terbesar, menyamar sebagai anggota mereka adalah tindakan yang sangat tidak terhormat, dan menjijikkan.
Meski begitu, Dwayne tetap nekat menerima semua kotoran yang menempel pada nama keluarganya, dan berusaha agar bisa diterima di Swallow Life Order.
Usahanya tidak sia-sia. Dia berhasil diterima, bahkan menjadi petinggi cabang yang disebut 'Kru'.
Mulai dari saat itu, rencananya telah berjalan.
Dia mulai dari berinteraksi dengan 'kandidat boneka', Feran Cerces, lalu secara perlahan menariknya ke dalam organisasi.
Dengan begitu, Dwayne dan semua orang di Paradise Falls bisa mengendalikan wanita itu sesuka hati mereka. Dan saat ini, Feran tengah membawakan suatu 'perangkap' yang telah disiapkan oleh Paradise Falls untuk eselon atas Swallow Life Order.
Semua rencana telah berjalan dengan lancar sejauh ini. Hanya masalah waktu sampai eselon atas menerima 'hadiah' mereka.
"Sekali lagi, itu luar biasa." Velickus Amana tidak bisa menahan pujian yang keluar dari mulutnya.
Sebagai seorang keturunan keluarga Amana yang berjaya di masa lalu, kehancuran Swallow Life Order adalah hal yang paling ia nantikan.
"Lalu? Bagaimana kelanjutannya? Apa menurutmu semua akan berjalan dengan lancar juga? " tanya Velickus.
Tanpa banyak keresahan, Dwayne menjawab, "Masih belum pasti, tapi kemungkinannya semua akan baik-baik saja. Lagi pula, kita mendapatkan dukungan dariNya."
" ………? "
Tidak hanya Velickus Amana, tapi semua orang di sana memiringkan kepala mereka dengan bingung.
Dwayne tersenyum. "'Dia menyebut diriNya sebagai 'Noir'. Apa kalian merasa familiar dengan nama itu? "
Menoleh ke semua orang satu per satu, yang Dwayne dapatkan hanyalah gelengan kepala tanpa konfirmasi apa pun.
Tidak ada yang mengenal nama Noir.
"Dwayne, apa kau tahu sesuatu? " seorang wanita bernama Milsy nu Anson bertanya. Dia berharap untuk mengetahui siapa sebenarnya sosok ini, yang bahkan Dwayne perlu menunjukkan rasa hormat saat menyinggung keberadaannya.
Menanggapinya, Dwayne menggeleng.
"Sayangnya aku juga tidak tahu apa pun. Tapi, aku punya tebakan sendiri."
Kertas lain muncul dari udara kosong, dan terbang ke arah semua orang satu per satu.
Di kertas itu terpapar beberapa nama yang disusun dalam bentuk daftar terperinci. Mata semua orang menatap dan membaca semua nama itu dengan seksama.
"Sebenarnya, ada terlalu banyak nama untuk masuk dalam daftar, tapi aku melakukan eliminasi untuk melihat mana yang berkemungkinan besar merupakan identitas dari sosok itu."
"'Dia' adalah orang yang mengenal semua keluarga kita dengan baik, yang artinya 'Dia' sudah aja sejak zaman kejayaan keluarga dan bangsa kita. Di saat itu, para dewa sama sekali tidak aktif."
Para dewa mulai aktif menurunkan pengaruhnya di dunia nyata saat Dewi Anastasia muncul di hadapan umat manusia. Yang artinya, sosok Noir berkemungkinan besar bukanlah dewa sejati.
"Tunggu, kurasa aku mulai mengerti." Bernadict Grimald mengerutkan keningnya sambil mengelus dagu.
Melihat itu, Dwayne tersenyum.
"Tidak banyak nama yang bisa kudapatkan dari arsip, tapi ada satu kemungkinan yang sangat pasti."
Bukan Dwayne, atau bahkan Bernadict yang melanjutkan, melainkan orang yang sejak tadi diam, Lucasi Olden.
"'Dia' awalnya adalah manusia, ya …."
Dwayne yakin kalau Noir yang ia temui adalah seorang dewa. Namun, para dewa sama sekali tidak diketahui keberadaannya saat zaman kejayaan bangsa Aino. Bahkan, saat itu dewa tidak lebih dari manifestasi imajinasi manusia yang mulai gila karena penderitaan.
Karena itulah, semua orang yang mendengar kesimpulan Dwayne mau tak mau berpikir, bahwa Noir bukanlah dewa sejati yang terlahir secara alami.
"Tunggu, bukankah itu artinya dia … "
Aaron Floch mengangguk. "Menapaki jalan pendewaan, seperti yang pernah dinubuatkan oleh leluhur kita."
Ada satu informasi penting yang sampai kini masih diwariskan pada keturunan bangsa Aino. Informasi tersebut berkaitan dengan 'jalan pendewaan', sebuah jalan yang dilalui umat manusia untuk meningkatkan eksistensi mereka menjadi dewa.
Kesimpulan mereka saat ini:
Noir pada awalnya bukanlah dewa, tapi dia entah bagaimana mampu menapaki jalan pendewaan, sehingga bertransformasi menjadi 'dewa sejati'.
Kesimpulan itu mereka dapatkan karena melihat fakta bahwa tidak pernah ada dewa yang muncul pada era bangsa Aino. Kesimpulan ini bisa saja terpelintir jika suatu saat terkuat fakta bahwa dewa sebenarnya sudah muncul sejak zaman itu.
Namun, untuk saat ini, Paradise Falls condong pada kesimpulan yang mereka buat di kepala mereka sendiri; sebuah jalan pendewaan.
"Yang menjadi masalahnya, kita masih belum tahu siapa 'Dia'. Era keemasan bangsa kita sudah berlalu bahkan sebelum raja iblis menyerang. Itu tujuh ratus tahun sebelum para dewa mulai menampakkan diri."
Bisa jadi sosok 'Noir' ini merupakan manusia yang hidup setelah era bangsa Aino, karena kisah tentang bangsa Aino masih bertahan hingga berabad-abad lamanya. Tidak menutup kemungkinan bahwa Noir mengenal bangsa itu dari sebuah cerita lampau.
Tapi jika begitu, akan semakin sulit untuk mengungkap siapa sebenarnya Noir itu.
Usai menghabiskan banyak waktu untuk berpikir, Aaron Floch akhirnya menghela napas.
Pria jangkung dengan mata tajam dan memiliki nama yang serupa dengan pahlawan itu melirik Dwayne dan semua orang secara bergantian.
"Kita masih belum bisa mengungkap ini. Siapa pun, tolong lakukanlah penyelidikan untuk menemukan sosok ini. Aku masih tidak bisa tenang jika ada variabel asing dalam rencana kita."
Rencana mereka sudah sangat terstruktur, dengan membuat segala macam perkiraan. Namun, jika ada satu variabel tak terduga muncul, maka rencana akan langsung kacau.
Mereka hanya bisa berharap kalau keberadaan Noir tidak akan mengacaukan rencana yang sudah mereka susun selama bertahun-tahun.
Milsy nu Anson mengangguk. Dia adalah wanita cantik berambut hitam mengkilap, dengan tatapan yang sayu dan wajah mengantuk yang sangat khas.
Dwayne, yang paling aktif selama diskusi ini berlangsung secara alami ditunjuk menjadi pemimpin diskusi hari ini. Saat semua orang sudah selesai dengan pembahasan mereka, masing-masing dari mereka mulai menoleh padanya, membuat Dwayne tertawa kecil dan menepuk tangannya.
"Baiklah, kurasa itu adalah semua hal yang harus kita laporkan. Jika ada sesuatu, jangan ragu untuk saling menghubungi. Terkait penyelidikan tentang identitas Noir, aku akan menyerahkannya pada kalian."
Bagaimanapun, Dwayne masih tidak berani untuk berinteraksi, atau bahkan menggali masa lalu tentang Noir. Karena itulah dia akan menyerahkan masalah ini pada orang yang lebih cocok.
"Bagus, sampai jumpa lagi bulan depan." Fushi Yacob berdiri dari kursinya, diikuti oleh hadirin yang lain.
Seketika, setitik cahaya muncul di tengah dada mereka, dan itu mulai bergerak dan berputar di atas meja bundar.
Satu per satu nama terbentuk, dan setiap nama memiliki satu benang cahaya yang tersambung langsung dengan bagian dada mereka.
Dwayne Lee Minster, Aaron Floch, Milsy nu Anson, Bernadict Grimald, Meika Hall, Fushi Yacob, Lucasi Olden, dan Velickus Amana.
Setelah semua nama itu terbentuk, sosok mereka mulai memudar, dan reruntuhan gedung dengan meja bundar itu dibiarkan sunyi seperti tidak ada yang pernah menyentuhnya.
...****************...