![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Untuk sejenak, Olivia benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Pikirannya tidak dapat memproses kejadian yang begitu cepat ini.
Namun, kemudian dia langsung tersadar. Olivia terdiam di tempatnya, tertegun sambil menatap mayat Erwin yang terus direduksi menjadi abu.
Situasi yang serupa juga dialami oleh semua orang yang ada di sana. Anzu hanya terdiam sambil menatap mayat Erwin dari kejauhan, sementara Werli memiliki wajah yang semakin pucat.
Werli ingat dengan jelas. Dia baru saja berbicara santai dengan Erwin tentang pengalamannya semasa berperualang dulu, tapi kini orang itu telah menjadi mayat yang tidak bernyawa, menunggu waktu mengubah tubuhnya menjadi abu.
Di sisi lain, Stella telah lebih dulu sadar. Dia langsung mengangkat wajahnya dan melihat gumpalan asap hitam yang perlahan menutupi area di sekitarnya.
"Livia! "
Dia mencoba memanggil Olivia dengan sekuat tenaga, yang kemudian direspon oleh Olivia dengan anggukan singkat. Dia sudah menyadari situasinya.
Namun, itu sedikit terlambat.
Asap hitam sudah memenuhi area itu, dan menenggelamkan mereka semua ke dalamnya.
Olivia merasakan napasnya menjadi sedikit sesak, tapi dia tahu kalau itu tidak terlalu berbahaya. Kemudian, kesadarannya menghilang.
...****************...
Pemandangan di hadapannya benar-benar terasa asing, tapi entah mengapa ia bisa dengan yakin mengatakan kalau ia mengenal tempat ini.
Dinding kayu dengan bau yang harum, langit-langit kayu yang dipoles dengan indah, serta lampu gantung sederhana yang ditempatkan tepat di tengah.
Olivia kini sedang duduk di sebuah sofa, mengamati ruangan yang telah ia tempati entah sejak kapan.
Di depannya ada sebuah meja kayu berlapis kaca, dan si atasnya ada beberapa cangkir porselen berisi teh mint yang perlahan mulai mendingin.
Dari tempatnya duduk, Olivia bisa mendengar suara dari beberapa orang yang tampaknya sedang bersenang-senang. Suara-suara itu kemungkinan besar berasal dari seorang pria dan dua orang anak yang berbeda jenis kelamin.
Tak lama kemudian, Olivia akhirnya mendapatkan kembali kewarasannya. Dia perlahan mulai mengingat beberapa hal yang tidak masuk akal, di antaranya adalah kenyataan kalau dia sudah menikah dengan Noelle dan memiliki dua orang anak.
Olivia segera bangkit dari sofa, lalu berlari kecil menuju cermin besar yang ada di dekatnya.
Selama beberapa waktu, dia terus memperhatikan sosok yang ada di cermin. Itu adalah dirinya sendiri, hanya saja dia terlihat lebih tinggi dan dewasa dari yang dia ingat. Gaya berpakaiannya juga berbeda, dia kini hanya mengenakan gaun putih sederhana dengan celemek merah muda yang lucu.
Itu adalah penampilan yang berbeda dari yang ada di ingatannya.
"Apa yang … Terjadi? "
Meskipun berbagai pertanyaan terkait terus muncul di kepalanya, Olivia sama sekali tidak bisa menjawab itu. Hingga akhirnya, kewarasannya menjadi sedikit goyah.
Pikirannya secara alami menerima situasi ini, dan ingatannya tentang kenyataan sejati perlahan mulai memudar.
Tanpa ada keraguan sedikit pun, dia sekarang yakin kalau ini memang hal yang benar. Dia menikah dengan Noelle, dan memiliki dua orang anak. Ini memang kenyataannya.
Semua keganjilan yang ia rasakan sebelumnya, kini telah menghilang. Olivia berjalan dengan kecepatan rendah menuju pintu yang mengarah ke luar rumah, dan melihat beberapa sosok yang sedang bermain.
Mereka semua sedang bermain di sebuah taman kecil yang dibangun di area pekarangan rumah. Seorang bocah laki-laki yang usianya mungkin sekitar lima atau enam tahun sedang menaiki kuda mainan yang terbuat dari kayu, sedangkan yang lain adalah seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh atau delapan tahun. Senyumnya mekar saat ayunan yang ia duduki itu didorong dengan hati-hati oleh seorang pria di belakangnya.
Pria itu memiliki rambut putih yang mencolok, wajah androgini yang indah, serta tubuh yang terbilang 'ideal'. Itu adalah Noelle, yang kini sedang menemani 'anaknya' bermain.
Salah satu anak itu adalah seorang gadis beramput perak platinum, memiliki wajah yang agak mirip dengan Noelle. Sekarang, Olivia ingat kalau namanya adalah Levina.
Senyum Olivia perlahan melembut saat melihat mereka bertiga. Noelle menyadari itu, dan dia balas tersenyum sambil menatapnya.
Kemudian, Noelle menghentikan ayunan Levina dan membisikkan sesuatu padanya. Dia juga tampaknya membisikkan hal yang sama kepada bocah lelaki itu.
Olivia hanya bisa tersenyum masam dan masuk ke dalam. Dia melepas celemek nya dan merapihkan perlengkapan teh yang berserakan di atas meja, lalu meletakkan beberapa mangkuk yang penuh dengan makanan ringan.
Dia hanya terus duduk di sofa sambil menunggu Noelle dan kedua bocah itu memasuki rumah.
Hingga akhirnya, mereka bertiga masuk dan secara alami duduk berdekatan. Noelle mengambil posisi tepat di samping Olivia, sedangkan Levina duduk di pangkuannya, sementara bocah laki-laki itu hanya dengan santai menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan memakan kue kering di atas meja tanpa mengeluarkan suara apa pun.
Dalam hal sifat, dia mirip dengan Olivia di masa lalu, benar-benar pendiam dan jarang mengatakan apa pun kecuali saat diperlukan.
"Apa yang terjadi? " Setelah kedua anak itu memakan cemilan mereka dengan tenang, Noelle segera membuka percakapan dengan Olivia. Dia memperhatikan bagaimana ekspresi Olivia sedikit berbeda dari biasanya.
Olivia diam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa. Awalnya dia ingin menjelaskan tentang perasaan aneh yang ia dapatkan sebelumnya, tapi kemudian pikiran itu langsung menghilang seolah ia memang tidak memilikinya.
" … Entahlah … Aku … Hanya sedikit bingung … "
Pada akhirnya, Olivia hanya bisa memberikan jawaban yang samar. Kepalanya menunduk ke bawah, dan matanya dengan linglung menatap paha yang hanya ditutupi stocking hitam itu. Dia memakai gaun langsung dengan bagian rok yang cukup pendek hingga hampir semua bagian pahanya bisa terlihat dengan jelas saat duduk, jadi dia memakai stocking hitam untuk membuat penampilannya menjadi sedikit tertutup dan sopan.
Dia ingat kalau dia mulai memperhatikan kesopanan dalam berpakaian saat dia mulai menjadi ibu rumah tangga. Setelah ia memikirkannya, dia merasa itu agak lucu sekaligus menyedihkan mengingat dia selalu bersikap terbuka hanya ketika dia bersama Noelle.
Olivia tidak mengatakan apa pun lagi. Dia meremas tangannya sendiri dengan bingung, tapi kemudian tangan Noelle muncul dan menggenggam erat tangannya yang mengepal.
Tubuh Noelle miring ke samping, dan dia menyandarkan kepalanya ke bahu Olivia. Posisi itu membuat Levina sedikit terganggu, tapi dia tidak memberontak dan membiarkan Noelle melakukan semua hal yang dia inginkan.
Kelopak mata Noelle perlahan turun saat dia menikmati sandaran yang diberikan Olivia. Namun, kemudian dia kembali bangkit dari posisi bersandar, lalu menarik kepala Olivia mendekat ke bahunya sendiri, membuatnya bertukar posisi dari yang sebelumnya.
Olivia tidak menolak. Dia membiarkan Noelle melakukan apa yang di inginkan, dan justru terlihat sangat menikmati 'pelayanan' itu.
Pada saat itu, rasa kantuk mulai menyerbu dirinya, dan membuatnya tanpa sadar telah tertidur.
Begitu dia terbangun, dia segera menyadari kalau dia sudah berada di tempat yang berbeda dari sebelumnya.
Langit-langit yang hampir ia tidak kenali, tapi entah bagaimana langsung mengingat semuanya. Olivia segera bangkit dari posisinya dan melihat ke sekeliling.
Berdasarkan 'ingatannya', dia sekarang sedang berada di kamar. Langit di luar jendela sudah sangat gelap, dan ada banyak bintang yang menyala dengan terang tanpa terganggu polusi cahaya.
Olivia hanya melirik sedikit, dan ia segera menyadari kalau tidak ada siapa pun di sana. Olivia langsung turun dari ranjangnya dan berjalan menuju wastafel yang ada di kamar mandi.
Setelah mencuci muka, dia segera pergi ke ruang tamu, dan menemukan Noelle yang sedang duduk diam di sana.
"Noelle … "
Olivia mencoba memanggilnya, tapi Noelle tidak menjawab dan hanya menatapnya dalam diam sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, dia membuka mulutnya, "Kamu sudah bangun? Kamu benar-benar tukang tidur, ya? "
" … Maaf, entah kenapa aku merasa sangat mengantuk tadi." Setelah mengucapkan permintaanmaafnya, Olivia langsung menghampiri Noelle dan duduk tepat di pangkuannya.
Olivia dengan nyaman dan tanpa rasa keberatan sedikit pun langsung menyandarkan tubuhnya di dada Noelle, dan Noelle sendiri menerimanya dengan sebuah pelukan.
"Apa kamu memikirkan sesuatu? "
Tanpa melonggarkan pelukannya di perut Olivia, Noelle bertanya sambil menempelkan dagunya di atas kepala Olivia.
Olivia diam sejenak tanda berpikir, lalu menjawab dengan suara yang diisi keraguan, "Entahlah … Aku … Hanya merasa kalau ini semua tidaklah nyata … Semuanya begitu indah sampai-sampai aku merasa kalau ini bukanlah dunia nyata."
"Benarkah? Menurutmu … Apa itu semua benar-benar hanya hayalan belaka? "
"Aku … Tidak tahu … " Olivia dengan pasrah menggelengkan kepalanya lalu menatap ke bawah untuk beberapa saat.
Pandangannya fokus pada pahanya sendiri, yang masih dilapisi stocking hitam polos. Tidak seperti sebelumnya, dia kali ini berhasil menyuarakan kebingungannya di hadapan Noelle. Meskipun, itu masih dalam porsi yang kecil sama tidak cukup untuk mendapatkan informasi apa pun.
Pelukan Noelle terhadap Olivia menjadi semakin kencang, dan Noelle mulai menundukkan kepalanya. Kini, wajahnya telah tenggelam di antara bahu dan leher Olivia.
Dengan posisi seperti itu, Noelle kembali bertanya, "Menurutmu sendiri … Apakah ini semua nyata? "
" … Aku … "
"Kamu mulai merasa kalau ini semua tidaklah nyata. Tapi, bagaimana menurutmu? Apa kamu bisa menerima semua ini? "
"Aku … Mungkin tidak … "
"Kenapa? "
" … Entahlah … "
Noelle menghela napas berat dan mengangkat wajahnya. Dia menoleh dan memiringkan kepalanya sedikit untuk menatap Olivia.
"Jika saja, ini semua adalah mimpi, dan bukan kenyataan. Apa yang akan kamu lakukan? "
"Sejujurnya … Aku tidak ingin bangun. Semua yang kualami di sini adalah hal yang sangat membahagiakan. Aku yakin kalau inilah bentuk kebahagiaan yang paling kudambakan. Bersama seseorang yang kucintai, membenruk keluarga kecil yang hangat, menghabiskan waktu bersama … Itu semua adalah hal yang paling kuinginkan dalam hidupku. Aku akan sangat bahagia jika itu terjadi. Tapi … "
Hening sejenak, Olivia kemudian melanjutkan, "Itu semua tidak akan ada gunanya. Itu hanyalah mimpi dan bukan kenyataan. Meski aku bahagia di sini, aku tidak ingin mengesampingkan kenyataannya. Bukankah akan sangat egois jika aku bahagia sendiri, sementara orang yang kucintai tidak? Lebih dari apa pun, aku ingin Noelle merasa bahagia, karena dengan begitulah aku juga akan merasa sangat senang."
" … Benarkah? "
Suara Noelle terdengar agak ragu, tapi ia tidak menunggu jawaban Olivia dan langsung mengangkat kepalanya. Dia bersandar pada sofa, dan pelukannya pada Olivia menjadi lebih erat.
"Nn. Aku mencintai Noelle tidak peduli apakah itu di kenyataan atau mimpi sekali pun. Perasaanku tidak akan pernah berubah."
"Bahkan meski aku berubah? "
Dia tidak pernah berpikir kalau Noelle suatu saat akan berubah. Noelle akan tetap menjadi seseorang yang berharga baginya, dan tetap menjadi satu-satunya sosok yang Olivia cintai.
"Itu … Pertanyaan yang sulit, tapi … Aku sudah memutuskannya. Aku akan tetap mencintai Noelle seperti sekarang, meski Noelle telah berubah dan tidak menganggapku lagi, perasaanku akan tetap sama."
Pada saat ini, Olivia akhirnya sadar akan realitas. Dia ingat apa yang terjadi, dan ia ingat di mana dia sekarang.
Ini adalah alam mimpi. Entah bagaimana dia bisa memasuki alam mimpi pribadinya dari alam mimpi kolektif itu.
Pikirannya menjadi lebih jernih, tapi ia tidak melakukan apa pun dan justru dengan nyaman membiarkan Noelle memeluknya.
(Bahkan meski ini hanya mimpi … Tolong biarkan aku merasakannya lebih lama lagi.)
Olivia berusaha menahan keinginannya yang hampir membuatnya kehilangan kendali. Jika dia tidak menahan diri, dia mungkin sudah berbalik dan menyerbu Noelle dengan ribuan ciuman hangat.
"Jadi, apa yang kamu inginkan? "
Noelle kembali mengangkat tubuh atasnya dan bertanya dengan serius. Menanggapi itu, Olivia menoleh sedikit dan tersenyum.
"Aku ingin kembali. Ini memang mimpi yang indah, tempat di mana aku bisa bersama Noelle tanpa harus memikirkan masalah apa pun, tempat yang bisa kita gunakan untuk menjalani hari-hari abadi kita tanpa perlu terganggu oleh siapa pun. Ini benar-benar mimpi yang sempurna. Noelle ada di dekatku, akan selalu memberiku pelukan dan ciuman yang hangat. Tapi, itu semua akan sia-sia jika aku tidak bisa bersama Noelle di dunia nyata."
Mengatakan itu, Olivia mengeluarkan senyum cerah yang jarang ia tunjukkan. Matanya terpejam sejalan dengan senyumnya, sedangkan pipinya menjadi semakin merah karena rasa malu yang bercampur dengan kesenangan itu.
Noelle yang masih memeluknya tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengangkat kepalanya dan menatap langit-langit kayu dengan bingung.
Tak lama kemudian, setelah keheningan yang agak panjang, Noelle akhirnya menghela napas.
"Apa kamu yakin dengan ini? "
Olivia menjawab tanpa ada keraguan, "Nn. Aku ingin kembali ke dunia nyata."
"Mungkin, akan ada kejutan yang menghampirimu di sana, dan itu bukanlah kejutan yang menyenangkan. Apa kamu masih mau menerimanya? "
Untuk sejenak, Olivia tidak tahu harus menjawab apa. Dia bingung, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Noelle katakan.
Mengenal Noelle selama ini, Olivia yakin kalau itu bukanlah kalimat kosong yang tidak ada artinya. Bahkan meski Noelle yang memeluknya sekarang hanyalah proyeksi dari mimpinya sendiri, Olivia yakin kalau pikiran Noelle tidak akan sesederhana itu. Secara alami, Olivia yakin ada makna tersirat di balik kata-katanya.
"Aku tidak tahu kejutan apa yang Noelle maksud. Aku mungkin akan kesulitan menerimanya, atau bahkan aku mungkin sama sekali tidak bisa. Tapi, seperti yang aku katakan, aku tidak ingin membahagiakan diriku di sini. Jika aku ingin merasa bahagia, maka aku harus merasakannya bersama Noelle di dunia nyata. Tidak peduli masalah apa yang menanti, entah bagaimana aku akan mengatasinya. Noelle juga tidak akan tetap diam, Noelle pasti akan melakukan sesuatu untukku."
"Meski semua masalah yang kita hadapi akan membuat perubahan pada diri kita, perasaanku terhadap Noelle tidak akan pernah berubah. Noelle adalah satu-satunya yang kumiliki. Ini adalah perasaan yang sudah tertanam bersama takdirku sejak aku lahir."
" … Kamu luar biasa."
Bahkan tanpa melihatnya langsung, Olivia yakin kalau Noelle sekarang sedang tersenyum. Namun, entah kenapa senyum itu terasa sangat menyakitkan. Olivia berniat menoleh untuk memeriksanya, tapi tangan Noelle telah bergerak untuk menghentikan gerakan kepalanya.
Meski begitu, Olivia tidak berhenti. Dia memiliki firasat; jika dia tidak melihatnya, maka dia pasti akan menyesal.
Dia berhasil menoleh dan melihat Noelle.
Tepat seperti yang dia pikirkan, tatapan mata Noelle memancarkan kesedihan yang mendalam bersama dengan kebingungan yang jelas. Dia seperti seorang anak yang tersesat.
Matanya sedikit berkaca-kaca, dan dia terlihat seperti sedang menahan tangis.
Olivia tanpa sadar telah menatapnya tanpa berkedip. Pemandangan ini membuatnya secara alami menggerakkan tangannya dan mengusap area di sekitar mata Noelle. Kemudian, dia langsung memajukan wajahnya, tanpa ragu memberikan Noelle sebuah ciuman yang halus.
Ciuman itu bertahan hingga beberapa saat, sampai Olivia memisahkan bibirnya. Dia terus menatap Noelle dengan wajah tanpa ekspresi, tapi tatapan matanya seolah memiliki banyak keinginan yang tak terkatakan.
Pelukan Noelle telah terlepas, dan kini Olivia bebas bergerak. Akhirnya, Olivia bangkit dari posisinya dan mendorong Noelle semakin dalam ke sofa.
Tatapan mereka bertemu, dan pandangan mereka sama sekali tidak teralihkan bahkan setelah sekitar satu menit saling tatap.
Kemudian, Olivia mendorong Noelle ke samping, membuatnya masuk ke posisi berbaring di sofa. Olivia menahannya dari atas, sama sekali tidak membiarkannya bergerak.
"Apa ini yang kamu inginkan? " tanya Noelle sambil tersenyum tipis. Tidak ada lagi raut kesedihan di wajahnya.
Olivia diam sejenak, tapi segera menjawab setelah tatapannya menyapu bibir Noelle yang memiliki sisa pelembab bibir yang menempel karena ciuman itu.
"Noelle yang ingin menangis … Itu imut. Sulit untuk menahan diri."
Olivia tahu kalau Noelle telah mengizinkannya melakukan ini. Bagaimanapun, Olivia paling sadar kalau Noelle bisa bergerak dan lepas dari posisi ini kapan pun, tapi Noelle justru tidak melakukannya. Jelas, ini merupakan bentuk persetujuan diam-diam.
Olivia mengangkat tubuhnya dan menatap Noelle dalam diam. Kemudian, dia segera menarik ujung pita merah yang menahan kerah gaunnya sendiri, membiarkan benang merah itu menggantung dan membuat gaunnya semakin longgar.
"Jadi ini pilihanmu … "
Untuk sejenak, dia bisa mendengar Noelle mengatakan sesuatu, tapi dia tidak peduli. Olivia kembali ke posisinya dan menatap Noelle dari jarak yang sangat dekat.
"Anak-anak mungkin akan bangun," ucap Olivia tanpa ada perubahan khusus pada ekspresinya.
"Berusahalah agar itu tidak terjadi," jawab Noelle.
Noelle kemudian mengulurkan tangannya ke samping, lalu sebuah selimut tipis muncul dari udara kosong, mendarat di telapak tangannya.
Setelah itu, Noelle langsung membentanglan selimut dan membiarkan kain itu menutupi dirinya dan Olivia.
"Noelle … Apa boleh? "
Olivia bertanya karena kebiasaan. Pada dasarnya, dia sudah mendapat izin dari Noelle.
"Nn."
Dengan anggukan singkat dari Noelle, Olivia tidak membuang waktu dan langsung menenpelkan bibirnya ke bibir Noelle. Tubuhnya telah menindih Noelle, dan lengannya yang agak pendek dengan lembut memeluk lehernya.
Pada saat itu, Olivia telah kehilangan sedikit kewarasannya. Dia membiarkan keinginan mengambil alih dirinya, dan untuk sementara membenamkan diri dalam kesenangan.
...****************...
Olivia terbangun, dan menyadari kalau dia sedang tertidur di sebuah sofa.
Dia mencoba bangkit dari posisinya, tapi tubuhnya terasa begitu lemas sehingga ia hampir tidak bisa menggerakkan satu jari pun.
Namun, entah bagaimana dia bisa bergerak sedikit. Olivia meraba ke samping dan tidak menemukan Noelle di mana pun. Tatapannya secara alami memindai ruang tamu yang masih sama seperti sebelumnya. Kemudian, dia menemukan sosok Noelle sedang berdiri tak jauh darinya, sedang menatap langit berbintang di luar jendela.
"Noelle … "
Menerima panggilan Olivia, Noelle langsung menoleh dan memberinya senyuman yang lembut.
Olivia merasa agak canggung. Dia perlahan bangkit dan duduk dengan bersandar, lalu menarik selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang menjadi sedikit terbuka.
Di lantai, semua pakaian yang sebelumnya ia gunakan telah dibiarkan kusut dan berserakan.
"Noelle … Apa yang sebenarnya akan terjadi? "
Selama 'adegan' sebelumnya, Olivia telah merasakan banyak keanehan dari Noelle. Dia sepertinya ragu akan sesuatu, tapi tampaknya telah pasrah dan menemukan satu solusi untuk masalahnya. Tentu saja, Olivia tidak tahu itu.
Olivia menahan selimut dengan satu tangan, dan terus menatap Noelle, yang kemudian dibalas Noelle dengan anggukan kepala singkat.
Dia kemudian berjalan mendekati Olivia dan berjongkok di depan sofa.
Karena posisinya, dia sekarang harus mendongak sedikit untuk melihat wajah Olivia secara jelas.
"Livia, kamu akan bangun tidak lama lagi. Maaf karena tidak bisa mengatakan banyak hal. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu."
Olivia diam, menunggu Noelle melanjutkan kata-katanya.
Setelah hening sejenak, Noelle pun mengangkat tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Olivia.
Dia kemudian memberikan ciuman yang singkat di kening Olivia, lalu menempelkan dahinya ke dahi Olivia, sebelum akhirnya berbisik dengan suara rendah, "Aku akan selalu mencintaimu. Tidak peduli apa yang terjadi, tidak peduli apakah diriku akan berubah, perasaanku padamu akan menjadi satu-satunya yang bertahan. Ingatlah itu selalu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku akan selalu bersamamu, meski kamu tidak menyadarinya."
"Noelle … "
Olivia tentu saja menyadari keanehan pada kata-kata Noelle. Dia mencoba membalas, tapi tidak ada satu pun kata yang berhasil keluar.
"Aku mencintaimu, Livia."
Dengan kata-kata itu, Noelle memisahkan dahinya dari dahi Olivia, lalu mundur beberapa langkah.
Dia tersenyum cerah seolah ingin menutupi semua kesedihan itu, tapi semuanya terlihat jelas di mata Olivia.
Olivia sekali lagi mencoba meraih tangannya, tapi dia tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa melihat sosok Noelle yang perlahan menghilang.
"Noelle! "
Pada saat dia bisa meneriakkan namanya, sosok Noelle sudah tidak ada lagi.
Olivia tiba-tiba diserbu rasa kantuk yang luar biasa, lalu jatuh tertidur tanpa bisa melakukan perlawanan apa pun.
...****************...