[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 299: Suku Artof (2)



...****************...


Untuk kedua kalinya, Noelle dan Tania pergi ke Hutan Dingin. Namun, kali ini bukan untuk jantung Spirit Hunter, melainkan mengisi jawaban dari semua pertanyaan yang telah mereka simpan selama beberapa hari ini.


Setelah tiba di danau tempat Noelle dan Tania beristirahat beberapa malam sebelumnya, keduanya langsung masuk lebih dalam ke area hutan, dan sampai di sebuah tebing dangkal yang memperlihatkan dataran putih murni tanpa noda.


Tak jauh dari sana, ada sebuah pemukiman kecil, yang terletak jauh di kedalaman hutan, dikelilingi pohon-pohon raksasa, dan tumpukan salju putih yang mengelilingi layaknya benteng.


Tempatnya dilindungi oleh sebuah penghalang, yang menyebabkan siapa pun tidak akan pernah melihat atau bahkan menyadari keberadaannya. Noelle dan Tania pun bisa melihat pemukiman itu karena mereka pernah berkunjung sekali sebelumnya.


Noelle menatap Tania yang berdiri diam di sampingnya, kemudian saling mengangguk seolah paham akan pikiran masing-masing.


Di saat itu pula, keduanya langsung melompat, dan tiba tepat di depan gerbang kayu yang menjadi satu-satunya akses masuk dan keluar desa suku Artof.


Noelle mengetuk gerbang itu beberapa kali, dan satu sosok langsung keluar setelah pintu terbuka.


Sosok itu kecil, ukurannya hanya setara dengan pinggang Tania yang memiliki tinggi sekitar 163 sentimeter.


"Selamat datang kembali, Tuan Pengembara. Saya sudah menunggu kedatangan kalian berdua," ucap sosok kerdil dengan kulit biru itu pada Noelle dan Tania.


Noelle ingat namanya. Dolum, begitulah dia memanggil dirinya sendiri. Dari yang dijelaskan oleh Dolum, dia adalah kepala suku yang telah menjaga desa suku Artof selama empat puluh tahun. Singkatnya, dia berperan sebagai seorang perwakilan di hadapan Noelle dan Tania.


Melihat Dolum bersujud di hadapannya membuat Noelle merasa tidak nyaman. Biar pun suku Artof sangat menghormati dirinya dan Tania, dijadikan sebagai subjek sesembahan seperti ini bukanlah hal yang menyenangkan.


Ini seperti suku Artof sama sekali tidak memiliki harga diri, sehingga mereka mau bersujud di hadapan sepasang pengembara asing yang wajahnya tidak pernah mereka lihat.


Sebelumnya, saat pertama kali Noelle dan Tania bertemu langsung dengan suku Artof, Dolum dan beberapa penduduk yang sedang melakukan ritual di luar desa sangat antusias dengan kehadiran mereka. Noelle dan Tania sempat diajak untuk mengunjungi desa, tapi keduanya tentu saja menolak untuk langsung pergi ke tempat itu.


Karena itulah, ketika keduanya mengatakan akan berkunjung lagi nanti, Dolum tidak bisa menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak penting. Dia diam menunggu di balik gerbang, selama berhari-hari hanya untuk menunggu kedua pengembara itu datang.


Dan di sinilah dia, sedang melakukan percakapan langsung dengan pengembara yang dimaksud.


Noelle memaksa Dolum untuk bangun dengan mengangkat tubuhnya menggunakan benang darah, dan berkata dengan nada penuh kejengkelan. "Ayo lewatkan semua bagian yang tidak penting itu, dan langsung saja ke intinya."


Melepaskan ikatan benang darah dari tubuh Dolum, Noelle kemudian menyerahkan penjelasannya pada Tania, sementara dia sendiri memeriksa seluruh desa dengan kemampuan deteksinya.


Ada banyak hawa kehadiran dari dalam desa, dan semuanya lemah seperti Dolum. Bahkan, ada yang jauh lebih lemah di titik tertentu. Mungkin, mereka adalah para bayi suku Artof yang baru lahir.


Sementara itu, Tania membantu Dolum berdiri, dan menjelaskan semuanya seperti yang sudah Noelle ajarkan.


"Kami tidak punya waktu untuk formalitas. Apa kita bisa langsung berbicara? Aku dan Grei ingin tahu lebih banyak tentang situasi kalian."


...****************...


Di ruang tamu rumah kepala desa suku Artof, tiga sosok sedang duduk mengelilingi sebuah meja kecil yang di atasnya ada lilin dan tiga cangkir porselen berisi teh hijau.


Noelle menyesap tehnya dengan tenang, lalu kembali menatap Dolum dengan penuh keheranan. Dia berusaha sebaik mungkin untuk menekan aura intimidasi yang dia pancarkan sebagai Grei Noctis. Ini dia lakukan agar Dolum tidak gugup dan bisa menjawab dengan baik semua pertanyaan yang akan Noelle berikan.


"Jadi, seperti apa situasi yang sebenarnya? Apa kau bisa menjelaskan itu? "


Dolum, yang mendapatkan pertanyaan langsung itu mau tak mau berubah gelisah. Meski Grei telah menurunkan tingkat intimidasinya, itu masih cukup kuat hingga membuat Dolum merasa terancam.


Butuh waktu bagi Dolum untuk menyesuaikan diri hingga mampu menjawab Noelle dengan normal.


"Kami, suku Artof telah menderita sejak lama karena amukan dari Sang Ratu Bengis. Kami telah melakukan ritual rutin demi membuat ramalan Ratu Bengis menjadi kenyataan …."


Jawaban itu seketika membuat Noelle dan Tania memiringkan kepalanya. "Ramalan? "


Keduanya sama sekali belum mendengar apa pun tentang ramalan. Itu wajar mengingat pertemuan pertama mereka dengan suku hanya berlangsung selama setengah jam, tidak lebih. Waktu itu tidaklah cukup bagi Dolum untuk menjelaskan semuanya.


Dolum mengangguk, kemudian mengambil sebuah buku yang diletakkan tepat di sampingnya.


Perhatian Noelle sudah tertuju pada buku itu untuk sementara waktu, dan dia baru saja mendapatkan kesempatan untuk melihatnya.


Lembaran pertama dibuka, dan Dolum menunjukkan itu pada Noelle yang tepat berada di seberangnya.


Ada gambar, dan beberapa paragraf yang ditulis dengan bahasa yang tidak Noelle kenal. Bahkan, kemampuan penerjemahan otomatis miliknya pun tidak mampu mengartikan semua kata-kata itu.


"Ini adalah ramalan yang sudah ada sejak awal keberadaan kami. Suatu saat, Ratu Bengis akan mengirimkan sepasang pengembara."


Singkatnya, ramalan itu mengatakan kalau suatu saat nanti akan ada sepasang pengembara yang datang, diyakini sebagai kiriman dari Sang Ratu Bengis untuk menyelamatkan dan mengabulkan satu harapan bersama suku Artof.


Benar-benar ramalan yang tidak masuk akal. Itu seperti mereka membuat alasan untuk melibatkan orang lain ke dalam masalah mereka. Dan sebenarnya, itulah kesan Noelle terhadap mereka saat ini, tidak lebih dari sekelompok kerdil biru yang berusaha membuat orang asing menyelesaikan masalah mereka, dengan dalih ramalan yang telah ada sejak awal keberadaan mereka.


Selain itu, konten dalam ramalan yang Dolum sebutkan membuat Noelle mengerutkan keningnya.


Di awal, Dolum menyebutkan kalau suku Artof telah menderita sejak lama karena amukan Ratu Bengis. Namun, kini dia berkata kalau Ratu Bengis telah mengirimkan berkah berupa sepasang pengembara yang akan memberi mereka keselamatan.


Sebuah kontradiksi.


Bahkan tanpa perlu banyak berpikir, Noelle sudah menyadarinya.


Memberikan penderitaan dengan amukannya, kemudian mengirimkan berkah berupa sepasang pengembara. Itu tidak masuk akal. Tindakan Ratu Bengis sama sekali tidak konsisten.


Noelle memang berkesimpulan kalau sosok Ratu Bengis itu nyata adanya. Tapi, itu belum cukup untuk menjadi bukti pasti atas situasi yang sedang terjadi.


Selain dari informasi dan rumor serta teori acak yang ia temukan di perpustakaan kota, Noelle sama sekali tidak memiliki informasi pasti tentang Ratu Bengis. Karena itulah dia belum bisa membuat kesimpulan.


Bukanlah peran Tania untuk bertanya, karena semua itu akan ia serahkan pada Noelle. Namun, dia memiliki peran penting berupa 'menginterupsi' bila Noelle tiba-tiba tenggelam dalam pikirannya sendiri. Noelle sendirilah yang meminta Tania mengambil peran ini.


Atas permintaan Tania, Dolum mengangguk dan membuka halaman lain pada buku di tangannya.


"Ratu Bengis adalah dewa pelindung hutan dan gunung ini. Dia telah menyelimuti seluruh dunia dengan selimut putihnya yang dipenuhi kebencian, menjaga agar tidak ada ancaman yang akan jatuh menimpa para penghuni Hutan Dingin."


"Tapi, semua berubah semenjak mereka, yang disebut Penjajah Kristal itu muncul di Hutan Dingin, membunuh kehidupan, dan menghancurkan alam. Mereka membawa bencana, membuat Ratu Bengis yang menawan meluapkan semua kemarahannya, dan menjatuhkan musim dingin abadi pada suku Artof, yang masih menyembahnya."


(Lagi-lagi ….)


Semakin Noelle mendengarnya, semakin ia yakin bahwa ada sesuatu yang aneh di sini. Dan kali ini, tidak hanya dia, tapi Tania juga menyadarinya.


Suku Artof adalah pemuja setia Ratu Bengis, atau setidaknya itulah yang Dolum katakan. Namun, mengapa Ratu Bengis justru menjatuhkan kemarahannya pada mereka? Selain itu, Noelle berpikir kalau 'musim dingin abadi' yang merupakan perwujudan dari amarah Ratu Bengis itu serupa dengan 'selimut putih yang melindungi penghuni Hutan Dingin'.


Ini benar-benar dipenuhi dengan kontradiksi, sehingga Noelle mau tak mau mengerutkan keningnya dan mendecakkan lidah tanpa sadar.


Apa perbedaan antara 'selimut putih', dengan 'musim dingin abadi' yang Dolum jelaskan? Ini membuat Noelle bertanya-tanya. Karena dilihat dari mana pun, keduanya adalah hal yang sama. Hanya saja, yang pertama disebutkan dengan cara tersirat, sedangkan yang kedua dijelaskan secara langsung.


Jika musim dingin abadi ini benar-benar akibat dari kemarahan Ratu Bengis, lalu apa maksudnya 'selimut putih' itu? Apakah keduanya adalah hal yang berbeda?


(Selimut putih mungkin berarti siklus musim dingin alami, sedangkan musim dingin abadi itu memiliki arti yang sama dengan namanya; musim dingin yang tak pernah usai, tak peduli sedang musim apa di luar sana ….)


Noelle sempat berpikir kalau mungkin ada kesalahpahaman antara Ratu Bengis dengan suku Artof. Ratu Bengis mungkin berpikir kalau suku Artof-lah yang membuat kekacauan, meski sebenarnya itu adalah ulah entitas yang disebut Penjajah Kristal.


(Tunggu, Penjajah Kristal? )


Tania melihat Noelle mengerutkan keningnya, dan yakin kalau pria itu pasti sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Karena itu, dia berniat mengajukan pertanyaan lain pada Dolum. Namun—


"Jelaskan secara detail tentang Penjajah Kristal itu."


—Sebelum Tania sempat bertanya, Noelle telah lebih dulu menginterupsi.


Dia benar-benar baru sadar kalau Dolum menyebutkan tentang 'Penjajah Kristal'. Dia mungkin terlalu fokus pada hal lain, hingga sempat tidak menyadari adanya penyebutan entitas asing ini.


Sejenak, Noelle memikirkan Spirit Hunter, karena wujudnya yang seperti kristal. Itu cocok dengan gambaran yang muncul ketika sebutan Penjajah Kristal keluar dari mulut Dolum.


"Untuk menjelaskan itu … saya harus membawa kalian berdua untuk berkunjung ke suatu tempat. Apa tidak masalah? "


...****************...


Diskusi di rumah Dolum berakhir, dan Dolum akhirnya membawa Noelle serta Tania ke suatu tempat, demi memenuhi pertanyaan yang Noelle berikan.


Itu adalah sebuah gua, berada di area lereng gunung yang terpencil, namun tak jauh dari desa suku Artof. Sebenarnya, gua itu masih berada di area desa, jadi mereka sama sekali tidak melakukan perjalanan yang jauh untuk mencapai tempatnya.


Tujuan Dolum membawa Noelle dan Tania ke tempat ini adalah demi menunjukkan sesuatu pada keduanya.


Selangkah memasuki gua, Noelle dan Tania langsung diserang hawa dingin yang menyesakkan, seketika menipiskan kadar oksigen sehingga membuat mereka nyaris tidak bisa bernapas.


Untungnya, mereka dengan cepat mengatur suhu tubuh dengan cara mereka sendiri.


Gua itu sepertinya memiliki lapisan es di seluruh permukaan, tapi tidak hanya itu, ada beberapa kristal yang seperti tumbuh langsung dari dinding gua, layaknya bunga yang tumbuh di atas tanah. Dan setiap keristal itu menancarkan cahaya samar yang warnanya berbeda.


Masuk semakin dalam, Noelle dan Tania akhirnya sadar kalau gua itu mungkin mengarah sangat jauh ke dalam gunung, dan mungkin saja memiliki jalan untuk menuju ke bawah tanah.


"Di sini."


Dolum berhenti, dan mengangkat kedua lengannya sambil merapalkan sesuatu. Dan lagi-lagi, itu menggunakan bahasa yang tak dapat Noelle terjemahkan.


Cahaya samar muncul dari tato putih di seluruh tubuh Dolum, dan itu terlihat beresonansi dengan pola lingkaran sihir unik yang ada di lantai.


Cahaya menyilaukan muncul, tapi tak ada satu pun yang terganggu dengan itu. Hingga akhirnya, sesuatu muncul.


Itu adalah peti, yang mungkin saja merupakan peti mati. Sepenuhnya terbuat dari es, dengan bagian atas yang transparan, sepenuhnya memperlihatkan sosok yang terbaring di dalam sana.


"?! "


Tidak hanya Noelle, tapi juga Tania secara naluriah melompat mundur menjauhi peti itu. Keduanya memiliki perasaan akan bahaya yang sangat kuat ketika menatap pada sosok yang berbaring di dalam peti es.


"Apa-apaan itu …."


Noelle mengerutkan keningnya dengan penuh kebencian, dan segera memanifestasikan pedangnya sendiri, sementara Tania yang tak jauh darinya juga melakukan hal yang sama.


Apa yang terbaring di dalam peti itu mungkin layak untuk disebut mayat, tapi menyebutnya sebagai mayat organik mungkin juga salah, karena tidak ada satu pun bagian dari tubuh sosok itu yang bisa disebut 'organik'.


Seluruh bagian tubuhnya terbuat dari kristal, ungu kehitaman dengan bagian tertentu yang berwarna kuning pucat.


Meski memiliki wujud humanoid, tidak akan ada yang percaya bahwa sosok itu adalah makhluk hidup. Itu benar-benar terlihat seperti patung kristal biasa.


Setelah perasaan waspada akan bahaya mereda, Noelle menurunkan senjatanya, dan berjalan mendekat. Tania juga melakukan hal yang sama. Dia ingin memeriksa isi peti es itu sekali lagi.


Namun, saat mereka melakukannya, kesadaran keduanya seketika terhempas.


...****************...