[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 172: Terjebak



...****************...


Matanya perlahan terbuka, tapi pandangannya masih terlalu kabur untuk mengetahui kondisi di sekitarnya.


Meskipun begitu, ketika ia mengingat apa yang terjadi, dia secara refleks langsung melompat dan memperhatikan sekelilingnya dengan panik.


Tidak ada. Kemungkinan terburuk yang bisa ia pikirkan akhirnya terjadi. Dia terpisah dari Olivia.


Kedua mata Noelle yang melebar itu kemudian menjadi kosong dan tak bernyawa. Kakinya begitu lemas dan seolah tak memiliki tenaga lagi hingga ia akhirnya terjatuh dan terduduk di tanah tanpa daya.


Ia mencoba untuk mendeteksi kehadiran Olivia menggunakan ikatan dari《Oath of Blood》, tapi itu sia-sia.


Tak hanya tak bisa mendeteksi kehadiran Olivia, dia bahkan tak bisa mengakses《Reign》, yang kemudian membuat matanya menjadi semakin tak bernyawa.


Ini salahnya. Kata-kata itu seketika memenuhi kepalanya selama beberapa saat. Dia dan Olivia bisa terpisah pasti karena ia mendorong Olivia untuk menjauh. Itu karena fungsi refleks yang dimiliki tubuhnya. Dia berniat melindungi Olivia, tapi berakhir sia-sia karena terlamnat menyadari semua lingkaran sihir yang muncul di bawah kaki semua orang.


Sejenak, Noelle benar-benar merasa kehilangan harapannya. Tapi, ia kemudian mengingatnya lagi.


Saat itu, ia mendorong Olivia ke arah semua orang. Yang artinya, jika semua lingkaran sihir itu adalah sihir teleportasi yang sama, maka Olivia pasti akan diteleportasikan di tempat yang berdekatan dengan semua orang.


Cahaya perlahan kembali mengisi mata Noelle. Dia bangkit dan memperhatikan sekelilingnya dengan tingkat kewaspadaan yang bahkan tak akan melewatkan satu pun pergerakan kecil.


Kemudian, Noelle merasakan kehadiran dari dua orang. Lokasinya tidak jauh dari tempatnya berada.


Noelle dengan waspada berjalan mendekati dua kehadiran itu, hanya untuk dibuat kecewa setelahnya.


Yang ia temukan di sana adalah Cryll dan Norman yang terbaring di tanah, sama seperti dirinya beberapa saat yang lalu.


Noelle tanpa ragu menendang tubuh Cryll dan Norman, membuat mereka berdua seketika terbangun dan memegangi bagian tubuh yang Noelle tendang itu dengan ekpresi kesakitan.


"Apa yang kau lakukan?! "


Norman terlihat marah, tapi ia segera sadar dan berdiri untuk memperhatikan sekelilingnya.


" … Di mana kita?! "


Cryll tampaknya telah sadar sepenuhnya. Ia mengabaikan rasa sakit fisik yang baru saja Noelle berikan, dan dengan cemas melihat ke sekeliling.


Jelas kalau ia mencari keberadaan Stella.


"Aku tidak tahu. Saat lingkaran sihir itu muncul … Kita langsung berpindah dari tempat kita sebelumnya. Dan kurasa … Kita terpisah dari semua orang."


Begitu Norman dan Cryll mendengarnya, mereka tidak bisa menahan otot wajah mereka yang secara alami membuat ekspresi keterkejutan yang sangat jelas.


Itu wajar. Lagi pula, semua terjadi begitu cepat. Lingkaran sihir itu muncul, dan mereka seketika dipindahkan dari lokasi mereka sebelumnya, tanpa bisa melakukan bentuk perlindungan apa pun.


Noelle juga merasa cemas karena telah dipisahkan dari Olivia secara paksa. Tapi, tak ada waktu baginya untuk berdiam diri.


Jika itu Olivia, Noelle yakin kalau dia pasti akan mencari cara untuk kembali bertemu dengannya.


Ini bukan hanya firasat, tapi Noelle yakin kalau Olivia pasti memiliki ide yang sama dengannya.


Untuk sekarang, ia harus keluar dari tempat ini. Jika ia bisa melakukan itu, maka mungkin ia bisa bertemu Olivia kembali.


Untungnya, Noelle tidak sendirian di sini. Ada Norman dan Cryll yang kebetulan terjebak bersamanya.


Itu mungkin karena mereka berdua dalam jarak yang cukup dekat dengannya saat teleportasi paksa itu berlangsung.


Dia dan mereka berdua seharusnya bisa menemukan jalan keluar dari tempat ini dengan cepat.


"Tapi … Sungguh, tempat apa ini? "


Noelle tak bisa menahan diri untuk mengungkapkan pertanyaannya.


Sejak tadi, ia memang fokus dengan tujuannya yang ingin kembali dipersatukan dengan Olivia. Tapi, di sisi lain ia juga kebingungan dengan kondisi sekitarnya yang aneh.


Baik Norman maupun Cryll juga memiliki pertanyaan yang sama dengannya.


Mereka bertiga saling menatap, kemudian mengangguk, sebelum akhirnya berpencar ke arah yang berbeda untuk melakukan penyelidikan.


Hasilnya, sangat tak jelas.


Arah yang Noelle datangi memiliki lingkungan yang mirip seperti hutan hijau. Dengan pepohonan dan semak belukar yang memenuhi semua tempat. Tapi, Cryll justru menemukan jamur-jamur raksasa dengan tanah yang benar-benar berbeda dari yang Noelle temukan.


Di sisi lain, Norman justru menemukan beberapa gua dengan banyak stalaktit yang meneteskan air.


Semua yang merka bertiga temukan tak mungkin bisa berada di satu tempat yang sama. Jadi, itu benar-benar membingungkan.


"Tanah miselium, hutan hijau, dan gua stalaktit … Apa-apaan ini?! "


Noelle dengan jengkel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan merenung sejenak.


Ini memang dunia yang dipenuhi berbagai keanehan, tapi tak mungkin tiga bioma yang berbeda itu bisa saling menyatu tanpa alasan.


Apakah itu karena pengaruh sihir? Mungkin saja. Tapi, sihir apa yang bisa menyebabkan itu? Noelle tak bisa memikirkannya.


Di dalam ingatannya, sama sekali tak ada sihir yang bisa menyatukan lingkungan yang berbeda seperti itu. Satu-satunya yang ia ketahui adalah sihir yang bisa menimbulkan kerusakan besar sehingga akan menyebabkan perubahan besar pada iklim atau topografi.


Maka, jawaban pastinya hanya ada satu.


Itu karena tempat ini memang telah disetel seperti itu.


Noelle tak mau memikirkannya, tapi itu adalah satu-satunya jawaban yang bisa ia berikan.


Noelle membuka matanya, dan melihat Norman dan Cryll yang tampak sedang menunggu jawaban darinya.


"Kurasa … Kita dikirim ke sebuah dungeon."


" "Brengsek! Sudah kuduga! "


" … Kenapa kalian bisa kompak? "


Noelle tak terlalu terkejut ketika kalimat kasar itu keluar dari Cryll, tapi bahkan Norman juga? Itu tak pernah terlintas di pikirannya.


Itu cukup menarik untuk diperhatikan, tapi ia akan mengabaikannya untuk saat ini.


"Kalian baru saja mengatakan kalau kalian sudah menduganya … Apa kalian tahu sesuatu tentang ini? " tanya Noelle pada mereka berdua.


Mereka berdua hanya mengangguk sambil melipat kedua lengan mereka.


"Yahh, hal seperti ini hanya bisa terjadi di dalam dungeon," jawab Cryll.


"Dia benar," sahut Norman.


Mereka berdua punya jawaban yang sama. Noelle mengangguk penuh pengertian, dan lanjut berpikir. Tapi, ia segera mendapatkan pertanyaan yang cukup membingungkan dari Cryll.


"Kau bertanya seolah kau tak tahu apa pun tentang dungeon. Apa kau belum pernah memasuki salah satunya? "


"Ahh … Belum. Entah kenapa, tempat tinggalku dulu sama sekali tidak memiliki dungeon yang bisa dimasuki untuk umum. Kau butuh izin yang diterbitkan dengan otoritas militer untuk memasukinya."


Noelle sedikit bingung pada awalnya. Namun, untunglah dia dapat menjawab dengan kebohongan yang dapat dipercaya.


Tentang bagian ia tak pernah memasuki dungeon itu benar, dan tentang tempat tinggalnya yang tidak memiliki dungeon itu juga benar. Jadi, secara teknis ia tak berbohong.


Ia hanya menambahkan beberapa bumbu kebohongan yang dapat membuat semuanya menjadi masuk akal karena latar belakangnya.


"Begitu, ya … Itu sedikit tak terduga," ucap Cryll.


" … Baiklah. Kurasa kita sudah sepakat kalau kita sedang terjebak di sebuah dungeon. Tapi … Dungeon jenis apa ini? Dan di bagian mana tepatnya kita berada? "


Noelle sama sekali tidak punya pengalaman dalam menjelajahi dungeon, jadi ini benar-benar masih baru untuknya. Karena itulah, ia menjadi sedikit penasaran.


"Dilihat dari lingkungan dan minimnya keberadaan monster … Kurasa kita masih berada di bagian perut awal … Tapi … Aku tidak tahu itu benar atau tidak karena kita belum bertemu satu pun monster di sini."


Tingkat kedalaman dungeon bukan diukur dari jumlah lantai, atau seberapa jauh lorongnya. Melainkan kekuatan dari monster yang menghuninya.


Tidak adanya monster di sekitar mereka mengindikasikan kalau mereka masih berada tak jauh dari permukaan.


Itu bagus karena mereka telah menemukan cara untuk keluar dengan cepat. Tapi, yang menjadi masalah, mereka sama sekali tak memiliki petunjuk tentang di mana semua orang berada. Ada kemungkinan kalau mereka semua telah diteleportasikan ke area yang berbahaya dan penuh dengan monster yang kuat. Dan jelas, mereka bertiga akan menolak skenario itu dengan sangat keras.


Kurangnya pilihan yang bisa diambil membuat mereka bertiga hanya bisa menjelajah semakin jauh ke dalam.


...****************...


"Mhmm … No … Elle … "


Di tempat lain, Olivia dengan susah bayah berusaha membuka natanya yang terasa sangat berat.


Nama Noelle secara alami keluar dari bibirnya, tapi ia tak dapat menemukan kehangatan yang biasanya selalu menyambutnya setelah ia bangun.


Kejanggalan itu membuatnya secara refleks langsung bangun dan meluat ke belakang. Di saat yang sama, dia juga menyipitkan matanya sambil meningkatkan jangkauan deteksi dan persepsinya.


Sama sekali tak ada tanda akan keberadaan Noelle. Kecemasan seketika memenuhi hati Olivia. Dia berusaha menjangkau keberadaannya dengan memanfaatkan koneksi dari《Oath of Blood》, tapi hasilnya nihil.


Mata Olivia seketika menjadi kosong Dia tanpa daya terjatuh dan terduduk di tanah dengan wajah yang tidak memiliki ekspresi apa pun.


Apa koneksinya dengan Noelle telah terputus? Bagaimana itu bisa terjadi? Dua pertanyaan itu terus menyerbu pikiran Olivia tanpa henti. Meskipun begitu, ia tak dapat menemukan jawabannya.


Satu-satunya hal yang pasti adalah, ia telah dipindahkan dengan sihir teleportasi, dan dijauhkan dari Noelle secara paksa.


Matanya perlahan berubah menjadi semakin gelap, dan energi sihir dalam jumlah besar secara bertahap mulai keluar.


"Tunggu, ini dingin! "


Tiba-tiba, sebuah suara muncul di belakangnya. Suara itu berasal dari seorang gadis.


Olivia menoleh dan melihat ke arah gadis itu, dan menemukan kalau dia adalah Anzu yang sedang memeluk dirinya sendiri untuk menghangatkan diri.


Perubahan suhu yang disebabkan Olivia pasti menjadi hal yang berat untuk orang normal seperti Anzu.


Tepat di belakang Anzu, Olivia juga dapat melihat sosok Iris bersama dengan Rias.


"Tolong tahan kekuatan sihirmu! Ada banyak orang di sini! "


Ketika Iris mengatakannya, Olivia langsung tersadar. Dia segera menyerap kembali energi sihirnya yang bocor, dan mulai memperhatikan sekelilingnya.


Iris benar. Ada banyak orang di tempat ini. Setidaknya, hampir semua orang yang bersamanya sebelumnya ada di sini.


Hanya saja, Noelle, Norman, Cryll, serta Stella tidak ada di sana. Mungkin karena posisi mereka yang saling berjauhan sebelumnya membuat mereka diteleportasikan di tempat yang berbeda.


Namun, Olivia kemudian kembali menyadarinya. Dia dengan takut mencoba menghubungi Chloe dengan telepati. "C-Chloe … "


Tak ada jawaban. Itu sudah cukup untuk membuat Olivia memahaminya. Koneksinya dengan semua orang yang terkait dengannya telah terputus. Dia bahkan tak bisa mengakses《Reign》, dan Chloe juga tidak menjawab panggilannya.


Satu hal yang membuat Olivia cemas adalah Levina. Tapi, gadis kecil itu sedang berlindung di dalam《Reign》bersama Chloe sebelumnya, jadi dia seharusnya aman.


(Apa yang akan Noelle lakukan di saat seperti ini? )


Berbagai pemikiran negatif mulai terlintas di kepalanya, tapi Olivia dengan cepat menggeleng untuk menyingkirkan semua itu dan berusaha tetap positif.


Dia menggigit kuku ibu jari tangannya sendiri, dan mulai bergumam, "Apa yang harus kulakukan … "


"Olivia, apa kau punya ide tentang apa yang harus kita lakukan sekarang? "


Anzu memanggilnya, tapi Olivia hanya mengerutkan keningnya dengan kesal. "Aku sedang memikirkannya! "


(Yahh, kurasa aku sudah menduga ini … )


Anzu sama sekali tak terkejut ketika ia mendapatkan reaksi seperti itu dari Olivia. Sebagian dari dirinya telah meramalkan kalau pikiran Olivia akan menjadi lebih lambat jika ia dipisahkan dari Noelle secara paksa.


Itu mungkin karena rasa panik dan kecemasan yang tiba-tiba memenuhi dirinya.


Keadaan emosional dan pikiran Olivia sangat bergantung pada Noelle. Karena itulah, dengan menghilangnya Noelle secara tiba-tiba, akan sangat berpengaruh padanya.


Menyadari kalau Olivia saat ini tidak akan bisa membuat keputusan yang bagus, Anzu hanya bisa mengambil alih situasinya untuk sementara.


Ia mengeluarkan dua butir kelereng dari sakunya, dan menembakkan itu ke sekitar.


Kedua kelereng itu melesat dengan cepat dan memantul dengan kuat setiap kali menabrak dinding atau langit-langit.


Daripada harus diam, akan lebih baik jika ia mengumpulkan semua orang.


Kelereng yang ia tembakkan itu akan mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring setiap kali menabrak permukaan suatu benda. Jadi, Anzu bisa memanfaatkannya sebagai sinyal untuk teman-temannya.


Dan seperti yang sudah ia harapkan. Perlahan, semua orang mulai berkumpul di sekitarnya.


Anzu melihat ke arah mereka semua, dan menghitung jumlah orang yang tidak hadir.


"Ada enam orang termasuk Norman, Rico, dan Kaira. Sialan, mereka mungkin diteleportasikan ke tempat yang jauh."


Anzu mendecakkan lidahnya dan kembali pada Olivia.


"Olivia, kita terpisah dengan mereka semua. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? "


Bahkan tanpa bertanya, Anzu sendiri tahu jawabannya.


Di saat seperti ini, tidak mungkin Olivia akan berdiam diri. Jika itu Olivia, maka dia pasti akan membuat keputusan yang sama dengan Noelle.


Olivia memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya kembali membukanya dan menunjukkan tatapan seolah ia telah membuat keputusan.


"Aku sudah punya gambaran kasar tentang di mana kita berada. Sekarang, kita hanya perlu masuk lebih jauh. Itulah yang akan Noelle lakukan."


Keputusan yang sedikit berat, tapi Olivia yakin dengan itu.


Dalam saat seperti ini, ia yakin kalau ia tidak akan membuat keputusan yang dapat berujung menyedihkan.


Anzu mengangguk dan menoleh pada semua orang. "Kalau begitu, sudah diputuskan. Kita selidiki tempat ini dan masuk lebih dalam! Jangan lengah, kita tidak tahu di mana kita berada, jadi kalian harus tetap waspada."


Anzu sendiri sudah sadar kalau ini adalah sebuah dungeon. Tapi, ia tidak bisa memberitahu semua orang untuk sekarang karena ia agak ragu dengan itu.


Untuk memperkuat firasatnya, ia harus mendapatkan sebanyak mungkin informasi.


(Sialan kau Iza.)


Dia tidak tahu apakah semua ini adalah bagian dari skenario yang Noelle rancang. Tapi, entah bagaimana ia memiliki firasat kalau Noelle pastilah terlibat.


Pikirannya secara alami menghubungkan sosok Noelle dengan semua masalah yang terjadi di sekitarnya.


"Iris, untuk sekarang, kita akan mencari keberadaan Noelle dan Norman terlebih dahulu. Akan lebih baik jika kita bisa menemukan Kaira dan Rico juga, tapi … Alan, aku akan menyerahkan pencarian mereka padamu bersama Waka dan Muku."


"Kau yakin? "


Alan mengangkat alisnya dengan bingung sambil melipat kedua lengannya. Ia terlihat ragu dengan keputusan yang Anzu buat.


Lagi pula, tidak mungkin ia bisa bekerja sama secara efektif dengan Muku dan Waka. Jika dipasangkan dengan mereka berdua, Alan jelas akan tertinggal.


Sebagai balasan, Anzu memberinya senyum sinis. "Apa kau tidak percaya dengan kekuatanmu sendiri? Kalau begitu, kau benar-benar payah seperti yang kupikirkan. Katakan saja kalau kau tidak setuju, aku akan menggantikanmu dengan Werli."


Alan terlihat tak terganggu dengan provokasi Anzu. Dia justru mengangkat bahunya dan berkata, "Aku tidak berkata kalau aku akan menolak."


"Baguslah kalau begitu. Werli, Liscia, aku ingin kalian berdua mencari petunjuk apa pun yang bisa kalian temukan. Dan untuk melakukan itu, kalian akan bekerja sama dengan Rias."


Itu adalah susunan kelompok dengan anggota terlemah, tapi seharusnya tidak akan menjadi masalah karena Anzu merasa tempat ini cukup aman.


"Olivia, apa kau bisa membuat sesuatu seperti senjata darurat menggunakan sihirmu? Jika bisa, aku ingin kau memberinya pada semua orang."


Olivia merasa agak keberatan dengan menerima perintah dari orang lain, tapi ia dengan berat hati mengangguk menyetujuinya. Dalam situasi seperti ini, akan lebih baik baginya untuk beradaptasi dengan semua orang.


Olivia membuka tangannya dan mengalirkan energi sihirnya ke sana, menciptakan gumpalan energi sihir yang perlahan memadat menjadi suatu bola.


Itu adalah bola berwarna putih terang dengan ukuran seperti bola tenis. Karena energi sihir Olivia yang menciptakannya, itu secara alami memiliki elemen es yang sangat kuat.


Olivia kemudian memberikan itu pada masing-masing orang sambil memberikan penjelasan mengenai apa bola itu sebenarnya. "Lemparkan ini ke arah musuh ketika kalian dalam keadaan terdesak. Ini adalah bom es, musuh akan langsung membeku ketika sihir yang ada di dalamnya dilepaskan secara spontan. Berhati-hatilah untuk tidak terlalu dekat dengan jangkauannya, atau kalian juga akan terkena efeknya."


Masing-masing dari mereka menerima itu tanpa banyak bicara. Dan dengan begitu, mereka semua mulai berpencar ke arah yang telah disediakan untuk mereka.


Kini, hanya ada Olivia bersama Iris dan Anzu yang tersisa. Ketiganya masih belum bergerak dari posisi saat ini.


" … Kau terlihat cukup berpengalaman dalam hal seperti ini," ucap Olivia pada Anzu.


Olivia memang baru menyadarinya, tapi sejak dulu Anzu memang selalu memiliki tanda-tanda kalau ia berpengalaman dalam mengurus berbagai hal seperti pengorganisasian.


Olivia tidak tahu alasannya, dan ia juga tidak peduli. Tapi, entah bagaimana ia memiliki firasat kalau semua terkait dengan Noelle.


Anzu terlihat menyadari pikirannya. Dia melipat lengannya sambil melayangkan senyum sinisnya pada Olivia. "Kau menyadarinya? Itu benar, aku bisa seperti ini karena Iza sialan itu yang selalu menyeretku ke berbagai masalah sebelumnya."


" … Bisakah aku mendengar detailnya? "


Kali ini Olivia menunjukkan ekspresi seolah ia tertarik.


"Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya? Itu akan lebih mudah."


" ……… "


Tidak mungkin dia bisa. Olivia secara alami berpikir seperti itu.


Jika itu berkaitan dengan rahasia, Noelle telah menyimpan terlalu banyak darinya. Olivia ragu kalau Noelle akan mengatakannya begitu saja. Bahkan Olivia yakin, kalau semua rahasia yang telah Noelle ungkapkan itu hanya sebagian kecil dari semua rahasia yang ia miliki.


Karena itulah, melihat Anzu yang tampaknya mengetahui banyak hal tentang bagian Noelle yang tidak ia ketahui, membuat Olivia merasa sedikit iri.


Olivia memang tidak pernah bertanya pada Noelle secara langsung, tapi itu karena ia ingin menghormati privasi Noelle.


(Jika aku bertanya pada Noelle … Apa Noelle akan menjawabnya dengan terus terang? )


Ini tidak bisa diharapkan, perasaan cemburu itu hanya menjadi semakin kuat setiap saat.


Apa pun jawaban yang Noelle berikan nanti, akan sangat berpengaruh terhadap hubungan yang mereka berdua miliki.


"Kalian, bisakah kalian berdua fokus dengan apa yang terjadi?! Kalian memikirkan hal-hal yang membuatku muak! "


Mengganggu suasana aneh yang memenuhi udara di sekitar mereka berdua, teriakan Iris seketika membuat mereka tersadar.


Rambut merahnya tampak berkibar dengan cara yang tidak menyenangkan saat ia berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


" … Apa dia selalu seperti itu? "


"Tidak, biasanya lebih buruk."


...****************...