[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 147: Cryll Rescue Act (4)



...****************...


"Menjauh darinya! "


Teriakan Rico membuat semua orang terkejut. Namun, tidak ada waktu bagi mereka untuk mempertanyakannya.


Mereka semua langsung mematuhi instruksinya dan menjauh dari dua orang yang sedang mereka tahan di tanah.


Tak lama kemudian, tubuh kedua orang itu bersinar, dan akhirnya meledak.


Itu kondisi yang sama dengan yang Noelle hadapi di tempat lain. Tampaknya firasat buruknya telah menjadi kenyataan.


Semua penjaga yang berada di tempat ini, telah diubah menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan saja.


Untungnya, tidak ada di antara mereka yang terluka. Semua orang hanya sedikit terkejut ketika menyadari kalau penjaga di sini adalah boneka yang dapat meledak.


Kondisinya sama persis dengan para 'sandera' di Eisen yang Noelle ceritakan pada mereka sebelumnya.


"Rico."


Di saat Rico masih memikirkan situasinya, Werli berjalan mendekat dan memanggilnya.


"Apa? "


Rico menoleh, dan memperhatikan 'benda' yang Werli bawa di tangannya.


Werli memperhatikan tatapan Rico, dan memberikan 'benda' itu padanya. Itu bukanlah benda sembarangan. Itu adalah potongan tangan seseorang.


Rico menerimanya dan memperhatikan itu lebih jeli.


Bekas potongan pada tangan itu telah kering, dan menunjukkan tanda-tanda gosong. Tapi, sebagian besar bagiannya masih aman tanpa noda.


Yang membuat Rico tertarik dengan potongan tangan itu adalah gelang dan cincin yang masih terpasang di pergelangan, dan jarinya.


Setelah mencabut gelang dan cincin itu, Rico akhirnya bisa memperhatikan kedua benda itu dengan lebih jelas lagi.


Cincinnya memiliki ukuran yang besar. Sedikit terlalu besar untuk dipasangkan di jari kelingking. Dan gelang itu juga cukup tebal, memiliki goresan dengan pola aneh di permukaannya.


Kedua benda itu terbuat dari material yang sama, yaitu kristal pudar dengan tingkat kekerasan yang hampir menyamai intan.


Hampir tidak ada yang aneh dari kedua benda itu. Tapi, justru itulah yang mengganjal di pikiran Rico.


"Anzu, bisakah kau memeriksa mayat itu? Jika ada aksesoris yang sama dengan ini, bawakan padaku."


"Kau menyuruh seorang gadis untuk memeriksa mayat seseorang, dan merampas harta mereka? "


Anzu hampir tidak bisa menahan tatapan terkejutnya saat mengetahui kalau Rico memintanya untuk melakukan hal aneh itu.


Jika orang lain mengetahuinya, maka mungkin mereka akan menatap Rico dengan pandangan tidak percaya, sekaligus jijik.


Tapi itu bukan masalah bagi Rico. Itu karena dia tahu kalau Anzu tidak memiliki masalah untuk melakukan hal seperti itu.


Seperti yang sudah ia pikirkan, Anzu hanya mengangkat bahunya dan berjalan mendekati mayat dua orang yang telah direduksi menjadi tumpukan daging gosong yang menjijikkan itu.


Dia kemudian mengambil dua potong tangan kiri yang entah bagaimana masih utuh meskipun telah dihadapkan dengan ledakan yang menghancurkan.


Setelah memeriksanya sejenak, Anzu kemudian kembali dan memberikan kedua potong tangan itu kepada Rico.


"Aku tidak tahu apa ini kebetulan, atau bukan. Tapi, ada dua tangan kiri yang masih utuh, dan memiliki dua aksesoris yang kau bicarakan itu."


Rico menerimanya dan kemudian mencabut semua aksesoris berupa gelang dan cincin yang masih menempel.


Semua cincin dan gelang itu memiliki struktur yang serupa. Material pembuatannya sama, dan tingkat kekerasannya juga sama. Bahkan goresan yang ada di permukaannya juga identik satu sama lain.


Tidak mungkin itu kebetulan.


"Apa kalian tahu sesuatu tentang benda ini? "


Rico berbalik, dan menatap Liscia, serta Werli yang sejak tadi menunggu di belakangnya.


Werli menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu. Tapi, kurasa kedua benda itulah yang menyebabkan mereka meledak seperti bom sebelumnya."


Liscia mengangguk, sepakat dengan apa yang Werli katakan. Kesimpulan itu tentu saja sudah ada di pikiran Rico, tapi ia tidak ingin langsung mempercayainya sebelum memeriksanya lebih lanjut.


(Tapi, kurasa tidak ada pilihan lain selain mempercayainya, ya … )


Untuk saat ini, ia hanya bisa membuat kesimpulan itu sebagai dasar dari semua tindakannya yang akan datang.


"Rico, apa yang akan kau lakukan selanjutnya? "


Anzu bertanya padanya. Meskipun begitu, Anzu sebenarnya sudah tahu dengan apa yang akan Rico lakukan.


"Kita harus menemui Kaira. Aku harap dia sudah memiliki informasi tentang mereka."


"Yahh, kurasa itu benar."


Adalah pilihan yang logis untuk menemui Kaira sekarang. Bagaimanapun, Kaira memiliki kemampuan untuk membaca pikiran. Ada kemungkinan kalau dia sudah membaca pikiran orang yang dia lawan, dan memiliki informasi yang tidak dimiliki Rico.


Jika tidak begitu, maka satu-satunya harapannya adalah Rias yang bisa membaca ingatan seseorang.


Itu pun, jika lawan yang mereka hadapi masih hidup …


...****************...


Begitu kelompok Rico mencapai lokasi Kaira, mereka seketika dibuat terkejut dengan pemandangan Lilith yang terbaring pingsan di tanah.


Rico berlari mendekati Kaira dan dengan panik bertanya, "Apa yang terjadi padanya? "


Namun, Kaira dengan tenang menjawabnya, "Dia hanya terkejut karena orang-orang itu mulai meledakkan diri. Seperti yang kuduga, efek berkah Anastasia tidak begitu meningkatkan mental Lilith. Dia mungkin akan trauma dengan ini."


"Begitu, ya … "


Rico dengan pasrah hanya bisa menundukkan kepalanya, dan menatap Lilith dengan khawatir.


Jika apa yang Kaira katakan itu benar, maka mungkin akan sulit bagi Lilith untuk melanjutkan misi ini.


Pilihan terakhir, mereka hanya bisa menitipkannya pada Olivia, dan memindahkannya ke dalam《Reign》agar dia bisa mendapatkan perlindungan di sana.


Tapi, mereka ragu untuk melakukan itu. Lagi pula, jarak antara lokasi mereka saat ini tidak memungkinkan untuk perjalanan cepat ke lokasi Olivia. Dan mereka yakin kalau mereka tidak memiliki waktu untuk itu.


Matahari sudah terbit, dan sekarang sudah cukup terang. Jadi musuh mungkin akan lebih waspada sekarang.


Situasi terburuknya, mereka hanya bisa tetap membawa Lilith dan melanjutkan misi ini.


Rico dengan cepat menggeleng, dan menatap Kaira. "Daripada itu, aku ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting padamu! "


"Apa itu tentang benda ini? "


Kaira mengangkat tangannya, dan menunjukkan aksesoris gelang dan cincin yang sama dengan yang dibawa Rico sekarang.


Rico mengangguk. "Aku berasumsi kalau kau pasti memiliki informasi tentang benda itu, jadi aku dengan cepat ke sini."


Mendapatkan tatapan penuh harapan dari Rico, Kaira hanya bisa tersenyum masam dan menggelengkan kepalanya.


"Sayang sekali. Bahkan kami tidak memiliki informasi yang cukup tentang benda apa ini sebenarnya. Satu-satunya yang kami tahu adalah, kedua benda ini akan memicu ledakan pada tubuh penggunanya ketika si pengguna telah dalam keadaan terpojok."


" … Jadi kau bahkan tidak tahu, ya … "


Rico menurunkan bahunya dengan kecewa, dan menggigit ujung kuku ibu jarinya.


"Lalu, bagaimana dengan informasi lainnya? Kalian seharusnya sudah mendapatkannya dengan membaca pikiran dan ingatan mereka, 'kan? "


"Umm … Tentang itu … "


Rias dengan ragu mengangkat suaranya, membuat perhatian semua orang terarah padanya.


Rico sedikit terkejut saat melihat Rias baik-baik saja. Bagaimana pun, ia menduga kalau gadis itu akan mengalami kondisi yang sama dengan Lilith.


Tapi, berlawanan dengan dugaannya, Rias masih baik-baik saja, dan menunjukkan kondisi yang sempurna, tanpa luka sedikit pun.


Ditatap oleh banyak orang masih menjadi hal yang menakutkan bagi Rias. Bahkan meskipun yang menatapnya adalah orang-orang yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun.


Itu mungkin sifat bawaan yang ia miliki sejak masih menjadi manusia bumi.


"Aku mencoba membaca ingatan mereka. Tapi … Aku sama sekali tidak bisa melihat apa pun."


"Apa maksudmu? " tanya Rico dengan bingung.


Rias sedikit bergidik, tapi ia lanjut menjelaskannya. "Se-seperti yang kukatakan … Kemampuan pembacaan ingatanku tidak berfungsi pada mereka. Ini seperti … Ada sebuah dinding yang menghalangi kami, atau mereka memang tidak memiliki otak sehingga tidak ada ingatan yang bisa dibaca … "


Ucapannya di baris terakhir mungkin terdengar kasar, tapi itu adalah faktanya.


Kemampuan Rias adalah membaca ingatan dengan cara menyusupkan kesadarannya ke penyimpanan memori internal manusia. Dan satu-satunya tempat bagi manusia untuk menyimpan ingatannya adalah otak. Jika Rias tidak bisa membaca ingatan mereka, maka itu artinya mereka tidak memiliki otak.


Atau kesimpulan lainnya, mereka memiliki berkah dewa sehingga kemampuannya tidak dapat berfungsi. Itu adalah kesimpulan yang paling masuk akal untuk sekarang.


"Bahkan kemampuan kalian juga tidak berfungsi, ya … "


Kedua ujung alis Rico saling bertaut, membuat wajahnya menampilkan ekspresi frustasi yang sangat jelas.


"Itu benar. Bahkan aku tidak bisa membaca pikiran mereka," jawab Kaira.


Mendengus sejenak, Kaira kemudian melanjutkan. "Yahh, setidaknya kami mendapatkan satu hal."


"Apa itu?! " Rico dengan penuh semangat langsung menghampirinya,


"B-bisakaj kau sedikit tenang? "


"Mana mungkin aku bisa tenang di sini! Jika perkiraanku benar, maka orang-orang yang bertugas untuk berjaga di tempat ini hanyalah sandera yang digunakan para bajingan itu untuk mengulur waktu! Mereka juga korban! "


Kaira sepenuhnya mengerti dengan kekhawatiran Rico. Dan dia yakin kalau Norman juga memiliki kekhawatiran yang sama di tempat lain.


Tapi, dia tidak bisa gegabah sekarang. Terlalu sedikit informasi. Hanya dengan sedikit kesalahan, maka tamat sudah.


"Aku mengerti, aku mengerti! Untuk sekarang, tolong tenang! Aku menemukan ini di salah satu kantung pakaian mereka."


Kaira kemudian mengeluarkan secarik kertas yang telah dilipat, dan memberikannya pada Rico.


Rico menerima itu, dan langsung membaca isi kertas tersebut setelah membuka lipatannya.


Apa yang tertulis di kertas itu hanyalah barisan angka acak yang tak beraturan. Hanya ada beberapa huruf di sana, tapi posisinya sangat acak sehingga tak dapat membentuk satu kata pun.


Rico awalnya bingung, tapi dia segera mengerti.


Itu adalah pesan kode.


Orang-orang itu mungkin tidak bisa menjelaskannya secara rinci, dan pada akhirnya hanya bisa memberikan penjelasan melewati barisan kode ini.


Tapi, bagaimana cara membacanya? Itulah yang membuat Rico sekarang kebingungan.


Bahkan skill unik《Analyze》miliknya tak sanggup untuk menganalisis barisan kode itu.


"Apa-apaan ini … Kode yang sangat membingungkan. Apa ini semacam QR yang diterjemahkan dalam bentuk huruf dan angka? Benar-benar merepotkan."


Akan lebih baik jika kode itu ditulis dalam bahasa komputer, atau yang bisa disebut kode biner.


Anzu menghapal semua angka binerik beserta terjemahannya, jadi dia bisa menerjemahkan semuanya hanya dengan sedikit waktu.


Tapi, kode yang mereka hadapi saat ini jelas bukan merupakan bahasa komputer. Bahasa binerik adalah susunan bahasa unik yang hanya menjadi dasar sistem komputer. Dan bahasa itu hanya terdiri atas variabel unik antara 0 dan 1.


lagi pula, tak ada komputer di dunia ini. Jadi bahasa bilangan binerik mungkin belum ditemukan.


Kode yang mereka hadapi mungkin semacam kalimat acak yang diubah ke dalam bentuk angka.


"?! Ketemu! "


Setelah menganalisisnya untuk beberapa waktu, akhirnya Rico memahami kode itu.


Semua angka dan huruf yang tertulis di sana adalah alfabet dan angka yang 'dibalikkan'.


Yang artinya, angka 1 akan diubah menjadi huruf A, dan huruf A akan diubah menjadi angka 1.


Itu adalah kode yang sederhana, tapi butuh waktu untuk memecahkan semuanya.


Meskipun ada sedikit perbedaan pada bentuk dan pelafalan, jumlah huruf di dunia ini sama dengan di bumi, yaitu 26 huruf. Dan angka juga terdiri atas 10 bilangan utama, yaitu dari angka 0 hingga 9.


"Memecahkan kode ini mungkin akan memakan waktu. Apa yang akan kalian lakukan? "


Rico menoleh dan menatap semua orang di belakangnya.


Kaira adalah orang yang pertama mengangguk. "Kami akan menunggu sampai kau memecahkan kodenya. Dan selama itu, kami akan mencoba untuk membangunkan Lilith entah bagaimana."


Tampaknya semua orang setuju dengan rencana Kaira. Tapi, jika mereka benar-benar akan melakukan itu, maka mereka harus cepat.


Bagaimanapun, Noelle dan Norman tidak bisa menunggu lebih lama lagi …


Pada akhirnya, mereka semua sepakat untuk menunggu sampai Rico memecahkan kodenya dengan bantuan Anzu, dan menunggu Lilith kembali sadar.


Itu semua memakan waktu kurang lebih sepuluh menit.


Untuk memecahkan suatu kode yang berisikan banyak angka dan huruf yang memusingkan seperti itu, kecepatan mereka berdua dalam memecahkannya dapat dibilang mengerikan.


Terlebih lagi, jika ditotal, ada lebih dari 20 baris angka dan huruf di sana.


"Apa yang kalian temukan? "


Rico dan Anzu tak menjawab Kaira. Mereka hanya terus menatap kertas yang berisikan hasil pemecahan kode yang mereka lakukan sebelumnya.


Hasilnya begitu mengejutkan. Kode itu berisi informasi yang bahkan membuat Rico sampai meremas tinjunya sendiri hingga berdarah.


Anzu yang membaca itu di sampingnya sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Meskipun begitu, Kaira samar-samar merasakan kesuraman yang terpancar dari dirinya.


Kaira penasaran dengan itu. Jadi ia mendekati mereka berdua dan ikut membaca kode yang telah dipecahkan itu.


Dan kini, ia hampir menyesalinya.


Apa yang orang-orang itu coba sampaikan melalui kode ini adalah sesuatu yang besar. Menyangkut nyawa tak bersalah yang bahkan tak mereka ketahui jumlahnya.


Itu bukanlah semacam kode berisikan informasi-informasi besar yang akan membuat semua orang tergiur. Tapi itu adalah jenis informasi yang membuat hampir semua orang di sana menjadi kesal dan hampir terpancing emosi.


Kode yang telah dipecahkan itu berisikan sebuah pesan, yang ditujukan kepada orang-orang yang telah 'membebaskan' mereka.


Berikut adalah isinya:


..."Bangunan ini terdiri dari enam lantai di permukaan, dan delapan lantai di bawah tanah. Setiap lantai akan memiliki kurang lebih 20 ruangan yang tersedia. Orang yang kalian cari ada di lantai 3, dia ditahan dan dijaga oleh seseorang bernama Barsio. Hati-hati, dia kuat. Ada banyak perangkap yang akan kalian hadapi saat menjelajahi tempat ini. Dan sayangnya, hampir tidak ada yang berharga karena mereka telah meninggalkan tempat ini. Kami hanyalah sandera, dan kami juga hanyalah alat. Arti hidup? Kami tidak memilikinya. Mereka telah menahan kami untuk waktu yang sangat lama, dan melakukan berbagai macam percobaan pada tubuh kami. Tolong, bebaskanlah semua orang yang tersisa! Mereka sama seperti kami! Mereka hanya sandera yang diperalat! Mereka ada di bawah tanah! Kuserahkan semuanya pada kalian! "...


"Apa itu artinya … Semua musuh sudah melarikan diri, dan membiarkan para sandera bertarung? "


Suara Alan bergetar, sementara energi sihir dengan tingkat konsentrasi yang tinggi mulai memaksa keluar dari tubuhnya.


Semua orang tiba-tiba dilanda oleh rasa bersalah, dan penyesalan karena tidak menyadari semuanya lebih cepat.


Jika apa yang tertulis di balik kode itu benar-benar sebuah kenyataan, maka situasinya telah berubah sepenuhnya.


Norman pasti tidak akan membiarkan hal ini. Dan Kaira juga tidak.


Pilihan untuk lari dari tempat ini, telah dihapus dari daftar pilihan mereka.


Meskipun mungkin akan ada beberapa orang yang tidak mau terlibat dalam hal ini, mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti apa yang Norman lakukan, mengingat dia adalah pemimpin mereka, dan dialah yang memegang kunci pelarian mereka.


Ini adalah pulau yang asing, mereka tidak tahu apa pun di sini, jadi mereka tidak bisa gegabah.


Anzu termasuk ke salah satu orang yang benar-benar tidak ingin terlibat. Tapi dia tidak bisa melakukan apa pun. Satu-satunya pilihan yang dia miliki adalah mengikuti arus dan membantu semua orang, meskipun itu akan sangat menjengkelkan.


Saat ini, satu-satunya yang Anzu pikirkan adalah kesimpulan yang baru saja ia dapatkan setelah mengetahui informasi itu.


Dari semua orang, dialah yang paling sadar akan hal itu. Orang itu, pasti telah melakukan sesuatu sehingga semua berakhir seperti ini.


Dia benar-benar melakukan semuanya dengan sengaja agar membuat kelompok Norman tidak pergi dari pulau ini, dan membuat mereka semua secara alami jadi membantu dirinya.


Benar-benar cara bermain yang kotor seperti biasa.


(Iza … Kau benar-benar membuat semuanya menjadi lebih merepotkan untukku … )


...****************...