![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Teruslah berjuang untuk menggapai cahaya itu, meskipun semua yang kamu lakukan mungkin sia-sia."
...****************...
Dua hari setelah insiden penyerangan yang terjadi pada di wilayah bawah tanah Eisen.
Di salah satu rumah besar yang tampak berdiri dengan kokoh di permukaan Eisen yang dalam masa perbaikan, suara manis Olivia dapat terdengar di salah satu kamar yang ada di rumah itu.
"Nhnn … Noelle … Bisakah kamu berhenti bergerak? Itu geli … "
Olivia menggunakan satu tangannya untuk menahan kepala Noelle sementara tangannya yang lain dengan susah payah mempertahankan posisinya dengan bersandar pada kursi yang Noelle duduki saat ini.
"Jika Noelle tidak berhenti bergerak, aku mungkin akan melakukan kesalahan. Jadi, tolong tahan dirimu untuk sekarang."
Noelle sama sekali tidak menjawab perkataan Olivia. Wajahnya masih tenggelam di dadanya yang lembut itu, dan kedua lengannya dengan kuat memeluk pinggang Olivia.
"Tidak masalah. Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku memang tidak mau memotong rambutku sejak awal."
"Aku tidak akan memotongnya terlalu banyak! Hanya sedikit merapihkannya saja! "
Menghadapi Noelle yang merengek dengan cara yang menyebalkan itu, Olivia hanya bisa menghela napas pasrah, dan semakin menekan dadanya yang lembut ke wajah Noelle.
"Dengan ini kamu tidak akan bisa bergerak."
Itu benar, tapi dia juga tidak bisa bernapas sekarang. Cepat lepaskan dia.
"Hanya sedikit lagi … "
Olivia kemudian mengarahkan gunting pada bagian 'ahoge (rambut bodoh) ' yang tumbuh di sekitar pusar Noelle, lalu dengan cepat memotongnya.
"Mhmm … Ini selesai … "
Olivia tersenyum dengan penuh kemenangan saat melihat beberapa helai rambut putih yang tampak sangat panjang berserakan di lantai kamar itu.
Itu benar, Olivia sedang memotong rambut Noelle. Atau setidaknya itulah yang ia harap lakukan. Namun, Noelle dengan keras menolak permintaan Olivia yang ingin memotong rambutnya.
Pada akhirnya, Olivia hanya bisa bertindak 'keras' dan memaksa untuk memotong setidaknya satu bagian rambut yang sudah mengganggunya sejak lama.
Itu adalah rambut bodoh, atau yang biasa ia sebut sebagai jambul yang tumbuh dengan bebas di atas kepalanya.
Dan tepat pada hari ini, Olivia akhirnya bisa menyingkirkan bagian yang sangat menjengkelkan itu!
Olivia menarik kembali wajah Noelle, dan menunjukkan senyum puas padanya. Noelle, bagaimanapun dia hanya bisa membalas Olivia dengan tatapan kesal.
"Hmm … Kenapa kamu sangat tidak ingin aku memotong bagian itu? "
Noelle masih tak menggerakkan ekspresinya. Dia menatap Olivia dengan pandangan suram sambil mengusap kepalanya sendiri, menyingkirkan beberapa helai rambut yang masih menempel di kepalanya.
"Ini tidak seperti aku merasa sentimentil dengan rambut itu. Tapi … Bagaimana aku harus mengatakannya … Ini seperti aku menganggap rambut itu sebagai bagian dari identitasku."
Pandangan Olivia berubah. Kini sama sekali tidak ada kehangatan di matanya.
"Maksud Noelle … Noelle menganggap rambut itu sebagai identitas Noelle? Beberapa helai rambut pemberontak yang terus berdiri itu adalah identitas Noelle? "
" ……… Ya … "
Noelle dengan berat hati mengangguk, menyetujui apa yang Olivia tanyakan.
"Haaaaa … Meskipun Noelle sangatlah hebat dalam banyak hal … Bagaimana Noelle bisa memikirkan hal yang bodoh seperti itu? "
"Aku juga bisa mengatakan hal yang sama denganmu, Livia. Kenapa kamu sendiri belum memotong rambut bodoh yang kamu bilang menjengkelkan itu? "
Noelle menunjuk pada beberapa helai 'jambul' yang berdiri di atas kepala Olivia.
Memang, itu mirip dengan yang Noelle miliki sebelumnya, dan Olivia juga seharusnya memotong itu sekarang.
"Itu … Aku tidak bisa … "
Olivia dengan canggung berbalik, jelas menghindari tatapan sebal dari Noelle.
"Kenapa? "
"Noelle … Tidak pernahkah Noelle mendengar pepatah yang mengatakan 'rambut adalah mahkota seorang wanita'? "
"Tentu aku pernah mendengarnya. Tapi, kalau apa yang kamu sebut dengan mahkota adalah sebuah jambul yang berdiri sendiri di atas kepalamu, maka aku tidak bisa menerimanya."
"Kenapa?! "
Olivia dengan panik berbalik dan menatap Noelle dengan bingung.
"Tidak ada alasan khusus untuk itu. Aku hanya ingin mencabutnya. Bisakah aku melakukan itu? "
"Aku tidak akan mengizinkan siapa pun, bahkan Noelle mencabut rambut ini," ucap Olivia ketika ia dengan panik mundur menjauhi Noelle sambil memegangi kepalanya sendiri.
Melihat itu, Noelle hanya bisa tertawa kecil.
"Dasar merepotkan."
"Apa Noelle mengejekku? "
"Tidak."
Noelle dengan cepat menjawabnya, dan berdiri sambil memandangi beberapa helai rambut putih yang berserakan di lantai.
Sebuah sapu keluar dari ruang kosong, mendarat tepat di tangannya. Noelle kemudian menyapu semua rambut itu dan mengumpulkannya di satu tempat.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan sisa rambut ini? "
" … Apa maksud Noelle? "
Melihat bagaimana Olivia menatapnya dengan curiga membuat Noelle merasakan keinginan kecil untuk menggodanya.
"Yahh, aku berbicara tentang apa yang ingin kamu lakukan dengan rambutku. Bukankah kamu selalu memungut dan menyimpannya sendiri di suatu tempat? "
Wajah Olivia menjadi semakin pucat, ekspresi panik terbentuk di wajahnya. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau Noelle akan mengetahui rahasianya yang memalukan itu.
"Ba-bagaimana Noelle tahu?! "
Namun, Noelle justru berkedip beberapa kali seolah terkejut dengan itu.
"Ohh? Kamu benar-benar melakukannya? Padahal aku hanya menebak."
" ……… Noelle bodoh."
Olivia langsung memalingkan wajahnya yang kini telah berubah menjadi merah, sementara bibir dan kedua matanya masih bergetar ketika menyadari tatapan hangat dari Noelle.
"Uuuuu … "
Pada akhirnya, Olivia hanya bisa pasrah dan berakhir dengan menenggelamkan wajahnya sendiri ke lututnya.
(Kurasa aku terlalu berlebihan.)
Noelle tersenyum masam dan berjalan menghampiri Olivia.
"Maaf, maaf. Aku sedikit terlalu berlebihan," ucap Noelle sambil mengelus kepala Olivia dengan lembut.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, dia kemudian langsung menyelipkan lengan kirinya ke bagian antara paha dan betis, dan memposisikan lengan kanannya di punggung Olivia
"N-Noelle? "
Olivia terlihat terkejut dengan itu. Dia mencoba untuk memberontak dan melepaskan pelukannya dari Noelle, tapi itu sia-sia. Ada perbedaan yang sangat besar pada kekuatan fisik mereka.
Noelle kemudian meremas paha Olivia, lalu mengangkat tubuhnya dengan sangat mudah seolah tidak merasakan beban sama sekali.
"Karena kamu mungkin tidak akan mengatakan apa pun padaku jika aku tetap diam, jadi hanya ini yang bisa kulakukan."
Mengabaikan wakah Olivia yang masih memerah, Noelle perlahan menggerakkan kakinya dan berjalan menuju ranjang yang terletak tak jauh dari posisi mereka.
Begitu Noelle sampai di tepi ranjang, dia lalu melemparkan Olivia dan membiarkannya memantul beberapa kali di ranjang, sebelum akhirnya menatap Noelle dengan bingung.
"Noelle? "
Tak menjawab panggilan dari Olivia yang bingung itu, Noelle kemudian ikut melompat ke ranjang, dan berakhir dalam posisi hampir menindih Olivia dari atas.
Kedua tangannya dengan kokoh menopang tubuhnya, sementara wajahnya tak menampilkan ekspresi apa pun selain keseriusan.
Berdasarkan pengalamannya selama ini, Olivia secara alami sadar dengan apa yang akan Noelle lakukan padanya.
"N-Noelle … Ini masih siang. Semua orang sedang di luar sekarang … "
Meskipun ia menunjukkan penolakan seperti itu, suaranya semakin melemah ketika mendekati akhir kalimat.
Wajahnya terasa sangat panas sehingga ia mungkin bisa mengeluarkan uap dari sana, matanya bergetar dan melirik ke semua tempat dengan tak terkendali guna melarikan diri dari tatapan Noelle.
Namun, Noelle justru menggerakkan tangannya dan menahan pergerakan wajah Olivia dengan memposisikan telapak tangan kanannya di bagian pipi Olivia.
Di benak Olivia, ia bisa memikirkan semua hal yang akan terjadi tak lama lagi.
Meskipun ia sering bertindak berani pada Noelle dalam banyak kesempatan, ia tetap merasa kewalahan saat menghadapi Noelle yang serius seperti yang ada di hadapannya saat ini.
(R-rasanya benar-benar berbeda! )
Antara mendominasi dan didominasi, jika Olivia diharuskan untuk memilih salah satu dari itu, ia tanpa ragu pasti akan memilih untuk didominasi oleh Noelle.
Sebagian dari dirinya suka saat ia menjadi agresif dan dominan terhadap Noelle, tapi mungkin dirinya yang asli lebih suka ketika melihat Noelle yang banyak bertindak terhadapnya.
Itu mungkin karena pengaruh dari beberapa manga shoujo yang pernah ia baca di kehidupan sebelumnya.
Olivia bisa melihat bagaimana Noelle perlahan mendekatkan wajahnya pada Olivia, dan Olivia juga menerima itu dengan raut yang sedikit takut.
Meskipun begitu, Olivia tak memiliki niat untuk menolaknya.
Saat Olivia perlahan menutup mata dan memajukan bibirnya sendiri, pintu terbuka dan suara yang bingung membuatnya secara refleks langsung menoleh ke sana.
"Apa yang Papa lakukan? "
Tepat di depan pintu kamar itu, Levina yang memeluk sebuah boneka beruang kecil menatap Noelle dan Olivia dengan mata bingung, sementara kepalanya dimiringkan dengan imut.
Di sampingnya, Chloe dengan wajah canggung tampak sedang meminta maaf pada Olivia.
Dalam situasi ini, apa yang ada di pikiran Olivia adalah …
(Kalian mengganggu momennya! )
Itu adalah ungkapan yang jujur darinya.
...****************...
"Hei, Papa, apa yang Papa lakukan sebelumnya? "
Begitu situasi menjadi lebih tenang, dan Olivia selesai dengan perdebatan di dalam kepalanya, Levina dan Chloe masuk dan berkumpul dengannya di kamar ini.
Noelle menepuk kepala Levina sekali, dan menatapnya dengan serius.
"Lupakan apa yang kamu lihat tadi. Itu tidak baik untuk pertumbuhan anak-anak."
"Noelle mengatakan itu, tapi bukanlah Noelle seharusnya sudah menyadari kedatangan Chloe dan Pina-chan? "
"Pina? Ahh … Ya … Aku memang sudah menyadari kedatangan mereka, lalu apa? Apa kamu berharap mereka berdua tidak datang ke sini? "
"Itu … "
Wajah Olivia kembali memerah, dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya di balik poni peraknya yang cukup panjang itu.
"Pina-chan, lebih baik kita pergi dan tidak mengganggu mereka berdua."
Chloe dengan susah payah mencoba membujuk dan menarik Levina keluar dari kamar, tapi entah mengapa kekuatan fisik Levina terasa jauh lebih besar dari Chloe.
"Ehh? Bukankah seharusnya aku yang lebih tua?! Kenapa malah aku yang jadi lebih lemah?! "
Itu tentu saja karena Levina adalah salah satu sosok yang disebut sebagai Archon. Seorang vampir biasa seperti Chloe mungkin bukanlah tandingannya.
Bahkan meskipun Levina telah bangun salam keadaan 'melupakan segala kejadian penyerangan Nix Regina', entah bagaimana dia masih mempertahankan beberapa ingatan yang terkait dengan semua kejadian sebelum penyerangan berlangsung.
Levina kemudian melepaskan tangan Noelle yang masih menepuk kepalanya, lalu berjalan, dan memanjat ranjang yang besar itu sendirian.
Levina akhirnya berhasil mencapai puncak ranjang itu, dan mulai merangkak ke arah Olivia. Begitu sampai, ia langsung memeluk leher Olivia dari belakang.
"Pina? "
Olivia bertanya, tapi Levina sama sekali tidak menjawabnya. Dia hanya terus mengusap wajahnya ke rambut panjang Olivia.
"Yahh, terserahlah."
Chloe mengangkat bahunya dengan pasrah dan mulai mengambil toples yang dipenuhi cemilan buatan Olivia. Dia mulai makan tanpa mempedulikan tiga orang itu.
Noelle, di sisi lain dia hanya bisa tertawa kecil sambil memperbaiki posisinya.
Sebelumnya ia hanya duduk di ranjang tepat di samping Olivia, tapi kini ia berbaring di paha Olivia yang hanya ditutupi stocking hitam itu.
Hari ini mereka sedang mengambil istirahat dari semua hal. Jadi tidak ada salahnya untuk bersantai untuk beberapa waktu di kamar.
Olivia sekarang hanya memakai sebuah sweater abu-abu dengan bahu terbuka, serta rok hitam pendek yang bahkan tidak mencapai setengah pahanya.
Bahu sampai leher putih porselen itu terlihat dengan sangat jelas tanpa ada sehelai kain pun yng menghalangi, membuat penampilannya menjadi jauh lebih menggoda dari biasanya.
Levina yang masih memeluk Olivia dari belakang kini tampak sesang mengendus lehernya beberapa kali, sebelum akhirnya menancapkan taringnya ke leher Olivia tanpa pemberitahuan.
"Nhnn~"
Olivia mengerang sedikit atas serangan yang tiba-tiba itu. Dia menatap Levina dengan terkejut, tapi tak melakukan apa pun untuk menghentikannya.
"Kamu terlalu tiba-tiba … "
Pipinya menjadi merah karena efek afrodisiak yang disuntikkan bersamaan dengan menancapnya taring Levina, sementara bibirnya bergetar sambil sesekali mengeluarkan erangan yang sangat manis.
"Hei, itu tempatku! "
Noelle langsung melompat dari tempatnya dan menatap Levina dengan penuh permusuhan. Namun, Levina tidak menanggapi itu dan terus menghisap darah Olivia dengan rakus.
Beberapa detik berlalu dengan Levina yang tanpa henti menyedot darah dari leher Olivia. Begitu selesai, Levina langsung mencabut taringnya sendiri dan menjilat bibirnya dengan senyum cerah.
"Enak."
"Mhmm … Meskipun aku kesal dia mengambil alih tempatku, entah kenapa aku sama sekali tidak bisa melarangnya … "
Noelle mengigit bibirnya sendiri dengan ekspresi pahit, sementara Olivia meresponnya hanya dengan senyum masam, lalu memperhatikan Levina yang bergerak menjauhinya.
"Pina-chan? "
Levina tidak menjawab panggilan dari Olivia, dan justru dengan susah payah mencoba turun dari ranjang. Begitu ia turun dari ranjang, ia langsung berlari menghampiri Noelle, dan memeluk kakinya.
"Apa aku mengganggu? "
Levina mengangkat kepalanya, dan menunjukkan wajah sedih pada Noelle.
Menghadapinya, Noelle hanya bisa menghela napasnya dengan pasrah.
" ……… Tidak … Tidak sama sekali."
Menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sejenak, lalu kembali ke tempatnya sebelumnya, sementara Levina masih bergelantungan di kakinya.
Noelle berjongkok, dan menyelipkan kedua tangannya di ketiak Levina, sebelum akhirnya kembali berdiri dan mengangkat tubuh kecil itu.
"Kamu benar-benar ringan. Apa kamu makan dengan baik? "
Memang, berat tubuh Levina mungkin sedikit lebih ringan jika dibandingkan anak seusia dengannya. Tapi, tampaknya itu bukanlah masalah karena Levina masih bisa beraktifitas tanpa gangguan khusus.
"Ya sudahlah, kami hanya perlu memperbaiki nutrisimu … "
Noelle menghela napas lagi dan mendudukkan Levina tepat di samping Olivia, sementara ia sendiri kembali ke posisinya sebelumnya, menikmati bantal pangkuan Olivia.
"Kamu mengkhawatirkannya? "
Olivia yang entah bagaimana bisa dengan jelas membaca apa yang Noelle pikirkan itu hanya mampu tersenyum lembut, kemudian menggunakan tangannya sendiri untuk mengelus rambut Noelle.
"Sedikit. Tidak mungkin aku tidak khawatir dengan kondisi seorang anak yang ada tepat di sampingku."
Sekali lagi, meskipun Noelle cenderung tidak peduli dengan sekitarnya, ia sebenarnya sangatlah protektif terhadap semua orang yang ia anggap sebagai 'keluarga'.
Noelle membalas tatapan Olivia, lalu menggunakan jarinya untuk mencolek bibir kecil yang tampak merah muda itu.
Jari Noelle terus bermain di sekitar bibir Olivia untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Olivia menunjukkan wajah jengkel, lalu menangkap jari Noelle dengan bibirnya.
Olivia menahan jari Noelle dengan giginya sendiri agar Noelle tak dapat menarik itu dengan mudah. Tapi, Noelle justru tidak melakukan apa pun untuk melepaskan jarinya Dia hanya terus menatap Olivia tanpa ada perubahan pada eksperinya.
Kemudian, Olivia bisa merasakan adanya pergerakan dari jari Noelle yang ada di mulutnya.
Jari Noelle menggeliat seolah bermain dengan lidahnya, dan sesekali menusuk pipi bagian dalamnya yang bertekstur kenyal itu.
Olivia tentu saja tak tinggal diam, dia langsung meraih pergelangan tangan Noelle, dan dengan paksa menarik jarinya keluar dari salam mulutnya.
"Apa yang Noelle lakukan? "
Wajahnya memerah, mungkin karena merasakan bagian tubuh dari kekasihnya itu memasuki mulutnya.
"Tidak. Aku hanya berpikir kalau bibirmu terlihat sangat cantik bahkan tanpa lipstik."
Itu adalah ungkapan jujur darinya.
" … Apa kamu menggodaku? "
"Apa menggodamu adalah hal yang salah? "
"Uuuu … "
Jika Noelle mengatakannya begitu, tidak mungkin Olivia bisa membantahnya. Tapi, tak lama setelahnya ia segera menemukan kalimat yng tepat untuk membalasnya.
"Noelle tidak boleh melakukannya di hadiah anak-anak seperti Pina-chan dan Chloe."
" … Kamu mengatakan itu, tapi … Apa kamu tidak ingat kalau kita juga bisa disebut anak-anak secara usia fisik? "
" ……… Itu benar … "
Olivia mungkin melupakannya sekarang, tapi usia fisiknya sekarang bahkan belum menyentuh usia 17 tahun. Dia mungkin bisa melupakan itu semua karena telah melakukan banyak hal yng normalnya hanya dilakukan oleh orang dewasa.
"Yahh, kurasa tidak akan ada yang memanggil kita anak-anak mengingat penampilan fisik kita yang tidak sesuai itu."
Noelle menarik kembali tangannya, dan tersenyum masam. Ia lalu memejamkan matanya sambil berguling ke kanan sedikit, berhadapan tepat dengan bagian perut Olivia.
"Berkat evolusi menjadi vampir dulu, kita jadi lebih tinggi dari semua orang seusia kita, dan penampilanmu sangat tidak layak untuk disebut sebagai anak-anak."
"Mengatakannya seperti itu … Apa Noelle sedang membicarakan bagian tubuhku yang lain? "
Olivia sedikit cemberut, ia meremas satu pipi Noelle, sementara tatapannya tertuju pada dadanya sendiri.
"Dibandingkan Noelle yang bertumbuh tinggi setiap tahunnya, tinggiku sama sekali tidak mengalami perubahan sejak tahun lalu."
Itu memang benar. Saat ini, tinggi Olivia mungkin hanya mampu mencapai angka sekitar 140 sentimeter, sedangkan Noelle telah lebih dulu mencapai 170 sentimeter.
Itu perbedaan ketinggian yang cukup mencolok.
"Kamu bisa menebaknya dengan baik," ucap Noelle sambil sedikit melirik pada wajah Olivia.
Meskipun begitu, tatapannya hanya bisa melihat rambut peraknya, sementara pemandangan wajahnya telah dihalangi oleh dua gunung yang telah mengalami pertumbuhan pesat itu.
"Dasar mesum."
Olivia menguatkan tangannya yang mencubit pipi Noelle, lalu menimpa kepala Noelle dengan dadanya sendiri.
"Aku akan menganggap ini hadiah."
Keduanya hanya bisa tertawa kecil untuk beberapa saat, sampai akhirnya mereka menyadari kalau Levina yang sebelumnya duduk di samping Olivia kini sedang tertidur pulas.
" … Bagaimana dia bisa tidur dengan begitu cepat? "
"Noelle, dia masih anak-anak. Itu wajar."
"Yahh, kurasa itu bisa diterima."
Noelle mengangkat bahunya dengan ringan, dan kembali menatap wajah Olivia yang masih terhalang oleh dadanya itu.
Tangannya secara alami bergerak mencapai wajah Olivia, kemudian kembali memainkan jarinya di bibirnya yang lembut itu.
"Kenapa Noelle malah melakukannya lagi? "
" … Tidak ada alasan khusus."
" …… Apa kamu cemburu pada Pina-chan yang menghisap darahku sebelumnya? "
" … Kurasa tidak."
Memang cukup samar, tapi entah bagaimana Olivia dapat melihat apa yang Noelle rasakan pada saat Levina menghisap darahnya sebelumnya.
Olivia tersenyum dan tertawa kecil, lalu meraih tangan Noelle, dan menempelkannya ke pipinya sendiri.
"Kamu anehnya sangat mudah dibaca dalam hal seperti ini. Jangan khawatir, aku memiliki cukup tempat untuk menampung kalian berdua."
Dia memejamkan matanya, dan menikmati telapak tangan Noelle yang dingin itu.
" ……… "
Beberapa saat kemudian, Olivia membuka matanya, menunjukkan perubahan warna yang sangat jelas pada bagian irisnya.
Dia lalu menarik tangan Noelle mendekat ke bibirnya, mencium itu sekali, sebelum akhirnya menancapkan taringnya yang tajam ke bagian pergelangan tangan Noelle.
Darah yang mengalir keluar dari bagian tangan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan darah yang ada pada bagian leher. Tapi itu sudah cukup untuk memberikan Olivia sensasi euphoria yang memuaskan.
Noelle sama sekali tidak menunjukkan tanda akan penolakan. Namun, ekspresinya sedikit berubah setelah Olivia melepas taringnya dan menatap kembali menatap Noelle dengan lembut.
"Noelle? "
Olivia bisa melihat perubahan pada ekspresi Noelle, tapi ia tak bisa menebak apa yang menyebabkannya menjadi seperti itu.
Noelle tersenyum ketika menyadari tatapan yang Olivia arahkan padanya.
"Tidak, aku hanya baru saja menerima beberapa informasi kecil."
"Informasi? "
Noelle tidak menjawabnya lagi, dia kini bangun dari posisinya dan melihat ke arah sudut ruangan.
"Chloe, bisakah kamu keluar dan panggil semua orang yang ikut dengan kita sebelumnya ke sini? Ada sesuatu yng ingin kubicarakan dengan mereka."
Chloe yang ada di sudut ruangan dengan bingung menatap Noelle. Pipinya masih mengembung seperti tupai karena dipenuhi oleh makanan, tapi tak lama kemudian dia langsung menelan semua makanan itu sekaligus, sebelum akhirnya mengangguk pada Noelle dan tenggelam ke bayangannya sendiri.
"Sekarang … "
Noelle meregangkan tubuhnya dan menatap Olivia.
"Setelah ini ada sesuatu yang harus kita bicarakan dengan semua orang. Bisakah kamu meluangkan waktu sedikit? "
Olivia sedikit bingung, tapi tanpa ragu mengangguk pada Noelle.
"Aku akan memberikan semua waktuku pada Noelle," ucapnya sambil tersenyum.
"Baguslah."
Noelle kemudian berdiri tepat di hadapan Olivia, lalu mendorongnya hingga berbaring di ranjang.
"Noelle? "
Olivia menatap Noelle dengan sedikit bingung, tapi suaranya juga terdengar seperti ia sedang berharap.
"Ayo kita lanjutkan yang sebelumnya," ucap Noelle dengan raut serius.
" ……… Kamu benar-benar tidak tahu yang namanya menahan diri, ya? "
Olivia hanya bisa dengan pasrah menerima itu semua dengan senyum canggung dan rona merah di wajahnya.
...****************...