[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 89: Malam sebelum pulang



...****************...


(Sialan … )


Noelle dengan ekspresi emosi yang campur aduk di wajahnya berjalan di lorong rumah dan berhenti di satu pintu.


Noelle tanpa berkata apa pun langsung mengetuk pintu itu beberapa kali, dan masuk ke dalamnya.


" … Noelle … "


Stella dengan wajah lesu menyambutnya, sementara tangannya memegangi tangan Cryll.


"Bagaimana keadaan Cryll? " tanya Noelle tanpa berbasa-basi.


Stella mengalihkan pandangannya menuju Cryll yang terbaring di hadapannya.


"Semua lukanya sudah sembuh, tapi … Cryll belum bangun."


Dengan ekspresi khawatir yang sangat jelas di wajahnya, Stella meremas tangan Cryll yang ia genggam saat ini.


( ……… Cryll akan marah padaku jika terus seperti ini … )


Noelle menghela napas lelah dan mengambil kursi, lalu duduk di samping Stella.


"Aku akan mengawasinya sekarang, sebaiknya kau beristirahat. Kau bisa meminta bantuan Livia atau Charl untuk menemanimu ke pemandian."


Hanya dengan melihat wajahnya yang kusam, Noelle sudah tahu kalau Stella sama sekali belum beristirahat hanya untuk memberikan perawatan pada Cryll.


Ia sudah memeras semua energi sihir yang ia miliki hanya untuk memberikan Cryll sihir penyembuhan. Lingkaran hitam yang tipis dapat dilihat di bawah matanya yang seharusnya cerah itu.


"Tapi … "


Stella dengan ragu bergumam, jelas menolak saran Noelle.


Noelle menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu berdiri.


"Sebaiknya kau beristirahat agar Cryll tidak khawatir ketika melihatmu nanti. Aku akan mengurusnya menggantikanmu. Jadi, untuk saat ini, istirahatlah."


" ……… Baiklah … "


Bibirnya mengeluarkan jawaban yang lemah dengan suaranya yang goyah. Noelle merasa tak enak ketika melihat itu, namun ia hanya menggelengkan kepalanya dan membukakan pintu agar Stella bisa keluar.


Sebelum Stella benar-benar pergi meninggalkan kamar, ia bergumam kecil pada Noelle yang sudah kembali ke tempat duduknya.


" … Terima kasih, beritahu aku kalau Cryll sudah bangun nanti."


Usai mengatakan itu, ia langsung keluar dan menutup pintu, meninggalkan Noelle sendirian dengan Cryll yang terbaring di ranjangnya.


" … Untuk sekarang … "


Noelle bangun dan mengarahkan telapak tangannya pada tubuh Cryll. Cahaya yang keluar dari telapak tangannya menyinari tubuh Cryll seolah sedang memindai setiap inci tubuhnya.


Selang beberapa detik, cahaya itu menghilang bersamaan dengan tangan Noelle yang dikepalkan.


"Mhmm … Kondisinya bagus. Semua luka luar dan dalam sudah sembuh seperti yang dia katakan, tapi … Cryll, kekasihmu itu benar-benar bodoh."


Noelle menghela napas lelah sambil mengencangkan kepalan tangannya.


"Bajingan ini tidak akan bangun hanya dengan ditunggu seperti itu. Ini lebih cepat."


Noelle menyiapkan tangannya dalam posisi siap memukul.


"Bangunlah! Dasar tolol! "


Bersamaan dengan teriakan itu, Noelle meluncurkan pukulan tepat ke arah perut Cryll, membuat laki-laki berambut pirang itu langsung bangun dengan semua udara yang keluar dari paru-parunya.


"Ughh– Apa-apaan?! Brengsek! Apa yang kau lakukan padaku?! "


Cryll berteriak dengan marah pada Noelle, namun Noelle hanya membalasnya dengan tatapan merendahkan.


"Aku hanya membangunkanmu, dasar bodoh. Kau pikir, sudah berapa lama kau pingsan? Kau membuat Stella khawatir. Cepatlah bangun dan minta maaf padanya."


Masih memegangi perutnya dengan wajah kesakitan, Cryll menatap Noelle dengan mata penuh kemarahan.


"Brengsek, aku tidak memiliki skill resistensi rasa sakit. Jadi jangan sembarangan Menyerangku."


Noelle mengangkat satu alisnya sebagai jawaban.


"Aku tidak peduli. Cepatlah keluar dan beritahu kekasihmu itu kalau kau baik-baik saja. Melihat gadis baik seperti dirinya memiliki wajah khawatir seperti itu sangat tidak menyenangkan untukku."


Meskipun Noelle tidak terlalu peduli dengan hal itu, tetap saja sangat tidak mengenakkan baginya jika harus melihat gadis cantik yang cukup ia kenal memiliki wajah suram seperti itu.


Cryll menggerutu sambil berusaha memperbaiki posisinya.


Ia perlahan berdiri dengan kakinya gemetaran, beberapa kali ia hampir terjatuh. Namun, Noelle meminjamkan tangannya untuk membantunya.


"Kau pingsan cukup lama. Sendi dan otot-otot di kakimu mungkin mengalami kelumpuhan sementara karena syok. Teruslah mencoba menggerakkannya agar pemulihanmu menjadi lebih cepat."


"Ughh … Aku tahu itu … "


Menjengkelkan bagi Cryll untuk mengakuinya, tapi yang dikatakan Noelle itu benar.


Besok pagi mereka sudah harus kembali ke kota untuk memberikan laporan pada guild tentang apa yang terjadi hari ini.


Ada banyak insiden dan penambahan informasi tidak terduga yang terjadi hari ini, jadi mereka harus sesegera mungkin memberikan laporan pada guild dan menunggu keputusan selanjutnya dari Terneth.


Untuk itu, Cryll tidak bisa menghalangi perjalanan karena kelumpuhan sementara yang ia alami. Karena itu, dia harus pulih secepatnya.


Cryll dengan susah payah mencoba berjalan dengan berpegangan pada dinding.


"Yahh, jika kau masih belum pulih sampai besok, aku bisa membawamu dengan menggunakan kursi roda."


"Kenapa kau tidak mengatakan itu dari tadi brengsek?! "


Cryll membentak untuk membalas kata-kata yang Noelle ucapkan sambil mengangkat bahunya.


Namun, Noelle tetap diam di tempatnya seolah ia tidak peduli dengan reaksi Cryll.


Cryll hanya bisa menahan kedutan di dahinya, sementara kakinya perlahan berjalan menuju tempat di mana Stella berada.


Meskipun Noelle tidak memberitahunya lokasi Stella, Cryll secara alami mengetahuinya sendiri dari hawa keberadaan yang Stella pancarkan.


Hanya saja, ia tidak tahu ruangan macam apa yang Stella masuki itu.


"Eh– Kyaaaa–! "


"Tunggu– Talya?! "


Noelle masih bersantai di kursinya sementara ia mampu mendengar suara teriakan Stella dan Cryll yang berasal dari kamar mandi.


Tak lama kemudian, Cryll menghampirinya dengan berlari kencang, lalu memberikan tendangan yang sangat kuat mengarah pada kepala Noelle.


Noelle dengan mudah menangkis tendangan itu dengan pergelangan tangannya, lalu dia tersenyum.


"Lihat? Kau langsung sembuh."


Tampaknya, tak sengaja melihat Stella yang sedang mandi memicu adrenalin di dalam tubuh Cryll sehingga kondisi kakinya langsung kembali seperti sebelumnya.


"Khh–"


Tidak mampu berkata apa pun untuk membalasnya, Cryll hanya mampu menggertakkan giginya dengan wajah yang sedikit memerah.


Melihat Cryll yang sedang malu cukup menyenangkan bagi Noelle, jadi ia akan menanamkan pemandangan itu di dasar ingatannya.


Cryll menutupi wajahnya dengan tangannya setelah menyadari niat Noelle, lalu ia langsung berlari melarikan diri dari kamar.


Noelle tersenyum kecil ketika melihat itu, namun, seketika senyumnya langsung menghilang.


"Chloe."


Dipanggil oleh Noelle, kepala Chloe langsung muncul dari bayangan di kakinya.


Dengan tatapan polosnya, Chloe bertanya pada Noelle tentang mengapa ia memanggilnya.


"Percakapanku dan Lilith tadi, kau mendengar semuanya, 'kan? " tanya Noelle


Chloe mengangguk tanpa perubahan pada ekspresinya.


"Bisakah kau merahasiakan itu dari Livia? Aku tidak mau membuatnya khawatir karena masalah kami."


Diam sejenak untuk merenung, Chloe kemudian mengeluarkan tubuhnya sepenuhnya dari bayangan Noelle, berdiri di hadapannya.


" … Aku tidak keberatan, tapi … Apa itu benar-benar tidak apa? Aku tidak mengerti dengan percakapan kalian, tapi aku yakin itu adalah hal yang cukup serius. Bukankah Nona Olivia justru akan sedih jika Tuan tidak memberitahunya? "


(Dia tidak terduga sangat peduli … )


Noelle tidak bisa menahan senyum hangat yang keluar di wajahnya.


"Aku tidak mau membuatnya sedih, tapi … Lebih dari itu, aku tidak mau melibatkannya dengan permasalahan yang terjadi di masa lalu. Aku ingin dia menikmati hidupnya dengan tenang tanpa harus terganggu dengan keberadaan Lilith dan yang lain."


Chloe menunjukkan wajah sedih sejenak, namun ia balas menatap Noelle.


" … Mungkin … Nona Olivia akan marah jika dia mendengar itu … Aku yakin kalau Nona Olivia juga mau menanggung masalah yang sama dengan Tuan."


" ……… "


Memasang senyum cerah di wajahnya, Noelle kemudian meregangkan tubuhnya di kursi itu untuk menghapus perasaan suram yang ia miliki sejak pembicaraannya dengan Lilith.


"Yahh … Sebenarnya aku juga bingung apakah aku harus memberitahunya atau tidak, tapi … Aku mungkin akan menunggu waktu yang tepat untuk itu."


Noelle berdiri dan berjalan menghampiri Chloe. Ia mengelus kepala Chloe sejenak sementara Chloe tampak menikmati itu.


"Pokoknya, untuk saat ini kau harus merahasiakannya dari Livia. Ini akan menjadi rahasia kita berdua," ucap Noelle sambil memasang senyum terbaik yang bisa ia buat.


Chloe yang melihat senyum itu sempat memiliki wajah yang memerah karena malu, namun ia segera menggelengkan kepalanya dan menyetujui kata-kata Noelle.


Mungkin karena itu adalah pertama kalinya bagi Chloe untuk melihat senyum Noelle yang seperti itu, wajahnya kembali memerah setiap beberapa detik.


"Ahh, ya … Aku juga ingin meminta bantuanmu sedikit."


Chloe memiringkan kepalanya. "Bantuan? "


"Mmhmm … Sebenarnya … Aku tidak memiliki banyak mana yang tersisa karena pertarungan sebelumnya, karena itu aku tidak bisa terus mempertahankan penghalang yang melindungi rumah ini. Jadi, aku minta bantuanmu untuk menjaga sekeliling rumah ini bersama Brackas dan serigala lain."


(Sejak tadi … Aku merasakan beberapa kehadiran aneh dari luar … )


Noelle mengerutkan keningnya dengan cemas ketika memikirkan itu, sementara Chloe sudah pergi ke luar melalui bayangannya.


...****************...


"Hei, Hakui, apa yang membuatmu bekerja begitu keras? Kau tidak punya keluarga, 'kan? Gajimu juga terlalu besar hanya untuk menghidupi dirimu sendiri."


Anak itu dengan wajah polos tanpa ekspresi mencoba bertanya pada pria yang tampak berumur di pertengahan 60-an.


Pria itu, Hakui hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Ia lalu menggerakkan tangannya dan mengelus kepala anak itu untuk beberapa saat sementara tangannya yang lain masih memegangi ponsel genggam miliknya.


"Aku tidak bekerja untuk mendapatkan uang. Jika itu uang, aku sudah memilikinya terlalu banyak sehingga aku bingung mau menggunakannya untuk apa, tapi … Aku masih belum boleh berhenti. Masih banyak orang lemah yang menderita di sekitar kita. Sampai aku menyelamatkan mereka semua dari kejamnya masyarakat, aku belum boleh berhenti."


Mendengar jawaban Hakui, anak itu memiringkan kepalanya dengan bingung.


"Aku mengerti dengan apa yang menjadi motivasimu, tapi … Aku masih belum paham kenapa kau mau bekerja begitu keras hanya untuk orang asing … Bagiku, orang asing tidak lebih dari latar belakang yang menghiasi dunia … "


Hakui mengedipkan matanya beberapa kali begitu ia mendengar jawaban anak itu, kemudian ia tertawa kecil.


"Kata-kata itu sangat tidak cocok untuk dikatakan oleh anak berusia 7 tahun seperti dirimu. Kau terlalu pintar, Iza."


"Benarkah? Terima kasih atas pujiannya. Ayano mengatakan hal yang sama padaku. Padahal … Menurutku aku hanya sedikit lebih pintar dibandingkan kebanyakan anak seusiaku."


Anak itu, Izaya menatap langit biru dengan mata merahnya yang bersinar dengan polos.


"Tidak, kau salah. Kau sangat pintar, Iza, terlalu pintar sehingga itu bisa menjadi bumerang untukmu suatu saat nanti."


"Bumerang … Apakah kepintaranku akan berbalik melawanku suatu saat nanti? Itu terdengar aneh~"


Menanggapi respon dari Izaya, Hakui tersenyum masam dan kembali menatap layar ponselnya.


Ia berbicara dengan kedua tangannya yang fokus untuk bermain game di ponsel itu.


"Hei, Iza."


"Hmm? "


Izaya memiringkan kepalanya dan menatap Hakui dengan kebingungan.


"Ada apa? "


"Menurutmu … Kenapa kau begitu berbakat? Kenapa kau bisa menjadi sangat pintar? Apa kau tahu alasannya? "


"Tidak mungkin aku tahu itu. Bagiku, kepintaran dan bakat seseorang itu sudah ditentukan begitu mereka terlahir."


-–Bakat seseorang sudah ditentukan sejak mereka terlahir. Takdir, kepintaran, bakat, keberuntungan, dan hal lainnya sudah ditetapkan sejak kelahiran mereka.


Ada pula faktor genetik yang berlaku. Jika seorang anak terlahir dari kedua orangtua yang jenius, maka anak itu akan menjadi jenius juga.


Sebaliknya, jika seorang anak terlahir dari orangtua yang biasa saja, maka akan mempersempit kemungkinan anak itu akan menjadi seorang jenius.


Tentang bagaimana bakat dan kepintaran dapat berkembang seiring dengan berjalannya waktu dan usaha, itu juga dipengaruhi oleh sifat kelahiran mereka.


Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh seorang anak bernama 'Canaria Izaya'.


Ia sadar akan kepintaran yang ia miliki, karena itu ia yakin kalau ia memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seperti itu.


Terlahir dengan kepintaran dan bakat yang luar biasa, dengan keluarga besar yang luar biasa pula, Izaya secara alami memiliki takdir yang sangat bagus yang menunggunya di masa depan.


Ia tidak perlu melakukan apa pun. Hanya diam dan melakukan semua seperti biasanya, takdirnya akan bergerak dengan sendirinya.


Semua nasib baik dan buruk akan terus mendatanginya secara alami meskipun dia tidak melakukan apa pun.


"Semua hal yang akan dialami oleh seseorang, itu semua sudah ditetapkan di atas batu sejak mereka terlahir. Hal-hal seperti 'kerja keras', 'usaha', dan faktor lainnya hanyalah sampingan yang menutupi takdir yang ia miliki. Aku juga seperti itu. Tidak peduli sekeras apa pun aku mencoba, aku tetap tidak akan mampu melebihi dari apa yang memang sudah ditetapkan 'takdir' untukku."


Takdir dan potensi seseorang sudah ditetapkan sejak mereka terlahir. Itu adalah hal yang mutlak bagi seorang Canaria Izaya.


Mendengar ucapan Izaya yang tidak sesuai dengan usianya saat ini, Hakui hanya mampu menghela napas pasrah.


"Ya ampun, inilah kenapa sangat merepotkan untuk mengurus anak bermasalah sepertimu."


Hakui tersenyum masam. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun segera berhenti karena melihat notifikasi di layar ponselnya.


"Woah! Ini hebat! Aku mendapatkan SSR yang sudah kuincar sejak lama! Terlebih lagi, rate-off! Iza! Lihat ini."


Hakui dengan semangat menunjukkan karakter game yang baru saja ia dapatkan dengan gacha.


"Woah~ Itu hebat~ Tapi, jangan membuang-buang uang yang kau miliki hanya untuk melakukan gacha. Itu tidak lebih dari pemborosan."


Hakui tersenyum.


"Siapa peduli. Aku tidak memiliki satu pun keluarga yang harus kunafkahi dengan uangku. Aku hanya bisa menggunakannya untuk melakukan gacha."


Saat Hakui baru saja memamerkan hasil yang ia dapat melalui gacha, Izaya hanya memarahinya sambil tersenyum kecil.


Hakui kembali menarik ponselnya dan tersenyum tipis.


"Yahh, seperti yang kukatakan tadi. Kau tidak tahu mengapa kau begitu pintar dan berbakat. Tapi, suatu saat kau akan mengetahuinya sendiri."


Izaya memiringkan kepalanya.


"Benarkah? "


"Ya, aku yakin itu. Kepintaran, bakat, dan cara berpikirmu saat ini tidak cocok dengan usia mental dan fisikmu yang masih anak-anak. Seiring dengan bertambahnya usiamu nanti, kau akan menemukan apa arti dari hidupmu melalui pengalaman yang kau miliki. Kau akan dapat memahami kejeniusan dirimu itu, dan memanfaatkannya sebaik mungkin."


Hening sejenak, Izaya tidak mengatakan apa pun selain melihat ke udara dan memikirkan perkataan Hakui.


"Ingat perkataanku, Iza. Suatu saat, kau akan mengerti dengan apa yang sebenarnya kau inginkan. Kau akan mengetahui mengapa kau terlahir dengan diberkahi banyak hal baik. Kau akan mengerti itu semua suatu saat nanti."


" … Apa kau juga mengalami itu? " tanya Izaya.


Hakui tersenyum, lalu menjawab.


"Tentu. Itulah bagaimana aku mampu menemukan jalan hidupku untuk menghabisi penjahat, dan menjadi anggota kepolisan. Meskipun … Aku masih menyesal dengan pilihanku untuk bergabung dengan kepolisian."


-–Dunia kepolisian tidak sebaik yang ia duga.


Awalnya, ia bergabung menjadi polisi karena ia menganggap mereka sebagai karakter 'pahlawan yang mengalahkan penjahat'. Meskipun memang agak aneh bagi seorang pria dewasa untuk memiliki pemikiran seperti itu.


Profesi yang awalnya ia anggap mulia kini mulai luntur di benaknya


Saat ia menjadi polisi, saat itu pula dia belajar tentang berapa kerasnya hidup menjadi seorang 'pejuang keadilan'.


Ia mempelajari banyak hal busuk mengenai dunia kriminalitas yang tidak adil.


Yang kuat hanya menindas yang lemah, dan pihak mayoritas hanya mampu berpihak pada yang kuat, dan menutup mata atas apa yang terjadi pada yang lemah.


Ia ingin berhenti dari pekerjaan itu, namun itu tidak bisa. Karena, masih banyak orang yang membutuhkan bantuannya.


Hakui tidak bisa berhenti karena alasan itu.


Karena itu, ia ingin Izaya benar-benar memikirkan masa depannya dengan baik.


Ia tidak ingin Izaya menyesali pilihannya. Ia ingin Izaya terus mengikuti apa yang dikatakan hatinya, tanpa terpengaruh oleh pihak lain.


Hakui tersenyum sedih.


"Yahh, kau akan mengerti suatu saat nanti. Sampai saat itu tiba, teruslah mengikuti apa yang dikatakan hatimu, Iza."


...****************...


Noelle tiba-tiba terbangun di ranjangnya dengan tubuh yang penuh dengan keringat.


Ia memegangi wajahnya dengan frustasi ketika mengingat itu.


Kenapa ia memimpikan itu di saat ini? Apa pembicaraannya dengan Lilith menjadi pemicunya? Ia tidak mengerti.


Pikirannya benar-benar kacau saat ini.


Noelle berusaha mengangkat tubuhnya dan duduk di tepi ranjang. Namun, Olivia yang tidur dengan posisi menimpanya dari atas terlihat tidak mau melepaskan pelukannya dari Noelle.


(Ahh, ya … )


Noelle tidak bisa menahan diri dari membentuk senyum hangat sambil menatap Olivia.


(Pada akhirnya, kami melakukannya lagi, ya … )


Noelle tersenyum masam saat memikirkan itu.


Melakukannya di rumah yang diisi oleh banyak orang yang ia kenali membuat hatinya diisi oleh perasaan yang tidak bermoral. Namun, anehnya itu justru membuat Noelle dan Olivia menjadi semakin bersemangat.


Noelle perlahan melepaskan kedua lengan Olivia yang memeluk lehernya.


Kedua lengan Olivia berhasil dilepaskan, namun Noelle kembali berkonflik tentang bagaimana ia harus melepaskan Olivia yang berada tepat di atasnya.


Berat tubuh Olivia yang tergolong ringan sama sekali tidak mempengaruhi Noelle. Namun, karena itulah ia harus berhati-hati dengan caranya memperlakukan tubuh Olivia.


Sensasi lembut dan kenyal yang menempel di dadanya membuat Noelle sempat merasa ragu untuk melepaskan pelukan Olivia, namun ia langsung menggelengkan kepalanya dan mulai memiringkan tubuhnya sendiri.


Tubuh Olivia yang tepat berada di atas Noelle ikut miring dan terjatuh dengan lembut di ranjang karena pengaruh gravitasi.


Guncangan kecil itu saja sudah cukup untuk membangunkannya. Olivia sedikit membuka matanya dan menatap Noelle dengan bingung.


Kemudian ia tersenyum.


"Noelle … Mau melakukannya lagi? "


" ……… Aku hanya berniat cuci muka."


"Aku tidak keberatan jika Noelle mau … "


" ……… "


Noelle tidak mampu menjawab dan hanya terdiam sambil menatap Olivia yang tersenyum menggoda padanya.


Ia kemudian tanpa mengatakan apa pun lagi langsung beranjak dari ranjang dan menghampiri wastafel yang ada di toilet di kamarnya.


(Kenapa … Aku … Memimpikan itu … )


Dalam benaknya, reka ulang dari mimpi yang baru saja terjadi terus diputar dan membuatnya muak dengan pikirannya sendiri.


Noelle tanpa kata memandang wajahnya sendiri yang dipantulkan di cermin.


(Hakui … )


ia sama sekali tidak pernah memikirkan tentang orang itu sebelumnya.


Karena, ia sama sekali tidak perlu memikirkannya secara langsung.


Cara berpikir, idealisme, dan keyakinannya sendiri diadaptasi dari seorang 'Wakana Hakui', jadi peninggalan pria itu akan terus ada selama Noelle masih hidup.


Noelle tanpa berkata apa-apa terus menatap dirinya sendiri yang ada di cermin itu. Sampai akhirnya ia sadar dengan bekas berwarna merah di pangkal lehernya.


(Berbahaya jika orang lain melihatnya … )


Dengan senyum canggung di wajahnya, ia langsung menghapus bekas itu dengan regenerasi.


Itu adalah bekas yang diberikan Olivia untuk menandainya tadi.


Karena akan canggung jika Cryll atau yang lain melihat itu, ia tidak punya pilihan lain selain menghapusnya.


Usai membasuh wajahnya, Noelle segera kembali ke kamar dan melihat sosok Olivia yang duduk di ranjang, menunggunya.


Olivia langsung tersenyum begitu ia melihat Noelle. Pesona menggoda yang anehnya tak dapat Noelle tolak dengan jelas terpancar dari sosoknya yang menggunakan gaun tidur model babydoll berwarna biru tua transparan yang anehnya justru menekankan lekuk tubuhnya.


"Sejak kapan … Kamu berganti pakaian … "


Dengan kedutan di dahinya, Noelle bertanya pada Olivia sambil tersenyum pahit.


"Berganti pakaian dapat dilakukan dalam satu detik jika menggunakan sihir," jawab Olivia sambil tersenyum.


" … Lupakan tentang itu. Yang ingin kutanyakan … Apa itu? "


Noelle bertanya sambil menunjuk aksesoris yang ada di atas kepala dan pinggang belakang Olivia.


"Ini? Telinga dan ekor kucing? "


Olivia menjawabnya sambil memiringkan kepalanya dengan polos.


"Tidak, aku tahu itu. Tapi … Di mana ekor itu menempel? "


Ia mengerti jika itu telinga, tapi ia kebingungan dengan ekor kucing yang terus menggeliat di belakang Olivia.


Aksesoris telinga kucing bisa digunakan dengan berbagai cara, salah satunya adalah bando, atau penjepit rambut. Namun, cara menggunakan ekor itu cukup terbatas.


Noelle sama sekali tidak melihat sabuk yang biasa digunakan para cosplayer dari bumi untuk memasang aksesoris seperti ekor di tubuh Olivia.


Yang artinya …


" ……… "


Noelle menelan ludahnya dengan gugup ketika menyadarinya.


Menyadari kegugupan Noelle, Olivia justru tersenyum menggoda dan menjilat jarinya sendiri.


"Fufu~ Mau bermain denganku? Nyaa~"


(Tidak mungkin aku bisa bertahan, 'kan? )


Memperhatikan Noelle yang perlahan mendekatinya, Olivia tidak bisa menahan dirinya dari membentuk senyum lembut di wajahnya.


Meskipun awalnya ini bukanlah niatnya, ia jadi melakukannya karena menyadari kekhawatiran yang Noelle rasakan di pikirannya.


Ia tidak bisa memaksa Noelle untuk menceritakan apa masalah yang ia alami. Namun, Olivia setidaknya akan membantu Noelle untuk meredakan stres yang ia alami.


Sampai Noelle akhirnya mau menceritakan semua masalahnya atas keinginannya sendiri, Olivia akan terus membantu Noelle dengan hal-hal kecil seperti ini.


Olivia dengan senyum lembut di wajahnya mulai membelai punggung Noelle yang sudah datang dan memeluknya dengan erat.


Ia sudah tahu kalau ada sesuatu di antara Noelle dengan Lilith dan para reinkarnator lainnya. Namun, ia tidak bisa membantu apa pun, setidaknya untuk saat ini.


Awalnya ia berniat mendatangi Lilith dan memintanya menjelaskannya secara langsung. Namun, Olivia mengganti rencananya karena menurutnya rencana itu sedikit kacau dan tidak akan berakhir dengan baik.


Ia baru akan melakukannya jika situasinya sudah memburuk.


Olivia menutup matanya sambil mengelus kepala Noelle yang sudah menempelkan wajahnya di dadanya, membuat gaun yang ia gunakan menjadi berantakan dan seolah akan terlepas kapan saja.


Gaun itu memang sudah memiliki model yang mengekspos banyak bagian tubuh sejak awal, tapi karena tindakan Noelle, kulit yang Olivia tunjukkan menjadi semakin banyak.


Sensasi geli yang menggelitik yang dihasilkan gerakan lidah Noelle menguasai tubuhnya dan membuatnya tak dapat berpikir jernih.


"Nn … Mmfuh … Noelle … "


Ia tidak bisa menahan untuk mengeluarkan erangan manis saat lidah Noelle terus bergerak menjilati sekujur dada dan lehernya. Ia tidak tahu wajah seperti apa yang ia buat sekarang. Namun, ia yakin kalau wajahnya sudah sangat memerah.


(Noelle … )


...****************...