[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 175: Absurditas (2)



...****************...


"Jalan keluarnya berhubungan dengan patung yang ada di sini, ya … Meskipun kau mengatakan itu, bagaimana kita bisa menyelidikinya? Kita sudah melewatkan banyak sekali patung, dan kau bahkan sudah menghancurkan salah satunya."


" … Apa yang akan kau lakukan, Noelle? "


Baik Cryll dan Norman hanya menatap Noelle dalam diam, menunggunya membuat keputusan.


Noelle, bagaimana pun ia hanya diam sambil menyilangkan lengannya. Dan tak lama kemudian, dia akhirnya mengungkapkan isi pikirannya.


"Itu memang benar, dan tidak mungkin juga kita akan memperbaiki patung yang sudah kuhancurkan. Tapi … Kurasa kita tidak perlu terpaku pada hal itu."


" … Apa maksudmu? "


Cryll dan Norman saling memandang untuk beberapa saat, tapi tak peduli bagaimana mereka memikirkannya, mereka tidak dapat memahami maksud di balik perkataan Noelle.


Noelle merasa kalau kata-katanya tidak terlalu membantu, jadi ia hanya bisa menunjukkannya langsung pada mereka berdua.


Dia menghampiri salah satu patung di sana, dan mendaratkan ujung jarinya di bagian hidung patung berbentuk aneh itu.


"Seperti yang kubilang, kita tidak perlu terpaku dengan patung-patung sebelumnya. Apa kalian tidak menyadarinya? Semua patung yang kita temukan memiliki bentuk dan model yang serupa, hanya saja mereka ada di posisi dan perspektif yang berbeda sehingga membuat kita berpikir kalau semua patung itu berbeda satu sama lain."


Begitu Noelle mengatakannya, mereka akhirnya sadar.


Jumlah patung di tempat itu ada sekitar 17 patung. Semuanya memiliki model dan bentuk yang berbeda-beda. Tapi, jika mereka membandingkannya dengan semua patung yang mereka lihat sebelumnya, maka mereka akan menemukan kesamaan dalam jumlah dan model patung itu.


Yang artinya, 17 patung itu memiliki banyak salinan yang sama persis di tempat-tempat yang berbeda.


"Aku mengerti. Lalu … Apa yang akan kita lakukan dengan semua patung itu? "


"Sebenarnya … Itu masalah utamanya … Aku sendiri masih belum tahu bagaimana cara kerja patung itu … " ucap Noelle dengan ekspresi rumit.


"Jalan buntu, ya … "


Norman bergumam sendiri sambil memperhatikan semua patung itu satu per satu.


Sekilas, tak ada yang aneh. Tapi, Norman menyadarinya.


"Tidak hanya patung, tapi semua benda yang ada di sini juga sama dengan yang sebelumnya, ya … "


"Hmm? Kau benar … Hebat kau bisa menyadari detail kecil itu. Setelah kau mengatakannya … Kau benar, semua furnitur dan objek yang ada di sini memiliki kemiripan yang terlalu jelas dengan yang sebelumnya."


Noelle mengangguk sambil memberikan penjelasan tambahan terhadap apa yang Norman berikan.


Dia memang sudah sadar tentang kemiripan itu, hanya saja ia terlalu terfokus pada semua patung itu sehingga mengabaikan detail kecil yang seharusnya tidak akan ia lewatkan.


Sebaliknya, Norman bisa menyadari itu karena ia tidak fokus dengan patung. Ingatannya memang tidak sebaik Noelle atau Anzu, tapi dia masih memiliki kemampuan penalaran yang bagus sehingga dia bisa menyadari suatu detail kecil jika ia tidak difokuskan dengan satu hal.


Di sisi lain, satu-satunya orang yang mencapai jawaban akhir dari kesimpulan mereka berdua, Cryll akhirnya membuka suara.


"Itu artinya … Ini semacam puzzle, ya … Apa kita diminta untuk mencari perbedaan? Serius? "


Noelle mengangguk sekali sambil membuat ekspresi rumit.


Jika tebakannya benar, maka apa yang baru saja Cryll katakan itu adalah kenyataannya. Memang bukan menjadi masalah untuk menyelesaikan puzzle ini. Tapi, entah mengapa, Noelle merasa ada yang kurang.


Ini seperti, ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Benar-benar perasaan yang menjengkelkan.


Tapi, meskipun begitu, ia tak dapat menyuarakan kejanggalan yang ia rasakan. Karena, pada tahap ini, Noelle sudah hampir tidak bisa mempercayai instingnya sendiri.


"Kemungkinan besar begitu. Kita memang masih belum tahu pasti, tapi … Tidak ada salahnya untuk mencoba."


Noelle kemudian mengeluarkan sebuah buku jurnal miliknya dan menggambar sketsa ruangan itu. Sebisa mungkin ia menggambar semua detail dan letaknya agar tak ada kesalahan.


Ketika selesai, ia kembali memasukkan bukunya ke dalam saku kecil yang ada di bagian dalam mantel yang ia pakai.


"Ayo lanjut, kita mungkin akan menemukan jawabannya setelah melewati tempat ini."


Cryll dan Norman mengangguk, dan berjalan di belakang, mengikuti Noelle.


Setelah melewati sebuah gerbang kecil yang terbuat dari kayu, mereka akhirnya tiba di tempat berikutnya.


Tempat itu memiliki penampakan yang berbeda dari yang sebelumnya, tapi itu karena letaknya semua barang yang ada di sana berbeda. Semua furnitur dan patung yang ada di sana, memiliki bentuk dan model yang sama persis.


Mereka hanya berbeda posisi. Mungkin itu adalah petunjuknya.


Noelle kembali mengeluarkan buku catatannya dan mulai membandingkan tempat ini dengan detail yang ia gambar di buku catatannya.


"Aku mengerti," ucap Noelle sambil menutup buku catatan itu.


Dia pun berjalan perlahan menghampiri salah satu patung di sana, dan menyentuhnya menggunakan ujung jari. Setelah itu, ia kembali melepaskannya dan meraih gagang Verstand yang ada di pinggang belakangnya.


Seketika, patung itu melayang dan berpindah posisi sesuai dengan keinginan Noelle.


Noelle kemudian menghampiri patung lain, dan melakukan hal yang sama. Sekarang ada dua patung yang melayang di udara. Noelle menaruh kembali salah satu patung di tempat patung lain sebelumnya berada, dan kembali melakukan hal yang sama dengan patung yang satu lagi.


"Apa kau akan menukar semua posisinya satu per satu? Bukankah itu merepotkan? "


Cryll tampaknya sudah memahami maksud di balik tindakan Noelle. Dia cukup mengenal Noelle, jadi secara alami ia menanyakan hal itu.


"Memang aku benci hal yang merepotkan, tapi hanya diam di sini tidak akan membawa kita menuju pintu keluar. Saat ini, kita hanya bisa bergantung pada diri kita sendiri."


" …… "


Norman tak memberikan respon apa pun terhadap percakapan mereka. Setelah Noelle mengatakan itu, ia langsung meraih sebuah lentera kecil yang tak menyala dan menukarnya dengan sebuah bingkai foto yang tertutup debu tebal yang ia ambil dari meja di sisinya.


Setelah itu, ia mulai berjalan menghampiri salah satu patung, dan memperhatikannya sejenak, sebelum akhirnya mengangkatnya untuk membawanya ke sudut ruangan.


"Manusia berbibir besar dan bertangan gorila ini seharusnya ada di sini … Apa kalian ingat dengan setiap posisinya? Itu akan sangat membantu jika kalian bisa memposisikannya sesuai dengan yang kita lihat di tempat tadi."


"Tidak masalah, aku sudah menyalin semua detailnya," ucap Noelle sambil menunjukkan buku catatannya.


" ……… "


(Yahh, kurasa dia benar.)


Menjengkelkan rasanya ketika ia harus mematuhi orang lain, tapi ia tidak dalam posisi yang bisa memberontak sekarang. Awalnya ia tidak setuju dengan Noelle, tapi kini ia melakukan apa yang ia ucapkan, baginya ini seperti penghinaan.


Mungkin keberadaan Norman telah menjadi semacam pelumas dalam hubungan 'pertemanan' canggung yang ia miliki dengan Noelle.


"Baiklah, baiklah. Katakan padaku di mana aku harus menggantikan posisi mereka."


Cryll akhirnya menyerah dan menggaruk bagian belakang kepalanya. Di hadapannya, Norman seketika memasang senyum tipis.


"Noelle, bisah kau berikan detail posisinya pada Cryll, aku yakin dia butuh itu."


"Tentu."


Noelle mengangkat bahunya dengan santai dan melemparkan buku catatannya, yang kemudian langsung ditangkap oleh Cryll.


Noelle sudah sadar kalau ingatan Cryll tidak sebaik dirinya atau bahkan Norman, jadi dia adalah orang yang paling membutuhkan petunjuk di sini.


Noelle sudah menghapal semua posisinya, jadi itu tidak masalah. Meskipun begitu, itu semua tak menutup fakta kalau situasinya telah menjadi lebih merepotkan.


Memindahkan patung dan barang lainnya bukanlah masalah besar, tapi bagaimana dengan semua objek kecil yang bahkan tidak mereka sadari? Apa itu berpengaruh? Bagaimanapun, mereka bertiga akan mengetahui jawabannya ketika mereka sudah selesai memposisikan semua barang ini.


Sekitar setengah jam kemudian, mereka akhirnya selesai mengatur semua objek itu pada posisinya. Tapi, tak terjadi apa pun.


Noelle mendecakkan lidahnya dengan kesal saat ia berpikir kalau ia telah melewatkan sesuatu.


"Apa ada objek lain yang harus dipindahkan? Atau bahkan puzzle-nya tidak bekerja dengan cara ini? "


"Tidak, tunggu. Noelle, lihat itu! "


Norman berseru sambil menunjuk satu bagian dengan jarinya. Yang ia tunjuk di sana adalah sebuah cekungan kecil berbentuk lingkaran sempurna.


"Aku yakin kalau itu tidak ada di sana sebelumnya," jawab Cryll.


Cryll bisa dengan yakin mengatakannya karena dialah yang mengatur bagian itu. Saat ia memposisikan salah satu patung di sana, sama sekali tak ada cekungan di lantai. Yang artinya, cekungan itu baru saja muncul.


Noelle menghampiri cekungan itu dan menelusuri bentuknya dengan jarinya.


" … Kalian tunggu di sini sebentar."


Mengatakan itu, Noelle akhirnya bangkit dan berlari menuju tempat sebelumnya.


"Ada apa dengannya? "


" … Entahlah, tapi aku tidak yakin kalau dia melupakan sesuatu."


Baik Cryll maupun Norman hanya bisa mengangkat bahu mereka dengan bingung, sementara Noelle akhirnya kembali tepat setelah setengah menit kepergiannya.


"Bukankah kau terlalu cepat? " tanya Cryll dengan heran.


"Posisinya sangat jelas, aku bisa menemukannya dalam sekejap mata. Daripada itu, lihat ini."


Noelle menunjukkan sebuah kristal biru kecil dengan bentuk setengah lingkaran yang sempurna tanpa ada kecacatan.


"Bentuknya cocok, apa itu … "


"Nn, aku yakin fungsi kristal ini adalah untuk dipasangkan di sana."


Mereka bertiga akhirnya melirik pada cekungan itu.


Menang, bentuk dan ukurannya cocok. Jika Noelle memasangkan kristal itu di sana, maka celah itu akan langsung ditutup dengan sempurna tanpa ada celah sedikit pun.


"Kalau begitu, semuanya sudah jelas. Dari mana kau mendapatkannya? "


"Sebenarnya aku menemukannya karena tidak sengaja. Aku berniat kembali ke sana untuk memeriksa apakah ada yang terjadi atau tidak, dan ternyata … Benda ini muncul di tempat yang sama dengan cekungan ini berada."


"Begitu, ya … "


Setelah mengangguk sekali, mereka bertiga sepakat untuk mencobanya.


Noelle berjongkok dan memasangkan kristal itu pada cekungan. Hasilnya tepat seperti yang ia pikirkan. Celah itu sepenuhnya tertutup dengan kristal.


Sejenak, tak terjadi apa pun. Tapi, tak lama kemudian, sebuah pusaran awan biru mulai muncul di langit-langit, menyedot semua objek yang ada di sana.


Mereka bertiga juga tak terkecuali. Noelle merasakan sesuatu yang menariknya dengan sangat kuat menuju pusat dari pusaran itu, tapi entah bagaimana ia berhasil mempertahankan posisinya di lantai dengan menancapkan pedangnya di sana.


"Apa itu jalan keluarnya? Terlihat mencurigakan," gumam Norman.


Cryll di sampingnya seketika memasang senyum yang aneh. "Memang benar itu mencurigakan, tapi kurasa itu adalah satu-satunya jalan kita untuk sekarang. Aku akan pergi lebih dulu, selamat tinggal~"


Dia langsung melepaskan pedangnya dari lantai dan membiarkan dirinya sendiri tersedot ke dalam pusaran.


Noelle dan Norman hanya bisa memahami ekspresi tercengang atas tindakan Cryll barusan. Keduanya saling menatap sebelum akhirnya mengangguk secara bersamaan dengan ekspresi ragu.


"Kurasa bajingan itu benar."


"Kita tidak punya pilihan lain, ya … "


Norman hanya bisa menghela napas pasrah dan ikut melepaskan pegangannya sebelum akhirnya ia diserap menuju pusat dari pusaran itu.


"Kurasa sekarang giliranku."


Noelle menarik pedangnya dan melompat memasuki pusat pusaran itu.


Tanpa menyadari absurditas lain yang siap menyambutnya.


...****************...