![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Di tempat lain, Louen dan Rita masih tidak bergerak dari posisi mereka.
Berdiri dengan bersebrangan dari mereka, Browdy dan Heinz dapat dilihat sedang bersiap untuk menangani semua serangan yang akan muncul.
Meskipun begitu, tidak ada yang bergerak dari kedua kelompok.
Masing-masing dari mereka hanya terus diam sambil terus mengamati situasinya.
Browdy awalnya ingin langsung maju dan menyerang Louen atau Rita, namun Heinz menghentikannya.
Saling mengamati pergerakan satu sama lain, tanpa berinisiatif untuk melakukan apa pun. Setidaknya, itulah yang dipikirkan Browdy.
Namun, Heinz memiliki pikiran yang berbeda.
Dia sepenuhnya sadar akan sesuatu yang sedang dilakukan oleh Louen dan Rita.
(Mereka mulai menipiskan sihir yang sebelumnya menyelimuti tubuh mereka … Apa yang sedang mereka rencanakan?)
Heinz benar-benar tidak memahami apa yang sedang dilakukan oleh Louen dan Rita. Seharusnya, ini akan selesai jika dia mengganggu fokus mereka secara langsung, tapi Heinz memiliki firasat yang tidak mengenakkan.
Jika dia mengganggu sekarang, maka kemungkinan akan ada efek buruk yang diberikan padanya.
Heinz tidak tahu bagaimana intuisi itu bisa muncul, tapi dia lebih memilih untuk mematuhinya.
Namun, Browdy jelas bukanlah orang yang sabar.
Tanpa memberi tahu Heinz, Browdy langsung mengayunkan lengannya dan menciptakan satu bilah angin yang sangat tajam. Di saat yang sama, dia juga langsung melesat maju ke arah Rita sambil memegang erat pedang pendek di tangannya.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan! "
Heinz dengan panik mencoba menggunakan kemampuannya untuk menarik Browdy ke sisinya. Namun, sebelum dia dapat melakukan itu, tubuh Browdy telah terbelah menjadi beberapa bagian.
Setiap potongan tubuhnya terjatuh ke tanah, tapi dia masih belum mati. Semua potongan tubuhnya meleleh, lalu berkumpul menjadi gumpalan cairan aneh.
Dalam wujud itu, Browdy kembali ke sisi Heinz.
"Apa yang terjadi? "
Tubuhnya telah pulih, dan Heinz daat dengan jelas melihat ekspresi kebingungan Browdy.
Browdy sudah mati sekali, dan transformasi otomatis itu tidak akan bisa aktif lagi sampai kapan pun.
Itu artinya, jika Browdy mati di sini, dia benar-benar akan langsung mati, dan tidak mungkin bisa bangkit dengan kekuatannya.
Mereka yang bergabung dengan Swallow Life Order memiliki kesempatan untuk menikmati berkah dari yang mereka sebut sebagai 'Sang Pencipta'. Berkah itu memberi mereka kemampuan yang mirip dengan keabadian, namun hanya bisa digunakan sekali seumur hidup.
Jika pemilik kekuatan ini mati untuk pertama kalinya, maka dia masih bisa bangkit asalkan kematiannya tidak disebabkan oleh faktor usia ataupun penyakit.
Mereka menyebut ini sebagai sihir daging.
Selain dari keabadian itu, mereka juga mendapatkan kekuatan yang membuat mereka mampu mengubah wujud menjadi gumpalan cairan aneh.
Heinz mengerutkan keningnya saat dia memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Biar pun dia tidak terlalu dekat dengan Browdy, setidaknya Heinz tahu kalau Browdy adalah orang yang kuat. Ini benar-benar pertama kalinya Browdy mengalami kematian.
"Hei, sebenarnya apa yang terjadi? "
Browdy memang mengalaminya sendiri, tapi dia tidak memahami apa pun. Dia tidak mengerti bagaimana dia bisa mati secara instan setelah berniat menyerang Rita.
Dia bertanya pada Heinz dengan harapan Heinz dapat membantu menjelaskan setelah pengamatannya. Namun, hasilnya mengecewakan.
Heinz menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Dari pengelihatanku, kau tiba-tiba saja mati. Sulit untuk menjelaskan apa pun."
(Serangan yang membunuh Browdy itu … Terlalu cepat. Atau lebih tepatnya, apa mereka berdua sempat melancarkan serangan? Tidak, tunggu.)
Heinz mengerutkan keningnya sejenak, saat dia perlahan mulai menyadari masalahnya.
Baik itu Louen ataupun Rita, keduanya sama sekali tidak menyerang. Tapi itu bukan karena mereka tidak ingin, melainkan karena tidak bisa.
Alasan keduanya terus diam seolah mengamati pergerakan Heinz dan Browdy adalah karena mereka sedang mempersiapkan perangkap.
Aliran sihir yang mencurigakan sempat dirasakan oleh Heinz, jadi mungkin itu ada kaitannya.
"Hei, apa kalian sudah selesai berdiskusi? "
Di saat Heinz sedang berpikir, suara tanpa nada dari Rita seketika menyadarkannya. Dia segera melihat lurus ke depan, dan menemukan kalau kedua orang itu sedang menatapnya dan Browdy dengan pandangan yang sangat dingin.
Wajah mereka nyaris tidak berekspresi, namun entah bagaimana Heinz dapat merasakan intimidasi yang kuat dari itu.
Tubuhnya secara naluri bergerak untuk perlindungan. Dia tanpa sadar meraih sebuah belati di sabuknya, dan bersiap untuk semua serangan.
Namun, serangan yang dia nantikan itu tak kunjung datang.
Barulah Heinz menyadarinya. Louen dan Rita tidak dapat berinisiatif menyerang. Mereka harus menunggu sampai pihak lain menyerang mereka, lalu menggunakan semacam perangkap 'rebound' untuk memberikan serangan balasan pada si penyerang.
Hal itulah yang sebelumnya terjadi pada Browdy.
(Aku akan baik-baik saja selama tidak menyerang mereka, ya … Apa itu juga berlaku kalau aku menyerang mereka secara tiba-tiba dan hanya memberikan satu serangan yang bisa langsung membunuh mereka?)
Itu adalah rencana sederhana yang berhasil Heinz buat berdasarkan pengamatannya.
Tidak mungkin Louen dan Rita tidak memiliki batasan untuk serangan seperti apa yang mampu mereka tahan dan balikkan.
Tanpa sadar, Heinz tersenyum.
Dia sesekali memutar belatinya, lalu melirik pada Browdy.
(Si bodoh ini sudah tidak bisa bangkit lagi. Dia benar-benar menyia-nyiakan kehidupannya.)
Setelah menghela napas ringan, Heinz kemudian kembali tenang.
Dia berdiri dengan santai, lalu mengangkat bahunya.
"Kenapa kami yang harus maju? Kalian seharusnya datang sendiri pada kami."
Browdy di sampingnya masih tidak mengerti dengan rencana Heinz, tapi dia hanya akan mengikuti alurnya.
Louen dan Rita masih diam di tempat. Mereka benar-benar tidak bergerak.
Ini membuat Heinz menjadi semakin yakin.
Dia tersenyum dan mengangkat satu tangannya, seketika menciptakan gelombang angin yang berhembus dengan kencang di sekitar.
Ini bukanlah sihir ofensif yang digunakan untuk menyerang, jadi Heinz tidak akan menerima efek rebound.
Angin yang cukup kuat berhembus, samar-samar menghasilkan suara siulan yang menyejukkan.
Heinz memberikan kode pada Browdy, dan Browdy langsung memahaminya.
Mereka berdua berencana langsung menghabisi Louen dan Rita dengan satu serangan. Dengan begitu, efek rebound tidak akan diberikan pada mereka.
Setelah persiapan selesai, Heinz dan Browdy langsung melancarkan serangan mereka. Namun, itu adalah sebuah kesalahan.
Sebelum serangan benar-benar mendarat di target, mereka melihat Louen dan Rita tersenyum secara bersamaan.
Hal ini membuat Heinz secara refleks melompat mundur. Sayangnya, Browdy tidak sempat mengikuti Heinz.
Dari kejauhan, Heinz dapat melihat tubuh Browdy yang terpotong menjadi beberapa bagian.
Itu terjadi begitu cepat. Heinz tidak dapat memproses apa yang terjadi.
Dari yang ia lihat, Louen dan Rita hanya tersenyum, lalu Browdy tiba-tiba tewas. Karena dia sudah mati sekali sebelumnya, dia sudah tidak dapat bangkit lagi. Yang artinya, Browdy benar-benar sudah mati sekarang.
Heinz yang menyadari fakta ini langsung mengubah wujudnya menjadi gumpalan cairan aneh, lalu melarikan diri dari Louen dan Rita.
Namun, usahanya gagal.
Dia ditahan oleh kekuatan yang tidak ia kenal. Tubuhnya secara alami kembali ke wujud manusia, dan dia sama sekali tidak bisa bergerak.
(Apa-apaan ini?! Apa yang mereka lakukan? Siapa mereka sebenarnya?! )
Banyak pertanyaan terlintas di kepalanya, tapi Heinz sama sekali tidak bisa menebak jawabannya. Dengan keadaan tubuh yang tidak bisa bergerak sama sekali, Heinz hanya bisa mendengarkan suara langkah kaki yang berasal dari Louen dan Rita.
Akhirnya, keduanya sampai di samping Heinz.
Louen mengambil kursi dari gudang spasial miliknya sendiri, lalu duduk di atasnya. Dia menatap Heinz dengan tatapan dingin, sementara Rita yang berdiri di sisi berlawanan hanya tersenyum dingin.
Setelah memandangi Heinz untuk beberapa waktu, Louen akhirnya berbicara.
"Dua belas tahun yang lalu, ada sebuah insiden. Insiden yang terjadi di pinggiran kota Locus Republik Waldenholt."
"Insiden itu mengakibatkan sebuah desa hancur, rata dengan tanah, dan menewaskan semua penduduknya."
"Berita mengatakan kalau insiden itu adalah sebuah kecelakaan yang diakibatkan kesalahan teknis dari pabrik senjata terdekat, yang menciptakan ledakan dan kebakaran yang besar."
"Tapi, kenyataannya, insiden itu terjadi karena ulah suatu organisasi. Swallow Life Order. Organisasi itulah yang menjadi penyebabnya."
"Mereka sedang dikejar oleh organisasi gereja, yang menyebabkan mereka harus mencari tempat untuk bersembunyi sementara. Itu adalah situasi paling kritis yang pernah dialami Swallow Life Order sepanjang sejarah."
Heinz pernah mendengar tentang ini. Biarpun Swallow Life Order cenderung ahli dalam melarikan diri, mereka juga memiliki sejarah 'nyaris tertangkap' sebelumnya.
"Dalam proses pelarian, mereka menanamkan banyak bahan peledak di bawah tanah di sebuah desa, lalu meledakkannya saat para pengejar itu muncul. Tentu saja, tidak semua anggota Swallow Life Order selamat. Mereka juga memiliki beberapa korban yang tewas karena ledakan mereka sendiri. Tapi, apa itu masalah bagi mereka? Tentu saja tidak."
Apa yang Louen katakan itu benar. Heinz tidak dapat menyangkalnya.
Swallow Life Order bukanlah organisasi yang begitu mempedulikan anggotanya. Asalkan tujuan mereka tercapai, mereka tidak peduli berapa banyak korban yang berjatuhan.
Ini adalah satu-satunya hal yang disesali oleh Heinz. Tapi, tetap saja—
(Apa yang ingin dia katakan? )
—Heinz benar-benar tidak memahami apa maksud semua itu.
Seolah menyadari kebingungan nya, Louen langsung melanjutkan ceritanya.
"Dari semua yang hancur, ada sebuah gereja kecil yang ikut menjadi korban. Semua orang di gereja itu tewas seketika, kecuali sepasang anak laki-laki dan perempuan, yang kebetulan sedang berada di gudang."
Gudang yang dimaksud itu berada di tempat yang cukup jauh dari area ledakan. Itu juga terlindung oleh tebalnya dinding gereja.
"Sampai sekarang, dua anak itu masih berkeliaran mencari pelaku di balik insiden itu. Dan akhirnya … Kami sampai di sini."
Louen berdiri dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Heinz.
Mereka berdua saling menatap dari dekat, tapi emosi yang terpancarkan jelas sangat berbeda.
Seringai keji terbentuk di wajah Louen, sementara Rita yang juga di sana hanya menyentuh punggung Heinz dengan jarinya.
Detik kemudian, sebuah lubang besar muncul di dada Heinz, seketika mengeluarkan semua darah dan organ-organ yang sudah tidak jelas lagi bentuknya.
Heinz tewas, tapi kemudian wujudnya kembali seperti semula. Keabadiannya telah aktif, dan memberinya satu kesempatan lagi untuk tetap 'hidup'.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Heinz bisa bergerak.
Dia seketika menjatuhkan tubuhnya ke tanah, dan memuntahkan semua oksigen dan air liur dari mulutnya.
Apa yang baru saja terjadi itu membuatnya terkejut.
Sejak awal, Heinz bukanlah tipe petarung yang begitu handal. Dia jarang merasakan sakit. Karena itulah, merasakan tubuhnya berlubang seperti itu menjadi pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya.
Belum sempat dia menenangkan diri, sensasi dari hantaman keras di bagian perutnya kembali membuatnya tidak dapat berpikir dengan jernih.
Berulang kali. Semua rasa sakit itu ia rasakan berulang kali, sampai akhirnya dia sadar sebuah bilah pedang yang tajam telah melewati pengkal lengannya.
Heinz nyaris tidak dapat merespon. Dia secara refleks mundur dan memegangi lengan kirinya sendiri, namun itu terlambat.
Lengan kirinya terpotong dengan rapih, hanya menyisakan bekas tebasan yang rata di pangkal lengannya.
Darah segar juga keluar dengan sangat deras, membuat Heinz berteriak kesakitan.
Rasa sakit yang terus dia terima, luka yang membuatnya kehilangan darah, dan perasaan takutnya membuat wajah Heinz terlihat semakin pucat. Ini seolah darah sudah menghilang dari kepalanya.
Dia sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Hanya bisa terus mencengkram bekas tebasan di pangkal lengannya, sambil berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa itu.
"Hei, kami belum selesai."
Di saat dia sudah mulai putus asa, Rita berjalan mendekat dengan sebuah tongkat besi di tangannya.
Heinz yang sudah tidak dapat berpikir itu pun secara naluri merangkak mundur, hingga akhirnya dihentikan oleh Louen yang menahan punggung Heinz dengan kakinya sendiri.
"Meskipun kau bukan pelaku di balik insiden itu, kau tetaplah bagian dari mereka. Selama kau masih menjadi bagian dari mereka, maka kau akan tetap kami incar."
Louen mengatakannya sambil tersenyum dingin.
Baginya, ini adalah sebuah pembalasan. Meski dia menyesal karena tidak bisa melakukannya langsung pada pelaku yang sesungguhnya, dia sudah merasa cukup puas karena bisa menghabisi salah satu anggota dari organisasi yang menghancurkan tempat tinggal, beserta keluarganya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Rita. Sambil menyeret batang besi dengan ujung yang tajam, dia akhirnya sampai tepat di hadapan Heinz.
Banyaknya genangan darah di tanah sudah terlihat tidak normal. Itu sangat banyak, dan membanjiri tempat mereka berpijak. Meskipun begitu, Rita dan Louen tidak berhenti.
Menginjak darah dan daging target pembalasan mereka adalah hak yang sangat menyegarkan bagi mereka.
"Kalian benar-benar tidak pernah berpikir."
Rita mematahkan ujung tongkat besi itu, sehingga terciptalah gerigi yang lebih tajam dari bentuk asli tongkat itu.
"Ada banyak keluarga yang menjalani kehidupannya dengan tenang di desa itu. Tapi … Kalian menghancurkan seluruh desa hanya karena ingin melarikan diri? "
Senyum jijik terbentuk di wajahnya, dan dia mulai menusukkan ujung tongkatnya yang tajam ke perut Heinz.
"Jangan bercanda denganku, brengsek! Keluargaku! Semua orang yang kusayangi! Mereka semua tewas karena ulah para bajingan seperti kalian! "
Satu per satu tusukan mendarat di tubuh Heinz, tapi dia masih belum mati.
Itu karena, Louen telah memasangkan suatu sihir padanya.
Sihir ini disebut dengan sihir eksekusi, suatu sihir yang Louen dapatkan setelah dia membuat kontrak dengan 'Dia yang Menuntut Penebusan', atau yang lebih dikenal sebagai 'Dewa Penebusan'.
Heinz telah ditanamkan dengan sihir ini, dan dia tidak dapat mati dengan mudah berkat itu. Hasilnya, Rita dapat secara leluasa melakukan apa yang ia inginkan, asal itu tidak mengganggu sihir yang ditanamkan oleh Louen.
Jika sihirnya terlepas, maka Louen tidak akan bisa memasangkannya lagi, mengingat ini adalah sihir yang hanya bisa ditanamkan sekali untuk setiap orang.
Tentu saja, tidak sembarang orang bisa ditanamkan oleh sihirnya. Hanya mereka yang berkaitan dengan 'dendam', atau 'hutang' pada penggunalah yang dapat menerima dampak sihir ini.
Heinz sudah kehilangan akal sehatnya. Sekarang dia bahkan sudah tidak bisa mengatakan apa pun. Hanya ada air liur dan darah yang mengalir di sekitar wajahnya.
'Hukuman' itu menjadi akhir hidup untuk Heinz.
...****************...
Setelah memastikan Heinz benar-benar tewas, Louen langsung membereskan lokasi kejadian.
Darah yang sebelumnya menggenang telah ia bersihkan dengan air, tapi baunya mungkin masih ada.
Sekarang, Rita sedang berjongkok sambil bersandar pada dinding, tampak sedang bingung memikirkan sesuatu.
"Bagaimana rasanya? "
Louen selesai membereskan mayat Heinz dan Browdy, lalu menghampiri Rita. Dia berdiri dan bersandar di dinding tepat di sebelah Rita sendiri.
" … Entahlah … Semua terasa hampa. Aku tidak merasakan apa pun bahkan setelah membunuhnya dengan tanganku sendiri … "
Di eksekusi sebelumnya, Rita adalah orang yang paling banyak bergerak. Jika Louen adalah orang yang menahan Heinz, maka Rita adalah orang yang membunuhnya.
Louen yang mendengar jawaban itu pun hanya bisa tersenyum masam sambil menatap langit malam.
"Sangat disayangkan yang satunya mati lebih dulu."
Awalnya, Louen ingin Browdy mengalami hal yang sama dengan Heinz. Namun, pergerakan Browdy yang tiba-tiba membuat sistem pertahanan dari sihir eksekusinya aktif dengan sendirinya.
Jika ada target yang berusaha memberontak, maka sihir eksekusi akan membunuhnya secara instan. Louen tidak bisa mengendalikan efek ini.
Rita tidak menjawab. Dia masih memiliki ekspresi kebingungan, tapi kemudian dia mengangkat kepalanya, menatap langit yang sama dengan yang dilihat Louen.
"Hei … Menurutmu … Apa yang kita kejar selama ini adalah hal yang salah? "
" … Entahlah."
Itu adalah pertanyaan yang Louen tidak tahu jawabannya. Jika dia ditanya apakah balas dendam adalah hal yang salah atau tidak, maka dia akan menjawab 'Ya'. Karena pada dasarnya, penebusan suatu dendam hanya akan menciptakan dendam lainnya. Ini adalah lingkaran setan yang mustahil untuk diakhiri setelah terlibat begitu dalam.
Namun, jika dia ditanya apakah hidup untuk melakukan pembalasan adalah hal yang salah atau tidak, maka dia akan menjawab 'Tidak tahu'.
Louen tidak bisa menyangkal tujuan yang dimiliki seseorang dalam hidupnya.
Seburuk apa pun tujuan seseorang, selama tujuan itu membuat seseorang tetap hidup sepenuh hati, maka Louen tidak dapat membantah keinginan dan tujuan orang itu.
Karena itulah, dia sendiri tidak tahu apakah pembalasan yang dia dan Rita kejar selama ini adalah hal yang benar, atau tidak.
Keinginan untuk membalas itulah yang membuat dia dan Rita hidup sampai selama ini. Jika dia melepaskan tujuan itu, maka dia tidak akan hidup sekarang.
Setidaknya, begitulah anggapan Louen.
" … Begitu, ya … "
Rita tertawa kecil, lalu berdiri dari tempatnya.
"Ayo kita pergi menyusul yang lain. Aku sedikit khawatir dengan Felis," ujarnya sambil melakukan sedikit peregangan.
Louen mengangguk dan tersenyum padanya. "Kau benar."
...****************...