[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 293: Eksperimen Petaka



...****************...


(Ahh, mimpi ini lagi …. Sekarang aku ingat ….)


Noelle perlahan membuka kelopak matanya yang amat berat, dan menemukan pemandangan yang asing, namun terasa akrab.


Putih murni. Hanya itu cara untuk menjabarkannya. Tidak ada apa pun, sampai saat kumpulan kelopak bunga berwarna merah cerah muncul dari udara kosong, dan menambahkan warna pada dunia.


Kini yang ada di sekitarnya bukanlah kekosongan. Noelle yakin kalau dia berpijak pada taman bunga putih murni yang indah, suci dan jauh dari noda.


Langit telah berubah merah seolah menjadi kanvas bagi para kelopak merah untuk melukis, dan Noelle yang melihat pemandangan dengan warna kontras itu pun mau tak mau menyipitkan matanya.


Ini benar-benar aneh.


Dia memiliki sensasi fisik, tapi dia tidak bisa menemukan anggota tubuhnya di mana pun. Ada perasaan seperti dia telah mengangkat tangan, tapi dia sama sekali tidak bisa melihat tangan itu.


Setelah seluruh dunia dipisahkan oleh dua warna, kelopak merah bercampur dengan merah muda kemudian muncul, membentuk pusaran tak jauh dari posisi Noelle saat ini.


Saat itulah, gumpalan asap hitam muncul, dan menenggelamkan pusaran kelopak bunga yang indah.


Sosok gadis muda berambut putih muncul dari pusaran, tapi kemudian ditimpa oleh sesuatu yang tampaknya merupakan 'selimut' asap hitam.


Gadis itu mencoba memberontak, mengendalikan semua kelopak bunga di sekitarnya untuk menghalau asap hitam. Namun, dia tidak bisa melakukan apa pun. Asap hitam itu perlahan mulai menenggelamkan dirinya.


Darah ilusi mulai mengalir dari kelopak bunga yang menyusun tubuhnya, menetes ke kelopak putih murni yang menjadi daratan di dunia ini. Hal itu pula menyebabkan kelopak putih berubah menjadi merah darah, seolah telah ternoda oleh darah gadis itu.


Dalam upaya yang penuh keputusasaan, gadis itu mengangkat tangannya, berusaha berlari seolah ingin meraih Noelle.


Tapi Noelle bahkan tidak bisa melakukan apa pun. Dia tidak bisa bergerak. Mendadak, dia tidak bisa merasakan kaki ilusinya.


Kumpulan kelopak merah dan putih di sekeliling Noelle mulai bergerak, dan mengelilinginya layaknya sebuah kubah. Tapi kemudian asap hitam muncul dan membubarkan kubah kelopak bunga itu.


Noelle pun perlahan diselimuti oleh asap hitam yang sama.


Dalam situasi di mana inderanya mulai memudar, sebuah jeritan datang dari arah gadis itu, seketika membuyarkan kesadaran imajinatif Noelle.


"—Iza! "


...****************...


Terbangun karena hentakan pada kepala, Noelle melihat sekeliling dengan bingung.


Dia masih di kamar penginapan, dan langit masih agak gelap di luar.


Rasa sakit yang membuat frustasi menjalari kepalanya, membuat Noelle hanya bisa menggertakkan giginya sambil menekan pelipis untuk menahan rasa sakit itu.


Tidak diragukan lagi. Dia pasti baru saja bermimpi. Sayangnya, dia tidak ingat dengan apa yang terjadi di dalam mimpi itu.


"Hei … apa yang sebenarnya kau lakukan? "


Meski tidak ingat, Noelle samar-samar dapat melihat kumpulan asap hitam di dasar kesadarannya sebelum dia terbangun. Hanya satu hal yang bisa Noelle pikirkan ketika dia mengingat asap hitam itu.


『Keh—Hehe …. Tidak banyak. Aku hanya mencegah kutu kasur masuk ke telingamu.』


—Itu sama sekali bukan alasan. Noelle ingin mengatakan itu, tapi dia sadar kalau itu sia-sia. Tidak peduli bagaimana Noelle bertanya, Noir tidak akan menjawab dua kali.


Sekarang setelah Noelle memikirkannya, dia sadar kalau dirinya mulai jarang bermimpi aneh semenjak membuat kontrak dengan Noir.


Atau, dia sering bermimpi, namun tidak pernah mengingatnya? Apa pun yang terjadi, itu tidak begitu mempengaruhi Noelle sekarang. Dia hanya penasaran dengan situasinya.


...****************...


Di meja ruang makan penginapan, Noelle dalam diam membalik halaman novel, tanpa mempedulikan tatapan yang mengarah padanya.


Tindakannya ini mungkin tidak sesuai dengan penampilannya sebagai Grei Noctis, karena itu banyak yang heran. Tapi, Noelle mengabaikan semua erhatian mereka sambil menunggu kedatangan tamu yang sudah ia tunggu.


Buku yang sedang dia baca saat ini adalah novel yang ditulis oleh Fuu Kafhka, berjudul 'Shepherd and the Skinwalker'. Noelle yang telah membaca separuh buku itu kini merasa terkesan pada usaha yang Kafhka kerahkan pada satu buku ini.


Di sebelahnya, ada buku catatan kecil yang telah Noelle tuangkan beberapa kritik dan saran untuk kemudian diserahkan pada Kafhka.


Kemudian, dari tempatnya duduk, Noelle dapat melihat sosok gadis tinggi berambut hitam—Tania, yang dengan santai berjalan ke arahnya.


Perhatian Noelle lepas dari novel, dan mengarah padanya.


Tania membawa dia kantung kertas besar yang penuh akan roti hangat, dan Noelle memperhatikan itu.


"Apa kau menunggu lama? "


Menarik kursi di hadapan Noelle, Tania akhirnya duduk.


"Tidak juga," balas Noelle.


Sekarang keduanya sudah bertemu. Untuk saat ini, Noelle hendak membicarakan mengenai rencananya. Namun, Tania terlihat sibuk dengan semua roti itu.


Menyadari tatapan Noelle pada rotinya, Tania segera bergerak untuk menjauhkan roti itu dari Noelle. Dia terlihat waspada.


"Tenanglah, aku tidak akan memakannya. Yahh, aku tidak terlalu tertarik." Noelle mengangkat bahu ringan sambil memasukkan buku novel dan catatannya ke gudang spasial, lalu mengeluarkan peta yang mencakup keseluruhan Republik.


Tania memperhatikannya, tapi fokusnya justru dialihkan pada kata-kata yang Noelle ucapkan.


"Tidak tertarik? Bagaimana bisa ada yang tidak tertarik pada roti hangat yang enak ini? "


『Itu karena dia tidak perlu makan, Tania. Lidahnya juga terlalu sensitif untuk menikmati apa yang kau makan itu.』


Suara Navi bergema di kepalanya, tapi Tania masih tidak mengerti; bukan pada masalah mengapa Noelle tidak tertarik pada makanan, tapi pada 'bagaimana Navi bisa mengetahui hal itu'.


『Kau bisa mengetahuinya jika kau sedikit lebih peka. Tapi sepertinya sia-sia mengharapkan hal itu darimu.』


Entah bagaimana Navi sepertinya sedang menghela napas di sana, meski sebenarnya Navi sama sekali tidak memiliki wujud fisik.


Selagi perhatian Tania dialihkan oleh Navi, Noelle telah memberikan tanda pada rute yang akan dia tempuh untuk menuju Hutan Dingin, suatu tempat di utara yang menjadi sarang Spirit Hunter.


"Aku ingin segera menjelaskannya, tapi … untuk sekarang, aku akan bertanya. Apa kau sibuk atau sedang terburu-buru? "


Lamunan Tania seketika bubar setelah mendapatkan pertanyaan dari Noelle. Dia pun menatap Noelle dengan linglung sejenak, sebelum akhirnya menggelengkan kepala.


"Itu bagus, karena kemungkinan ini akan memakan waktu kurang lebih satu minggu."


Noelle mendorong peta yang telah ditandainya, dan Tania melihat itu dengan tatapan tanpa perasaan.


"Ini adalah rute tercepat yang bisa kupikirkan. Kita akan melewati kota Brunsil untuk mencapai Hutan Dingin yang ada di area kota Lurkuv."


Konon, rute tercepat untuk sampai ke tujuan adalah dengan garis lurus. Dan sebenarnya, memang itulah yang Noelle rencanakan pada awalnya. Namun, dia tidak bisa melakukan itu karena mempertimbangkan waktu istirahat yang akan diambil.


Noelle sama sekali tidak berniat mampir ke kota, dan karena itulah dia tidak menggunakan rute garis lurus seperti yang ia rencanakan. Tapi sebagai gantinya, Noelle dengan hati-hati memilih rute berdasarkan kondisi geografis Republik yang cukup tertata.


Dari sekian banyak perbandingan, rute yang dia pilih sekarang adalah yang tercepat.


(Belajar membaca peta bukanlah hal yang sia-sia, huh ….)


Meski awalnya kesulitan karena peta ini sama sekali tidak memiliki skala perbandingan, Noelle masih bisa mengatur rute yang tepat untuk perjalanannya.


Tania kini fokus pada peta dan rute yang Noelle tandai. Pikirannya kemudian beralih pada pertanyaan mengenai metode transportasi yang akan digunakan.


Sama sekali tidak ada jalur kereta di rute itu, dan beberapa daerah jelas merupakan dataran tinggi yang penuh dengan tebing curam dan jurang yang dalam.


"Metode … transportasi? " Tania bertnya sambil memiringkan kepala.


Mendapat pertanyaan itu, Noelle tersenyum tipis.


"Kita akan langsung terbang."


Mata Tania menyipit. "Aku … tidak bisa terbang? "


Entah mengapa Tania mengatakannya seolah dia sedang bertanya, dan mendengar itu membuat Noelle terkekeh sedikit.


"Jangan khawatir tentang itu. Aku jamin kau tidak perlu melakukan apa pun sepanjang perjalanan, karena aku yang akan mengurus semuanya. Kau cukup menjadi pemandu saja."


Meskipun merasa tidak enak, Tania tetap mengangguk.


"Kalau begitu, semua sudah jelas. Kita akan pergi selama empat jam, dan kemudian istirahat selama satu jam sebelum lanjut dengan putaran–"


Noelle langsung tahu maksud Tania. Biarpun perjalanan hanya akan berlangsung selama empat jam dan diselingi dengan istirahat, satu jam mungkin sedikit terlalu cepat. Meski sebenarnya itu cukup normal.


"Baiklah, kita akan beristirahat selama dua jam sebelum melanjutkan perjalanan selama empat jam. Bagaimana dengan itu? "


Kali ini Tania mengangguk, dan akhirnya berdiri dari kursinya sambil membawa kantung roti yang mulai mendingin.


"Ayo masukkan itu ke gudang spasialku. Setidaknya biarkan itu tetap hangat."


...****************...


Setelah keluar dari kota dan berhenti di tempat yang agak tersembunyi, Noelle segera membentangkan karpet empuk yang pernah ia beli sebagai produk lokal di Suiren.


"Lepaskan sepatumu dan duduklah di sana," ucapnya pada Tania sambil menunjuk pada karpet.


Tania tidak banyak bertanya, dan melepaskan sepatunya seperti yang Noelle katakan. Dia kemudian naik ke karpet, dan duduk setelah merasakan kelembutan yang nyaman di telapak kakinya yang hanya beralaskan kaus kaki hitam tipis.


Noelle ikut duduk di karpet, dan seketika, karpet mulai melayang.


Untuk sejenak, Tania terkejut, tapi dia kembali tenang setelah memperhatikan adanya aksesoris seperti pedang perak yang dirantai pada pergelangan tangan Noelle.


Dia tahu kalau ini dilakukan oleh Noelle dengan memanfaatkan kekuatan senjatanya. Dan meski Tania sendiri tidak tahu banyak tentang kekuatan senjata Noelle, dia setidaknya memiliki sedikit keyakinan kalau pedang Noelle juga spesial seperti sabitnya.


Pada kenyataannya, Tania bahkan belum mengetahui apa pun tentang sabit Zephiroth. Dia tidak tahu mengapa sabit itu bisa ada di dunia bawah, dan dia juga tidak tahu mengapa sabit itu memiliki kekuatan yang amat besar, yang anehnya hanya dia yang bisa menggunakannya.


Tak lama setelah keluar dari dunia bawah, Tania pernah berkesperimen untuk meminjamkan sabitnya pada orang lain. Tapi, di tangan mereka, itu tidak lebih dari sabit raksasa yang tajam dan berat, sama sekali tidak berguna dalam pertarungan.


Komentar mereka sangat berbeda dari fakta yang Tania ketahui.


Sabit Zephiroth memang cukup berat, tapi beratnya itu sangat cocok dengan kebutuhan Tania. Karena beratnyalah Tania dapat melakukan berbagai gerakan dan manuver yang biasanya tidak mungkin dilakukan oleh manusia normal.


Selain itu, Zephiroth memiliki kekuatan untuk menyerap kekuatan sihir yang menyentuh bilah atau gagangnya, tapi kekuatan itu tampaknya tidak berfungsi ketika orang lain memegangnya. Justru, sepertinya kekuatan sihir merekalah yang perlahan terhisap oleh sabit Zephiroth.


Dari semua percobaan itu, Tania dapat menyimpulkan beberapa hal.


Pertama, sabit Zephiroth tidak bisa digunakan sembarang orang. Hanya orang dengan kualifikasi tertentu, atau mereka yang dipilih saja yang dapat menggunakannya.


Kedua, kekuatan spesial sabit Zephiroth sebagai pemakan sihir tidak akan berguna ketika orang lain menyentuhnya. Justru itu membuat kekuatan sihir mereka terhisap.


Namun, kesimpulan kedua itu membawa Tania ke pemikiran lain; bagaimana jika, sabit Zephiroth sebenarnya menghisap semua sihir yang menyentuhnya? Bahkan meski itu dari pemegangnya sendiri. Tania memikirkan ini karena dia sadar kalau dirinya berbeda dari orang lain.


Dia dulu memiliki mana yang mengalir di sirkuit sihirnya, tapi kemudian itu lenyap setelah dia memasuki dunia bawah.


Ini tidak seperti sirkuit sihirnya menghilang. Itu masih ada, hanya saja tidak ada mana yang mengalir.


Mungkin hal itulah yang menyebabkan Tania dapat menggunakan Zephiroth secara bebas, meski Zephiroth memiliki kecenderungan untuk memakan semua sihir yang menyentuhnya. Itu karena Tania sama sekali tidak memiliki energi sihir yang bisa dimakan, sehingga kekuatan Zephiroth tidak berpengaruh padanya.


Tania melihat pada aksesoris berbentuk sabit di tangannya. Dia kemudian menatap bergantian antara Noelle dengan sabit itu.


Detik kemudian, sebuah ide terbesit di benaknya.


"Noah."


Noelle menoleh ke belakang, dan menemukan Tania yang sedang menatapnya tanpa ekspresi, seperti biasa.


"Dengan wujud ini, tolong panggil aku Grei."


Noelle benar-benar merasa was-was karena Tania bisa saja salah memanggil namanya di saat yang penting. Biarpun begitu—


"Noah."


"Grei."


"Noah."


" ………."


Sambil terus mengendalikan karpet agar tetap terbang pada jalurnya, Noelle bertatap mata dengan Tania.


Keduanya sama sekali tidak memiliki ekspresi khusus di wajah mereka, hanya raut bosan yang memang selalu terpajang di wajah mereka setiap saat. Bahkan, meski di tengah derasnya angin, keduanya sama sekali tidak berkedip.


Noelle akhirnya mengalah, dan menghela napas.


"Baiklah, panggil aku sesukamu. Tapi, ingatlah untuk memanggiku Grei ketika ada orang lain selain kita berdua."


"Grei … di wujud ini? "


Noelle mengangguk. "Ya. Wujud ini memiliki identitasnya sendiri, Grei Noctis. Jangan sampai kau memanggilku Noah di hadapan orang lain saat aku memakai wujud ini."


—Karena bagaimanapun, sosok Noah Ashrain sudah mati. Akan berbahaya jika ada orang yang mengenal Noah tiba-tiba mendengar nama itu keluar dari Tania.


Meski begitu, seharusnya tidak akan ada banyak masalah yang tercipta. Sejak awal, nama Noah memanglah nama yang langka, tapi bukan berarti tidak ada orang lain yang memilikinya. Noelle hanya ingin mengurangi perhatian berlebih yang akan ia dapatkan jika seseorang mendengar Tania memanggilnya Noah.


"Aku mengerti." Tania mengangguk penuh perhatian. Dia berusaha mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak memanggilnya Noah saat di hadapan orang lain.


(Memiliki lebih dari satu nama pasti merepotkan.)


『Jelas.』


Tania dan Navi diam-diam sepakat pada pemikiran mereka sendiri.


"Baiklah. Jadi, apa yang kau inginkan? "


Tania akhirnya ingat kalau dia sebelumnya memanggil Noelle untuk melakukan suatu uji coba.


"Ini. Apa kau bisa memegangnya? "


Mengulurkan tangannya pada Noelle, Tania menyerahkan sebuah aksesoris—sabit Zephiroth yang diubah wujudnya—pada Noelle.


(Bukankah ini ….)


Noelle tentu saja mengetahui apa itu. Justru, Noelle memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang Zephiroth daripada Tania yang merupakan pemiliknya.


"Tentu," ucap Noelle saat mendekatkan jarinya dengan sabit Zephiroth yang telah diubah ukurannya itu.


Karena di tahu Zephiroth tidak memiliki fungsi jebakan, Noelle berani menyentuhnya. Tapi, sebenarnya itu adalah kesalahan.


Sesaat setelah jarinya bersentuhan dengan Zephiroth, Noelle merasakan konsentrasinya pecah seiring dengan derasnya energi sihir yang dipaksa keluar. Semua energi sihir itu mengalir dari seluruh tubuhnya, menuju ujung jari yang bersentuhan dengan Zephiroth, kemudian ditransfer ke Zephiroth itu sendiri.


Efek dari pecahnya konsentrasi itu, adalah—


"Uwaa–?! "


Tania tanpa sengaja menjerit kecil saat tarikan gravitasi yang kuat tiba-tiba menjatuhkan seluruh tubuhnya, bersama dengan Noelle, karpet, dan semua barang yang ada di atasnya.


Karena pecahnya konsentrasi Noelle, karpet terbang yang sebenarnya dikendalikan dengan kekuatan telekinesis Verstand itu mau tak mau ikut lepas kendali, membuat karpet yang semula ia kontrol menjadi jatuh bebas.


Karena kejutan itu pula Tania tidak sengaja melepaskan pegangannya terhadap Zephiroth, yang membuat sabit itu jatuh tanpa saya di udara, agak jauh dari posisinya berada.


Noelle yang telah sadar langsung memahami situasinya.


Melebarkan kedua tangannya, Noelle mengerahkan sulur darah yang masing-masing menangkap Zephiroth, Tania, merekatkan tubuhnya dengan karpet, dan menangkap beberapa benda lain yang sebelumnya ikut dibawa karpet.


Dia kemudian mengerahkan fokusnya untuk mengendalikan karpet menggunakan kekuatan Verstand, dan mengembalikan situasi seperti semula.


"Maaf, fokusku hilang sejenak." Noelle menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan perasaan pusing yang didapat setelah mana terkuras dari tubuhnya.


Tak butuh waktu lama sampai jumlah mana yang hilang itu digantikan dengan yang baru, tapi tetap saja sakit kepala yang dihasilkan itu membuatnya kesulitan fokus.


Noelle berusaha menstabilkan posisi karpet, namun kemudian dia sadar dengan apa yang baru saja terjadi.


Zephiroth menyerap semua sihir yang menyentuhnya. Tapi, kenapa Zephiroth tidak menyerap energi sihir yang terkandung dalam darah Noelle ketika Noelle mengendalikannya untuk menangkap Zephiroth?


"Maaf … aku tidak akan mengganggu lagi."


Pada saat itu, Tania berjanji; bahwa dia tidak akan pernah mengganggu Noelle dengan eksperimennya saat Noelle sedang berkonsentrasi.


...****************...