[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 306: Panggilan Mendadak (1)



...****************...


Egoist dan Intaurus.


Apa arti dari dua nama itu? Noelle dan Tania tiba-tiba dihadapkan pada pertanyaan yang sama.


Mereka memang mendapatkan ingatan tentang itu, tapi sama sekali tidak memahami makna yang terkandung dalamnya.


Sekarang keduanya secara alami paham, bahwa mereka memiliki ikatan tertentu di garis waktu sebelumnya. Petunjuk terkuatnya untuk saat ini adalah dua nama yang baru saja muncul, yaitu Egoist dan Intaurus.


Jika diselidiki lebih dalam, Noelle merasa tidak asing dengan kedua nama itu. Karena bagaimanapun juga, penulisan dan cara penyebutannya mirip dengan sebuah kata di bumi.


Egoist dalam bahasa Rumania berarti 'egois', sedangkan Intaurus mungkin gabungan antara dua kata, yaitu 'In' dan 'Taurus'.


Noelle tidak memiliki petunjuk tentang arti kata 'In' pada Intaurus, tapi dia memiliki permasalahan lain.


Kedua nama itu memiliki kaitan yang jelas dengan bumi. Yang pertama berasal dari salah satu bahasa di bumi, sedangkan yang satunya adalah nama rasi bintang sekaligus zodiak di bumi.


Meskipun pemikiran itu terasa benar, tetap saja semuanya barulah teori belaka. Noelle tidak dapat memastikannya karena bagaimanapun juga, Tania mendapatkan ingatan yang sama tentang dua nama itu, yang membuat Noelle yakin bahwa Tania memiliki kaitan tertentu dengan bumi.


Namun, keyakinan itu datang bersama dengan keraguan yang kuat. Noelle tidak bisa tidak bertanya langsung padanya.


"Tania, apa kau tahu sesuatu tentang bumi? "


"Bu … mi? "


Tania memiringkan kepalanya, berusaha memahami kata baru yang Noelle berikan. Tapi tetap saja, kosakata itu terasa begitu asing baik di telinga, ingatan, dan lidahnya.


Itu artinya tidak.


Kemungkinan bahwa Tania memiliki kaitan dengan bumi semakin kecil. Namun, itu tak menutup kemungkinan, karena ingatannya masih belum bangkit sepenuhnya. Bisa jadi ada informasi penting yang belum bangkit di ingatan Tania.


Selain itu, sebenarnya Noelle tidak akan terlalu terkejut jika Tania mengetahui satu atau dua hal tentang bumi. Itu tidak aneh, mengingat Tania memiliki hubungan dengannya di garis waktu sebelumnya. Mungkin Noelle sendirilah yang memberitahunya tentang hal itu.


Noelle dalam diam memperhatikan dua nama yang tertulis di atas kertas, dan dia pun tersenyum tipis.


(Aku mungkin semakin dekat.)


Sekarang semua mungkin akan jadi lebih mudah. Jika Tania benar-benar memiliki hubungan dengannya, maka mungkin saja ingatan Tania yang bangkit nantinya akan membawakan sepotong informasi berharga bagi Noelle.


Meski tentu saja, kesempatannya agak rendah.


"Ayo simpan masalah ini untuk nanti. Ingatan kita akan muncul sedikit demi sedikit, jadi tidak perlu terburu-buru."


Noelle berdiri, meregangkan tubuhnya sendiri dan mematikan lilin dengan sekali hembusan angin dari sihirnya.


"Pergilah ke kamarmu, sebaiknya kita tidur cepat karena besok akan menjadi hari yang sibuk."


Tania mengangguk, mengikutinya ke lorong yang membawa mereka ke beberapa kamar. Noelle memasuki kamar utama, sedangkan Tania memasuki kamar yang ada di sebelahnya.


Namun, saat mereka bahkan belum menaiki tempat tidur, ada reaksi yang kuat datang dari kristal Asterisk. Keduanya mau tak mau memanifestasikan kristal itu, dan merespon undangan yang masuk.


Keduanya pun seketika lenyap, berteleportasi ke tempat yang tidak diketahui siapa pun.


...****************...


Di tempat yang dipenuhi kabut, saat visinya mulai pulih, Noelle dapat melihat satu per satu sosok keluar seolah bangun dari persemayaman mereka di tengah kabut tebal ini.


Mereka semua duduk di kursi yang mengelilingi sebuah meja bundar besar, dengan kristal besar yang melayang tepat di tengah.


Noelle dalam diam memperhatikan satu per satu sosok yang masih sedikit kabur sebagai efek dari teleportasi.


Detik berikutnya, keberadaan dari Tristan, Mordred, Auger, Pauper, Ructus, Caver, dan Ortis menjadi semakin jelas. Mereka semua, pada saat yang sama, memandang satu sama lain dengan bingung, kecuali satu orang; yaitu Auger Lucia Khora.


Wanita itu dengan lembut mengetuk meja dengan jarinya, seketika menarik perhatian semua orang. Di saat itulah mereka sadar bahwa wajah Lucia menunjukkan kelegaan yang aneh.


"Terima kasih karena sudah merespon panggilanku. Aku minta maaf karena mengganggu waktu kalian, tapi ada hal penting yang harus kubicarakan."


"Langsung katakan urusanmu, ada anak kecil yang membutuhkan waktu tidur lebih di sini."


Noelle, yang masih dalam mode menghayati perannya sebagai Grei Noctis itu dengan kasar menepuk meja. Itu menyita perhatian semua orang kecuali Tania dan Ortis Ethan yang dalam kondisi setengah sadar.


"Apa itu penampilan barumu, Souris? "


Colyn sedikit terkikik saat dia melihat penampilan Grei Noctis.


Sejujurnya, penampilan dan kepribadian yang Noelle atur itu sangat cocok dengan sosok Grei. Namun, di pandangan orang lain Noelle atau Noah adalah orang yang baik, dan sangat aneh ketika melihat orang sepertinya memerankan karakter penjahat seperti Grei Noctis.


" ………."


Noelle sadar kalau dia terlalu mendalami peran sebagai Grei, dan mulai melupakan identitas aslinya. Jelas, ini cukup buruk meski belum sampai pada tahap yang fatal.


Noelle dengan tenang kembali ke wujud sejstinya, dan kembali meminta Lucia untuk mempercepat percakapan. Dan kali ini, kata-katanya lebih sopan.


Pergantian wujud Noelle itu awalnya membuat orang-orang terkejut, tapi lambat laun mereka mulai terbiasa dan sudah tidak mempermasalahkannya lagi.


"Aku tidak bisa mengatakannya dengan jelas, tapi … situasinya mungkin berbahaya sekarang ini."


"Apa maksudmu? " Damian Ructus membuka mulutnya. Suara yang serak dan berat itu menjadi satu-satunya pembeda yang memisahkan usia muda dan usia tua di Asterisk.


"Hati-hatilah terhadap pendeta dari Gereja Dewi Lumine. Ahh, aku tidak mengatakan ini karena aku tidak menghargai Tristan, tapi … ini karena masalah besar yang sempat kulihat beberapa waktu yang lalu."


"Masalah? "


Ethan yang masih mengantuk mencoba mengikuti percakapan, tapi jelas kalau semua penjelasan hanya akan melewati telinganya tanpa tersangkut sedikit pun di kepala.


Lucia mengangguk, dan mulai menjelaskan apa yang dia lihat saat itu tanpa adanya sensor.


Dia bahkan mendeskripsikan dengan jelas sosok yang dia lihat di dalam lubang hitam, termasuk sebuah batu besar bertuliskan 'ARCHIVE' yang dipeluknya.


Setelah mendengar itu semua, Noelle mau tak mau memikirkan satu hal; 'Dewa Luar'.


Tidak ada sebutan lain yang layak digunakan untuk menyebut sosok itu. 'Dia' menyuplai pendeta yang dilihat Lucia dengan energi yang tidak dikenal, dan dalam jumlah yang melimpah pula. Setahu Noelle, tidak ada makhluk fana yang mampu melakukan itu.


Yang dapat melakukannya hanyalah sosok yang setingkat dengan dewa, dan itu pun hanya dewa tertentu.


(Apa kau akrab dengan deskripsi itu? )


Noelle bertanya dalam hatinya guna mendapatkan jawaban dari Noir, tapi jawaban Noir sama sekali tidak datang bahkan setelah dua menit kemudian.


Kemungkinan Dia sedang tertidur, atau berusaha fokus untuk memulihkan dirinya sendiri sehingga tidak sempat merespon Noelle. Bagaimanapun, yang ada pada Noelle hanyalah secuil dari kesadarannya. Kesadaran utama bersama dengan tubuhnya masih ada di segel itu.


" … Kapan kau melihat itu? "


Asher mengerutkan keningnya saat dia bertanya. Jelas, ini telah menjadi situasi yang genting.


Jika ada salah satu pendeta dari gereja yang membuat kontrak dengan salah satu dewa luar, maka entah apa yang akan terjadi nantinya. Karena itulah, selagi sempat Asher ingin menyelesaikan masalah ini.


Sekali lagi, Asher tidak peduli pada yang lain, dan dia benar-benar hanya ingin melindungi Leticia.


Sebagai Saint, Leticia harus melakukan kontak rutin dengan para pendeta, dan kemungkinan besar endeta yang Lucia lihat itu adalah salah satu dari mereka yang akan berkontak dengan Leticia.


"Itu … agak memalukan untuk mengakuinya, tapi itu terjadi sekitar dua minggu yang lalu."


Tidak ada yang bisa berkata-kata. Dua minggu yang lalu, itu hampir persis saat Noelle akhirnya tina di Alten dan bertemu dengan Tania serta Fuu Kafhka di sana.


Dua minggu yang lalu, itu persis pada saat Asher memulai tugasnya di luar wilayah gereja.


Hampir setengah bulan yang lalu, dan laporannya baru tiba sekarang.


Ortis Ethan yang tidak terlalu mengikuti percakapan kemudian menguap, dan menggosok matanya yang berat. Dia melakukan itu sambil berusaha menanyakan sesuatu pada Lucia.


"Kenapa kamu baru muncul sekarang untuk memberi tahu kami? "


Kali ini Lucia memalingkan wajahnya. Dan meski tertutup kain hitam, Noelle dapat merasakan pergerakan bola matanya yang panik.


Biarpun begitu, dia masih berusaha menjeladkannya sebaik mungkin, meski alasan yang akan dia keluarkan membuat semua orang di sana merasa heran.


"Sebenarnya … saat itu aku langsung pingsan, dan butuh 2 hari sampai aku sadar. Dan ketika aku sadar, aku kehilangan semua ingatanku."


"Bukankah itu buruk? " tanya Tania sambil mengerutkan keningnya pada Lucia.


"Tolong jangan khawatir. Ini sudah biasa, aku akan kehilangan ingatanku setiap kali kekuatanku lepas kendali. Meski kehilangan semua ingatan adalah hal pertama bagiku, tapi ini tidak mengherankan, karena yang aku amati saat itu adalah makhluk yang penuh dengan tanda tanya."


Noelle mengangguk mengerti. Kemampuan utama《Mata Tuhan》milik Lucia adalah kemampuan untuk mendapatkan informasi setiap hal yang dia lihat.


Dan jika dia melihat pada sosok Dewa Luar seperti itu, maka secara otomatis otaknya akan terbakar karena tidak sanggup menampung pengetahuan tentang absurditas itu.


Yang membuat otaknya masih utuh sekarang mungkin kemampuan regenerasi yang membuatnya mampu tetap hidup di tantangan besar itu. Kehilangan ingatan adalah biaya yang kecil jika dibandingkan dengan resiko kehilangan otak.


"Apa ingatanmu sudah pulih sekarang? "


Damian bertanya, berusaha memastikan. Sebenarnya, dia sudah tahu jawabannya. Jika Lucia belum membangkitkan ingatan sejatinya, maka tidak mungkin dia akan mengumpulkan semua orang seperti ini.


Menanggapi pertanyaan Damian pun membuat Lucia mengangguk. "Baru saja bangkit. Dan meski belum semuanya, ini sudah cukup untuk membuat laporan pada kalian semua."


"Tapi itu aneh," sela Arnaz yang sejak tadi diam.


"Kenapa? "


"Seingatku, kau pergi dengan Pauper, 'kan? Kalau begitu, kenapa Pauper tidak memanggil kami sesaat setelah kau pingsan atau sadar?"


Suara pukulan lembut pada meja. Perhatian semua orang pun teralih pada Pauper Colyn yang hendak menjawab pertanyaan Arnaz itu.


"Aku mau memanggil kalian, tapi aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada Lucia. Aku juga tidak tahu tentang apa yang dia lihat dari pendeta itu."


Singkatnya dia kekurangan informasi. Colyn tidak bisa begitu saja mengumpulkan semua orang untuk membahas kejadian sederhana seperti 'Lucia tiba-tiba pingsan'.


...****************...