![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Aku kembali~"
Begitu mereka memasuki bangunan, Chloe dengan riang melakukan sapaan. Namun, tidak ada siapa pun yang menjawabnya.
"Hmm? Ke mana semua orang? "
Chloe dengan bingung melihat ke sekelilingnya.
Tempat mereka berada saat ini adalah bagian ruang tamu dari rumah yang dikeluarkan Noelle. Ruang tamu itu cukup luas sehingga satu set sofa besar dengan meja kayu yang juga cukup besar tidak mampu memenuhi ruangan itu.
Beberapa ornamen dan barang hiasan lainnya diletakkan di sekeliling ruangan guna membuat ruangan itu tampak lebih ramai dan lebih hidup.
Semua diatur dengan begitu mempesona sehingga Norman dan yang lain dapat dengan mudah mengetahui kalau orang yang mendesain ruangan itu adalah orang yang sangat berselera.
… Walaupun pada kenyataannya … Yang mendesain ruangan itu adalah Noelle sendiri …
"Umm~ Di mana kalian~? "
Chloe dengan wajah penuh pertanyaan mencoba memperhatikan sekelilingnya.
Tiba-tiba, salah satu pintu yang ada di ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok Olivia yang menggunakan celemek sambil membawa mangkuk besar di tangannya.
"Chloe, kamu kembali dengan cepat."
Olivia tersenyum dan melepas celemeknya sambil menghampiri Chloe.
"Ehehe~ Aku melakukan pekerjaanku secepat mungkin~"
Dengan senyum lembut di wajahnya, Olivia menepuk kepala Chloe beberapa kali sebelum ia akhirnya menyadari keberadaan Norman dan yang lain.
Ia mengerutkan dahinya sambil bergumam kecil.
"Mereka benar-benar datang seperti yang Noelle katakan … "
Setelah beberapa detik merenung dengan dirinya sendiri, Olivia kembali menatap Norman dan rombongannya tanpa memiliki ekspresi apa pun di wajahnya.
(Formalitas itu penting … )
Sambil memikirkan itu, Olivia segera mencubit kedua ujung rok gothic-nya dan membungkuk sedikit sambil memberikan sambutan.
" … Senang bertemu dengan kalian … Lagi."
Usai mengatakan itu, ia tanpa berbasa-basi langsung berbalik dan kembali ke dapur.
Keheningan yang canggung seketika menguasai udara. Rico dengn wajah yang tak nyaman berbisik pada Kaira.
"Bagaimana aku harus mengatakan ini, tapi … Bukankah kita tidak disambut di sini? "
"Diam, kau membuatnya menjadi sangat menyedihkan. Sudah cukup keberadaanku ditolak oleh gadis cantik di bumi, kau sebaiknya jangan membuatku harus mengkhawatirkan hal bodoh itu di dunia ini," ucap Kaira dengan senyum miris.
"Tidak ingin mendengar itu dari seseorang yang sudah memiliki tunangan," sela Rico sambil mengacungkan jari tengahnya pada Kaira.
" ……… "
" … Nah, Nona Olivia memang jarang berekspresi, jadi itu wajar."
Seolah untuk menghapus suasana yang canggung, Chloe membuat alasan sambil mengangkat bahunya.
Ia berniat pergi memasuki ruangan tertentu yang ada di balik pintu di sana, tapi ia tiba-tiba berhenti seperti dia telah mengingat sesuatu.
" … Tolong letakkan pria salib atau siapa pun itu namanya di sana."
Chloe mengarahkan pandangannya pada Dyland yang masih pingsan dan menunjuk salah satu meja panjang yang ada di sudut ruangan dengan jarinya.
"Meja itu akan secara otomatis memberikan penyembuhan padanya, itu hanya tindakan sementara, tapi setelah ini kalian hanya perlu memberikan perawatan lanjutan."
Norman kemudian tanpa mengatakan apa pun langsung membawa Dyland untuk berbaring di meja itu.
Permukaan meja itu datar seperti meja lainnya, namun itu memiliki sesuatu seperti bantalan di bagian-bagian tertentu untuk meminimalisir rasa sakit.
Tentu saja, Noelle yang membuatnya meskipun ia tidak terlalu membutuhkan itu.
Norman selesai membaringkan Dyland di meja itu dan kembali pada kelompoknya. Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Dyland, meja tempat Dyland berbaring itu bersinar sejenak seolah sedang mengidentifikasi sosok yang ada di atasnya.
Chloe mengangguk dengan senang saat melihat Norman melakukan sesuatu seperti yang dia minta.
Setelah itu, dia langsung membawa semua orang masuk ke ruangan lain.
"Bagian ini akan menjadi tempat istirahat kalian. Karena kalian ada 12 orang, jadi kamarnya kurang. Beberapa dari kalian harus beristirahat di kamar yang sama. Apa kalian tidak keberatan dengan itu? "
Norman menoleh ke belakang dan bertanya dengan tatapannya. Semua orang dengan mudah menganggukkan kepala mereka sebagai tanda persetujuan.
"Kami tidak keberatan," kata Norman dengan tegas.
"Dengan ini, tur sele–"
Sebelum Chloe sempat menyelesaikan kata-katanya, suara ledakan yang cukup keras dapat terdengar dari ruangan di balik pintu yang ada di ujung lorong tempat mereka berada.
"Ahh, jangan khawatir tentang it–"
Lagi-lagi, ia tak dapat menyelesaikan kata-katanya karena Norman segera melompat maju ke pintu itu.
"Tunggu! Jangan masuk! Itu–"
Chloe dengan panik mencoba menghentikan Norman dengan mengendalikan bayangannya, namun Norman dengan lincah menghindari semua tangan bayangan itu seolah ia sudah terbiasa dengan pergerakannya.
Melihat itu, Chloe benar-benar menjadi terkejut. Ia tahu kalau pergerakannya dalam menggerakkan bayangannya masih monoton dan mudah ditebak, tapi dia tidak menyangka kalau Norman akan beradaptasi secepat itu.
Memanfaatkan keterkejutan Chloe, Norman langsung meraih gagang pintu dan dengan paksa membukanya.
Sontak, ia dibuat terkejut dengan pemandangan yang ada di balik pintu itu.
Itu adalah seorang gadis dengan rambut pirang sebahu yang memiliki paras cantik yang dapat memikat banyak orang, namun yang membuatnya terkejut bukanlah itu.
Melainkan, sayap dan lingkaran halo berwarna hitam pekat yang dimiliki gadis itu di punggung dan kepalanya.
Itu adalah gadis yang baru-baru ia kenal, salah satu reinkarnator yang menjadi anggota kelompok Noelle. Charlotte, atau yang lebih ia kenal sebagai Nitta Haruna.
Charlotte terlihat duduk di lantai sambil memejamkan matanya, rantai hitam keemasan yang terbentang di sekelilingnya terlihat terus bergerak seolah menutupi dirinya dari dunia luar.
Sepasang sayap hitam yang tumbuh dari punggungnya terlihat melepaskan beberapa bulu yang langsung melelehkan lantai seolah bulu itu memiliki suhu yang sangat panas.
Norman terus berdiri dalam diam menatap sosok Charlotte yang terlihat sedang fokus terhadap sesuatu.
Tak lama kemudian, semua orang di kelompoknya datang dan ikut melihat sosok Charlotte itu, diikuti dengan Chloe yang wajahnya semakin suram.
Memanfaatkan kelengahan mereka semua, Chloe segera menggunakan bayangannya untuk menarik Norman dan yang lain untuk keluar dari ruangan itu.
Ia tanpa mengatakan apa pun langsung menutup pintu itu dengan panik.
"Lupakan apa yang kalian lihat barusan," ucap Chloe dengan suara datar tak bernada.
Chloe mengeluarkan aura intimidasi yang sangat kuat yang membuat Norman dan yang lain secara naluri tidak dapat bergerak.
"Memang salahku karena tidak mengatakannya lebih awal, tapi … Di sini kalian hanyalah tamu, dan kalian tidak memiliki hak untuk melakukan apa pun sesuka kalian di sini. Berterimakasihlah pada Tuan karena Tuan mau membiarkan kalian menginjakkan kaki di sini."
Sosoknya yang mengintimidasi benar-benar tidak cocok dengan penampilan biologisnya yang masih berada pada usia kisaran 13 tahun.
"Jaga kelakuan kalian agar tidak membuat Tuan marah. Lebih baik kalian langsung mati di tanganku daripada harus menderita lebih parah, 'kan? "
Wajah Chloe yang sebelumnya ceria dan menampilkan ekspresi yang kekanak-kanakan, kini telah berubah 180 derajat seolah ia menjadi sosok yang berbeda.
Rambut hitamnya yang panjangnya dpat menyentuh lantai itu bergoyang dengan air yang tidak menyenangkan, seolah menyatu dengan bayangan yang bergemerisik di kakinya.
"Aku sudah memberi kalian peringatan. Kalau begitu, aku permisi."
Chloe mengatakan itu smbil menarik ujung roknya sedikit, sebelum ia akhirnya tenggelam ke dalam bayangan di lantai.
" ……… "
Mereka semua tetap tidak bergerak sampai akhirnya Charlotte keluar dan menatap mereka dengan wajah jijik.
...****************...
"Yap, itu sangat jelas. Kita ditolak di tempat ini."
Penekanan yang diucapkan Rico secara terang-terangan itu membuat hampir semua orang menjadi depresi.
Beberapa jam telah berlalu semenjak ancaman yang diberikan Chloe pada mereka.
Langit sudah gelap, dan mereka juga sudah menyelesaikan jam makan malam mereka. Kini Norman dan orang-orang di kelompoknya sedang berkumpul di salah satu ruangan pertemuan yang ada di rumah(?) Noelle.
Mereka duduk di kursi yang telah disusun secara melingkar sehingga mereka semua dapat saling menatap satu sama lain.
Merasa bosan dengan suasana yang menyesakkan itu, Rico kembali berbicara.
"Kelihatannya Cana– maksudku Noelle juga tidak terlalu menginginkan kita di sini. Dan tidak hanya dia, tapi bahkan para gadis itu juga tampak sangat menolak kita, terutama Airi– maksudku Olivia dan Charlotte itu."
"Hentikan itu Rico, itu membuatku merasa sakit hanya dengan memikirkannya. Terlebih … Aku tidak pernah menyangka kalau akan ada salah satu dari kita yang bereinkarnasi menjadi ras selain manusia."
" ……… Kau benar … Itu sangat mengejutkan … "
Rico dengan muram merespon pernyataan Kaira.
Reinkarnator yang mereka maksud tentunya adalah Charlotte. Itu memang sebuah ketidaksengajaan, tapi pada akhirnya mereka tetap mengetahui identitas Charlotte.
"Sekarang julukannya sebagai malaikat tidak hanya akan menjadi metafora belaka."
"Kau benar … Daripada itu … Apa dia benar-benar malaikat? Aku sering mendengar tentang keberadaan mereka dari pelajaran keagamaan di akademi, tapi … Penampilannya tidak seperti yang dijelaskan di buku," tanya seseorang yang duduk di hadapan mereka.
Rico sedikit bingung saat mendengar pertanyaannya, namun ia tetap memikirkan sebuah jawaban dengan skill《Analyze》miliknya.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya menjawab.
"Itu mungkin … Ras yang berbeda dari malaikat, tapi masih berada di pohon ras yang sama. Ambil saja contoh mudahnya, Werli, saat masih di bumi dulu … Kau cukup menyukai novel ringan, manga, dan anime, 'kan? Saat kau sedang menikmati bagian genre fantasi, seringkali kau akan menemukan ras yang dinamakan 'Elf', lalu ada ras lain yang disebut 'Dark-elf'. Mereka adalah ras yang berbeda, namun masih berada di kategori yang sama, yaitu 'Elf'. Mungkin Charlotte itu juga termasuk ke ciri ini."
Seseorang bernama Werli itu menganggukkan kepalanya terhadap penjelasan Rico.
"Jadi, maksudmu … Charlotte itu adalah sesuatu seperti malaikat … Malaikat jatuh? Apa seperti itu? Aku cukup mengerti dengan maksudmu, tapi aku tidak tahu kalau hal itu bisa terjadi."
"Lupakan tentang itu. Yang jadi pertanyaanku adalah, kenapa dia bisa bergabung dengan kelompok Noelle? Kesampingkan tentang bagaimana mereka semua bisa berada di tim yang sama dengan Cryll, aku hanya ingin tahu bagaimana Noelle bisa mendapatkan dua reinkarnator di tangannya."
Rico menyatukan kedua tangannya dan menatap meja dalam keheningan.
Namun, tidak peduli bagaimana ia memikirkannya, ia sama sekali tidak menemukan jawaban.
Ada terlalu banyak kemungkinan yang memiliki persentase kebenaran yang terlalu kecil. Itu mengacaukan kemampuannya dalam mengambil sebuah kesimpulan.
"Tunggu, Noelle dan gadis bernama Olivia itu punya nama keluarga, 'kan? Norman, apa kau tahu nama keluarga mereka? "
Norman bingung sejenak, namun ia langsung menjawab Rico dengan ragu-ragu.
"Itu … Aku cukup yakin kalau nama mereka adalah … Noelle Lynneheim, dan Olivia Landlüven … Aku tidak tahu pasti karena saat itu situasinya cukup buruk, tapi kurasa itu nama mereka."
"Lynneheim dan Landlüven … Aku merasa familiar dengan nama itu, tapi … Aku tidak bisa mengingatnya … Anzu, apa kau tahu sesuatu? "
Rico bertanya pada gadis yang duduk di jarak yang cukup jauh darinya.
Gadis itu, Anzu, meletakkan dagunya di atas meja dan terlihat membuat gerakan berpikir sejenak, sampai ia akhirnya menjawab.
"Aku tidak pernah melihat atau mendengar nama itu di mana pun. Aku sudah membaca dan mengingat semua nama yang ada di daftar bangsawan baik itu bangsawan besar maupun bangsawan kecil, tapi … Aku tidak kenal dengan nama mereka," jawab Anzu dengan lesu.
Rico menanyakan itu semua pada Anzu bukan tanpa alasan. Melainkan, karena Anzu memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam mengingat.
《Perfect Memory》adalah skill unik yang ia miliki begitu ia terlahir ke dunia ini.
Skill itu adalah versi yang lebih sempurna jika dibandingkan dengan kemampuan 'Eidetic Memory' yang dimiliki sebagian kecil orang di bumi.
Kemampuan Anzu dalam mengingat sesuatu memang sangat hebat bahkan saat mereka masih di bumi, tapi itu menjadi lebih hebat lagi saat ia bereinkarnasi di dunia ini.
Anzu terlihat kebingungan sejenak, lalu menjawab Rico dengan sedikit keraguan.
"Aku tidak terlalu yakin tapi … Jika itu Charlotte, aku ingat ada seorang putri dari keluarga Zernroden yang memiliki nama itu, tapi … Dia seharusnya sudah tewas bersama keluarganya saat insiden pembantaian keluarga Zerneoden beberapa bulan yang lalu."
"Zernroden, ya … Aku tidak tahu kalau keluarga itu memiliki anak … " ucap Rico.
"Itu bukan berita yang tersebar begitu luas, jadi hanya beberapa kalangan yang mengetahui keberadaan anak mereka. Putra dari keluarga Zernroden memiliki tubuh dan sihir yang lemah, sedangkan putri tertuanya memiliki sifat brocon yang akan selalu menempel pada adiknya, jadi mereka tidak bisa bergerak bebas di dunia luar bersama. Karena itu tidak banyak yang tahu."
" … Aku terkejut kau tahu banyak."
Rico tanpa menutupi ekspresi campur aduknya memuji Anzu sementara Anzu hanya menenggelamkan wajahnya di meja dan tidak mengatakan apa pun lagi.
"Lalu … Bagaimana dengan gadis Chloe itu? Dia memiliki kemampuan unik untuk mengendalikan bayangan, 'kan? Apa kau tahu sesuatu tentang dia? " tanya Rico.
"Tidak, aku tidak pernah mendengar namanya. Tapi aku pernah melihat beberapa dokumen tentang kemampuan mengendalikan bayangan itu."
"Benarkah?! Lalu, apa kau tahu sesuatu tentang itu?! "
Norman menyela percakapan dengan penuh semangat seolah topik pembicaraan telah beralih menjadi sesuatu yang ia sukai.
Namun, jawaban lesu Anzu selanjutnya membuat Norman kembali duduk di kursinya dengan wajah kecewa.
"Tidak, aku tidak tahu. Sebelum aku sempat membaca dokumennya, ayahku datang dan langsung membawaku pergi. Yahh, lupakan tentang mereka. Ada sesuatu yang masih menggangguku sampai sekarang."
Anzu dengan lemas mengangkat kepalanya, kemudian menatap Lilith yang duduk tepat di hadapannya.
"Sejak tadi, kenapa kau membuat wajah muram seperti itu, Lilith? "
Begitu namanya disebutkan, Lilith mengangkat bahunya secara spontan karena terkejut.
"Lihat? Kau sedang melamun. Kau sudah melakukannya selama beberapa waktu hari ini."
Mata Anzu menyipit tajam. Rico juga menyatukan kedua tangannya sambil memejamkan mata.
"Aku juga sudah ingin menanyakannya beberapa waktu yang lalu, tapi … Lilith … Tidak, Ina-sen, aku yakin kalau kau memiliki beberapa hal yang ingin kau bicarakan dengan Noelle, 'kan? "
Pemandangan Lilith yang sibuk dengan pikirannya membuat Rico merasa tidak nyaman, tapi ia tetap diam tentang itu sampai akhirnya Anzu lebih dulu memulai topik.
Sebagai tambahan, Ina-sen adalah panggilan yang disematkan untuk 'Inaka Kagarin' dari Rico, atau Saiko Kuzuha.
Kuzuha memiliki kebiasaan untuk memanggil Kagarin dengan sebutan 'Ina-sen'. Bahkan kebiasaan itu terus terbawa bahkan setelah ia bereinkarnasi menjadi Rico sera Proxia.
"Itu … "
Lilith menjawab dengan wajah tidak nyaman sambil melilit rambutnya di jarinya sendiri.
Melihat ke sekelilingnya, Lilith menyadari kalau semua orang sudah menatapnya dengan pandangan cemas.
Ia hanya mampu tersenyum sedih ketika menyadari kenyataan bahwa mantan murid-muridnya kini berada di sisi yang mengkhawatirkannya.
Senyumnya menjadi semakin kecut, Lilith kemudian menghela napas pasrah.
"Itu … Aku hanya terkejut … Tentu aku senang ketika melihat mereka semua aman, tapi … Izaya– tidak, dia adalah Noelle sekarang."
Lilith menggelengkan kepalanya beberapa kali guna mengoreksi dirinya sendiri.
"Noelle … Menjadi lebih terbuka tentang dirinya … "
" ……… "
Keheningan lagi-lagi memenuhi ruangan.
Rico dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak, itu tidak mungkin! Dia bahkan menjadi lebih buruk dibandingkan sebelumnya, kau tahu?! Tapi jika yang kau maksud dengan 'menjadi lebih terbuka' adalah 'mengungkapkan kebenciannya secara terang-terangan', maka aku setuju."
"Eh– Ahh … Setelah dipikir-pikir … Kalian tidak tahu, ya … "
"Tahu apa? "
Norman memiringkan kepalanya.
"Mhmm, tidak. Tidak ada. Hanya saja … Aku benar-benar ingin berbicara dengannya secara pribadi untuk memastikan beberapa hal … "
"Lihat, Rico memenangkan perjudian! "
Rico dengan semangat berteriak pada Kaira yang duduk di sampingnya.
"Kau terlalu berisik. Aku benci mengakuinya, tapi … Kita memang harus menggunakan idemu itu."
"Ide? Apa kalian merencanakan sesuatu? "
Iris bertanya dengan bingung pada mereka berdua.
Melihat itu, Kaira dengan ringan mengangkat bahu dan menjawab pertanyaan Iris sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Sebelum kita pergi untuk bertarung dengan sage mantis tadi, Rico sempat menyarankan untuk membiarkan Lilith berbicara secara empat mata dengan Noelle."
Lilith melebarian matanya saat ia mendengar ide itu, namun ia segera tersenyum pada Rico dan berterimakasih padanya atas kepeduliannya.
"Aku tidak setuju dengan ide itu."
Suara tegas Norman tiba-tiba menyela percakapan yang perlahan membuat suasana semakin ringan.
(Ahhh, ini dia … Pangeran kita yang berkepala batu.)
Kaira tersenyum pahit, lalu menatap Norman.
"Alasannya? "
"Alasan? Kau masih menanyakan itu? Bukankah sudah jelas?! Dia itu berbahaya! Menurutmu apa yang akan terjadi jika kita membiarkan Lilith dengan dia sendirian?! " teriak Norman.
"Bukan berarti aku tidak mengerti kekhawatiranmu, tapi … Lilith tetap harus berbicara dengannya, 'kan? "
"Kau sama sekali tidak mengerti! "
Wajah Norman mulai memerah dalam kemarahan. Namun, Kaira tetap tenang seolah ia sudah terbiasa dengan ini.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Diam dan menerima semua kebaikannya tanpa melakukan apa pun? Bukankah kau yang aneh di sini? Lilith ingin bertemu dan berbicara langsung dengan Noelle, memangnya apa yang aneh dengan itu? "
Kaira terus mengeluarkan argumennya tanpa menggerakkan ekspresinya sedikit pun.
"Khh– Sialan! "
Mata Norman yang sebelumnya berwarna hijau zamrud kini mengeluarkan sinar violet yang samar.
"Itu percuma loh, Norman. Kau mungkin lebih kuat dariku dalam pertarungan, tapi level kita setara. Kemampuanmu tidak akan berguna melawan orang yang levelnya setara atau bahkan lebih tinggi darimu, 'kan? "
" … Tch."
Norman dengan jengkel mendecakkan lisahnya saat ia mencoba menarik pedangnya. Namun, pegangan pedang yang seharusnya ia pegang justru terjatuh ke lantai kayu itu dengan suara yang keras.
"Sebaiknya kau hentikan itu semua, Arata."
Seorang laki-laki tiba-tiba menyela percakapan sambil menunjuj pinggang Norman dengan jarinya.
"Alan … Apa maksudmu? "
Alan dengan matanya yang tajam terus menatap Norman sementara jarinya perlahan terarah tepat ke leher Norman.
"Sebaiknya kau hentikan tingkahmu itu. Biarkan Lilith mencoba."
" … Apa kau berpihak pada mereka …? "
Norman bertanya dengan waspada sambil menarik belati yang menggantung di sabuknya. Namun, belati itu juga jatuh ke lantai hanya dengan satu gerakan dari Alan.
" … Kemampuan untuk melucuti senjata lawan … Apa kau menganggapku sebagai lawanmu sekarang? " tanya Norman sambil mengeluarkan aura intimidasi yang menyakitkan.
Sebagai gantinya, Alan juga memperkuat tatapan matanya yang dingin seolah tak memiliki emosi itu.
(Ahhh, ini merepotkan … )
Sambil memikirkan itu, Kaira diam-diam melemparkan kerikil berukuran kecil tepat ke arah kepala Anzu yang mulai terlelap di mejanya.
(Lakukan sesuatu.)
Matanya yang menatap Anzu menyiratkan itu, yang dibalas Anzu dengan wajah lelah.
Namun, Anzu juga tidak menyukai suasana yang sekarang, jadi ia menerima permintaan Kaira untuk mengubah situasinya.
"Kalian berhentilah, aku mau tidur."
(Si bodoh ini … )
Kaira menghela napas lelah ketika melihat Anzu yang sama sekali tidak membantu suasana.
" … Tch."
Anzu mendecakkan lidahnya dengan jengkel, kemudian mengeluarkan beberapa butir kelereng dari sakunya, sebelum akhirnya semua kelereng itu dengan cepat terbang ke arah kepala Norman dan Alan yang terus saling menatap dengan aura intimidasi mereka.
Kelereng yang dilemparkan(?) oleh Anzu itu dengan lancar menabrak kepala keduanya dan membuat mereka sontak jatuh ke meja mereka.
"Sekarang mereka berdua sudah selesai diurus, selanjutnya lakukanlah sendiri. Aku mau melanjutkan tidurku, pemandian yang disediakan Noelle di tempat ini luar biasa nyaman."
Anzu tanpa mengatakan apa pun lagi langsung menenggelamkan wajahnya di meja dan pergi tidur.
"Setidaknya tidurlah di kamarmu, dasar bodoh."
Salah satu laki-laki yang sejak tadi diam di kursinya tiba-tiba berbicara dengan nada mengejek pada Anzu, namun Anzu sama sekali tidak merespon, yang menandakan kalau dia sudah tidur.
"Merepotkan … Muku, bawa dia ke kamarnya," ucap laki-laki itu pada gadis yang duduk di sebelahnya.
"Ehh? Kenapa aku? "
Gadis bernama Muku itu terlihat bermasalah saat ia diminta untuk membawa Anzu, namun laki-laki di sebelahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun untuk meresponnya.
"Ughh … Itu merepotkan … Tapi … Baiklah, kau berhutang satu hal padaku, Waka."
Usai mengatakan itu, Muku langsung menggendong Anzu dan membawanya ke luar ruangan.
"Baik, sekarang kau sudah bebas untuk melakukan apa yang ingin kau lakukan, Lilith," ucap Kaira sambil tersenyum.
"Yang menjadi masalah sekarang, adalah … Apa Noelle mau untuk diajak berbicara empat mata seperti itu? "
Rico bertanya untuk memastikan. Ia sudah memikirkannya berulang kali, namun, kemungkinan kalau Noelle mau untuk diajak bekerjasama cukup kecil.
"Ehehe … Entah bagaimana aku akan mengatasinya … "
Lilith mengeluarkan senyum canggung saat ia perlahan meninggalkan ruangan tanpa menyadari kalau pengalaman yang mengerikan akan menimpanya.
...****************...